IZZALASKA

IZZALASKA
60. Bawaan bayi



"Di Seoul, Korea Selatan."


Refan melotot tak percaya? Haruskah sejauh itu hanya demi semangkok ramen?


"Se-serius?" pekik Refan terbata. Izza mengangguk antusias dengan senyum merekah lebar.


Refan menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.


"K-kamu beneran nih ay?"


"Iya sayang, kenapa emang? Kamu ga mau? Ini bawaan bayi loh, anak kamu juga yang minta." tanya Izza mulai manyun.


"Nggak gitu hey!!" seru Refan buru-buru menangkap pundak istrinya yang hendak berbalik pergi.


"Bukannya ga mau ay tapi kan besok kita ada janji sama dokter kandungan kamu. Kamu lupa ya?" sambung Refan takut Izza beneran ngambek.


Izza berdecak.


"Ck. Itu kan janji buat jam 2 siang sayang.... Masih keburu kok! Ini kan masih jam 4 sore nih, kita langsung berangkat sekarang aja biar nyampe sananya sekitar jam 11 malem tapi karena kita udah di Korea jadi kita sampainya di jam 01.00 KST. Kita-"


"Heh stop! Ambil nafas dulu kali ay, nyerocosnya panjang amat." potong Refan menangkup kedua pipi Izza. Izza nyengir, menata ulang nafasnya kemudian kembali bersemangat melanjutkan ceritanya.


"Kita langsung cari hotel buat tidur malam ini, terus paginya jam 8 baru deh nyari ramen buat makan." sambung Izza enteng.


"Terus check up kandungannya gimana? Mau sekalian nyari dokter di Seoul aja atau gimana?" tanya Refan menautkan alis. Izza menggeleng.


"Ga usah, habis makan kita langsung balik pulang ke Jakarta. Jam 9 kita berangkat, perjalanan 7 jam berarti kita sampek Jakarta lagi sekitar 16.00 KST atau sama dengan 14.00 WIB. Langsung deh meluncur ke dokter. Selesai kan?" jawab Izza panjang lebar. Refan melongo.


"Ga ada istirahatnya? Kamu ga capek? Ada anak kita loh, dua pula." tanya Refan lagi. Izza menggeleng dengan senyum lebar.


"Kamu ga lupa sama jati diri aku sebelum ini kan? Cuma gitu doang mah gampang!! Anak kita kuat pasti." jawab Izza songong. Refan memicingkan matanya curiga, ia masih tak percaya kalau Izza jauh-jauh ke Korea hanya demi makan ramen. Terlalu mustahil.


"Ay?"


"Hm?"


"Kamu yakin?" tanya Refan kesekian kali. Izza menaikkan sebelah alis


"Yakin apanya?"


"Yakin habis makan ramen kita langsung pulang?" tanya Refan ragu. Izza malah mengangguk yakin.


"Iya lah. Kan kamu juga cuma pengen makan ramen doang kan?" tanya Izza balik.


"Ya iya sih."


"Ya udah ngapain nanya lagi?"


"Ya aneh aja. Tumben kamu ga maksa aku buat ngemis-ngemis ke pihak SM Ent, buat ngetemuin kamu sama bias kesayangan kamu itu?" cerocos Refan mengeluarkan uneg-uneg nya. Izza tertawa renyah.


"Dih malah ketawa."


"Kan Pcy masih wamil ay." jawab Izza mengoreksi.


"Nah itu berondong yang lagi kamu tonton barusan, itu juga dari SM kan? Ga mau ketemu sekalian?" sindir Refan. Sejujurnya ia cemburu karena istrinya ini jadi suka nonton berondong-berondong Korea itu. Tapi demi Izza, haram bagi Refan mengatakan tidak.


"Iya, Jaemin ganteng emang dari SM juga. Tapi aku belum mau ketemu, next time aja."


...****************...


"Pin!"


Hening. Yang dipanggil tak kunjung menyahut.


"Pin?" panggil suara berat itu lagi.


Krik krik.


"KEPINNNNNN WOY BUDEG!!" teriak Leon penuh emosi. Yang diteriaki hanya menoleh dengan wajah tanpa dosa.


"Hm?" sahut Kevin yang kembali berbalas chat dengan seseorang di handphone nya. Entah siapa yang seperti bisa menyita perhatian Kevin selain Refan.


