
"Sayang bangun!!!" pekik Izza melengking di telinga Refan.
"Enggghhhh." Refan melenguh terbangun. Matanya mengerjap-erjap menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar. Gorden putih itu sudah di buka lebar oleh Izza hingga seluruh pancaran sinarnya bisa menyilaukan mata Refan.
"Ayo bangun!! Kita ke rumah papa pagi ini." rengek Izza menangkup kedua pipi Refan dan menggoyang-goyangkannya agar laki-laki itu segera bangun. Setelah pergulatan mereka semalam, kedua nya langsung tertidur tanpa busana. Tapi Izza tadi sudah bangun lebih dulu dan langsung mandi keramas setelah malam panjangnya bersama sang suami semalaman. Refan perlahan sudah membuka kedua matanya dengan sempurna.
Mata elangnya menangkap sensasi basah di rambut istrinya. Kesadarannya pun langsung kembali 100000%.
"Loh kamu udah mandi ay?" tanya Refan memekik. Izza duduk di sebelah Refan yang sudah bersandar di kepala ranjang dengan selimut putih tebal yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya saja sementara dada bidang dan perut six pack nya terekspos begitu jelas.
Wanita cantik dengan bathrobe putih menyelimuti tubuh polos khas habis mandi itu pun mengangguk.
"Baru aja selesai, makanya aku bangunin kamu!" jawab Izza. Refan manyun.
"Kenapa?" tanya Izza heran.
"Kok mandinya ga nungguin aku?" tanya Refan sebal. Izza menyingkap anak rambut di keningnya sendiri. Menambah aura kecantikannya yang makin memancar setelah menyandang nama Nyonya Alaska.
"Ya maaf, habisnya tadi kamu tidur pules banget. Aku ga tega banguninnya." jawab Izza ngeles.
"Ga mau tau! Sekarang ayo mandi." ajak Refan hendak berdiri dan menarik Izza. Tapi Izza kekeuh dengan duduknya.
"Heh yang ada aku masuk angin mandi dua kali sepagi ini! Nggak ah kamu mandi aja sendiri ay." elak Izza. Refan cemberut.
"Astagaaaa imut banget si?!!" ucap Izza gemas mencubiti kedua pipi Refan. Refan melengos, sok ngambek.
"Ga mau mandi kalo ga sama kamu." ucap Refan ala-ala mengancam. Izza menghembuskan nafasnya kasar.
'Kalo gue jabanin, pasti nanti jatuhnya mandi sampek berjam-jam deh kek yang kemarin. Niat mandi besar, eh malah jadi double jatah.' batin Izza memutar otak.
"Ayaaaangg!!" cicit Izza dengan puppy eyes nya.
"Ga mau!" kekeuh Refan.
"Oke aku mandi lagi, tapi nanti malam kita langsung tidur. Ga ada jatah! Deal?" tanya Izza menaikkan sebelah alis. Refan melotot.
"Kok gitu ay?" pekik Refan tak terima.
"Ya tinggal pilih, jatah sekarang atau nanti malam? Aku saranin sih mending nanti malam aja, durasinya lebih lama loh dari pada pagi ini. Kan harus ke rumah papa." sahut Izza santai. Sama sekali tak ada kepanikan dalam tiap katanya karena Izza yakin, Refan pasti akan memilih untuk lotre nanti malam.
"Huuffftt ya udah aku mandi sendiri sekarang." ucap Refan susah payah mengambil keputusan. Izza mengangguk dengan senyum penuh kemenangan.
"My good boy!"
......................
"ASSALAMUALAIKUM SPADAAAAA!!!" teriak Izza melengking saat Refan membukakan pintu rumah untuk mereka.
Refan sedikit berjingkat kaget. Refan mau heran dengan kelakuan bar-bar yang masih lengket menempel dalam kepribadiannya, tapi mau gimana lagi? Wanita ini adalah istrinya sendiri.
"Keknya di ruang keluarga deh ay." ucap Refan memberitahu. Ada suara televisi yang terdengar samar-samar di telinga nya.
