
Drtt drtt
"Siapa?" tanya Refan saat membukakan pintu mobil untuk Izza dan Hp nya berdering.
📞Ejaaa is calling....
"Reza nih." jawab Izza langsung menempelkan iPhone di telinganya.
Izza : Apaan? Kangen lo?
Reza : Gr! Lo harus berterimakasih sama gue.
Izza : Hah? Apaan pake makasih.
Reza : Bentar lagi lo dapet ponakan baru. Jeje hamil.
Izza : APA?!! Seriously?
Reza : Iya. Ntar malem lo sama Refan ke rumah utama bisa kan?
Izza : Aaaa bisa dong!! Ah gemes banget gue. See you ntar malem calon bapak-bapak mwahh!!
Reza : Hmm iye, gue tunggu juga dari lu sama Refan.
Izza : Sialan gugup amat!!
Reza : Haha.
tut tut....
"Kenapa seneng gitu? Emang nanti malem mau kemana?" tanya Refan langsung memberondongi Izza dengan pertanyaan.
"Nanti malem ke rumah utama, mau makan malam bersama kayaknya." jawab Izza.
"Dalam rangka apa?"
"Jeje hamilun." jawab Izza santai. Refan manggut-manggut.
"Kalo gitu bentar lagi pasti kamu nih yang nyusul." celetuk Refan. Izza tertawa lalu mengulurkan tangannya ke pinggang Refan.
"Aamiin. Sekarang masuk dulu yuk? Ngantuk nih aku. Ntar malem ada acara." ajak Izza merengek. Refan lagi-lagi tersenyum jahil.
"Yakin mau tidur doang?" tanya Refan menaik turunkan alisnya dengan tampang tengil seperti biasa. Izza mendelik.
"Tidur doang ya!! Ga ada aneh-aneh dulu pokoknya." omel Izza. Refan tertawa lalu membawa istrinya masuk ke dalam rumah.
"Iya sayang iya, bercanda doang."
...****************...
Tok tok tok
"SAYANG!!! ADA YANG KETOK PINTU TUH BUKAIN!" teriak Izza yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca besar di dekat almari. Refan yang kebetulan baru saja keluar dari bathroom dengan celana boxer hitam, bertelanjang dada, handuk putih bergelantung di leher dengan rambut masih setengah basah.
"Kok aku?" tanya Refan polos sambil tangannya sibuk dengan rambut. Izza mengeryit.
"Kamu mau bodyguard kamu itu ngeliat aku pake ginian?" tanya balik Izza. Refan melotot. Jelas tidak boleh! Alasan pertama adalah karena hanya orang-orang kepercayaan Refan dari BW yang boleh mengetuk pintu kamarnya, dan alasan kedua adalah karena Izza saat ini hanya memakai bathrobe putih dengan rambut yang sama basahnya dengan Refan.
Kalian pasti sudah tau mereka habis ngapain. Kalau Izza bilang dia akan tidur dan Refan mengizinkannya tanpa satu syarat, itu adalah hanya kebohongan saja! Mana bisa.
"Ga boleh lah. Ya udah aku aja deh." ucap Refan langsung menuju ke arah pintu yang masih di ketuk dari luar. Izza hanya melirik suaminya dari pantulan kaca sambil terus menyisir rambutnya.
Beberapa saat kemudian...
"Ada apa?" tanya Izza setelah Refan kembali.
"Kaosku mana dulu?" tanya Refan malah mencari kaosnya. Ia sudah terbiasa selalu disiapkan segala sesuatunya oleh istri tercinta.
"Tuh!" tunjuk Izza pada tepian ranjang. Sudah ada kaos merah maroon polos dengan tulisan kecil di pojok kiri atas. Refan langsung duduk di sana sambil memakai kaosnya.
"Itu tadi paket pesanan ku udah datang." ucap Refan menjawab pertanyaan Izza yang tadi. Izza sudah selesai mengeringkan Rambutnya. Ia kini berjalan mendekat ke arah suaminya untuk mengeringkan rambut agak panjang godrong itu.
"Paket apaan?" tanya Izza sembari mulai menyalakan hairdryer.
"Ada deh pokoknya, nanti aku tunjukin kalo kita keluar kamar. Aku suruh Jajang nyimpen di balkon belakang." jawab Refan sambil mengelus perut Izza yang tertutup oleh bathrobe. Izza hanya bisa tersenyum melihat tingkah aneh suaminya ini, sesekali ia menggeliat kegelian karena ulah tangan Refan.
"Kamu kenapa si? Geli tau!!" omel Izza yang akhirnya tak bisa diam saja karena merasa geli sendiri. Refan menggeleng kecil dengan kekehan.
Cups
Bukannya menjawab, Refan malah mencium perut rata Izza.
"Cepet hadir ya cintanya mama papa!" bisik Refan seolah sedang berbicara dengan seseorang tapi bukan menghadap orang.
"Kamu bicara sama siapa? Aku?" tanya Izza polos. Ia mematikan hairdryer nya karena telah selesai mengeringkan rambut sang suami.
