
"Sial!" pekik Refan emosi. Matanya sudah memerah dengan dengusan nafas yang kian tak teratur.
Srek kresss
Ditikamnya surat yang telah ia baca tadi hingga tak berbentuk. Kepalan tangannya menguat bersamaan dengan rahangnya yang juga mengeras. Gunung api yang sedang tertidur itu seperti ingin kembali menyemburkan larva panas dalam tubuhnya.
"Dari mana Bloody Dragon tau semuanya? Gimana bisa mereka tau soal kehamilan Izza sedangkan selama enam bulan ini gue, papa, dan ayah Ricko udah kompak untuk menutupi kehamilan Izza dari publik luas?" ucap Refan mengacak semua barang yang ada di mejanya. Hingga meja yang tadinya tampak aesthetic itu kini jadi berserakan seperti habis terkena terjangan banjir bandang.
"GAK GAK GAK!! Ini ga mungkin cuma karena kebetulan atau media bocor. Penjagaan Izza itu udah super ketat, bisa dipastiin tiap dia keluar dari rumah atau kantor, ga ada orang yang bisa ngintip dia meski dari celah terkecil sekalipun. Izza kan tiap jalan selalu dikelilingin bodyguard gede-gede! Belum lagi bajunya yang selalu nutupin postur tubuhnya. Gue yakin pasti ada penghianat diantara orang-orang yang ngelilingin istri gue." cerocos Refan masih sibuk bermonolog. Terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, celah apa yang telah berani muncul untuk mengusik ketenangan istri dan anaknya?
"Tapi ini? Arghhhh!!" pekik Refan mengerang makin frustasi. Isi surat pendek yang sangat menguras emosi. Dimana di surat itu tertulis kalau Bloody Dragon sudah tau apa kelemahan Refan saat ini. Mereka tau tentang kehamilan Izza yang tak lain adalah pemimpin utama gangster Black Diamond Girl. Setelah penantian dan pencarian panjang, akhirnya Bloody Dragon berhasil menemukan celah yang sudah valid menjadi kelemahan seorang Refan dan Queen Izza.
Bloody Dragon mengatakan kalau mereka akan kembali dengan dua dendam super power yang jelas jadi suatu serangan double kill yang akan mereka kirim. Yap! Kalian masih ingat kan? Bloody Dragon sudah bekerja sama dan PSG Group yang tak lain adalah perusahaan milik dua bersaudara yang adalah musuh bebuyutan Izza sejak jaman ayah mereka.
"Pasti ada yang ga beres! Ga mungkin ada kebocoran informasi kalau ga ada keropos. Gue yakin ada musang penghianat! Entah di sini, atau di Rz. Atau bisa jadi di salah satu body guard yang selama ini mantau istri gue!" ucap Refan masih berasumsi sendiri. Kevin! Kemana pula perginya orang itu. Di saat seperti ini, Refan jelas membutuhkan Kevin atau Leon untuk diajak bertukar opini dan keyakinan.
Hanya satu hal yang membuat Refan yakin, pasti ada sebuah rencana penghianatan yang diam-diam menikam mereka dari dala.!
Tit.
Refan memencet salah satu tombol yang tertera di telepon kantornya. Menelepon sekertarisnya
"Rosa?" panggil Refan. Tentu saja langsung terdengar sahutan dari ujung telepi .
"Iya tuan muda? Ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil Kevin, suruh di kemari."
"Maaf tuan muda, tapi tadi pak Kevin turun lift. Memangnya ada apa? Biar nanti saya sampaikan kalau pak Kevin sudah kembali." tanya Rosa sopan tapi Refan auto ngegas. Namanya juga otak lagi penuh plus buntu.
"Ga usah banyak nanya! Saya bilang, suruh Kevin ke sini!" sentak Refan emosi sendiri. Jelas sekali terdengar suara kaget di ujung sana.
"B-baik tuan."
"Cepat cari dia, saya tidak suka menunggu!"