"Iya, kayaknya emang di sana. Yuk!!" ajak Izza merangkul lengan Refan dengan mesra. Refan mengangguk lalu keduanya pun berjalan mesra berdua menuju ruang keluarga.
Penampakan RefanIzza after married.
"MAMA PAPA!!" pekik Izza langsung memeluk kedua orang tuanya dari belakang.
Benar saja, keluarga inti Alexander yang telah berkembang biak jadi keluarga besar itu sedang berkumpul santai di ruang keluarga. Hari ini adalah hari minggu, jadi mereka semua ada di rumah. Ricko dan Ralita duduk di satu sofa bersama baby Arshaka, Marsha dan Ajeng berbincang-bincang berdua mungkin membahas dunia kedokteran Marsha dan Modeling Ajeng, sedangkan Rayhan dan Reza asyik main game online di Hp mereka.
"Eh hallo sayangnya Mama muachh." sahut Ralita mengecup pipi putri kesayangannya.
Ricko juga melakukan hal yang sama. Meski sudah bersama anak perempuannya selama lebih dari 23 tahun, ternyata Ricko masih merasa tak siap kehilangan putri tunggal kesayangan mereka. Tapi mau tak mau, Izza tetap harus ikut suaminya. Itulah hal terberat yang harus dilalui orang tua yang memiliki anak perempuan.
"Makin cantik aja anak papa Hm." puji Ricko. Izza tersenyum.
"Ya iya dong, Izza mah emang udah cantik dari dulu." sahut Izza dengan percaya diri.
"Helleh kumat lagi tuh penyakit. GR mulu!!" celetuk Reza memutar bola matanya malas. Rayhan melirik adiknya yang selalu ia panggil bocil itu, sekarang si bocil tukang palak ice cream itu sudah menjadi wanita dewasa cantik bergelar istri orang. Tapi di mata Rayhan, Izza tetaplah bocil yang selalu merengek dibelikan ice cream.
"Dasar bocil!" ledek Rayhan. Izza memeletkan lidahnya pada kedua saudaranya itu.
"Wleee gue udah gede!!"
Refan duduk di sebelah Ricko setelah menyapa kedua mertuanya. Refan tampak terlibat perbincangan dengan Ricko dan Ralita dengan baby Arshaka sebagai saksi hidup tapi bisu.
"Hallo Kak Marsha, Hallo jeje!!" sapa Izza menghampiri dua saudara iparnya dan berpelukan bergantian dengan mereka.
"Auranya pengantin baru cielah!!" goda Marsha. Izza tertawa.
"Aura mamud cielah!!" balas Izza menggoda kakak iparnya.
"Lo ngeprank serumah kemarin. Parah lo Za!!" omel Ajeng. Logat Ajeng adalah yang paling berbeda dari Beby dan Marsha saat berinteraksi dengan Izza. Dia masih memakai logat yang sama yaitu lo-gue, karena terlalu sudah bagi Ajeng maupun Izza memakai logat yang lebih formal seperti aku-kamu karena mereka sudah terlanjur akrab sebagai bestie dari jaman sekolah. Tak ada yang mempermasalahkan cara mereka, bagi semua keluarga termasuk Ralita dan Ricko, bahasa itu tidak penting karena yang penting adalah bagaimana cara tetap saling menghargai dan selalu menjaga satu sama lain sesama keluarga.
"Kemarin capek Je, ketiduran gue." jawab Izza enteng.
"Ketiduran atau malah ga bisa tidur lo?" tanya Rayhan memulai dunia perbullyan after malam pertama. Ah ralat! Untuk Izza, perbullyannya baru bisa dimulai di malam kedua.
Refan yang masih asyik bersama Ricko pun sedikit melirik ke arah Rayhan. Rayhan tertawa sementara Reza berseru semangat untuk membalaskan dendamnya pada Izza yang sudah membullynya dan Ajeng dulu setelah malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri.
"Widihh pengantin baru nih bos! Senggol kuy??" seru Reza dengan semangat berkobar.
"Kuyyy!!" sahut Rayhan ikut tersulut api semangat Reza. Ia juga sudah memendam dendam perbullyan malam pertama ini selama satu tahun lebih.
