IZZALASKA

IZZALASKA
70. Alaska's



"Ay." panggil Izza menepuk-nepuk punggung Refan yang baru saja tertidur dengan memeluk erat tubuhnya. Sudah menginjak pukul 02.00 malam dan Refan baru mau memejamkan matanya, sementara Izza masih tak bisa tidur karena terlintas sesuatu di dalam pikirannya.


You know lah ya kenapa mereka belum tidur sampai menjelang pagi seperti ini. Semalam mereka baru kembali ke kamar saat pukul 22.00 dan kalian pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi di jam-jam setelah itu.


"Hm?" sahut Refan masih memejamkan matanya erat. Bukannya menatap Izza yang sedang berbicara, ia malah menyerukkan wajahnya ke ceruk leher Izza.


"Aku kurang setuju sama keputusan kamu sama Fael." ucap Izza mengeluarkan uneg-uneg yang menganggunya sejak tadi.


"Keputusan yang mana?" tanya Refan tanpa ingin merubah posisi ternyamannya.


"Kenapa harus menyembunyikan keluarganya Doddy di rumah papa si? Disana kan ada Stella sama mama juga."


Mendengar pertanyaan itu, Refan lantas mendongak.


"Astaga sayang... Kamu masih mikirin itu?" tanya Refan tak percaya, jadi ini sebabnya Izza tampak sedikit aneh saat berada di ruang keluarga tadi.


Izza mengangguk.


"Iya. Aku kepikiran tau! Gimana kalo nanti terjadi sesuatu hah? Kamu sama Fael ga mempertimbangkan itu? Pokoknya aku ga mau ya terjadi apa-apa sama mama dan Stella nanti." omel Izza mode galak. Bukannya takut, Refan malah mengeluarkan jurus tengilnya dengan menoel hidung mancung Izza yang cantiknya tak pernah luntur diterpa waktu.


"Aiiihhhh baru aja main enak-enakan ay, udah sok ngambek aja!" ledek Refan menaik turunkan alis. Izza menatapnya datar, memang sangat menyebalkan!


"REFAN ALASKA AKU SERIUS!!!" sembur Izza kesal. Refan terkekeh kecil.


"Ya terus mau kamu gimana? Kenapa protesnya enggak tadi aja? Lagian juga papa kan setuju ay, kamu ga usah parnoan gitu ah."


"Ck. Kenapa ga nyewain apartemen aja sih buat mereka?" gerutu Izza lagi.


Refan dan Rafael tadi memang sudah sepakat untuk menyembunyikan keluarga doddy di rumah David. Itupun sudah atas persetujuan dari David dan Alice. Awalnya Alice sempat tak setuju untuk kembali ikut campur di dunia bawah ini, tapi karena ini demi menyelamatkan Izza dan calon cucunya, akhirnya ia pun setuju. Memangnya apa sih yang enggak buat Izza.


"Kalo di apartemen, bakal susah buat ngawasin mereka. Kamu jangan lupa dong ay, aku butuh Doddy buat nyari tau siapa si YH leader baru Bloody Dragon itu. Kalau aku ga ngupayain keselamatan keluarganya dengan maksimal, itu namanya aku curang dong!! Emangnya kamu mau punya suami orang jahat dan curang hm?" tutur Refan mencoba membuat Izza mengerti. Izza menghela nafas gusar.


"Huffftt... Aku khawatir terjadi ses-"


"Ssstt... Kamu boleh khawatir sayang, tapi kamu jangan lupa kalo di rumah itu juga ada Rafael dan papa. Papa juga kan alumni gangster, pendiri besar Blood Wolf malah. Lagipula kalau semisalkan nanti terjadi penyerangan juga nggak papa kok!" potong Refan. Izza refleks menggeplak kepala Refan yang sembarangan bicara itu.


Plak


"Heh! Maksudnya nggak papa itu apaan? Ya jangan sampek lah!!!"


"Enggak gitu, maksudku tuh rumah papa punya tingkat keamanan yang tinggi. Ada bungker di bawah tanah yang udah dibangun sejak lama, yang tujuannya memang untuk berjaga-jaga kalau ada serangan musuh dari luar. Mereka pasti aman kok!" ucap Refan meringis mengelus kepalanya yang malang.


'Baru aja ngerasain enak beberapa menit yang lalu, udah ada KDRT lagi aja.' gerutu Refan dalam hati sebal. Mau marahpun ia pasti tak akan bisa bukan?


"Kalo itu alasannya. Kenapa ga di rumah kita aja? kan ada aku sama kamu. Anak buah kita juga banyak, bungker juga udah ada. Persenjataan disana juga ga kalah lengkap dari rumah ini!" bantah Izza, biasalah!


"Ssstt udah ya sekali ini aja ay kamu nurut sama aku oke? Ini udah jadi keputusanku sama Fael. Dan semua keputusan yang udah kami setujui bareng papa, itu udah jalan terbaik dari semua jalan yang paling baik."


"Kamu percaya sama aku sama Fael kan? Semua ini juga demi keamanan kamu kok." sambung Refan lagi. Setelah sekian perdebatan dan perselisihan pendapat, Izza akhirnya mengangguk faham.


