IZZALASKA

IZZALASKA
73. Deal



"Oke jadi udah deal ya?" pungkas Genta mengakhiri meetingnya dengan Refan.


Refan mengangguk.


"Deal!!"


Dua lelaki yang sama-sama mengenakan setelan jas hitam itu pun saling berjabat tangan untuk menandai kesepakatan perpanjangan kerja sama antara kedua belah pihak, Alvaro Group dan RnAs Crop.


"Oke sekarang ada hal lain yang mau gue omongin." ucap Refan setelah jabatan tangan itu terlepas.


"Soal?"


"Gangs-"


Sebelum Refan menyelesaikan ucapannya, Genta lebih dulu mengkode sekertarisnya agar keluar ruangan. Sekertaris itu mengangguk lalu pamit undur diri dan pergi.


"Oke, mau ngomong masalah apa? Langsung aja Fan!" suruh Genta. Refan mengangguk lalu mulai menjelaskan akar masalahnya.


"Jadi gitu...." pungkas Refan mengakhiri cerita singkatnya. Genta manggut-manggut.


"Gue setuju sih soal itu. Emang lebih baik kita selesaiin semua masalah dan teror ini secepatnya, tapi akan lebih baik lagi kalo kita sedikit bersabar dan mengulur waktu demi Izza sama calon anak-anak kalian." jawab Genta penuh pertimbangan.


"Nah itu dia point paling pentingnya Ta.... Lo kan tau sendiri sifat keras kepalanya Izza tuh kek apa, bener-bener ga ada yang bisa nego apalagi nolak semua keputusan dia."


"Hm gue udah hafal, adek cewek gue emang ga kalah kerasnya dari Ilham."


"Ah iya ngomong-ngomong soal Ilham, tu anak belum kemari hah?" tanya Refan celingukan. Barangkali Ilham nyempil di pojok atau di selipan sela-sela sofa kan?


"Ngapain lo nyari dia?"


"Ada yang mau dibicarain kemarin." jawab Refan membuat Genta memutar bola matanya malas.


"Ck. Kalo gitu lo harusnya nyari Ilham ke markas! Jangan kesini, ga bakal nemu lo. Dia aja kesini cuma sekali dalam 10 bulan purnama." cerocos Genta mode hyperaktif. Refan mengeryit, menatap lelaki beranak satu ini dengan sangat aneh.


"Tumben lu banyak bacot." ledeknya.


"Ketularan Ilham." jawab Genta ngawur.


"WEH WEH WEH APAAN BAWA-BAWA GUA?!!"


"Nah tuh setannya muncul." tunjuk Genta pada laki-laki beroutfit swag serba hitam dengan topi dikepalanya. Ilham, entah sejak kapan ia berdiri di ambang pintu.


"Lebih pantes disebut iblis sih." koreksi Refan.


Ilham yang secara gamblang mendengar dirinya diejek hanya bisa mendengus pasrah.


"Rese lu berdua!"


...****************...


"Hmmm yummy... Pancake buatan mama emang ga pernah salah deh!" puji Izza melahap pancake cokelat buatan Ralita.


"Ya iya dong, mama gitu loh...." sahut Ralita menyombongkan kemampuannya ini. Izza geleng-geleng dengan tawa kecil.


"Umur udah tua masih aja songong, haha.."


"Heh umur itu cuma angka sayang!! Jiwa mama masih seumuran sama kamu tau."


"Iya deh iya serah mama aja, asal seneng aja udah."


"Dasar anak nakal..." gerutu Ralita menjewer kecil telinga anak bungsunya ini. Izza terkekeh, selalu menyenangkan rasanya saat ia memiliki waktu luang bersama mamanya.


"Mmm si Jeje sama Reza jadi ke rumah orang tuanya Jeje Ma? Udah berangkat?" tanya Izza mengingat semalam Reza dan Ajeng bilang ingin berkunjung ke rumah orang tua Ajeng untuk seharian.


"Jadi tuh, baru aja mereka berangkat. Katanya mereka nyari-nyari kamu tapi ga ketemu."


"Hehe Izza udah ndisini dari sejak Refan pergi tadi pagi, Ma."


"Kamu mah dari dulu emang hobi banget nyempil di atas sini. Untung aja tebakan mama bener dan bisa nemuin kamu!"


"Mama tau ga si? Meskipun di rumahku sama Refan juga ada rooftop tapi aku lebih suka rooftop di rumah ini, aku jarang banget naik ke rooftop disana."


"Kenapa? Bukannya udah kamu renov ya semua arsitekturnya sampe mirip banget sama rooftop di sini?" tanya Ralita mengeryit heran.


"Ya iya... Tapi Vibes di rooftop ini tuh kek bener-bener ga ada lawan gitu."


"Mmm ah iya ngomong-ngomong soal Rooftop, tadi Alice telfon." ucap Ralita teringat sesuatu.


"Lah? Apa hubungannya mama Ice sama rooftop?" tanya Izza menaikkan sebelah alis heran.


"Ga tau, tapi mama jadi keinget aja."


"Terus?"


"Alice tadi kerumah kamu, terus dikasih tau ART kalo kalian nginep disini."


"Mama Ice jadinya kesini dong?" tanya Izza dan Ralita mengangguk.


"Iya, lagi otw."


...****************...


"APA?!!!" seru Genta dan Refan bersamaan. Keduanya melotot kaget kepada Ilham yang justru malah duduk berpangku kaki dengan santai di sofa single itu.


Ilham mengangguk.


