
"Udah waktunya kerja woy kerja! Berduaan mulu sama istri, lo pikir istri lo cukup makan pake cinta doang hah?"
"Wehh kok ngamok?" pekik Darrel bergidik ngeri. Izza memutar bola matanya malas.
'Gua cekek juga lu lama-lama!'
"Iya Rel, iya emang gue tau itu liburan lo pasti enak. Tapi gue sama Andin yang ga enak! Tiap hari gelagapan ngurus ini-itu cuma berduaan doang. Elu ngambil cuti nya udah kebanyakan banget nyet!! Mentang-mentang kerja sama sohib sendiri, sekate-kate lu minta cuti." cerocos Izza tanpa titik koma. Refan manggut-manggut, sejak Darrel pergi memang Izza lebih sering pulang telat karena pekerjaannya dan Andin yang super numpuk.
Bayangkan saja, pusat perusahaan sebesar itu dan satu cabangnya di jakarta hanya di urus oleh Izza dan Andin padahal biasanya ada Darrel juga yang ikut andil dalam masalah. Mau minta tolong Ardi pun sudah pasti tidak bisa karena perusahaan cabang di Bandung juga sangat minim waktu senggang.
"Keterlaluan lu Rel! Enak-enakan honeymoon padahal bu bos lo sendiri belum sempet ngerasain honeymoon. Mana pake rencana gelombang kedua lagi. Serakah amat lu! Ya kan ay?" sahut Refan. Izza mengangguk.
"Pokoknya ga ada cuti lebih dari dua hari buat lo! Kemarin, seminggu itu cuma gue kasih sekali seumur hidup lo di kantor ini. Gue ga bisa ngalor ngidul sama Andin doang kampret!! Ngadi-ngadi lu bisa-bisanya kepikiran mau honeymoon lagi." jawab Izza lagi. Darrel melongo. Oke! Sepertinya ini adalah antara tuntutan pekerjaan dan iri-nya Refan Izza karena mereka sebagai bos sendiri belum sempat honeymoon.
"Busett baru juga pulang, udah kena sembur aja." keluh Darrel geleng-geleng.
"Tuh rasain sensasi pedasnya omelan bini gue haha." celetuk Refan.
"Untung aja gue butuh elu Rel, kalo enggak butuh udah gue depak lu dari seminggu lalu!" omel Izza lagi. Terbayarkan sudah kekesalannya atas Darrel yang menghilang dari kantor selama seminggu ini! Izza sudah bisa memaki penyebab kelelahannya secara langsung.
"Widihh ngeri!! Lagi bunting gede gitu emang bisa kah ndepak gue?" ledek Darrel rese.
'Gede juga nyalinya.' batin Refan mencemaskan nasib Darrel selanjutnya. Jokes-nya salah tempat woe!
"Lo ngeremehin gua? Butuh bukti lu?" tanya Izza hendak berdiri dari kursi tapi di cekal oleh Refan.
"Haiss ay udah ga usah ngeladenin si Darrel. Lu juga kampret demen banget mancing emosi istri gue!" semprot Refan. Darrel bergidik ngeri.
"Ahahaha becanda aja bos!!"
"Arghh bisa depresot gue! Udah sono kerja, tanyain ke Andin apa aja jadwal lo hari ini." suruh Izza mengusir Darrel.
"Iye pergi lu! Istri gue hamil gini ntar bahaya kalo deket-deket sama kang pancing emosi!" sahut Refan ikut mengibaskan tangan. Darrel masih tetap santai di tempat, ada jokes yang masih ingin ia lempar.
"Btw harusnya yang punya anak dari lo itu gue ga sih Lex? Ini si Refan dateng-dateng dulu langsung serobot aja. Padahal kan gue dulu udah niat banget pengen ngajakin lo balikan." ucap Darrel dengan wajah tanpa dosanya.
Refan melotot, melemparkan sebuah bolpoin dari meja Izza ke arah wajah polos Darrel. Darrel mengelus jidatnya yang terkena hantaman ujung bolpoin karena tak sempat menghindar.