'Iya tu-"
Tut.
Refan langsung memutuskan sambungan itu begitu saja. Lelaki itu tampak menghela nafas panjang sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi besar bos. Rasanya sangat pening!
"Baru aja adem ayem beberapa bulan, udah mulai panas lagi aja! Ga bisa banget apa nunggu dulu sampai anak-anak gue lahir, biar gue ga ketar-ketir double job. Arghhh sial BD minta dibasmi beneran!" keluh Refan mengacak rambutnya frustasi.
...****************...
"Jadi mereka tau?" tanya Izza melirik Genta dan Ilham secara bergantian. Ia telah selesai membaca beberapa baris tulisan bertinta hitam itu.
"Iya."
"Kok lo kek santai banget si?" tanya Ilham heran melihat raut wajah Izza yang masih saja santai dan tenang, seolah tidak sedang terjadi apa-apa.
"Ya terus gue harus gimana? Nangis di pojokan gitu?" tanya Izza balik. Ilham berdecak.
"Nggak gitu! Maksud gue, sekarang ini nih, saat seperti ini adalah waktu yang tepat buat panik. Lo ga takut kalo semisal ya tapi amit-amit sih, kalo semisal nanti terjadi hal buruk? Ini menyangkut anak-anak lo juga loh!" ucap Ilham menjelaskan maksudnya.
Izza mengangguk singkat.
"Panik sih enggak, takut juga enggak, tapi-"
"Tapi apaan?"
"Agak ketar-ketir aja soal anak gue ini haha." jawab Izza masih sempat ngejokes. Ilham memutar bola matanya malas.
"Ye itu sih sama aja!" sembur Ilham. Izza makin ngakak.
"Nggak usah panik Queen, kita semua ada buat ngelindungin kamu dari segala sisi. Kita perketat juga semua pengawalan kamu baik itu di rumah ataupun di kantor!" sela Genta menenangkan Izza yang langsung jadi auto serius saat Genta yang menjadi lawan bicaranya. Izza yang bersama Genta dan Izza yang bersama Ilham adalah satu orang yang sama, tapi dua sikap yang berbeda.
Maklum lah! Duo Alvaro adalah dua kutub magnet yang berbeda. Satunya psikopat kejam yang random dan receh, sedangkan satunya lagi si perfeksionis yang tenang tapi selalu berada dalam mode serius.
"Iya bang gue tau itu. Tapi gue punya satu pertanyaan besar!"
'Mulai lagi sok seriusnya. Ah dahlah gue ngikut serius aja, dari pada entar digaplok sama abang!' batin Ilham jengah dengan keseriusan ini. Sebenarnya Ilham hanya butuh hiburan dan pengalihan rasa lelah saja, makanya dia kadang suka kelewat random. Apalagi ini juga karena Salma yang masih berada di Jerman, makin tak ada powermood!
"Apaan tuh?" tanya duo Alvaro bersamaan.
"Siapa yang bocorin ini ke Bloody Dragon? Ga mungkin dan ga bakalan mungkin mereka yang di dunia bawah bisa tau, kan kalian tau sendiri seketat apa Refan jaga kerahasiaan kehamilan gue ini. Bloody Dragon juga bukan gangster milik pengusaha kan? Ga mungkin ada jalan masuk kecuali......"
"ADA PENYUSUP!!" ucap Genta dan Ilham bersamaan. Izza mengangguk dengan jentikan jari.
"That right! Itu yang gue curigain. Tapi mereka lewat mana?" tanya Izza lagi.
"Kayaknya lo ngelupain sesuatu deh Queen!" celetuk Ilham. Izza mengeryit sementara Genta mengangguk, ia sudah tau apa hal yang terlintas di benak adiknya itu.
"Lupa apa?"
