
"Eh tapi seriusan donh berapaan anjir? gue mau daftar jadi body guard kalian aja deh kalo gajinya lumayan." celetuk Ilham malah ikut penasaran.
"Emang duit lo dari Alvaro sama BDG masih kurang? Parah lu Ham gada syukurnya banget astaghfirullah." tanya Izza datar. Ilham nyengir.
"Banyak sih, tapi sabi kali jadi cabang ketiga haha."
"Jadinya berapa Pin?" tanya Diva tak sabaran.
"Body guard 10 juta, ART 5 jt." jawab Izza.
"Woahh!!"
"Busett udah ngalahin pegawai berdasi aja tuh."
"Enggak juga sih, B aja." sahut Refan santai. Ini dia nih ATM berjalannya, semua kebutuhan rumah beserta pegawainya memang di cukupi oleh Refan.
"Berapa orang aja ini buset." pekik Diva.
"Kalo ART gue tau jumlahnya, cuma 20 orang. Kalo body guard, itu Refan yang tau jumlah pastinya." jawab Izza. Diva manggut-manggut takjub, ralat! Bukan hanya Diva, tapi semuanya.
"Berapa tuh Fan?" tanya Reza kepo.
"Sama lah, 20 juga." jawab Refan.
"tiga di gerbang depan, tiga di gerbang belakang, enam di lantai atas, sisanya dibagi buat basement sama lantai dua." sambung Refan lagi.
"Buset duit sebanyak gitu cuma buat jatah pegawai doang? Ga kebayang duit bulanan buat Ipin beuh." cicit Diva heran sendiri. Bisa-bisanya uang sebanyak itu hanya untuk tagihan listrik dan bayaran pembokat.
"Sepele banget ye duit kalian."
"Bukan maen."
"Emang ga ada lawan dah pasangan crazy rich kita satu ini nih."
"Ipin udah jadi sugar mommy gue nih." ucap Diva memeluk erat Izza di sampingnya.
"Sugar mommy buat para berondong enak kali ya Div?" tanya Izza tertawa.
Ekhemmm
"Nah loh." bisik Diva. Izza menggaruk belakang telinganya sambil memutar kepalanya agar bisa menghadap Refan. Rupanya candaannya tadi salah tempat.
"Hehe bercanda sayangku." cicit Izza.
"Tungguin hukumannya nanti ya sayangku." balas Refan tersenyum jahat. Izza menghela nafas. Sudah pasti, 'itu' hukumannya.
"Btw nih habis ini siapa duluan yang nyusul dua pasutri kita?" celetuk Kennath.
Semuanya tampak sibuk berfikir dan mengingat tanggal pernikahan bagi yang sudah merencanakan.
Zaki menonyor kepala Kennath.
"Ya elu lah bodoh! Pake nanya lagi lu." cerocos Zaki bersungut-sungut.
"Lah bukannya Ilham sama Salma dulu ya?" tanya Kennath polos.
"Weee enggak brader!! Elu kan Februari, gua sama Salma kan Mei." elak Ilham.
"Sayang banget sih Ken, harusnya lo ajak tuh calon istri lo kesini biar kita bisa makin akrab." protes Izza.
"Iya tuh bener, gue ketemu calonnya Kennath baru sekali doang." sahut Diva membenarkan.
"Gue dua kali sih sama Reza, pas di Bali waktu itu." celetuk Ajeng.
"Kennath emang pelit." cibir Salma. Kennath memutar bola matanya malas.
"Bukannya gitu woy, dia ada acara fashion di Bali. Ga bisa ikut." sangkal Kennath apa adanya.
"Huuuu calon pengantin, tapi reuninya sendirian ga bawa cewek!" ledek Rafi tak mengaca. Kennath menaikkan sebelah alis aneh.
"Heh Raf! Cewek lo juga ga ada disini tolol! Pake acara ngeledek gue lagi lu." semprot Kennath ngamuk. Rafi menoleh ke kanan dan ke kiri, baru dia ingat kalau Tania tidak hadir diantara mereka.
Plak
Rafi menepuk jidatnya.
"Lah bener juga Ken, yaudah gimana kalo kita ngegay aja dulu hari ini?" tawar Rafi genit menoel-noel lengan Kennath. Kennath mendorong kepala Rafi agar menjauh dari dirinya.