"Heh anj-" umpat Refan kesal. Terpotong pula oleh Izza yang malah mengiyakan kata Darrel tadi.
"Tapi harusnya emang iya, kalo lo ga main kuda-kudaan sama Cecill di belakang gue!" sahut Izza bersungut-sungut. Refan malah manggut-manggut dengan menatap lurus ke Darrel.
"Busehh makin bar-bar aja mulut lo Lex!" cicit Darrel ngeri.
"Diajarin sama Refan." tunjuk Izza pada Refan yang juga balik menatapnya.
Refan tersenyum bangga.
"Wah ajaran gue ada gunanya nih!" seru Refan bersemangat, kekesalannya pada Darrel tadi langsung luntur begitu saja.
"Gue mau julid, malah jadi trauma sendiri hiiii." cicit Darrel makin ngeri dengan kebar-baran sepasang calon bapak-emak ini. Refan Izza garis keras!!
"Udah sono lu kerja! Ngapain di ruangan ini dih huss huss!!" usir Refan mengibaskan tangannya. Darrel mengeryit heran.
"Dih? Heh bapak Refan yang terhormat, maaf-maaf aja nih ya. Tapi biasanya juga gue kerjanya di ruangan ini, ngelakuin ini itu yang disuruh sama bu bos. Terus apa masalahnya kalau gue di sini heh? Lu siapa mau ngusir gua? Elu bukan CEO-nya, lu CEO sebelah." sembur Darrel memutar bola matanya malas.
"Cerewet!! Batal kawin tiga bulan aja belagu lu. Sono hussss!!" sembur Refan kesal.
"Diundurin pak bukan dibatalin!!" balas Darrel tak kalah kesal.
"Ah sama aja lah. Sama-sama kepending bwahahaha." ledek Refan menye. Darrel memutar bola matanya malas. Memang pernikahan Darrel dan Vallerie sempat mengalami kendala hingga harus di undur selama tiga bulan lamanya. Yang awalnya direncanakan pada januari akhir, menjadi pertengahan April.
"Ga papa weedingnya kepending, yang penting honeymoon aman bos!!" ucap Darrel meledek. Refan mendengus malas. Bisa-bisanya malah jadi senjata makan tuan!
"Ah berisik!! Udah sono lu keluar cepet!"
"Lo mau ngapain sih ribut mulu ngusir gue dari tadi!" sungut Darrel jengah.
"Gue mau main congkak sama Izza, lo mau tremor jadi saksi?" tanya Refan skakmat. Darrel langsung putar badan dan hendak pergi.
"Eh eh enggak jadi deh, yodah gue keluar sekarang. Bye!!"
"Nah gitu dong dari tadi!" pungkas Refan tersenyum miring melihat Darrel pergi. Izza menepuk kaki Refan.
"Main congkak apaan ay? Kenapa tuh anak langsung kabur?" tanya Izza heran. Refan menjawabnya dengan menaik turunkan alis.
"Biasalah!"
...****************...
"Kita ga ada niat reunian lagi nih?" tanya Zaki setelah menyeruput secangkir kopi.
Rafi mendengus malas, si biang rusuh bernama Zaki ini memang adalah yang paling sering minta reuni. Katanya karena teman kuliahnya tak ada yang seseru geng sengklek, hanya Rafi yang benar-benar sefrekuensi dengannya. Dasar anak kembar beda rahim beda ******! Mentang-mentang mereka berdua sudah jadi tetangga dan bersahabat sejak kecil, hingga kini kuliah pun mereka tetap memilih satu unniv yang sama. Bahkan percaya atau tidak, perusahaan Wijaya Group dan Deandra Corp juga memiliki letak yang sangat dekat. Hanya berjarak sekitar dua KM saja.
Rafi dan Zaki adalah definisi ga nempel, ga bisa hidup!
"Lo gila? Mana ada reuni hari senin kek begini? Pada sibuk semua! Salma sama Tania aja baru pulang bulan depan setelah wisuda." sahut Rafi menatap laki-laki didepannya dengan malas.