Refan menggeleng.
"Bukan. Tapi sama anak kita nih." tunjuk Refan malah menyerukan wajahnya dengan gemas di perut rata Izza.
Izza tertawa.
"Heh emang udah ada? Yang hamil itu Jeje sayang.... Bukan aku. Gimana coba?" tanya Izza heran.
"Aku rasa di perut kamu juga udah ada buah cinta kita deh ay, bentar lagi juga bakal ketahuan kalo kamu ga percaya." ucap Refan sok tau. Izza mengeryit heran.
"Sejak kapan kamu banting setir dari CEO jadi peramal gini hm?" tanya Izza mengacak gemas rambut suaminya. Refan tertawa.
"Bukan ngeramal, tapi merasakan dengan feeling. Aku yakin nih cinta kita sebenarnya udah berbuah, cuman dia masih malu aja belum mau nunjukin diri." jawab Refan dengan yakin. Izza tersenyum dan manggut-manggut saja.
...****************...
"Jadi gimana kata kakakmu Marsha tadi?" tanya Ralita antusias menyambut Reza dan Ajeng yang baru pulang dari RtAx Hospital. Kebetulan yang menangani Ajeng adalah kakak iparnya sendiri alias Marsha. Fyi, mau list profesi menantu alexander dikit ya. Beby adalah seorang dokter spesialis organ dalam, sedangkan Marsha adalah dokter spesialis kandungan, Ajeng menantu perempuan Alexander yang berani berbeda profesi adalah seorang model dan desaigner, Refan? Kalian pasti sudah tau kalau menantu terakhir dari Ricko dan Ralita adalah seorang CEO sukses di usia mudanya.
"Jalan 5 minggu ma." jawab Ajeng. Ralita memeluk menantunya dengan penuh sayang.
"Aaaa mama seneng banget tau, akhirnya otw dapat cucu dari Reza sama kamu sayang!! Dijaga baik-baik ya kandungannya? Jangan kecapekan, kalau kamu mau kamu bisa mulai resign sementara dari dunia modeling. Sampai nanti anaknya lahir dan besar." tutur Ralita. Ajeng tersenyum tipis.
"Emmm untuk sementara ini aku belum resign dulu ga papa kan Ma? Kan perut Jeje juga masih rata, nanti kalo udah mulai besar aku baru diem di rumah." pinta Ajeng memelas. Ralita tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah ga papa kalo itu mau kamu, yang penting kamu ga boleh terlalu capek. Usia janinmu masih labil soalnya." jawab Ralita penuh pengertian. Ajeng mengangguk semangat.
"Reza kamu juga! Makin hati-hati jagain Jeje, jaga nih calon cucu ketiga mama." ucap Ralita serius kepada putra kembarnya. Reza langsung berpose hormat.
"Siap dong Ma! Anak pertama, launching perdana ya jelas bakal Reza jagain sama ibunya sekalian lah. Yakali!" jawab Reza siap. Ajeng tiba-tiba melamun sedih.
"Kamu kenapa?" tanya Reza yang lebih dulu peka. Ralita yang masih merangkul pundak Ajeng pun sedikit membungkuk untuk melihat wajah menantunya.
"Kamu sedih sayang? Kenapa? Masih kerasa ya mualnya?" tanya Ralita langsung sigap mengelus perut Ajeng. Tapi wanita itu menggeleng.
"Perut Jeje nggak papa kok."
"Terus kenapa kamu jadi murung gini?" tanya Ralita lagi. Ajeng tersenyum kecut.
"Jeje cuma keinget sama mama papa aja, anak tunggalnya hamil disaat mereka jauh di luar negeri dan ga memungkinkan untuk pulang sekarang. Jeje kangen sama papa mama." cicit Ajeng. Reza berdehem kecil untuk menetralisir air matanya yang hampir saja terjatuh. Laki-laki itu selalu bisa merasakan kesedihan di sudut hati istrinya tiap ia merindukan mama dan papanya yang kini menetap di Belanda karena suatu hal.
"Hey dont cry my beloved girl?!" ucap Ralita langsung sigap menghapus lelehan air mata di pipi Ajeng.
"Kamu kan punya mama sama papa Ricko? Ada Suamimu, kakak-kakak ipar kamu, Izza dan Refan juga akan selalu ada buat kamu di sini. Toh nanti pasti akan ada waktunya mama sama papa kamu bisa pulang kesini nengok anak dan cucu kesayangan mereka kan? Jangan sedih gini dong. Mama jadi ikut sedih tau!" tutur Ralita panjang lebar. Kedua tangannya sudah merengkuh tubuh Ajeng yang sedikit bergetar karena terisak.
Jelas tampak sekali kerinduan besar yang telah Ajeng pendam selama hampir dua bulan ini. Terakhir kali ia melihat mama papanya secara langsung adalah dua hari setelah weedingnya bersama Reza. Setelah itu, orang tuanya harus kembali lagi ke Belanda dan belum kembali sampai sekarang ini.