"Hufft oke. Oke!!!"


...****************...


Keesokan harinya.


"Kamu mau balik ke markas ga?" tanya Andin pada Genta yang duduk-duduk santai sambil menemani Glen yang sedang asyik menonton serial kartun favoritnya. Genta dan Glen sedang berada di Rz Corp karena putra semata wayangnya itu terus merengek ingin ikut mamanya bekerja, padahal ia tadinya sudah ayem ikut papanya di Alvaro Group.


Genta menoleh pada istrinya yang berada di meja kerja, lalu menggeleng.


"Enggak sayang, kerjaan di kantor udah beres dan kebetulan di Markas udah ada Ilham. Jadi aku mau disini aja nemenin Glen sama kamu sampai kerjanya selesai." jawab Genta santai. Ia ingin menikmati waktu senggangnya bersama keluarga kecilnya.


"Kalo gitu kamu aja deh yang nganterin aku ke rumahnya Lexa. Mau kan?" tanya Andin lagi. Genta menaikkan sebelah alis.


"Emang mau ngapain? Kerjaan kamu udah selesai kah?"


"Udah beres semua tinggal minta tanda tangan Lexa, terus kirim berkas ke ABM Group."


"Hm oke! Kita berangkat sekarang."


"Eh bentar dong!! Aku kan harus beres-beres dulu." larang Andin buru-buru membereskan beberapa berkas yang berceceran di meja kerjanya. Genta mengangguk, mempersilahkan istrinya menyelesaikan apa yang ingin ia selesaikan.


"Ehehehe ya udah sana beberes!!"


"Glen sayang, matiin televisinya sayang. Kita pergi yuk?" sambung Genta mengalihkan perhatiannya kepada sang buah hati.


"Ih ga mau... Glen lagi nonton boboiboh nih pa, Glen enggak mau pergi ah!!" tolak Glen menggeleng kuat layaknya anak kecil pada umumnya.


"Yakin kamu ga mau? Tapi papa sama mama mau ngajak kamu ke rumahnya onty Izza loh. Tapi kalau kamu ga mau juga ga pap-"


Mendengar nama onty kesayangannya disebut, bocah kecil berambut hitam cokelat itu langsung mematikan televisinya tanpa menunggu perintah ulang dari papanya.


"Glen mau kok pa, hehehe." potong Glen bersemangat merubah pikirannya.


"Pinter banget anak mama." sela Andin mendahului Genta yang baru saja akan buka mulut.


"Anak papa juga!" koreksi Genta. Andin terkekeh lalu mengulurkan tangannya pada putranya.


"Iya iya anak papa mama!! Udah yuk, aku juga udah bilang ke Izza kalau mau kesana." pungkas Andin mengajak dua jagoannya untuk segera pergi. Genta mengangguk sedangkan Glen mengacungkan kedua jempolnya dengan semangat.


"Emang dasar si anak pinter milih! Tadi ngeyel mau nonton kartun, giliran dibilangin mau pergi ke rumah onty-nya aja langsung semangat 45." gumam Genta geleng-geleng kepala.


"Lexa emang pinter banget bikin anak kecil jatuh cinta sama dia."


...****************...


"Yakin ga jadi ikut?" tanya Refan. Izza mengangguk.


"Yakin."


"Tapi ini ke rumah ayah Ricko loh ay, kamu seriusan? Biasanya kamu yang duluan ngajakin, sekarang giliran aku tawarin mau sekalian ikut apa enggak, kamunya ga mau?" tanya Refan sekali lagi. Biasanya Izza yang paling bersemangat membuntutinya tiap kali Refan ada keperluan dengan Ricko.


"Glen?" tanya Refan. Izza mengangguk.


"Bareng Andin sama bang Genta."


'Bagus nih kebetulan banget si Genta kesini, gue bisa sekalian speak-speak soal YH. Lumayan kalj ah beban otak gue pekara YH biar agak kebantu sama Genta, biar gue juga bisa fokus nyelidikin Bima soal kemarin nemuin istri gue. Enak aja main nemuin istri orang! Itu setan satu pasti punya niat jelek tuh.' batin Refan manggut-manggut tanpa sadar. Izza yang merasa aneh pun menepuk lengannya.


Puk


"Heh! Malah ngelamun. Kenapa?" tanya Izza membuyarkan lamunan Refan. Refan gelagapan lalu menggeleng.


"Enggak, nggak papa. Aku ga jadi pergi!" jawab Refan yang malah duduk di sofa ruang keluarga. Izza mengeryit heran, bukankah tadi Refan bilang ia akan pergi ke rumah papanya?


"Lah? Kenapa?"


Bukannya menjawab, Refan malah menyeret lengan putih Izza agar jatuh keatas pangkuannya. Izza melotot garang, awas saja kalau ini adalah awal dari sore yang panjang! Ia ingin bermain dengan Glen sore ini, bukan dengan Refan.


"Ay jangan macem-macem ya! Aku teriak nih!!" ancam Izza garang. Refan bersimrik.