"Aaaaaa peyuk!!" pekik Izza yang seolah tak memperdulikan pembullyan yang akan dimulai oleh dua kakaknya. Izza malah dengan berlari kecil melompat ke arah tengah dimana Ada sebuah celah kecil di antara tempat duduk Rayhan dan Reza.
Wanita yang sebenarnya sudah disebut dewasa itu seolah jadi dirinya di masa lalu lagi, ia seperti layaknya seorang adik yang ingin bermanja kepada kakak-kakak lelakinya.
"Kangen abang dua R kang rusuh. Tapi bang Rendy kemana?" tanya Izza santai sambil duduk dengan salah satu kaki terangkat di atas kaki yang lain. Dengan Rayhan dan Reza sebagai pengapitnya.
"Gimana rasanya Cil?" tanya Rayhan ambigu. Ia tak menjawab pertanyaan Izza dan malah mencecarnya dengan pertanyaan dzolim berotak 21+.
"Rasanya apa?" tanya Izza polos.
"Ekhemmm!!" cela Refan berdehem lumayan keras.
"Nah tuh tersangka utamanya merasa tersenggol." celetuk Reza tertawa.
"Gimana rasanya adek bocil gue Fan? Kelewat mantep pasti." tanya Rayhan menebak. Izza langsung connect setelah Rayhan mengatakan kata 'Mantep'.
"Weheeee paan sih lu ga ada topik lain apa?!" omel Izza menggerutu.
"Ya ini kan ritual rutin tiap habis ada yang kawin Refiiii... Kesel kan lu? Sama anjir! Ya itu dia yang gue rasain dulu pas lu rese sama si dua kutu kupret." cerocos Reza malah adu nasib.
"Heh kok lo malah adu nasib anying?" tanya Rayhan heran.
"Cieeeee yang udah di gol in lawan cieeee!!!" ledek Reza dan Rayhan bersamaan. Bahkan intonasi suara keduanya pun sama tak berbeda sedikitpun. Izza menatap jengah ke arah dua kakaknya ini.
'Oke Izza sabar! Anggep aja ini karma balasan karena lo juga dulu suka rese lemes kek gini ke mereka.' batin Izza menyemangati dirinya sendiri.
"Menye lu berdua tau ah kesel gue." gerutu Izza kesal.
"Tapi kok jalan lo biasa aja tadi? Emang udah ga sakit?" tanya Reza polos mengingat cara berjalan Izza yang sama saja seperti biasanya.
"Iya juga, biasanya kan kalo habis belah duren pasti jalannya agak pincang gitu." sahut Rayhan setuju. 2R itu menatap Izza intens lalu beralih bersamaan kepada Refan yang juga sedang menatap mereka. Saking ributnya 2R dalam menggoda adik perempuannya, Ralita dan Ricko juga ikut menyimak.
"Jangan-jangan Refan udah ambil DP sebelum-" ucap Rayhan curiga yang terpotong oleh Izza yang lebih dulu menyumpal muka Rayhan dengan bantal sofa.
Bugh
"Lanjutin, gue tebas mulut lu Bang!!" omel Izza galak. Reza tertawa terbahak-bahak melihat komuk pasrah Rayhan yang terhempas oleh bantal Izza tadi.
"Sembarangan lu Rey, eh Bang! Gue sama Izza baru perdana baru setelah akad woee!!" pekik Refan tak terima dengan kecurigaan Rayhan.
"Yaelah gue bercanda doang anj*ng lu pada sepasang, baperan amat!!" semprot Rayhan jengah.
"Tapi kenapa bisa biasa aja Fan?" tanya Reza kepo. Kepo yang sangat bodoh dan ambigu sekali everybody!!
"Ekhemm... Sungkem dulu sini sama gue! Gue sama Izza kan pro player, dapet enaknya doang sakitnya ga ada samsek." jawab Refan dengan bangganya. Sepertinya laki-laki itu lupa kalau ia duduk di sebelah papa dan mama mertuanya.
