
"Nomornya tidak aktif bos."
"Ck. Kemana sih mereka?!" decak Refan makin khawatir.
"Coba telfon Izza!" suruhnya lagi. Marko menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.
"Saya ga punya nomornya bu bos atuh bos...."
"Ck. Anak buah macam apa sih ga punya nomor bos." gerutu Refan makin mengomel.
"Orang bos sendiri yang ga ngebolehin saya punya nomornya bos cantik.." lirih Marko menggerutu.
Refan menatapnya malas.
"Apa kamu bilang?" tanyanya datar membuat nyali Marko langsung menciut.
"Em itu bos, kan emang cuma Aris doang yang punya nomornya bos Queen."
"Ck."
"Emang bos ga hafal nomornya? Kalo hafal, coba telfon pake hp saya aja." usul Marko menyodorkan benda pipih di tangannya. Refan menggeleng.
"Saya ga hafal nomornya."
"Ck. Suami macam apa sih ga hafal nomor istri sendiri." celetuk Marko refleks. Seperti boomerang dari decakan Refan sebelumnya.
"Kamu mau saya kasih nomor akta kematian nggak?" tanya Refan memasang senyum psikopatnya. Marko segera menggeleng.
"Maaf bos."
"Ya udah kamu ke ruang IT sekarang! Lacak mobil yang dipake sama Aris." pungkas Refan yang langsung diangguki oleh Marko.
Tapi sebelum Marko benar-benar pergi, mereka dikejutkan oleh teriakan cempreng yang sangat familiar di rumah itu.
"AYANG!!!" teriak Izza seraya berjalan ke arah Refan, dengan polosnya wanita yang sedang menjadi buronan seisi rumah itu tersenyum tanpa dosa. Refan akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.
Disaat seisi rumah bingung dan terkena amukan Refan, Izza tiba-tiba muncul bersama Aris yang kedua tangannya dipenuhi oleh paper bag beraneka isi.
"Kamu ngapain berdiri disini sama pak Marko? Orang-orang kamu di bawah juga kek kalang kabut gitu, kenapa?" tanya Izza dengan watados andalannya.
"Hufftt... Kamu dari mana aja sih ay? Aku panik tau! Kamu dari siang ga ada kabar sama sekali." cicit Refan menangkup kedua pundak Izza kemudian memeluknya erat.
Izza mengeryit aneh di dalam pelukan sang suami. Ia baik-baik saja dan tidak ada yang terjadi, lalu kenapa Refan bersikap aneh seperti ini?
"Ga kemana-mana kok... Tadi cuma minta dianter Aris ke KFC doang, habis itu lanjut ke toko pancake sekalian beliin mama Alice. Aku mampir rumah mama soalnya, kangen sama Morgan Mondy. Hehe..." jawab Izza nyerocos panjang lebar. Refan geleng-geleng kepala, syukurlah tidak terjadi hal buruk.
"Kenapa ga bilang dulu hm? Aku khawatir..."
"Aku udah nyoba hubungin kamu tadi, tapi handphone kamu ga aktif terus! Karena aku tau kamu sibuk dan banyak kerjaan, jadinya ya udah aku langsung berangkat aja sama Aris."
"I'm so sorry..."
"Hah? Kenapa? Kamu ada salah?" tanya Izza tak mengerti.
"Maaf aku terlalu sibuk sama kerjaanku hari ini sampek ga bisa nemenin kamu! Besok-besok aku ga bakal gini lagi deh, daripada aku khawatir juga."
Marko dan Aris saling pandang, sudah tak mengherankan lagi ketika mereka melihat bos besar yang super dingin itu akan dengan mudah meleleh oleh istrinya.
"Astaga... Ga papa kali, aku ga papa deh beneran!!" jawab Izza mencoba membuat Refan tak merasa bersalah lagi. Refan tersenyum ke arah istrinya kemudian merubah wajahnya menjadi sedatar mungkin saat sepasang matanya beralih kepada Aris.
"ARIS!" panggil Refan garang mode on lagi.
"A-apa bos?" cicit Aris menelan ludahnya susah payah.
"Sekali lagi handphone lo ga aktif pas ngebawa istri gue, mati lu di tangan gue!" ancam Refan mengepalkan tangan. Aris nyengir kecil.
"Duh i-iya bos maaf. Paket data saya habis soalnya, saya lupa beli."