"Gue rasa liburan musim panas ini udah berakhir..."


"Hm, mereka ngilang selama beberapa minggu lalu kembali lagi, diawali dengan pembobolan situs data semalam. Menurut lo, semalem itu mereka cuma iseng doang hah?" sahut Ilham menatap wajah polos Genta dan Refan dengan sebal.


"Bener juga sih kata Ilham." sahut Genta sepemikiran.


Refan manggut-manggut.


"Sialan! Tanggung banget."


"Apanya yang tanggung?" tanya Ilham heran.


"Perkiraan Izza lahiran masih tiga minggu lagi, harusnya mereka balik tuh saat itu! Bukan sekarang anj*ng." gerutu Refan emosi.


"Lah lu kira mereka mitra kerja yang bisa diajak request tanggal hah?" sahut Ilham julid mode on.


"Ck."


"Ga papa, kalo kemungkinan terburuk beneran terjadi, kita talangin aja dulu serangan mereka-"


"Lah lu pikir mereka ini utang perusahaan bang? Bisa ditalangin begitu?" sahut Ilham lagi. Panas-panas gini emang yang paling asik tuh nampol kepala orang kan?


"Lah leh lah leh sekali lagi gue tampol lu!" ancam Genta naik darah.


"Ehehhe sorry, bercanda!"


"Maksud gue ya sebisa mungkin kita hindarin dulu perang-perang begituan, posisinya bener-bener ga aman buat Izza." jelas Genta yang mendapat respond anggukan oleh Refan maupun Ilham.


"Nah bener bang! Dari bulan lalu aja si Izza udah ngeyel banget pengen ikut ngebasmi YH sama perintilannya itu. Gue setuju untuk ngulur waktu dulu!"


"Perintilan? Lu pikir aksesoris cewek kali-"


"Ham..." potong Genta jengah. Ia menunjukkan kepalan tangan kekarnya kepada sang adik.


"Skip baperan ah." ketus Ilham dramatis.


"Bukan baperan kampret! Tapi serius, ah tau ah males gue sama lo." sahut Refan menggerutu.


"Tuh kan tuh kan baperan juga lu pakmil."


"BAC*T!"


"Dah dah udah!! Ham disini gue percayain urusan gangster ke lo, sebisa mungkin hindarin dan tangkis. Gue masih harus ngehandle perusahaan ini plus Andin juga minta bantuan gue buat ngurus perusahaannya Queen." lerai Genta.


Ilham mengangguk.


"Padahal tangan gue udah gatel pengen ngeracun orang...." ucap Ilham berandai-andai. Senyumnya mengembang penuh hayalan, otak psikopat memang beda!


"Minimal tunggu anak gue lahir dulu, pet sikopet!" sungut Refan menonyor kepala Ilham. Ilham mendengus.


"Iye bawel!"


"Oh ya, penyamarannya Dandy itu gimana? Terakhir kali gue dapet laporan dari Kevin sama Leon kalo dia masih lanjut misi penyamaran di kubu Bloody Dragon?" tanya Refan teringat sesuatu.


"Dandy masih disana sampe sekarang." jawab Genta.


"Dia dua minggu ini enak njir tiduran santai disana, lah gue? Mau ada masalah atau enggak juga jalan terus kerjaan." adu Ilham hendak kompor tapi sayangnya Genta dan Refan adalah dua manusia yang kebal dengan kompor panas Ilham yang suka ngelantur.


"Mata lu enak! Dia nyamar aja tingkat bahayanya lebih gede daripada kita tolol." maki Refan.


"Ya kan tetep aja dia ada waktu santai ege!!"


"Tapi gue heran deh, kenapa lo ngirim Dandy? Kenapa ga orang lain aja?"


"Karena Dandy itu hidden power andalan milik BDG." jawab Genta tersenyum tipis. Selalu bangga rasanya tiap ia menyandingkan gelar 'hidden power' di belakang nama Dandy. Tangan kanan yang benar-benar tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya, bahkan kesetiaannya juga sangat teruji di Black Diamond Girl.


"Kalo gue hidden visual, yang tetep ganteng meskipun jarang terlihat." sahut Ilham lebih bangga. Jangan heran, namanya aja Ilham:')


"Kalo Izza disini dia pasti bakal bilang gini.... Ga usah kepedean ganteng! Lo bukan Seokjin apalagi Chanyeol." ucap Refan menirukan gaya bicara Izza tiap kali ia sok kegantengan didepannya.


Genta tertawa sementara Ilham mendengus.


"Queen kan wmang rada-rada! Yang didepan mata dibilang jelek, yang ga mungkin kegapai diganteng-gantengin."


"Mau heran, tapi kok dunia K-pop."


"AHAHAHHA."


"Ssssttt jangan gitu, disemprot readers yang kpopers ntar mamp*s lu pada, ahahah." sahut Genta menengahi. Refan dan Ilham yang tadinya tertawa langsung buru-buru menutup mulut.


"Oh ya, serem."


"Btw Ham, lo jangan lupa kabarin Dandy soal penyerobot data semalam. Biar dia waspada disana!" pesan Genta yang diangguki mengerti oleh Ilham.


"Hm."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰


Hy guys, readers Bad Twins + IZZALASKA yang seria!! Im come back.


Hihi sorry ya udah ngilang berabad-abad. Sekarang aku udah balik dan ga akan pergi sebelum cerita ini tamat kok! Yang penting kalian stay tune + jangan lupa jempol sama komennya aja, wkwk.


See u in next part!


Love u all💚💚