'Ini suami gue malah menjadi-jadi pula!!' gerutu Izza mendengus pasrah dengan semua ini.
"Songong amat!!" semprot Reza.
"Wleee!!" sahut Refan tertawa.
"Belagu lu Fan! Tuh gue yang udah ada Arshaka sebagai bukti, B aja tuh wlee." bantah Rayhan tak terima dengan kesongongan Refan.
"Helleh itu karena lo lebih dulu married nya! Tunggu aja bentar lagi, produk gue bakal launching." sangkal Refan enteng. Benar juga dia.
"Mama mau cucu kembar ya, terserah dari Refan atau dari Reza deh. Yang penting harus ada cucu kembarnya!" ucap Ralita malah request.
"Papa mau cewek." sahut Ricko menambahkan.
"Ini kenapa malah pada buka ajang request?" tanya Izza geleng-geleng kepala. Mereka tertawa.
"Antara Ajeng sama Izza, mama yakin cucu cewek pasti dapetnya dari Izza deh. Ajeng nanti pasti anaknya cowok, entah kembar atau enggak." ucap Ralita sok tau.
"Sok tau nya kumat!!" ledek Reza.
"Ya kan mama emang lumayan tau perbandingan gen begituan wleee!!" bantah Ralita.
"Gue diem aja deh, daripada nanti terluka terbully terjungkir balik sama keadaan." dengus Izza pasrah.
"Ekhemmmm!!!" deheman keras dari arah tangga itu membuat semua orang menoleh.
"Ahhaaaa Bang Rendy!!!" pekik Izza kesenangan saat melihat Kakak sulungnya berdiri dipertengahan tangga bersama istri dan anaknya. Rendy dan Beby turun untuk mendekati Izza, tapi mereka kalah cepat dengan Max yang lebih dulu memeluk aunty kesayangannya itu.
"AUNTY!!!" pekik bocah kecil itu yang langsung berlari dan melompat ke pelukan hangat Izza. Max sudah menanti kedatangan Izza dan Refan sejak kemarin.
"Hallo jagoannya aunty, makin ganteng aja sih hm!!" ucap Izza menciumi kedua pipi Max dengan gemas. Max juga membalasnya dengan mencium kedua pipi Izza dengan penuh sayang.
"Ganteng lah! Sama kek bapaknya." celetuk Rendy bangga. Izza mendongak kepada Rendy yang berdiri di depannya.
"Iya deh iya percaya!!" jawab Izza pasrah. Max kan memang anaknya Rendy, ya emang mau mirip siapa lagi kalau bukan mirip dia?
"Nanti nginep?" tanya Rendy sambil menjatuhkan pantatnya di atas paha Reza. Seolah tak memperdulikan Reza, Rendy hanya melihat ke arah Izza saja.
"Aoooo ah aduh bang apaan sih lo?! Minggir lah, sempit tau! Ini kan tempat duduk gue!!" protes Reza mendorong-dorong punggung Rendy agar menyingkir dari pangkuannya. Rendy tak mau berdiri, ia justru makin ngeyel ingin nyempil di antara Reza dan Izza.
"Kalo sempit ya minggir sana!" usir Rendy. Reza mendelik tajam.
"Heh yang harusnya bilang gitu tuh gue!! Elu baru dateng udah rusuh ngedusel mulu!!" gerutu Reza kesal.
"Ga ada tempat Re!! Berisik lu dari tadi. Arshaka sampek ga bisa tidur tuh!" omel Rendy balik.
"Ah bodoamat ah lo minggir woee!!! Gue udah lebih duluan duduk di sini." protes Reza yang masih saja mempermasalahkan Rendy yang duduk penuh paksaan di atas paha nya.
"Nah lo ngalah dong kalo gitu, gue mau ngomong sama adik gue nih. Husss huss!!" usir Rendy mendorong Reza agar berdiri. Reza dengan tatapan kesal dan uring-uringannya langsung berdiri dan duduk di sofa single di sebelah Marsha.
"Sialan! Punya abang begini banget." keluh Reza mendengus malas. Rayhan menertawakannya.