"Heh ssstt udah jangan marahin Aris! Orang ga salah apa-apa juga di marahin mulu." omel Izza.
"Ya dia juga bikin makin khawatir kalo ga bisa dihubungin ay..."
"Dahlah yuk masuk, makan salad buah dari mama nih." Izza kemudian menunjuk kantong belanjaan yang dibawakan oleh Aris tadi. Penuh buah, pancake dan salad.
"Aris kamu kasih ke Refan semuanya! Biar dia yang bawa masuk ke kamar." suruh Izza. Aris mengangguk lalu menyerahkan seluruh paper bag nya kepada Refan, kapan lagi ia bisa menyuruh-nyuruh bos nya kan?
"Sesuai permintaan bu bos, nih bos! Ambil semuanya terus bawa masuk!" ucapnya nyengir. Refan memutar bola matanya malas.
"Gua tandain muka lu Ris!"
...****************...
Dor dor
Dua tembakan tepat sasaran diluncurkan oleh Bima. Satu tembakan menembus mata sebelah kanan Refan sementara satu tembakan yang lain tepat menembus dada kiri atas, tepat di bagian jantung.
"Kira-kira seperti inilah ketepatan tembak yang bakal lo dapetin sebentar lagi Fan!" ucap Bima tersenyum miring menatap sebuah poster Refan yang ia pasang di tembok. Dua lubang tembakan yang cukup membangkitkan gairahnya untuk segera melancarkan aksinya.
"Lo mati gue-"
"Party coy!" potong Niko yang tiba-tiba nyeletuk memasuki ruangan pribadi Bima.
Bima menatapnya datar.
"Refan mati, gue dapet Izza! Tolol lo Nik." sentak Bima sebal. Niko terkekeh.
'Refan aja kucing, mana bisa mati segampang itu. Nyawanya aja ada sembilan!' batin Niko yang sejak SMP sudah sering melihat Refan hanya 'hampir' mati dibunuh oleh musuh-musuh papanya.
"Izza mulu, kek ga ada cewek cantik yang lebih mantep aja lo!" cibir Niko.
"Yang cantik banyak, tapi yang model Izza itu langka! Gue belum pernah jatuh cinta dan secinta ini sama cewek selain Izza."
"Tapi bukannya titik tertinggi mencintai itu adalah mengikhlaskan ya? Kenapa lo ga bisa?"
"Mengikhlaskan itu omong kosong! Gue cinta dia, jadi gue harus dapetin dia."
"Ck. Dahlah emang ga ada gunanya nasehatin orang bucin!"
"Haha, ada apaan lo kemari?" tanya Bima mode serius. Bercandanya sudah cukup!
"Soal pembelian senjata baru tadi, semua transaksi udah beres. Barang akan dikirim tengah malam nanti dan kemungkinan sampai dalam dua hari satu malam." ucap Niko memberitahukan apa yang ia dapatkan tadi.
"Maksud lo barang itu sampai sini siang?" tanya Bima mengeryit. Niko mengangguk.
"Iya."
Niko tertawa kecil.
"Oke juga jokes lu Bim."
"Bac*t lu! Buruan lakuin aja."
"Hm, gue sekalian mau pulang. Bosen udah tiga hari disini mulu!"
"Serah."
...****************...
Kriet
"Mandi doang lama banget!" ledek Izza saat Refan baru saja menginjakan kaki keluar dari kamar mandi. Bumil yang sedang memakan salad itu berdiri bersandar di lemari kaca depan bathroom dengan wajah julidnya yang tampak semakin menggemaskan dengan pipi chuby.
"Ini mah sebentar doang, masih lamaan kalo mandi sama kamu tuh!" jawab Refan tanpa dosa.
"Eleh eleh dasar couo!" sahut Izza dengan mulut penuh salad. Sangat menggemaskan!
"Kalo makan tuh sambil duduk sayangku...." omel Refan menoel hidung istrinya dengan gemas.
Izza nyengir kemudian memeluk tubuh dingin Refan yang belum memakai kaos. Refanpun membalas pelukan itu dengan suka cita.
"Gemes banget sih kamu!!"
"Ya ya dong... Oh ya, kamu mau salad buah?" ucap Izza menawarkan salad yang masih tersisa di cup tangannya.
"Kamu dari KFC beli ginian? Emang ada?" tanya Refan setelah melahap satu suapan dari Izza. Izza menggeleng.