"Jeje ngerasa beruntung banget punya Mama Ralita yang udah kayak mama kandung Jeje sendiri." cicit Ajeng di dalam dekapan hangat Ralita.
"Ya harus dong. Sejak kamu menikah sama putra mama, itu berarti kamu juga udah jadi putrinya mama. Jangan nangis lagi okay? Mama papa kamu juga pasti udah kangen banget pengen ketemu kamu, tapi ya karena kendala aja mereka belum bisa pulang." tutur Ralita mengusap sekali lagi buliran bening di pipi Ajeng. Ajeng mengangguk.
"Ya udah mama mau balik ke dapur bantuin bibi-bibi masak buat acara kita nanti malam." pamit Ralita melepaskan pelukannya pada sang menantu.
"Jeje bantuin ya Ma?" tawar Ajeng hendak langsung menarik Ralita ke dapur tapi Ralita mencekalnya.
"Heh ga boleh! Kan mama baru aja bilang kamu harus istirahat, ini malah mau ikut masak." omel Ralita tak setuju.
"Yahh tapi Jeje mau bantu, masak doang ga akan capek Ma." elak Ajeng masih bersikukuh.
"Sayang bener tau kata mama, mending kamu istirahat aja ga usah dulu lah ikut gituan." larang Reza ikut turun tangan.
"Kamu juga ga ngebolehin nih?" tanya Ajeng. Reza mengangguk.
"Enggak dulu. Mending kita istirahat aja ayok."
...****************...
"Tadaaaa ini dia paketnya." seru Refan saat sampai di balkon lantai dua yang langsung mengarah ke halaman belakang. Di bawah sana ada dua bodyguard yang menjaga pintu belakang. Entah berapa puluh saja jumlah bodyguard terpilih dari BW dan BDG yang di pekerjakan oleh Refan. Bukan tanpa bayaran, mereka semua tetap di gaji oleh Refan karena profesional kerja meskipun mereka semua adalah anak buah Refan dan Izza sendiri. Tak disebutkan pasti jumlah digitnya, yang pasti mereka semua berharga fantastis karena mereka adalah yang terbaik dan dipilih langsung oleh Refan dan Genta.
"Ini semua buat apaan?" tanya Izza yang fokus pada satu box hitam besar di atas meja. Refan menarik sebuah kursi untuk Izza duduk.
"Duduk dulu dong."
"Udah! Sekarang ini apa? Paket apa yang segede ini?" tanya Izza tak sabaran. Refan mempersilahkan Izza untuk membukanya sendiri.
"Buka dong!"
"Ini isinya bukan bom kan?" tanya Izza curiga random. Refan tertawa.
"Ahahhah ya ga mungkin lah ay... Orang aku masih senantiasa terizza-izza. Yakali aku ngebom calon ibu dari anak-anakku?" tanya Refan dengan tawa gelinya.
"Ya siapa tau aja kan... Kamu tumben juga nyuruh buka sendiri, biasanya juga kamu yang menawarkan diri." bantah Izza makin curiga.
"Ya kan biar lebih surprise.. Udah tuh buruan gih." suruh Refan malah ikut gemas sendiri.
Izza pun mulai membuka tutup kotak itu dengan perlahan. Dan isinya, WHAT?!!! Jedai? Sebanyak ini? Untuk apa?
"Ini jedai? Sekotak gede gini buat apaan? Punya siapa?" pekik Izza syok melihat gundukan jedai berwarna hitam dan biru memenuhi kotak. Benar-benar penuh!!
Selama 23 tahun Izza hidup, secinta apapun Izza pada jedai, ia belum pernah membeli benda itu sampai sebanyak ini!
"Ya punya kamu lah! Ini semua buat gantiin jedai kamu, tadi di kantor aku ga sengaja jatuhin terus pecah hehe." jawab Refan terkekeh di akhir pengakuannya.
"Kamu kan suka jedai warna dua ini, jadi ya aku borong yang dua warna ini doang." tambah Refan.
"Jadi pas aku nyari jedai tadi, itu ulah kamu?" tanya Izza memicingkan mata. Refan nyengir polos.
"Hehe iya, sorry i did't see." jawab Refan memasang puppy eyes nya. Izza menghela nafas panjang.
"Ya tapi kalaupun kamu mau ngeganti, ga perlu sebanyak ini juga astaga!!" cicit Izza.
"Ya ga papa lah, anggep aja inisebanyak cintaku ke kamu sayang." jawab Refan masih bisa ngeles.
"Ya udah iya. Terserah apa kata big boss aja deh!!" jawab Izza pasrah hingga geleng-geleng kepala, ia tak habis pikir dengan ulah Refan yang seperti tidak ada habisnya. Hidupnya makin banyak kejutan sejak ia menikah dengan Refan. Semua yang diberikan oleh cowok itu lalu bernilai lebih dan lebih di mata Izza tapi dianggap cukup bahkan kurang bagi Refan.
The real of sugar daddy & sugar mommy.
Jadi ga kebayang anak-anak Refan sama Izza nanti bakal dapet fasilitas super apa aja!!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