IZZALASKA

IZZALASKA
72. Baby X



Tit tit tit


"Oh s**t!!" maki Ilham kalang kabut. Ia sontak terlonjak dari duduknya karena bunyi alarm peringatan dari laptop di hadapannya.


Ada yang sedang mencoba meretas sistem dan mencoba memasuki sistem keamanan dalam komputer gangster, Black Diamond Girl.


Jari jemari Ilham langsung bergerak cepat kesana kemari, mengetikkan semua hal yang diperlukan untuk mencegah penyusup itu masuk. Hanya butuh hitungan detik bagi Ilham untuk mematahkan aksi berbahaya yang menyerang komputernya itu.


Tap.


"Berhasil huh!! Lu kira gampang ngalahin skill gue hah?!!" ucap Ilham lega setelah menekan satu tombol terakhir, penyusup itu berhasil diblokir oleh Ilham sebelum mereka masuk lebih dalam ke inti.


"Sekarang tinggal nginput nomor seri ini, buat nyari tau siapa musang yang berani nantangin gue!" monolognya sambil kembali menggerakkan jemarinya dengan lincah di atas keyboard.


"BD Gang? Bloody Dragon? Seriusan mereka udah balik lagi?" pekik Ilham antusias setelah ia mengetahui siapa dalang dibalik rasa panik yang sempat menyerangnya tadi.


"Nah bagus juga mereka balik, udah keram tangan gue pengen ngeracunin orang." ucap Ilham tersenyum-senyum sendiri.


"Gue harus kasih tau abang sama Refan."


...****************...


"Kita langsung ke rumah Ayah ay?" tanya Refan melirik istrinya yang tampak sangat menikmati ice cream yang tadi ia belikan.


Izza menoleh dan mengangguk.


"Iya sayang.... Langsung ke rumah papa aja." jawab Izza. Refan terkekeh gemas, tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut lurus Izza yang kini berwarna pirang dengan poni biru. Agak aneh, tapi memang seperti itu model rambutnya. Mau heran tapi ini Izza!!


"Gemesin banget sih bumil!!!"


"Ehehehe yayadong, aku gitu loh."


"Nan-"


Drtt drtt


"Siapa?" tanya Izza melihat ke arah Refan yang sedang mengecek layar iPhonenya.


"Ilham ay." jawab Refan masih fokus ke layar iPhone.


"Lah? Ngapain dia?"


"Mungkin ada info terbaru soal YH atau nggak ya Bloody Dragon.


"Kok dia laporannya ke kamu? Harusnya ke aku dong! Dia anak buahnya siapa si sebenernya?" cecar Izza ngocros. Refan menghela nafas, Izza menyulut api disaat yang sangat tidak tepat.


"Ay please debatnya dipending dulu gimana? Aku ga keburu ngangkat teleponnya nih kalo kamu nanya mulu." cicit Refan. Izza memasang wajah bodoamatnya.


"Dih mau angkat ya angkat aja kali! Ribet kamu mah."


"Lah kok ngamok?"


"Bodoamat!!" ketus Izza kembali menjilati ice creamnya yang mulai meleleh karena didiamkan sejak tadi. Refan hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian mengangkat teleponnya.


📞Ilham is calling.....


Refan : Ada info apaan Ham?


Ilham : Lama bener!! Ngapain aja sih lu nyet?


Refan : Ga ada udel lu!


Ilham : Lah?


Refan : Ada apaan lu nelpon gue malem-malem begini njeng?!!


Ilham : Ga ada urat lu!


Refan : Kalo lo gabut mau ngajak basa-basi, besok aja tunggu gue free time. Lagi sibuk gue sekarang!!


Ilham : Sibuk apaan jam segini? Lu lagi bikin adonan ya?


Refan : Gini nih kalo lahir disetelin dj, bukan diadzanin. Ngawur mulu otak! Gue lagi di jalan.


Ilham : Oh bilang dong!!


Refan : Buruan ada apaan ege! Gua udah mau nyampe tujuan nih.


Ilham : Bloody Dragon come back!!


Refan : Mereka udah munculin muka lagi?


Ilham : Udah, tadi mereka nyob-


Refan : Kita bahas besok aja Ham, besok kita ketemu di Alvaro Group. Gue kebetulan ada proyek baru sama Genta.


Ilham : Oke, besok gue kesana sepuluhan habis kelar di markas.


Refan : Hm iya.


Tut tut tut......