"Mau teriak? Emang mau minta tolong siapa hm? Semua orang yang ada di rumah ini aja takut sama aku!" sahut Refan songong. Izza berdecih.


"Cih. Siapa bilang ga ada? Aku berani tuh!"


"Oh gitu? Kamu berani sama aku?"


"Iya! Aku ga takut sama kamu." tegas Izza dengan pedenya. Refan menyunggingkan senyuman mautnya, dengan sekali sergap ia sudah berhasil menarik tengkuk Izza agar wajahnya berhadapan lebih dekat dengannya.


Hanya berjarak satu tarikan nafas saja.


"Yakin ga takut?" tanya Refan penuh ekspresi. Deru nafasnya naik turun, ini memang bukan kali pertama atau kedua bagi Izza tapi tetap saja hal-hal seperti ini masih saja membuatnya salah tingkah dan takut.


Catat! Refan adalah kekuatan terbesar sekaligus ketakutan terbesar yang dimiliki oleh seorang Izza.


"Eh iya iya takut takut!! Aku orangnya emang penakut banget ay." cicit Izza yang langsung mendorong dada bidang suaminya agar menjauh. Meluaskan kembali jarak diantara keduanya.


"Nah kan tau takut!!" ledek Refan mencubit kedua pipi bakpau didepannya dengan gemas.


"Kamu ngancemnya gituan mulu si! Kan aku jadi keok." sembur Izza kesal. Refan terkekeh.


"SKIP DULU SKIP!!! ADA ANAK GUE WOYYYY!!!" teriak heboh suara cempreng bin mencengangkan dari arah lift. Refan dan Izza menoleh bersamaan.


"Andin?!!"


"Udahan dulu lu berdua! Kasian anak gue ntar jadi dipakaa dewasa." sahut suara berat yang tentu saja adalah Genta. Glen yang tak tau apa-apa langsung berlari menuju tante kesayangannya.


Izza langsung merosot turun dari pangkuan Refan.


"Ontyyyyyyyyy." seru Glen berhambur ke pelukan Izza. Izza menyambutnya dengan suka hati.


"Aaaaa sayangnya onty.... Miss you ganteng!!" ucap Izza menciumi puncak kepala Glen. Glen tersenyum riang, ia benar-benar bahagia bisa bertemu dengan Izza setelah berhari-hari tak saling bertemu.


"Miss you too onty cantik!!" sahut Glen dengan nada lucunya. Refan yang ikut gemas, mengacak-ngacak rambut hitam kecokelatan milik Glen.


"Glen gemes manis banget dah meskipun bapaknya super pait! Ga ada manis-manisnya." puji Refan yang secara blak-blakan juga meroasting Genta secara langsung.


"Bosen hidup lo Fan?" cela Genta malas. Refan tertawa lalu menggeleng.


"Ga bosen dan ga akan pernah bosen lah Ta, kan ada ayang gue." jawab Refan merangkul pundak Izza. Glen masih duduk dipangkuan Izza.


"Bucin!!" sembur Genta.


"Heleh lo ga ngaca brader? Ilham hampir tiap malem ngadu pengen cepet-cepet nikah sama Salma gegara ngeliatin elu sama Andin noh!" ledek Refan. Skakmat! Genta melotot, bukannya menangkis fakta, tapi karena mulut Refan ini super gacor. Sama persis seperti Ilham yang sama-sama tak memperhatikan ada Glen disana.


"Ahahaha kenapa lo melotot begitu? Ngerasa ke-gep lo hah?" ledek Refan makin gencar. Genta berdecak, kesabarannya memang sudah setipis kertas ditambah lagi dengan ia harus berhadapan dengan Refan.


Jangan tanyakan bagaimana reaksi Glen, Izza dan Andin. Mereka bertiga sedang melongo tak mengerti dengan perdebatan bapak-bapak didepannya ini.


"Mending kita by one aja Fan!"


"Oke. Emang gue mau ngomong berdua sama lo Ta, ayo ke balkon!" ajak Refan berdiri dan langsung berlalu. Anehnya lagi, Genta juga langsung ngikut.


Izza dan Andin saling pandang.


"Lah?"


"Emang aneh banget tiap kali mereka ketemu."


"Ya udahlah kita langsung ke inti cerita aja Lex, nih semua dokumen dan berkas yang harus lo tanda tanganin sekarang juga!!" pungkas Andin menyudahi keanehan yang diciptakan oleh suami-suami mereka. Izza mengangguk saja.


"Oke, bentar gue ambil bolpoin sama stempelnya di ruang kerja." jawab Izza hendak berdiri.


"Onty onty, Glen boleh ikut ya?" tanya Glen yang dengan pintarnya langsung turun dari pangkuan Izza tanpa diminta. Izza tentu saja tak akan keberatan dengan permintaan bocah kecil itu.


"Boleh sayang!! Ayo."


"Yeayyy thank you onty."


"Ndin lo nunggu sendirian bentar ga papa kan?" tanya Izza sebelum mereka berbalik. Andin manggut-manggut sambil meraih toples kaca berisi snack di meja.


"Hm, serah kalian aja lah bocil dan onty."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰




Do you miss them?