"Soal PSG Group. Kan mereka kerja sama sama Bloody Dragon buat ngancurin elu!" jawab Ilham. Izza ngebug sebentar, mengingat-ingat siapa PSG Group? Maklum lah udah berbulan-bulan lamanya sejak kiriman terror yang pertama itu datang, Izza sudah angkat tangan dari gangster miliknya bersama duo Alvaro itu.
"PSG Group teh saha?"
"Lah?!!"
"Gue lupa. Kan udah lama ga mikirin beginian Li!" ucap Izza menggaruk belakang telinganya dengan cengiran khas.
"Yeee... Anak baru mau lahir, udah pikun aja!" semprot Ilham. Izza masih dalam mode nyengir tanpa dosanya.
"Itu loh Queen yang pemimpinnya anak kembar, yang bokapnya-"
"Yang kalah saing sampek bunuh diri itu ga sih bang?" sahut Izza langsung connect. Genta mengangguk.
"Iya yang itu."
"Semuanya serba mungkin di saat seperti ini." jawab Genta.
"Tapi emang lo kerja sama sama PSG Group?" tanya Ilham berasumsi. Izza dan Genta yang fuduk berhadapan dengannya langsung menatapnya heran. Ilham menghembuskan nafasnya kasar, ia tau kalau dua saudaranya ini sedang ngebug parah!
"Maksud gue, emangnya Rz Corp sama PSG Group ada kontrak kerja sama atau gimana? Kan ga mungkin PSG Group bisa tau info kalau mereka ga bisa masuk ke sini. Kalo emang iya, berarti lo parah si Queen! Bisa-bisanya kerja sama-"
"Huuusssstt!! Ngawur. Gue ga pernah merasa nge-acc musuh ya! Satu-satunya musuh yang gue curigai dan gue izinin masuk cuma dari Alfahreza Group tau!!" potong Izza sebelum Ilham makin ngamuk karena masalah kontrak kerja sama.
"Lah kalo emang-"
Tok tok kriet
"BU BOS LEXA SPADAAAAAAA!!" pekik Darrel melenging penuh semangat membara dari arah pintu yang sudah terbuka separuh. Menyembulah kepala Darrel si pengantin baru itu, dengan cengiran khas.
"Buta situasi ni anak, ga tau kali ah kita lagi rundingan panas kek begini!" gerutu Ilham jengah.
"Emang agak setress anaknya." jawab Izza ikutan jengah.
Darrel yang memang sudah biasa dengan perannya sebagai asisten pribadi pun langsung masuk nyelonong tanpa meminta persetujuan dari Izza, karena memang seperti itulah kebiasaan mereka. Izza yang tak pernah memberi aba-aba dan Darrel yang tak pernah sabar menunggu aba-aba.
"Hehe gue ganggu nggak?" tanya Darrel polos.
"Pake nanya lagi lu!" semprot Ilham. Darrel memasang wajah sok takut.
"Hih kok ngamok?!!" cicit Darrel menye. Ilham memutar bola matanya jengah.
"Lo dapet asisten kek gini tuh dari mana sih? Ga ada lurusnya tuh otaknya." tanya Ilham menatap Izza. Izza mengendikkan bahunya acuh.
"Nemu dia di kolong kincir angin belanda, karena melas ya udah gue pungut aja sekalian. Kan lo tau sendiri, gue asli orangnya ga tegaan Li!" jawab Izza ngawur. Darrel auto jengah dan mendengus malas.
"Oalah pantesan kelakuaannya muter-muter mulu ga ada habisnya."
"Ada apaan? Map apaan tuh?" tanya Izza fokus pada map hijau di tangan Darrel. Darrel menyerahkannya pada Izza lalu dia sendiri duduk di sebelah Ilham.
"Jadwal meeting?" tanya Izza membaca baris judul. Darrel mengangguk.
"Iya."
"Bentar ya bang, gue baca ini dulu?" izin Izza pada Genta. Genta mengangguk.
"Hm."
