
"Ayo ke kamar bentar, ada yang mau aku bicarain."
"Ngapain? Jangan aneh-aneh ya tapi?" tanya Izza curiga. Refan mengangguk.
"Iya."
...****************...
Hosh hosh hosh
"Huh gini amat jadi drama king ah, capek gue lari-larian kek gini. Emang bener kata Genta, lebih gampang main fisik daripada main trik cantik kek begini. Dan kalo gue boleh milih, gue lebih suka perang fisik aja deh!!" ucap Dandy ngos-ngosan. Ia berlari dari rumah keluarga Doddy sejak Leon dan Kevin pergi.
Ini adalah rencananya! Dia pergi dari rumah itu tanpa membawa mobil mereka agar tampak seolah-olah kalau kegagalan misi mereka memang murni karena diserang oleh anak buah Blood Wolf. Bahkan untuk membuat aktingnya ini terlihat lebih nyata, Dandy sengaja menggores lengan kirinya menggunakan pisau kecil yang selalu ia selipkan di saku jaket. Seolah-olah ia sempat melawan, terluka dan akhirnya berhasil menyelamatkan diri.
"Buset tangan gue kenapa jadi perih beneran ya? Perasaan tadi gue ngegoresnya tipis-tipis doang deh."
"Ternyata lukanya cukup dalam juga." sambung Danddy setelah mengamati luka gores yang ia ciptakan sendiri.
"Tugas gue makin molor waktu gegara si YH yang belum nongolin mukanya di markas argh!!! Lagian ribet juga dia, baru kali ini ada ketua geng yang nyembunyiin identitasnya bahkan sampai anak buahnya aja ga ada yang tau!!" keluh Dandy menggerutu kesal pada ketua geng yang hanya diketahui inisialnya saja itu.
"Gue harus ngelakuin sesuatu yang lebih ekstrem biar gue bisa ketemu sama si YH ini. Secepatnya!!" ucap Dandy menghela nafas sebelum akhirnya mengeluarkan iPhonenya dari saku celana.
📞Calling Niko......
Niko : Halo Don? Gimana?
Fyi, Dandy memakai identitas palsu di Bloody Dragon dengan nama Doni Sbastian.
Dandy : Hosh hosh, lu- jem-
Niko : Lo kenapa woy?!!
Dandy : Gue sama yang lain diserang sama Blood Wolf. Semuanya ditembak mati, cuma gue yang berhasil kabur setelah duel pisau tadi Nik!
Niko : Oke oke lo shareloc sekarang! Gue bakal jemput lo.
Dandy : Oke, thank!
Niko : Ya.
Tut tut....
"Cih thank, thanks buat lo yang secara ga langsung udah ikut ngelancarin rencana gue Nik." lirih Dandy tersenyum miring. Niko adalah sahabat YH sekaligus orang kepercayaannya, Dandy sudah tau hal ini sejak ia menyusup masuk. Itulah sebabnya Dandy mendekati Niko terlebih dahulu.
Niko memang masih enggan menyebut nama asli YH kepada Dandy, tapi Dandy yakin kalau dengan seiring berjalannya waktu, Niko pasti akan mengatakannya dengan sendirinya.
"Sekarang gue tinggal laporan ke Genta dulu sebelum Niko sampek sini dan gue pastinya ga bakal bisa ngehubungin Genta lagi." ucap Dandy yang segera mencari nomor Genta di Hp nya.
📞Calling Genta......
...****************...
"Uncle ga ikut?" tanya Glen polos. Ilham menggeleng sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Enggak Glen, kamu aja sama papa oke?" jawab Ilham menggeleng dengan seulas senyum. Glen kecil mengangguk mengerti.
"Oke uncle!!"
"Glen. Ayo!!" seru Genta tak sabaran di ambang pintu. Si tampan kecil dengan poni sebatas alis itu mengangguk lalu berlari cepat-cepat menuju papanya yang memang tak sabaran.
Glen tadi mengajak ayahnya ke dapur markas, ia ingin minum air putih. Sebenarnya ada kulkas di dalam ruangan 'Leader BDG' ini tapi tak ada air putih yang diminta Glen, hanya ada minuman bersoda di dalam sana.
"Gue sekarang ngapain ya? Login game aja kali ah. Ngajakin si Leon." ucap Ilham bermonolog. Ia baru saja datang ke markas karena Genta memberikannya beberapa tugas di Alvaro Group sejak tadi pagi.
📞Calling Leonaleale.....
Leon : Oy apaan?
Ilham : Mabar uy!!
Leon : Sialan. Timenya ga tepat amat elah Ham!!
Ilham : Emang ngapa?
Leon : Gue lagi ngemisi nih.
Ilham : Hah? Ngemisi teh apaan monyet?
Leon : Ngejalanin misi goblok!!
Ilham : Ngomong lah tolol!