"Ogah! Jauh-jauh lo dari gue. Gue cowok normal, lu aja sono sama Jaki dih." elak Kennath bergidik ngeri.
"Wah wah kelewatan lu Ken! Gue juga sama normalnya kali" protes Zaki tak terima.
"Dih ada yang lupa nih dulu pernah ketahuan satu kamae mandi Sama Rafi." sindir Reza. Reza malah kembali teringat dengan kejadian waktu mereka kelas 12 SMA. Dimana Reza dan Ilham yang kebetulan selesai ganti pakaian olahraga dan justru malah menangkap basah Rafi dan Zaki yang entah habis berbuat apa. Hal yang masih jadi misteri di kepala Reza dan Ilham sampai sekarang.
"Nah bener tuh!! Mana keluarnya juga lama banget. ngapain coba tuh." celetuk Ilham tertawa ngakak. Tawa yang menular ke semua orang. kecuali Rafi dan Zaki.
"Heh ngawur lu pada ah." omel Zaki panik.
"Suudzon banget kalian kawan." keluh Rafi melas. Tawa kembali menggelegar memecah antero rumah yang baru saja mulai menyepi.
...****************...
"Hoammmm."
"Udah ngantuk?" tanya Refan sembari memakai piyama tidurnya. Izza mengangguk di atas kasur, tepatnya di sandaran ranjang.
"Capek seharian ngocros mulu sama anak-anak." jawab Izza mengucek matanya yang sudah menyipit karena butuh tidur. Geng sengklek tadi baru pulang sekitar jam 8 malam, setelah dinner bersama.
"Mau hukumannya dipending?" tanya Refan menawarkan. Mana mungkin ia tega menghajar Izza malam ini saat kondisinya lelah seperti ini? Oh tidak, rasa cinta dan sayang yang dimiliki oleh Refan tentu saja lebih besar dari pada hasratnya.
"Hehe." Izza nyengir. Refan kemudian naik ke atas kasur dan mencubit gemas hidung istrinya.
"Ga capek apa gemesin mulu hm?"
"Enggak hihi." jawab Izza nyengir. Refan kemudian memposisikan kepalanya di paha istrinya yang telah terbalut selimut. Mungkin Izza kedinginan karena baru selesai mandi semalam ini gara-gara geng rusuhnya tadi.
Hening sejenak, keduanya sama-sama memejamkan mata dengan santai. Izza berbantal sandaran ranjang, sedangkan Refan berbantal paha empuk Izza.
"Eh ay." ucap Refan memecah keneningan kamar bernuansa putih mewah ini.
"Yang tadi di kantor gimana? Beneran Geisha?" tanya Refan sedikit ragu. Izza menghela nafas.
"Kenapa gelisah gitu? Bener dia yang kembali ya?" tanya Refan lagi. Izza menggeleng.
-Flashback on-
"Dimana Ndin?" tanya Izza langsung to the point saat langkah kakinya telah sampai di depan meja Andin.
"Masih di dalam sama Darrel." jawab Andin menunjuk ruangan Izza di belakang kursinya. Izza mengangguk lalu segera masuk ke dalam ruangan kebesaran CEO nya.
'Gugup banget, kenapa sih dia?' batin Andin heran. Wanita ini belum mengetahui masalah soal Geisha waktu itu, jadi ya ia tak tau apa-apa soal Izza yang kelewat gugup hari ini.
Kriet
Darrel mendongakkan kepalanya melihat sosok Izza datang membuka pintu. Satu alis Izza terangkat, memberi sebuah kode pada Darrel. Tapi Darrel justru menggeleng kecil. Hal ini lantas membuat dua orang tamu yang posisi duduknya membelakangi pintu pun menoleh.
Deg.
'Loh? Beda. Jadi bukan Geisha? Gue salah feeling dong berarti?' batin Izza kecewa pada dirinya sendiri.
'Pasti Izza kecewa sama feelingnya.' batin Darrel yang sedikit banyak bisa mengerti arti raut wajah kecut malas dari sang mantan kekasih.
"Selamat siang, ibu Lexa?" sapa seorang wanita yang tampaknya berumur seusia dengan Izza. Izza mengangguk kaku.