Dua manusia rusuh yang sedang berada dalam mode tenang ini sedang nongki santai menikmati liburan mereka sebelum wisuda di Paris. Mereka punya lima hari untuk bersantai di Jakarta sebelum kembali ke Paris untuk wisuda minggu depan.
Fyi, Kennath sudah menikah dengan Syila. Sebulan yang lalu, diselenggarakan di salah satu hotel Bali dan dengan rombongan lengkap dari geng sengklek. Kennath kini menetap di Bali karena bisnis baru dari keluarganya di sana dihandle langsung oleh laki-laki berdarah Sunda-Perancis itu. Lagipula Bali juga adalah tanah kelahiran Syila, istrinya.
"Oh iya lupa, kan udah pada sibuk kerja ya... Kita doang yang masih mager ngantor padahal minggu depan udah wisuda haha." sahut Zaki menertawakan diri mereka sendiri.
"Setelah minggu depan, keknya kita bakal nyusul Reza sama Refan deh Jak." celetuk Rafi. Zaki mengeryit.
"Nyusul gimana?"
"Kerja lah bodoh!! Emang lu pikir bokap bakal terus-terusan ngebiarin kita nongki sana-sini? Apalagi ada doi yang harus segera diberi kepastian. Feeling gue sih, setelah wisuda minggu depan pasti kita udah dijeblosin ke kantor bokap kita masing-masing." jelas Rafi panjang lebar. Ia sudah tau soal kemungkinan ini. Oh ralat! Bukan kemungkinan, tapi sudah menjadi sebuah kepastian yang akan terjadi. Secepatnya!
"Aaaa gue pisah dari elo dong Rap? Anjrot gue belum siap hidup tanpa elu di samping gue!!" pekik Zaki alay seperti biasanya.
"Najis anj*ng!!" maki Rafi bergidik ngeri.
"Seriusan nj*ng! Gue udah kebiasaan kemana-mana kan sama elu. Masa kerja jadi satuan terpisah sih? Masa iya anak kembar kepental kerjaan."
"Ya terus lo mau apa? Wijaya sama Deandra itu cuma ditakdirin buat berkolaborasi, bukan bersatu bodoh! Mak bapak kita udah jelas beda ya, jangan ngadi-ngadi lu. Reza sama Izza yang jelas kembaran asli aja kerjanya beda tempat tuh!"
"Ya kan beda konsep bege!" sembur Zaki.
"Sama aja tolol!" sahut Rafi tak kalah ngegas.
"Beda."
"Sama!"
"Ah atau gini aja, gue punya jalan keluarnya Rap." pungkas Zaki.
"Apaan?" tanya Rafi agak tak yakin. Pasti idenya Zaki tidak akan jauh-jauh dari kata ngawur.
"Gimana kalo lo jadi asisten gue aja? Jadi lo kerja di Wijaya Group. Biar kita bisa selalu berkolaborasi!" usul Zaki seenak jidat. Rafi melemparkan sebuah gumpalan tisu ke arah cowok di depannya.
"Matamu songklak!! Gue bisa jadi CEO tunggal di perusahaan bokap gue, ngapain gue mau susah-susah jadi bawahan lo? Kuliah jauh-jauh, pegel-pegel tapi jadi asisten lo? Dih najis Jak!!"
"Kan biar enak Rap." decak Zaki sebal. Rafi memutar bola matanya malas. Zaki ini bodoh atau bagaimana?
"Ya udah kalo lo maunya kita barengan, lo aja yang jadi asisten gue di Deandra Corp. Gimana?" usul Rafi membalikkan usulan Zaki yang tadi. Sekarang gantian Zaki yang melemparkan gumpalan tisu.
"Yee jangan gitu juga dong!! Anak cucunya Wijaya kan cuma gue. Gue pewaris tunggal Rap, masa iya gue musti lari kerja ke perusahaan orang!" balas Zaki nyembur galak.
"Ya udah sama aja sama gue Jakiiiii!! Gue juga harapan satu-satunya bokap gue. Ah tau ah emosi gue tiap hari ngomong ngawur mulu sama elu!" keluh Rafi hampir frustasi.