Leon : Ya ini baru aja bilang.
Ilham : Jadi ga mau nih?
Leon : Ya mau lah! Tapi jangan sekarang, tunggu gue sejam lagi gimana?
Ilham : Ah lama kali lah Le!!
Leon : Ya kan gue musti nyelesaiin ini kerjaan dulu, kalo enggak nanti gue digetok sama Repan.
Ilham : Ck. Yaudah ntar sejam lagi gue telpon, kita login bareng.
Leon : Oke nda-
Tut tut tut....
"Ahahaha mamp*s lu!" ketus Ilham mematikan telepon tanpa menunggu Leon menyelesaikan kata*katanya terlebih dahulu. Ilham yakin sekali kalau Leon sedang memaki-maki dirinya diseberang sana.
Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi kebiasaan mereka masih sama dan tak pernah berubah sejak SMA, suka main game bersama, selalu berdua.
"Gue bisa merem dulu nih sambil nunggu Leon kelar nugas." gumam Ilham lalu perlahan memejamkan mata.
Drtt drtt
"Ck. Baru aja gue merem!" maki Ilham menggerutu kesal. Ia bangun dengan terpaksa, menggerayangi permukaan meja di sampingnya untuk mencari keberadaan iPhonenya.
"Lah? Bukan handphone gue?" tanya Ilham saat iPhonenya mati tanpa dering sedikitpun.
Drtt drtt
"Oalah punyanya abang... Ceroboh amat ninggalin hp disini." ucap Ilham menyabet iPhone hitam milik Genta. Nama Dandy yang terpampang jelas di layar.
📞Dandy is calling.....
Ilham : Oy ada apaan? Lo ada masalah disana? Perlu bantuan gua nggak?
Dandy : Lah ngapa jadi elu? Abang lo mana Ham?
Ilham : Lagi nemenin Glen minum ke bawah.
Dandy : Glen diajak ke markas?
Ilham : Ah banyak tanya lu kek dora!! Ada apaan lo nelpon?
Dandy : Dora lagi diem juga tetep aja kena.
Ilham : Katakan peta katakan peta!!
Dandy : PETTAAAAAAA!!
Ilham : LEBIH KERAS!!!
Dandy : PETTAAAAAAAAAAAAA.
Ilham : Ga usah ngegas monyet!!
Dandy : Ahahaha tolol! Gue ada kabar penting nih, waktu gue mepet sebelum Niko dan yang lain jemput gue di sini.
Ilham : Emang lo dimana?
Dandy : Di jalan mer-
Ctak
"Auuuuuuuu." pekik Ilham mengelus jidatnya yang terkena lemparan bekas kaleng soda.
Dandy : Kenapa lo? (sahut Dandy yang mendengar rintihan sakit dari seberang telepon.)
"Bang Genta sialan!!" maki Ilham setelahnya. Genta yang tadi melempar bekas minuman bersodanya pada Ilham.
"Lu ngapa teriak-teriak hah?!! BERISIK!!" maki Genta tak kalah sadis.
"Enyenyenyenyeeeee." menye Ilham sebal. Tak mau memperdulikan dua manusia yang selalu ribut dan berisik, Glen kecil langsung melenggang dan melewati papa dan uncle-nya. Ia pergi menuju balkon ruangan. Bocah kecil itu memang sangat menyukai pemandangan dari ketinggian.
"Ngapain lo bawa Hp gue?" tanya Genta merebut paksa iPhonenya.
Genta : Halo Dan? Ada masalah apa lo?
Dandy : Gue tadi udah kasihin keluarga Doddy ke Leon sama Kevin Ta.
Genta : Kenapa ga nyuruh gue dateng aja tadi?
Dandy : Awalnya gue mau nelpon lo, eh kebetulan aja si Leon sama Kevin itu masuk paksa ke rumah Doddy. Kayaknya mereka dapet tugas dari bosnya buat ngamanin keluarga Doddy deh.
Genta : Terus penyamaran lo gimana? Masih aman kan? Lo juga aman?
Dandy : Aman. Kevin mbantai dua, gue nembak mati yang satu lagi. Tinggal gue sendirian yang seolah-olah selamat di sini.
Genta : Ya udah shareloc sekarang! Gue jemput lo sebelum mereka dateng.
Dandy : Gue udah minta dijemput sama Niko, Ta.
Genta : Hah kok gitu? Lo gila Dan?
Dandy : Ahahaha udahlah lo tenang aja, gue tau apa rencana yang mau gue coba. Kita juga kan belum tau nama aslinya si YH itu, lo percaya kan sama gue?
Genta : Oke fine, tapi nanti kalau semisal rencana lo gagal, ga usah ngulur waktu lagi! Minta tolong ke gue atau ke Ilham, ngerti lo?
Dandy : Siap bos.