"Dapet dari mama Alice. Tadi kan aku mampir ngebawain pancake gitu, terus mama ngajak jalan keluar kompleks buat nyari buah." jelas Izza.
"Oh... Kamu minta dibeliin mama?" tanya Refan to the point.
Izza menggeleng.
"Aku ditawarin ay."
"Terus kamu mau-mau aja?" tanya Refan lagi. Izza manggut-manggut dengan wajah polos andalannya.
"Ya mau lah! Rejeki gratis mah ga boleh di tolak. Lagian juga aku ga punya duit kalo mau beli beginian sendiri."
"Hah?!" pekik Refan terkejut mendengar pernyataan sang istri. Apa kata dunia kalau istri dari seorang Refan Alaska Dirgantara tidak punya uang?"
"Kenapa?"
"Kamu ga punya uang? Emang card kamu kemana? Kartu kredit, kartu ATM, kartu yang dari aku, dari papa sama ayah, dari mama-mama juga, terus black card mandiri milik kamu itu semuanya kemana? Hilang kah? Apa gimana ay? Kok bisa kamu ga punya uang." cerocos Refan menyerang Izza dengan berbagai berondongan pertanyaan.
"Enggak hilang." jawab Izza enteng.
"Terus?"
"Ya, kan aku punyanya cuma kartu! Uang cash nya ga ada ay... Masa iya jajan di toko buah deket gang doang harus make kartu? Kan ga bisa aku." jawaban Izza sontak membuat Refan menghela nafas berat, mau heran tapi inilah sifat random Izza.
"Astaga sayang.... Aku kira kamu beneran ga pegang uang tau! Hampir aja aku ngerasa gagal jadi suami."
"Tapi faktanya emang aku ga pegang cash selembarpun! Jangankan seratus ribu, serebu aja ga punya aku."
"Mau heran tapi ini kamu..." keluh Refan. Izza tertawa kecil.
"Hehe dahlah siapa suruh kamu heran..."
"Dasar bumil bocil!!" ucap Refan gemas mengacak-acak rambut panjang Izza yang di cepol sembarang.
Refan kemudian berjalan menuju lemari pakaian, mencari kaos putih oblong. Sementara Izza duduk santai di sofa dekat cermin, masih sibuk dengan se-cup salad.
"Kamu sebenernya kenapa sih?" tanya Izza tiba-tiba. Refan yang sedang menyisir rambut di cermin itu melirik istrinya sejenak.
"Kenapa gimana maksudnya?"
"Yang tadi itu, khawatir yang kamu tunjukin kek berlebihan banget. Ga kayak biasanya, ada masalah apa?" tanya Izza yang memang tak pernah salah dalam membaca bahasa tubuh seseorang. Tebakannya bahkan hampir tidak pernah meleset!
Untuk beberapa saat Refan hanya diam, antara iya atau tidak haruskah ia menceritakan hal ini?
"Heh malah ngelamun! Kamu kenapa tadi?" tanya Izza ulang. Ia menyenggol kaki bawaj Refan dengan kakinya.
"Huh, aku mau kamu pergi aja ya kalo ketemu Bima lagi sewaktu-waktu? Aku mau kamu jauh-jauh dari dia." ucap Refan dengan satu helaan nafas.
Izza melongo.
"Astaga... Gegara cemburu lagi? Tenang aja kali au! Aku tadi juga ga ada ketemu Bima kok."
"Ini lebih dari itu ay.... Ga sesimple itu."
"Maksud kamu?"
"Ternyata YH leader Bloody Wolf itu adalah Bima. Yang selama ini kita cari-cari adalah orang yang dikembalikan oleh dendam masa lalu atas kamu." pernyataan Refan sontak membuat Izza membeku. Apa ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Bima waktu itu?
"K-kamu serius?!!"
"Iya."
"Wah asik dong!!" celetuk Izza yang langsung merubah raut wajahnya dari kaget jadi antusias. Refan ngebug seketika.
"Dih bumil kocak, malah bilang asik!"
"Ya gimana lagi? Terus gimana?"
"Besok malam aku sama Rafael bakal ketemu di markas, sama Genta, Ilham, dan Dandy juga."
"Kenapa besok? Kenapa ga malam ini aja? Tumben kamu nunda waktu." tanya Izza heran.
"Dandy ga bisa cabut dari markas BD malam ini, lagian juga Kevin masih di Bogor. Aku kan butuh dia juga."
"Oh..."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