"Lo pikir lo doang? Gue juga pusing tiap hari maki-makian mulu sama lo monyet!!" sembur Zaki ikutan frustasi.
"Hufft terserah! Ilham sama Diva jadi nyusul ga?" tanya Rafi mengalihkan. Bisa gila mereka berdua kalau terus-terusan berdebat.
"Jadi dong! Ayang Dipa udah ngajakin Ilham tadi, dan katanya Ilham mau." jawab Zaki.
Alhamdulillah! Perhatian Zaki bisa dialihkan. Kalau tidak, bisa runyam suasana ReIz cafe yang mereka datangi ini. Ya! Mereka sengaja datang ke cafe milik temannya sendiri. Harapan awalnya sih biar siapa tau nanti ketemu sama Izza sekalian, tapi ah sudahlah.
📞Ayangdipa is calling....
"Panjang umur nih anaknya nelpon!" ucap Zaki menunjukkan layar iPhonenya pada Rafi. Rafi manggut-manggut sambil memakan camilannya di atas meja.
Zaki : Gimana yang?
Diva : Udah disana sama Rafi?
Zaki : Udah nih, udah sepuluh menitan kita nunggu kalian berdua. Mahli jadi ikut kan?
Mahli adalah nama panggilan terbaru dan terupdate dari Zaki untuk Ilham.
Diva : Jadi tapi ini aku diajak mampir dulu ke kantornya. Katanya ada yang harus dia laporin ke kakaknya.
Zaki : Kamu nebeng Mahli? Terus sopir kamu?
Diva : Hehe iya sekalian, tadi sopir aku lama jemputnya. Ya udah aku ngikut Ilham aja deh.
Zaki : Ooo ya udah ga papa, hati-hati yang.
"Cih najis bucin!!" terdengar umpatan geli dari seberang telepon. Pasti itu dari Ilham.
Zaki : Kasihin teleponnya ke Mahli bentar yang.
Diva : Nih udah!
Zaki : Woyyy Mahli!!
Ilham : Apaan?
Zaki : Hati-hati lu bawa cewek gue. Inget lu bulan depan udah mau kawin, kalo lo lecet nanti kan sayang haha.
Ilham : Mau gue bawa ngebut nih mobil. Seenggaknya kalaupun gue mati dan gagal kawin, lo juga bakal batal nikah haha.
Zaki : Kan masih da Salma yang senasib sama gue.
Ilham : Yee suek lu! Dahlah Bye!!
Tut tut tut....
"Ni anak berdua mampir dulu ke Alvaro Group Rap, Ilham ada urusan dikit." ucap Zaki meletakkan kembali iPhonenya di meja. Rafi tampaknya tak mendengar apa yang dikatakan olehnya, cowok itu malah tampaknya sedang asyik menguping sesuatu di balik tembok tempat mereka duduk. Tempat duduk yang bersinggungan dengan tembok sebagai penghalang sepertinya membuat Rafi agak kesusahan menguping sesuatu itu.
"Woyyy nguping apaan lu?" tanya Zaki kepo. Ikut memasang kuping. Rafi berdesis dengan jari telunjuk di bibir, bermaksud agar Zaki diam dulu.
"Ssstt lo denger ga Jak?" tanya Rafi.
"Denger apaan?" tanya Zaki berusaha memasang telinganya baik-baik.
"Tuh suara cewek dibelakang nyebut-nyebut nama Ipin sama si kulkas." ucap Rafi membuat Zaki makin antusias.
"Izza Refan?" tanya Zaki, Rafi mengangguk. Zaki pun memasang telinganya lebih ekstra.
"Iya Rap, kek beneran ngomongin pasangan kulkas deh." ucap Zaki setelah dua kali mendengar nama Izza dan Refan. Mungkin memang nama itu tidak hanya satu, tapi ada salah satu dari mereka yang menyebut kata 'CEO Rz Corp' dan nama perusahaan itu hanya ada satu di Indonesia, hanya milik Izza.
"Mereka siapa ya?"