Genta : Lo ga boleh terluka Dan, lo udah gue anggep saudara gue sendiri selama ini. BDG jadi makin kuat juga karena lo! Nyari tau siapa YH emang penting, tapi seperti yang dibilang sama Queen, kalo nyawa lo lebih penting!! Ngerti?
Dandy : Ahahaha iya iya gue ngerti, sejak kapan lo jadi doyan ngomong gini bos?
Genta : Gue serius anj*ng!
Dandy : Ahahahaha, yaudah gue matiin dulu. Mobil Niko udah keliatan di ujung komplek.
Genta : Oke. Sekali lagi, jangan sampai terluka!
Dandy : Ya.
Tut tut tut....
"Kenapa dia?" tanya Ilham kepo setelah Genta memasukan iPhonenya ke saku celana.
"Tanyakan peta tanyakan peta!!" sahut Genta ngawur.
"PETTAAAAAAAA!!!" celetuk dua suara berbeda yang bertubrukan, suara berat dan suara cempreng. Glen, ternyata bocah menggemaskan itu yang nimbrung mengikuti ucapan uncle-nya.
"Nonton Dora sama peta yuk Pa!!" ajak Glen seperti halnya anak-anak kecil pada umumnya. Genta mengangguk, ia mencari remote televisi di sekitar nakas.
"Jangan nonton dora Glen, uncle punya rekomendasi film yang lebih bagus dan pasti bakal cocok banget sama passion kamu!!" cela Ilham. Glen tampak antusias.
"Film apa itu uncle?"
"Vincenzo cassano." jawab Ilham dengan sangat lantang.
"Glen mau?" sambungnya lagi. Glen mengangguk cepat.
"Mau uncle!!"
Mendengar hal itu, Genta refleks melempar remote ditangannya ke arah kepala Ilham yang suka seenak jidat itu.
Pletak
"Arghhhh keterlaluan banget lu bang! Double kill kepala gue kena mulu." gerutu Ilham kesal. Genta melotot galak.
"Itu film kelewat jauh dari umurnya Glen. Lu jangan macem-macem ngajarin anak gue Alvarooooo!! Nanti Andin bisa ngamuk ke gue." omel Genta.
"Lah yang diomelin kak Andin kan elu bang, bukan gue. Wleeee!!"
...****************...
"Ada apa ngajak ngomong berdua disini?" tanya Izza setelah mereka masuk kamar. Refan menghela nafas. Izza mengeryit heran dengan tingkah lelaki didepannya ini.
"Kenapa si ay? Kamu kek capek gitu bawaannya?" tanya Izza penuh tanda tanya.
Tanpa menjawab, Refan langsung memgeluarkan iPhonenya lalu menununjukan sebuah foto. Foto hasil jepretan sopirnya kepada Izza. Izza melotot refleks saat melihat tampang wajahnya dan Abi menjadi obyek fokus di dalam foto itu.
Glek
'Mamp*s gue ke-gep! Alamat ngamuk nih dia, mana dia taunya dari orang lain pula.' batin Izza mulai panik. Aura dan hawa menyeramkan mulai menyeruak dari dalam diri suaminya.
"Ini kamu?" tanya Refan.
Izza mengangguk kecil.
"Jadi bener tadi ketemuan sama Abi?" tanya Refan lagi. Sontak Izza menggeleng cepat, pertemuannya dengan Abi tadi kan hanya sengaja tanpa kompromi!!
Tapi Izza tak langsung membantah galak karena sepertinya ia tau apa hal yang menjadi permasalahan Refan disini. Sebab masalahnya adalah ekspresi Izza di dalam foto itu, Izza tampak sedang tersenyum lebar saat tengah berbicara dengan Abi. Jangankan tersenyum pada laki-laki lain, sekedar bertatap matapun sebenarnya Refan sudah tidak suka. Catat!
Oke, dari sini apa bisa kita rubah saja nama Refan menjadi Refan Alposessif Dirgantara?
"Oi aku lagi ngomong sama kamu loh ay, bukan sama lemari." sergah Refan mengagetkan Izza dari lamunan. Izza menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.
"Iya emang tadi aku ketemu sama kak Abi. Tapi catet! Ga sengaja ketemu doang, bukannya ketemuan." jawab Izza menjelaskan. Refan memicingkan mata, mencari kejujuran atau kebohongan kah yang dipancarkan dari mata indah milik istrinya itu.
"Tadi ketemunya aja pas aku lagi jalan mau balik ke mobil kok." tambah Izza. Refan akhirnya menemukan jawabannya.
"Oh." sahut Refan yang hendak berbalik badan, karena apa yang ia cari sudah ia dapatkan.
Tapi berbeda dengan Izza yang tak puas dan tenang dengan jawaban dari suaminya, Izza mencekal lengan Refan dan berjalan memutar hingga berada kembali di depan suaminya.