"Ahahahah sukurin!!" ketus Rayhan puas.
"Fan gimana Fan?" tanya Rendy setelah tenang dan puas karena sudah berhasil memenangkan tahta kursi sofa di sebelah Izza. Refan yang duduk di sofa seberang pun menaikkan sebelah alis heran.
"Apanya bang?"
"Gimana rasanya hidup lo tenang tanpa gue bisa ngebacotin ruang gerak lu sama princess gue!!" tambah Rendy memperjelas ucapannya tadi. Refan menyunggingkan senyum puas dengan kedua alis yang naik turun berirama.
"Aman sentosa damai dong pastinya!! Gue sama Izza bisa FREE berduaan terus tanpa sekat sekarang haha." jawab Refan. Rendy menghembuskan nafasnya pasrah.
"Makin belagu lu sekarang!" ketus Rendy. Refan dan yang lainnya ikut tertawa karena melihat tampang datar Rendy yang penuh kepasrahan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Gue udah relain adik kesayangan gue buat lo, Jaga dia baik-baik!!" pesan Rendy sambil mengelus puncak rambut Izza yang ada di sampingnya. Refan mengangguk pasti.
"Awas aja kalo gue denger lo bikin dia mewek. Mampus lu di tangan gue!" sambung Rendy lagi.
"Gue juga ga bakal tinggal diem nyet, awas aje lu!" sahut Reza menatap serius ke arah Refan.
"Kalo sampek bocil gue nangis gegara ulah lu. Gua tandain muka lu Fan!" ucap Rayhan mengepalkan tinjunya pada Refan. Refan sejenak bergidik ngeri lalu mengangguk dengan posisi hormat.
"Siap komandan!!" pekik Refan tanpa ragu. Lagipula siapa juga yang mau melihat apalagi membuat Izza menangis? Tak ada setetespun niat di hati Refan untuk hal semacam itu.
"Aaaaaa lopyu lopyu lopyu trio R!!" cicit Izza meraih leher Rayhan dan Rendy untuk di peluknya dalam satu waktu. Rendy dan Rayhan pun membalas pelukan tulus dari sang adik emas.
"Gue ga di ajak sendiri nih?" tanya Reza hampir ngambek. Izza terkekeh lalu melambaikan tangannya pada Reza.
"Sini lah kuy!!" Reza langsung mendekat dan memposisikan dirinya di depan Izza. Berhimpitan dengan Rendy dan Rayhan. Keempat bersaudara kandung itu saling memeluk erat seolah tak ada yang mau terpisahkan oleh apapun.
Ralita, Ricko, Refan dan ketiga ipar itu tersenyum bahagia dan bangga melihat kedekatan dan kasih sayang empat bersaudara itu yang tak pupus termakan jarak, ruang dan waktu. Mereka seolah selalu mempunyai cara untuk menunjukan kasih sayang antara satu dengan yang lain. Meskipun selalu bertengkar dan berdebat tiap bertemu, tapi hal itulah yang justru makin mengikat kuat tali persaudaraan darah mereka.
"Aaaaaaa pengap ga bisa nafas!!" teriak suara kecil yang seperti sedang teredam karena tertutup oleh sesuatu hal.
Empat kepala yang tadi saling memeluk itu jadi mendongak saling pandang, bingung mencari sumber suara.
"Max terjepit di bawah kalian tau!!" omel Max ketus.
4 Alexander itu langsung melepaskan pelukan mereka dan menatap ke bawah dimana Max masih duduk di pangkuan Izza. Entah bagaimana pula hal ini bisa terjadi? Yang jelas Max kini mengerucutkan bibirnya sebal karena empat manusia dewasa itu lupa kalau ada tubuh mungilnya di antaranya. Max ngambek!
Bisa-bisanya anak orang segede itu kejepit diantara empat orang dan tak ada yang menyadarinya. Beby juga tak menyadari kalau putra kesayangannya itu tersiksa karena terjepit empat kepala orang. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Max yang kini tampak ngambek dan sedang dibujuk rayu oleh Daddy, dua uncle dan satu aunty nya.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