"Ga tau, pakaiannya rapi kantoran gitu. Temen kerjanya kali." jawab Rafi mengendikkan bahu tak tau. Zaki ikut manggut-manggut saja.
"Nanti gue tanya ke Ilham deh, pasti tuh anak tau."
"Iya terserah apa kata bapak Aidan Wijaya aja!!"
A few moment later :'v
"Woyooo brader malkis keju prancis!!" seru Ilham yang tiba-tiba menepuk pundak Zaki.
"Dark jokes anjir!" pekik Zaki kaget.
"Makin ngadi-ngadi aja mulutnya." sahut Rafi tertawa. Mereka kemudian bertos ria berempat, dengan Diva pula.
"Ayang dipa duduk di sini!" suruh Zaki menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Ilham duduk di sofa sebelah kanan meja, diantara sofa tempat duduk Zaki dan Rafi.
"Ham lo jadi kawin bulan depan?" tanya Rafi to the point. Ia ingin tau apakah Ilham benar-benar akan langsung tancap gas setelah Salma lulus dari Jerman nanti.
"Jadi dong!"
"Sama Salma beneran?" tanya Rafi lagi.
"Ya iya lah! Emang mau sama siapa lagi? Tania kalo gue gaet gimana hah?" tanya balik Ilham. Lagian Rafi juga sih, ngasih pertanyaan udah kek nyari penyakit.
"Woeee sembarangan congor lu liar amat!!" semprot Rafi kesal.
"Pertanyaan lu aneh goblok!" maki Ilham tak kalah kesal.
"Heh udah udah! Sesama goblok ga usah olok-olokan. Malu sama sesepuh!!" omel Zaki menengahi pertikaian tak bermutu ini. Rafi dan Ilham menoleh serempak. Sementara Diva yang duduk santai bersandar di pundak Zaki hanya mendongak, ikut nyimak doang.
"Iya! Lu sesepuh gobloknya." sembur Ilham.
"Bwahahahaa savage!" pekik Rafi tertawa ngakak. Ilham dan Rafi bertos ria. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka berdebat, sekarang malah jadi sekutu.
"Yee songong amat lo Mahli!" maki Zaki kesal. Ilham memasang wajah datar tak berekspresi.
"Nama gue Ilham goblok bukan Mahli!"
"Kebalik ga tuh haha." celetuk Diva.
"Ah dibolak-balik juga sama aja yang. Otaknya Ilham juga udah kebalik dari dulu." jawab Zaki santai sambil menyandarkan kepalanya di kepala Diva yang ada di pundaknya. Ga ada akhlak emang, bisa-bisanya bucin di depan dua cowok yang ditinggal LDR sama pacarnya.
"Definisi nyindir diri sendiri ya gini nih." celetuk Ilham manggut-manggut tanpa dosa, memutar balikkan keadaan. Zaki memutar bola matanya jengah.
"Laknat!!"
"Ahahahaha."
Setelah puas menertawakan Zaki, Ilham beralih pada Rafi. Dua orang yang bulan depan akan sama-sama datang ke Jerman untuk menghadiri wisuda dari pacar masing-masing karena Salma dan Tania berada di universitas yang sama. Diva dan Zaki? Lagi sibuk bucin!
"Eh Li!" panggil Zaki yang teringat sesuatu.
Ilham tak menggubrisnya. Ia memilih untuk mengasyikan diri melihat orang yang berjalan lalu lalang sambil sesekali berbicara dengan Rafi.
"Woy Mahli!! Budeg lu?" panggil Zaki emosi karena dikacangin.
"Cinta ini kadang-kadang tak ada logistik eh-" bukannya menjawab panggilan Zaki, Ilham malah bernyanyi dengan nada dan lirik yang super ngasal.
"Logika goblok bukan logistik!!" protes Rafi tertawa ngakak. Ilham tertawa receh.
"Oh udah direnovasi ternyata."
"Dari dulu perasaan juga udah kek gitu deh. Ya ga si?" tanya Diva menggaruk keningnya yang tiba-tiba gatal karena berfikir.