"Gue Gabrut nih." adu Leon masih sambil memainkan sebuah korek api di tangannya. Mendengar ungkapan aneh, Kevin benar-benar menatap lawan bicaranya di ruang hening itu.


"Hah? Apa? Gabrut? Apaan lagi itu anj*ng!!" tanya Kevin tak connect. Wajah cengohnya mendominasi suasana.


"Galau brutal tolol kudet!!" maki Leon melempar korek api yang telah mati itu ke arah wajah Kevin. Kevin memang selalu menyebalkan dan kudet.


"Gini nih kalo tiap hari asupannya cuma ngantor, meeting sama berkas doang." ledek Leon menambahkan. Kevin memutar bola matanya malas.


"Ck. Kalo bukan gue, emang lo mau ngurus berkas-berkas gituan hah?" tanya Kevin malas. Ia melemparkan kembali korek api tadi ke arah Leon.


Leon menggeleng sambil nyengir. Menyusun siasat dan menyerang adalah tugas yang paling tepat dan menyenangkan bagi seorang Leon daripada harus berurusan dengan yang namanya 'berkas'.


"Lagian lu pake sok-sok an galau segala!" ledek Kevin kembali fokus ke iPhonenya. Leon berdecak, Kevin adalah sahabatnya yang paling menyebalkan, lemot, singkat dan padat.


"Yeee cuma gitu doang respond lo?" protes Leon kesal.


"Ya terus gue harus bilang wow gitu?" sahut Kevin mengeryitkan alis. Leon memasang wajah datar.


"Minimal lo tanya dulu kek gue galau kenapa. Kagak peka amat!! Pantesan aja awet jomblo lu." gerutu Leon mengetok meja dengan kesal.


Kevin memutar bola matanya malas.


"Yodah iya bawel! Lo galau kenapa?" tanya Kevin terpaksa. Leon auto senyum sumringah, memang sifat tengil kebocil-bocilannya masih suka kumat sejak dulu sampai sekarang. Segampang itu ngerubah mood Leon.


"Gue galau nungguin Repan dari tadi kagak balik-balik woe.... Ini udah jam 9 malam dan dia masih belum balik loh pin? Gue udah gatel nih pengen ngeracunin si tua bangka sialan itu." jelas Leon panjang lebar. Kevin menggeleng cepat.


"No! Lo ga boleh ngeracunin dia dulu tolol!! Ntar kalo dia mati, kita ga bisa korek info." tolak Kevin mentah-mentah.


Rupanya mereka berdua masih setia menunggu Refan di markas Blood Wolf sejak tadi.


"Ya oke lah gue tau, makanya gue masih nunggu bapak besar disini. Ya tapi minimal kita bisa kali ngasih dia pelajaran dikit-dikit. Bosen gue kalo diem-dieman kek gini ah!! Mana Repan lama banget." protes Leon lagi. Kevin menghela nafas panjang.


"Ya udah lo telpon aja dia, tanyain tuh harus kita apain tuh si Dodot." suruh Kevin memberi jalan tengah. Leon melotot senang, ia menjentikkan jarinya kemudian bergegas merogoh saku celananya untuk mengambil iPhonenya.


"Tumben Kepin otaknya encer." ledek Leon terkekeh. Kevin hanya geleng-geleng saja tanpa ingin berdebat.


...****************...


"Eh eh ini berdua mau kemana malem-malem gini nyelonong bae?" pekik Alice yang muncul di balik pintu dapur. Seorang wanita dan pria dengan wajah 99% menyerupai Refan itu menoleh.


Rafael dan Stella. Yap! Mereka berdua baru saja tiba di Jakarta sore tadi dan kini telah berada di rumah utama keluarga Dirgantara.


"Hehe mama di dapur, aku kirain udah tidur." sahut Stella menghampiri Alice dan memeluknya santai. Alice mengangguk dengan senyuman.


"Iya sayang, mama tadi habis ngasih minum ke papa." jawab Alice pada menantunya ini.


"Fael! Mau kamu bawa kemana putri sama calon cucu mama malem-malem gini heh?!" omel Alice merubah muka garangnya pada putra sulungnya ini.


"Galak amat sama anak sendiri ye!" keluh Rafael memijit pelipisnya.


"Ya kamu mau kemana Rafaaaaaaa." ulang Alice lagi.