"Oh iya, selamat siang. CEO Alfahreza Corp?" sapa balik Izza. Wanita itu mengulas senyum yang kemudian dibalas senyum tipis oleh Izza.
"Oh maaf saya belum memperkenalkan diri, nama saya Yonna Alfahreza." ucap Yonna memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Izza, si musuh besar yang selalu ia anggap sebagai tembok tinggi penghalang kebahagiaannya. Semua senyum manis dan ucapan sopan Yonna alias Geisha ini tentu saja hanyalah sebuah topeng kebohongan. Demi melancarkan aksinya suatu saat nanti.
'Oh jadi namanya Yonna. Tapi kok aneh ya? Feeling gue masih aja bilang kalau dia ini Geisha padahal faktanya dia adalah wanita berbeda nama dengan wajah yang berbeda pula.
"Ekhemm bu Lexa?" deheman ini kiranya langsung membuat Izza tersadar dari perdebatan dalam hati kecilnya.
"Eh astaga sorry Yonna!! You can call me, Lexa." jawab Izza sedikit kaget. Yonna mengangguk.
"Yang ini asisten pribadi anda?" tanya Izza. Yonna mengangguk.
"Iya ibu Lexa, saya Ardha. Asisten pribadi dari bu Yonna." ucap Ardha memperkenalkan diri. Izza mengangguk kemudian menyuruh kedua tamunya untuk kembali duduk dan segera membicarakan kontrak kerja sama baru mereka.
-Flashback off-
"Jadi bukan Geisha ay?" tanya Refan. Izza mengangguk.
"Ya udah ga papa, ga usah ditekuk gitu dong mukanya." ucap Refan lagi.
"Kan malah bagus kalau itu bukan Geisha, jadi kita aman tentram dan damai." sambung Refan lagi.
"Tapi aku ngerasain aura Geisha itu sangat pekat dalam diri Yonna ay. Aku yakin ada sesuatu yang kita enggak tau selama 5 tahun belakangan ini." bantah Izza menyangkal semua kata penenang dari suaminya.
"Maksudnya kamu curiga kalau Geisha sama Yonna itu satu orang yang sama gitu?" tebak Refan. Izza mengangguk.
"Bisa jadi kan?"
"Tapi mustahil banget ay, kita udah sabotase semua hal milik Geisha. Bahkan aku denger kabar kalau kedua orang tuanya itu udah mati beberapa tahun yang lalu. Ga mungkin lah Yonna itu Geisha, hampir mustahil membangun perusahaan hanya dalam waktu sesingkat itu." jelas Refan lengkap dengan semua informasi yang pernah ia dapatkan bersama Kevin dan Rafael.
Refan langsung spontan menarik kepalanya dari pangkuan ternyaman dari Izza. Refan duduk bersila kaki dan berhadapan tepat dengan wajah cantik sang istri yang kini tampak sangat terbebani penuh oleh masalah Geisha.
"Lagipula kamu juga kan tadi yang bilang wajahnya beda 100%. Gimana caranya coba hm?" tanya Refan menggenggam jemari Izza dengan lembut. Ia tau betul kalau keadaan hati dan otak dari istrinya ini sedang terguncang bingung akan semua kemungkinan rumit ini.
"Yah kan segala kemungkinan itu selalu bisa jadi mungkin ay. Sekarang kamu tau kan, jaman udah canggih banget loh! Bisa aja dia operasi plastik terus ngubah semua identitasnya. Mungkin aja ya kan?" cecar Izza terus menerus. Refan terdiam untuk beberapa saat dan mencerna kecurigaan sang istri yang memang bisa saja itulah yang sedang terjadi.
'Mungkin juga sih, tapi ah istri gue ga boleh setres gegara beginian!' batin Refan menggerutu bingung.
"Ya udah kamu tenang aja dulu ya? Mending kamu tidur aja gih, tadi kan kamu bilang udah capek udah ngantuk." tutur Refan mengusap pundak istrinya dengan lembut. Izza menggeleng.
"Gimana mau tidur kalau isi pikiranku full kek gini?" sungut Izza sebal. Refan bergidik. Kenapa jadi seolah Refan yang salah? Padahal Refan juga dibuat setres karena masalah ini.