"Udah Div ga usah di dengerin, Ilham emang ga ada obeng tololnya. Udah stadium akhir, ga bisa disembuhin lagi." tutur Rafi geleng-geleng. Ilham tertawa lagi.
Keberadaan Zaki sontak seolah menghilang begitu saja padahal biasanya dia yang mulutnya paling aktif.
"COEEEGG! Gue dikacangin mulu bangs*t!!" maki Zaki kesal melempar camilan ke arah Ilham. Ilham mengeryit polos.
"Kenapa lu?"
"Kenapa kenapa matamu! Gue dari tadi manggil nama elu Samsul!!" semprot Zaki kesal. Ilham mengerutkan dahinya heran.
"Nama gue bukan Samsul."
"Mahliiiii!!"
"Nama gue juga bukan Mahli." sahut Ilham masih acuh tak peduli. Biar saja Zaki emosi sendiri, salah siapa suka seenak jidat ganti nama orang. Wkwk.
"Ck. Ya udah iya nama lo Ilham! Gue mau ngasih tau lo." ucap Zaki mengalah. Barulah saat ini Ilham mau serius menanggapi cowok itu.
"Ngasih tau apaan?" tanya Ilham. Tidak terlalu serius tapi juga tidak sedang bercanda. Zaki menunjuk tembok abu-abu di belakang punggung Rafi.
"Lo tau ga siapa yang ada di belakang tembok Rafi tuh?"
"Goblok! itu lo nanya. Bukannya ngasih tau gue oncom!! Kan lo sama Rafi yang lebih dulu datwng, ya mana gue tempe eh tahu." sembur Ilham dengan nafas memburu karena saking kesalnya. Ingin sekali ya mencekik Zaki dalam saat seperti ini.
"Seriusan Li... Lo tau ga dia siapa?" tanya Zaki berdecak. Ia sedang serius, tapi temannya malah menganggap ia bercanda.
Nah ini dia nih susahnya jadi orang humoris, tukang lawak, sekalinya ngomong serius juga ga ada yang percaya! Sial.
"Nama gue bukan Li." ucap Ilham datar, lagi.
"Udah deh lu ga usah alay, pekara nama aja di ributin." gerutu Zaki. Ilham melotot dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Nama gue itu sakral Jakiiii..... Bukan sembarang nama tuh!!"
"Ah ya udah iya terserah! Gue lagi mau serius nih, tuh orang tadi nyebut-nyebut sama Ipin sama balok es. Ya kan Rap ya?" elak Zaki mengalihkan topik. Rafi manggut-manggut. Seketika pula raut wajah Ilham langsung berubah drastis, super serius.
"Hooh."
"Siapa? Maksud lo Refan sama Izza?" tanya Ilham. Rafi dan Zaki mengangguk sementara Diva jadi tim nyimak.
"Iya lah. Orang-orang berjas kantor di balik tembok itu udah empat kali sebut nama Refan Izza Refan Izza mulu dari tadi, mereka partner kerjanya apa gimana? Tapi Ipin sama lakiknya ga ada di situ tuh." jelas Zaki panjang lebar. Ilham diam sejenak, mengingat-ingat masalah-masalah yang mulai muncul di BDG, Alvaro Group, maupun di Rz Corp.
Apa mungkin ada kaitannya?
'Ga mungkin partner kerja biasa. Kalo emang iya, pasti mereka itu pake sebutan Lexa. Bukan Izza! Gue harus nyelidikin mereka. Siapa tau ini ada hubungannya sama PSG Group atau Bloody Dragon.' batin Ilham manggut-manggut. Semoga saja apa yang ia coba selidiki selama ini bersama Genta akan menemukan titik terangnya hari ini juga!
"Yang di tembok belakang Rafi?" tanya Ilham lagi. Rafi dan Zaki mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Ilham langsung berdiri dan mulai melangkah menuju tempat yang diberitahukan oleh Zaki tadi.
"Lo mau kemana Li?" tanya Zaki. Ilham berdesis kecil, meletakan jari telunjuknya di bibir.
"Lo pada diem aja di sini, ada yang harus gue kerjain bentar."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