"Tuh tanya ke bos aku, yang aneh-aneh dia tuh ngajak ke rumah Refan malem-malem gini." jawab Rafael melempar batu ke istrinya. Alice beralih tatap.


"Bener sayang? Kamu yang ngajak ke rumah Refan?" tanya Alice lembut. Sangat berbeda dengan nada suaranya pada Rafael yang terkesan garang karena mengira ia mau membawa calon cucunya kelayapan.


'Buset ini mama gue atau mertua gue si? Pilih kasih amat astaghfirullah.' cicit Rafael dalam hati kecil. Mana berani ia bersuara seperti itu pada mamanya? Bisa-bisa ia di cincang malam ini juga.


"Hehe iya mam, aku kan udah bilang ke Izza kalo saat aku pulang ke Jakarta. Dia adalah rumah pertama yang bakal aku kunjungin, kangen juga udah lama ga ketemu dia." jawab Stella sejujurnya. Alice manggut-manggut sambil mengelus lengan menantunya ini.


"Oh jadi gitu ceritanya...."


"Iya ma."


"Tapi kamu ga bisa ketemu Izza ataupun Refan malam ini sayang. Kamu temuin dia besok malam aja ya? Tunggu mereka pulang dulu." ucap Alice membuat Rafael kembali tertarik kedalam suasana.


"Memangnya mereka kemana ma?"


"Mereka lagi pergi ke Korsel." jawab Alice padat singkat dan mencengangkan.


"Hah?!!" pekik sepasang calon bapak dan ibu itu. Mereka saling pandang, padahal baru tadi pagi Refan bilang ke Rafael kalo dia sedang berada di markas gangster. Tapi sekarang kenapa sudah di lain alam?


"Mama serius?" tanya Rafael memastikan. Alice mengangguk.


"Iya serius. Baru aja berangkat tadi sore pake jet pribadi." jawab Alice santai.


"Kenapa kek dadakan ya? Tadi pagi Fael masih kontak sama Refan di markas kok ma?" tanya Rafael memastikan sekali lagi. Alice menghela nafas panjang. Memang tak ada perbedaan antara berbicara dengan Rafael maupun Refan, sama-sama menguras tenaga dan kesabaran.


"Izza sama Refan baru ngidam ke Koreanya tadi sore Faeeeeel... Udah ah mama cape ngomong sama kamu! Mending mama tidur aja." jawab Alice setengah sebal. Rafael manggut-manggut ngeri, takut di semprot.


"Stella sayang kamu juga cepet istirahat ya? Inget sama kandungan kamu yang udah tua ini loh. Ketemu Izzanya kan bisa besok lagi." tutur Alice yang diangguki siap oleh Stella.


"Iya ma."


"Mereka cepet amat ya ngilangnya?" tanya Stella setelah Alice pergi meninggalkannya bersama Rafael. Rafael mengendikkan bahu.


"Namanya juga jelangkung couple."


...****************...


"Enggghhh...." lenguhan seorang wanita berbaju piyama merah maroon itu membuat Refan menoleh. Ia mengabaikan sejenak pekerjaannya yang terpampang di layar laptop.


Refan dan Izza sudah berada di dalam pesawat jet pribadi milik mereka yang terbang menuju Korea Selatan. Ah tepatnya mereka berdua sedang berada di dalam kamar pribadinya.


"Kebangun?" tanya Refan membelai lembut rambut panjang Izza yang kini berwarna cokelat. Izza tersenyum tipis, ia mengangguk sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Refan.


"Gemesin banget si tiap bangun tidur hm?" cicit Refan menghujani puncak kepala Izza dengan kecupan. Izza tertawa kecil.


"Bawaan bayik kali ya?"


"Keknya enggak deh ay, sejak kamu belum hamil juga udah gemesin kok." elak Refan menggeleng. Izza tertawa lagi.


"Ga usah muji! Aku tau pasti bakal ada udang dibalik capcay." sahut Izza sok tau.


"Dih? Dibalik bakwan kali ah." koreksi Refan yang mengabaikan kecurigaan istrinya karena itu adalah benar, haha.


"Sama aja! Sama-sama sembunyi."


"Btw kamu lagi ngapain?" tanya Izza melirik laptop Refan yang jadi pengangguran karena si tuannya sibuk bucin.


"Lagi ngeliatin kamu." jawab Refan enteng. Izza mengalihkan pandangan dari laptop lalu menatap mata Refan.