"Loh loh?!!!" pekik Izza melotot kaget saat membaca satu nama perusahaan yang punya jadwal meeting dengannya, besok pada jam setelah lunch.
Ilham, Genta dan Darrel sama-sama terkejutnya.
"Kenapa Queen?!!"
"Ngapa Lex?"
"Wuih gue baru masuk udah tegang aja? Kenapa Lex?" celetuk Andin yang baru saja masuk. Ia langsung beringsut duduk di sebelah suaminya.
Izza memasang mode gahar di wajahnya. Tangannya lalu menunjuk ke sebuah nama yang terpampang di kertas yang sudah dibalik dan dihadapkan kepada empat orang itu secara mengeliling.
"Ini siapa yang berani acc PSG Group? Kenapa bisa masuk jadwal meeting sedangkan gue ga merasa nerima kontrak kerja sama mereka?!" tanya Izza serius. Andin dan Darrel yang paling melongo, sedangkan Genta dan Ilham sama-sama bersimrk. Mereka sudah menduga hal ini, pasti PSG Group berhasil menyusup dan mereka yang bertanggung jawab atas kebocoran informasi kehamilan Izza.
"ANDIN?" tanya Izza lebih dulu pada sekertarisnya. Karena selama ini, Andin yang punya koneksi dalam hal ini.
"Bukan gue wehh. Sumpah!!" pekik Andin geleng-geleng sambil menyilangkan tangannya.
"Berarti elo Rel?" tanya Izza beralih pada Darrel yang auto mendelik. Oh tidak!
"Anjrit bukan gue lex. Sumpah demi alek bukan gue!!" protes Darrel menggeleng yakin.
"Terus siapa dong?" tanya Izza menghembuskan nafas kasar nan panjang.
"Gue mana berani ngehianatin elu untuk kedua kalinya ah." ucap Darrel lagi. Yang dimaksud pertama dulu adalah saat ia berselingkuh di belakang Izza.
"Apalagi gue!" sahut Andin.
"Bisa jadi ada penghianat di kantor ini" Celetuk Genta menganalisa.
"Iya tuh bener! Bisa aja ada orang lain yang ngasih akses langsung ke PSG Group." sahut Ilham membenarkan teori dari kakaknya.
"Tapi selama ini kan kita selalu di kantor? Ga mungkin ada yang bisa ngasih izin sembarangan selama Izza dan Andin ada di sini." tanya Darrel bingung. Andin dan Izza saling pandang, mereka berdua menyadari dan ingat kalau pernah ada satu hari dimana mereka berdua sama-sama tidak datang ke kantor pusat dan pergi bersama ke cabang di Bandung.
"Ndin lo mikir apa yang gue pikirin ga?" tanya Izza. Andin mengangguk.
"Iya."
"Bisa jadi ada orang lain!" ucap Izza yakin.
"Kenapa bisa seyakin itu?" tanya Ilham.
"Beberapa hari yang lalu, gue sama Andin kan pernah pergi ke cabang di Bandung buat nemuin Ardi. Nah waktu itu Darrel masih honeymoon, jadinya Refan sama bang Gents yang minta Andin buat nemenin gue ke sana! Dan terjadilah kekosongan pimpinan di kantor ini pada hari itu." jelas Izza panjang lebar.
"Nah iya bisa jadi!"
"Terus siapa orang yang bisa gantiin posisi sementara itu?" tanya Genta to the point. Izza mengalihkan pandangannya ke Andin.
"Andin, siapa orang lain di sini yang bisa acc perusahaan selain kita berdua?" tanya Izza. Andin mengingat-ingat sebentar sebelum akhirnya terlonjak kaget.
"Pak Doddy, kepala HRD?" jawab Andin ragu-ragu, tapi memang itulah kenyataannya. Hanya Izza, Andin, dan Doddy yang punya akses langsung dalam hal ini. Izza mengepalkan tangannya geram.
'Tua bangka itu emang dasar ya!' batin Izza geram.
"SIALAN DODDY!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