"Kamu ga usah pusingin masalah ini lagi. Kamu lanjutin aja kerja samamu sama Yonna atau Geisha atau siapa lah itu, kamu kan pinter tuh mainin taktik gerilya buat kubu musuh. Kamu masuk ke perusahaan Yonna itu sambil cari info dari dalam... Urusan siapa Yonna dan Geisha yang sebenarnya, biar aku sama Kevin ajayang nyelidikin itu. Gimana deal?" ucap Refan panjang lebar. Izza diam berfikir sejenak lalu mengangguk.
"Oke, biar nanti aku minta bantuan ke bang Genta sama Ilham juga deh." pungkas Izza setuju. Refan mengangguk dengan senyuman tampannya. Dielusnya puncak kepala istrinya yang kelewat smart dan super kuat tahan godaan dari segala macam hujan badai ini.
"Nah pinter banget istriku ini... Cups." ucap Refan menarik tengkuk Izza dan mengecup bibirnya singkat. Anggap saja ini adalah kiss night mereka, ganti dari jatah malam ini.
"Sekarang kita tidur aja ya?" tanya Refan mengedip-ngedipkan bola matanya. Izza terkikik kecil melihat keimutan suaminya ini.
Cups
"Good night, my stronger man!" ucap Izza manis setelah memberi kecupan singkat di bibir Refan. Refan kemudian menarik tubuh Izza yang awalnya duduk bersandar menjadi langsung ambruk dalam dekapan tidur bersama sang suami.
"Good night too, Queen of my life!" bisik Refan di sela dekapan eratnya. Keduanya pun tertidur nyenyak malam ini dengan saling mengeratkan dekapannya satu sama lain.
...****************...
"Ehmmm udah pagi aja, hoamm." desis Refan mencoba melebarkan matanya yang masih terasa lengket, menempel erat satu sama lain.
Setelah sepersekian waktu diam mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang dari semalam entah pergi kemana, Refan pun melirik sepasang tangan berkulit putih bersih yang masih melingkar erat di perut six pack nya. Posisi Izza saat ini tidur miring menghadap tepat ke arahnya.
Refan pun ikut memutar badannya secara perlahan, jadi saling berhadapan dengan sang istri.
"Hm cantik banget istri gue." bisik Refan lirih mengelus pipi mulus Izza. Kelopak matanya masih setia tertutup rapat, seolah tak merasa terganggu dengan belaian lembut di pipinya.
"Dulu gue mimpi apaan ya bisa ketemu Izza? Bisa dapetin dia juga malah." ucap Refan bermonolog lagi. Seolah rasa syukur yang ia miliki atas jatuhnya Izza ke pelukannya ini tidak akan ada habisnya. Semua perjuangan dan perngorbanan yang terbayar lunas, karena kebaikan tuhan pastinya.
"Gue psiko, gue orang jahat, gue pendosa, tapi tuhan berbaik hati ngirimin malaikat buat dampingin hidup si bangs*t ini."
"Ay?" panggil Refan kemudian. Ia telah melirik jarum jam besar yang tergantung di dinding kamar. Jam menunjukkan pukul 6 lebih.
"Enggghhh hmmm." desis Izza tak connect. Separuh jiwanya jelas masih terbawa hanyut di alam mimpinya.
"Ngapain juga gue bangunin? Dia ga usah kerja juga ga papa kali ah. Biarin dia tidur aja deh, mukanya juga kelihatan capek banget ini." gerutu Refan pada dirinya sendiri yang tadi hampir saja mengganggu tidur nyenyak sang istri.
"Ya udah, kamu tidur aja. Biar nanti aku kasih tau Andin sama Darrel kalo kamu ga bisa datang ke kantor." tutur Refan membelai rambut Izza dan menyelipkan anak rambut yang menutupi mata sang istri.
Cups
"Morning kiss sayang." ucap Refan setelah memberi kecupan kilas di bibir tipis Izza. Refan kemudian melepas tautan kedua tangan istrinya dengan perlahan, menurunkan tangan putih mulus itu dari tubuhnya agar ia bisa bangun tanpa harus mengganggu tidur tenang sang istri.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