Ya emang bener sih Refan sedang menatapnya, tapi ga gini juga maksudnya jamal!!


"Ck. Ditanya serius juga ih." keluh Izza bangun dari rebahan nyamannya. Ia kini duduk sejajar dengan Refan yang masih bersandar pada kepala ranjang.


Refan terkekeh.


"Kamu udah pamit papa mama apa belum?" tanya Refan mengalihkan. Izza mengangguk.


"Udah."


"Kapan? Kok aku ga tau?"


"Tadi ay, aku niatnya kan mau video call an sama mama sekalian bilang mau ke Korea. Eh kebetulan aja tuh ada mama Alice juga di rumah, jadi ya udah sekalian aja bilang ke mereka berdua." jelas Izza panjang lebar. Refan manggut-manggut.


"Ngebolehin?"


"Siapa?"


"Ya mama berdua lah."


"Dibolehin kok. Makanya aku bisa ada di sini sama kamu." jawab Izza apa adanya. Refan mengeryit agak bingung, tumben duo super mama itu mengizinkan Izza pergi jauh di usia kehamilannya yang semakin tua?


"Tumben-"


"Tumben ga diomelin? Ya enggak lah. Mana bisa mereka marah sama saya yang super cantik, lucu, imut dan menggemaskan ini. No way!" potong Izza sombong. Ia mengibaskan rambutnya dengan kepercayaan diri di atas rata-rata.


"Idih idih pede amat si nyonya dih." ledek Refan menoel hidung istrinya.


"Bawaan bayik juga ini ay." jawab Izza ngeles.


"Perasaan dari tadi anak-anakku mulu yang dijadiin tameng. Bilang aja kalo pede syndromnya lagi kumat?" sindir Refan.


"Anak kamu? Heh! Anak aku kali." bantah Izza tak terima. Refan menggeleng cepat.


"Mereka bisa ada karena kecebongku ay, jadi ya anak aku lah." jawab Refan tak mau kalah juga. Izza langsung memeluk Refan begitu saja. Tak ada angin tak ada petir.


"Eh kenapa lagi?" tanya Refan panik, ia mengira kalau Izza ngambek. Izza menggeleng.


"Bawaan-"


"Bawaan bayi lagi?" tebak Refan Izza nyengir.


"Bilang aja kalo kamu kangen kan meluk-meluk ginian hm?" goda Refan membalas pelukan erat Izza. Hangat.


"Miss you tapi enggak." lirih Izza terkekeh kecil.


"Gimana konsepnya tuh?"


"Ya aku kangen tapi enggak kangen, eh gimana ya? Ah pokoknya gitu deh." jawab Izza bingung sendiri.


"I know." lirih Refan mengerti arti bahasa dari istrinya ini. Ia menangkup dagu Izza dengan satu tangan.


"And i miss you too." sambung Refan serak. Kalian pasti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?


Drtt drtt


"Sial!!" maki Refan pada iPhonenya yang tiba-tiba berdering di saku celana. Izza kembali membuka matanya yang tadi sudah meredup, tampak sekali wajah kesal suaminya mendominasi suasana yang rusak ini.


Tut.


"Siapa ay? Kok di reject?"


...****************...


📞Calling Refan....


Tut.


"****!" umpat Leon.


"Kenapa lagi?"


"Di reject woi sama Repan." gerutu Leon menunjukkan layar iPhonenya pada Kevin. Kevin tertawa.


"Ahahaha mamp*s!" ketus Kevin puas.


"Ye si minus akhlak." balas Leon sengit. Kevin melirik jam di tangannya sejenak.


"Lagian udah jam segini kali, palingan juga dia lagi anget-angetan sama Izza kali, menikmati dinginnya malam makanya tu anak sampe lupa kemari." duga Kevin sok iye. Leon mencerna ucapan Kevin lalu mengangguk setuju.


"Betul juga, giliran masalah beginian aja lu ga kudet. Otak lo jadi forji!!" sahut Leon manggut-manggut mengerti tapi nyatanya ia tetap ngeyel untuk menghubungi Refan lagi.


"Oke, markicob!"


📞Calling Refan.....


"Ye masih ngeyel aja ni anak." keluh Kevin geleng-geleng. Emang susah ngomong sama batu yang dikasih nyawa.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