"Ih kok gitu doang respondnya? Kamu kek ga percaya gitu ahh? Aku seriusan ay! Tadi itu di dalam mall aku juga habis ketemu sama Bima, nah akhirnya aku ngoceh tuh di sepanjang jalan gegara kesel eh ga sengaja nabrak orang. Pas aku ndongak, ternyata itu kak Abi. Jadinya-"
Ucapan Izza langsung terpotong saat Refan menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri. Matanya menajam setajam tatapan elang.
"Apa kamu bilang? Bima? Kamu ketemu sama Bima? Bima ketos?" cecar Refan menghujani Izza dengan rentengan pertanyaan memojokkannya.
Glek
'Tuhkan! Niat mau nyembunyiin salah satu biar ga marah, eh malah ketahuan dua-duanya.' batin Izza merutuki kebodohannya.
"Ay jawab!!"
"Hah?!"
"Kamu ketemu Bima ketos?" ulang Refan berusaha sekuat tenaga menekan emosinya. Tidak! Semarah apapun dan sebesar apapun masalahnya, ia tak boleh membentak Izza.
"I-iya." jawab Izza mengangguk takut. Refan menghembuskan nafas berat.
"Tapi aku ga sengaja juga kok ketemu dia. Tadi sebelum ketemu manager mall, baby twins pengen makan ice cream ay. Jadi ya aku puter balik ke stan ice cream, eh ga sengaja ketemu sama Bima. Dia sempet nanya-naya sih emang, tapi aku balesnya cuek kek dulu kok. Cuma bentar doang habis itu aku langsung amblas pergi!!" jelas Izza panjang lebar. Lebih baik ia yang membongkar semuanya sendiri daripada Refan tau dari orang lain nantinya.
Refan menatap Izza lurus, sangat dalam. Ada banyak hal yang kini berputar melingkar di dalam pikirannya.
'Bima. Kenapa dia tiba-tiba muncul lagi? Bahkan setelah namanya udah hampir hilang tertelan waktu entah seberapa lama. Dan lebih anehnya lagi, orang pertama menemukannya adalah istri gue, cewek yang dulu dikejar-kejar sama dia. Kek seolah dia kembali emang buat nemuin istri gue lagi. Aneh nih! Ga bener nih pasti. Gue harus cari tau soal Bima yang sekarang.'
"Masalah sama YH aja belum ketemu jalan terangnya, ini udah nambah lagi sama Bima si cowo ngeyel!!'
"Kenapa juga ini masalah berdua harus muncul bersamaan si? Atau emang ada hubungannya? Ah bodo ah. Mending sekarang gue isengin Izza dulu, mumpung malam jumat kan ini.'
"Ay.. Gimana ih? Maapin ya please!!" cicit Izza melas. Refan terhenyak dari lamunannya kemudian ia sok berfikir padahal sebenarnya ia sudah bisa memaafkan kesalahan kecil ini. Tentu saja Refan akan sangat mudah memaafkan Izza, meskipun pertemuannya dengan Bima membuatnya kesal tapi setidaknya Izza sudah menjelaskan semua detail ceritanya tanpa diminta.
Sebenarnya ia bisa dengan mudah mengatakan 'iya dimaafin' Tapi karena hari ini adalah malam terindah diantara 7 malam, maka Refan tak akan melewatkan kesempatan emas ini begitu saja.
"Dengan satu syarat." ucap Refan singkat dan sok serius. Izza bersemangat karena mengira Refan tadinya benar-benar akan marah besar.
"Apaan tuh?"
"Malam ini malam apa?"
'Tuhkan larinya kesitu lagi hih!!' gerutu Izza capek. Kenapa malam jumat selalu menjadi jalan akhir dari semua hal tentang Refan?
"Ga bisa pake syarat yang lain aja kah?" tanya Izza mau nego. Refan mengendikkan bahunya acuh.
"Ya terserah kamu, kalo enggak mau ya udah kita langsung turun aja sekarang. Mobil papa udah kedengeran tuh tadi!" sahut Refan sok ngambek kemudian melangkah menuju pintu, Izza buru-buru mencekal lengannya lagi.
"Eh eh jangan ngambek lagi ih! Yaudah iya, terserah apa mau kamu nanti malem aja deh." pungkas Izza mengalah dan pasrah.
"Seriusan ni?" tanya Refan memastikan. Izza mengangguk.
"Janji?"
"Iya janji!"
"Oke, ayo ayang kita turun sekarang!!" seru Refan merangkul mesra pundak istrinya. Izza menghela nafas pasrah sambil mengikuti langkah suaminya menuju ruang keluarga dimana semuanya pasti sudah menunggu mereka.
'Gue tandain mukanya si Bima! Gegara dia, gue ntar malem ga bakal bisa tidur ampe larut.' gerutu Izza di dalam hatinya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