"Siapa yang munculin muka? YH?" tanya Izza menebak random. Refan justru menganggukinya.


"Iya."


"Jangan diladenin dulu! Tunggu anak kita lahir, aku mau bantu kamu." ucap Izza menatap kedua manik mata suaminya. Refan menoleh dan balik menatap istrinya.


"Ladenin YH? Dia kan cowok ay, lebih enakan juga ngeladin kamu kok." jawab Refan menaik turunkan alisnya. Izza berdecak, dark jokes!


"Aku serius Refaaaaaaaaan!! Aku ga mau kamu ngadepinnya sendiri. Kalo ada apa-apa gimana? Aku kan ga bisa tanpa kamu!" rayu Izza agar Refan menuruti permintaannya tadi. Ia bergelayut mesra di salah satu lengan suaminya.


"Aku ngerti sayang, tapi kamu juga harus ngerti kalau keselamatan kamu sama anak-anak kita itu adalah prioritas utamaku. Oke?"


"Nggak oke! Buat apa aku sama sikembar selamat kalo kamunya enggak? Aku maunya kita berempat selalu bersama sampai masa senja!" kekeuh Izza. Refan berfikir sejenak, akan buruk dampaknya kalau ia terus menentang kemauan bumil.


"Pokoknya kalau terjadi perang gede, aku ikut!!!" kerus Izza lagi. Refan menghela nafas pasrah.


Sepertinya memang ia harus menunggu sampai kedua anak kembarnya lahir, setidaknya ia akan lebih mudah menghindarkan bahaya dari mereka. Kalaupun ia terdesak dan harus bertindak sebelum Izza melahirkan, ia bisa sedikit membohongi Izza demi kebaikannya dan kedua anak dalam kandungannya.


"Ya udah iya, aku cari cara buat nangguhin serangan mereka sementara waktu sampai anak kita lahir. Tapi jangan ngambek dong!! Kita mau ketemu ayah sama mama, masa iya dalam keadaan marahan si ay?" goda Refan menoel-noel dagu sang istri. Izza mengangguk dengan wajah masih memelas.


"Hm."


...****************...


Kriet


Reza menoleh saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Jelas tampak sosok istrinya yang sedang menutup kembali pintu yang ia buka tadi.


"Susunya udah jadi?" tanya Reza. Ajeng mengangguk sambil menunjukkan segelas susu cokelat pada sang suami. Susu cokelat adalah minuman favorit Ajeng. Dia memang bisa saja meminta ART untuk membuatkan susu untuknya, tapi Ajeng memilih untuk membuatnya sendiri karena malam sudah lumayan larut dan sudah memasuki jam istirahat untuk semua ART.


"Kok kaos kamu basah gitu?" tanya Ajeng mengeryit heran.


"Habis mandi beb." jawab Reza apa adanya. Ajeng kembali mengeryit.


"Lah bukannya kamu udah mandi sebelum makan malam tadi ya? Sejak kapan kamu mau mandi malam-malam gini?"


"Bukan aku, tapi Gio kita nih!" jawab Reza sambil menunjuk seorang bayi mungil yang masih berbalut kain rajut hangat di depannya. Sejujurnya Reza tak bisa memakaikan baju untuk bayi kecilnya, makanya Reza menunggu Ajeng kembali dari dapur.


"Hah?!!" pekik Ajeng mendelik. Bola mata hitamnya langsung berpindah haluan ke arah ranjang. Matanya makin melebar saat ia melihat buah hatinya yang baru berumur satuan hari itu tampak basah dengan balutan kain rajut.


...Xagio Rolend Alexander...



"K-kamu mandiin Gio?" tanya Ajeng syok. Reza mengangguk polos dengan cengiran khasnya.


Keterlaluan memang. Ini sudah lebih dari jam sepuluh malam dan Reza memandikan Gio? Dan yang lebih parahnya lagi adalah raut wajah polos tanpa dosa yang ditunjukkan oleh suaminya.


Reza ini bercanda atau memang tidak waras?


"Ngawur kamu!" cicit Ajeng langsung naik ke atas ranjang dan memeluk anaknya agar tak kedinginan. Berbeda dengan Ajeng yang panik, Reza malah tetap setia dengan wajah santainya.


"Tadi pas kamu keluar, badannya ketumpahan asi. Ya udah aku mandiin aja sekalian, dari pada nanti dikerubungin semut hayo?"


Plak


Ajeng menepuk jidat.


"Ga gitu juga penyelesaiannya sayang!!! Kan bisa di lap pake tisu basah aja. Ini udah terlalu malem tau!! Kalo anak kita masuk angin gimana? Kalo Gio kenapa-kenapa gimana?" omel Ajeng sambil menimang-nimang anaknya. Ajeng melotot kejam ke arah sang suami, Reza garuk-garuk kepala.


"Ya tinggal buat lagi kali ah, biar Gionya juga punya adik. Emang apa susahnya si? Ribet amat cewek-cewek." lirih Reza komat-kamit tak jelas.


"APA?!!!" pekik Ajeng garang.


"Eh hah? Apa? Nggak apa-apa kok hehe." cicit Reza jantungan, nggak deh canda haha.


"Ya udah ngapain masih disini? Sana ambilin baju buat Gio!" usir Ajeng galak mode on. Lagian Reza juga sih hobi banget nyari penyakit! Udah tau anaknya belum genap 5 hari, malah dimandiin malam-malam. Mana ngomong jujur pula ke ibunya! Definisi punya otak tapi ga bisa ngotak ya Za:')


"Dih galak banget si bucan." goda Reza hendak menoel dagu sang istri, tapi tidak jadi karena Ajeng lebih dulu melotot tajam.


"Ga ada bucan bucan. Sana ambil baju Gio sebelum aku yang ambil nyawa kamu!!"


"Wuiiiihh mengerikan!!" cicit Reza langsung buru-buru bangkit dari kasur dan berbalik ke lemari.


"EH BUJUBUSEEETTTT!!!" pekik Reza terkejut. Bagaimana tidak? Saat ia berbalik, dua pasang mata yang entah darimana datangnya itu tiba-tiba menatap lurus ke arahnya.


"Ada apaan nih ribut-ribut?" celetuk si sebab jantung copot Reza. Reza masih mengelus dada karena kaget tadi, sementara Ajeng menoleh.


"Ipin? Bucin? Kalian berdua tumben dateng larut gini?" sapa Ajeng kemudian berbalik badan. Kalian pasti tau lah siapa yang dipanggil 'bucin' oleh Ajeng tadi.


"Istri gue ngajak kesini, tadi habis dari nengokin bayinya Rafael." jawab Refan singkat dan jelas. Ajeng manggut-manggut.


"Lu berdua kenapa kek ribut gitu? Ini juga Xagio kok ga pake baju? Rambutnya basah? Ketumpahan air?" tanya Izza memberondongi Ajeng maupun Reza dengan rentetan pertanyaannya. Ajeng kembali memasang raut wajah sebal.


"Nih Pin! Gara-gara dia!!" tunjuk Ajeng garang. Reza menaikkan sebelah alis, bakal panjang ini sih. Begitulah isi pikiran Reza saat ini. Izza duduk di pinggiran ranjang, agar tangannya bisa meraih baby Xagio atau yang lebih sering dipanggil Gio.


"Kenapa emang?" tanya Izza dan Refan hampir bersamaan.


"Abang kamu tuh emang keterlaluan gila nya, bisa-bisanya mandiin Gio selarut ini Pin? Mana ga langsung dipakein baju pula." gerutu Ajeng. Izza dan Refan kini ikut menatap Reza, lebih tepatnya merasa aneh. Reza ini waras atau tidak?


"Apa lo berdua pandang-pandang hah?!!" sembur Reza. Izza geleng-geleng kepala, cuek.


"Ahhahaha lo baru tau kalo Reza emang gila Je? Udah sejak jaman purba kali ah. Hahhaha." sahut Izza tertawa puas. Ketidakwarasan Reza harusnya sudah bisa membawa pulang sebuah tropi atau minimal sebuah penghargaan atas prestasi anehnya itu.


"Beliau ini sebenarnya kocak geming!" sambung Izza lagi sambil menunjuk kembarannya yang masih tak menunjukkan tanda-tanda merasa bersalah itu. Seperti biasa, Reza selalu sok polos dan biasa saja.


"Kasian banget Gio punya bapak yang setressnya udah bersertifikat internasional kek gini." sahut Refan ikut ngeroasting Reza.


"Sialan kompor dua cerobong!" maki Reza kesal, bukannya membela dirinya yang diomelin mati-matian oleh Ajeng, Refan dan Izza malah cosplay jadi kompor.


"KENAPA MASIH DISINI?!! CEPET AMBIL BAJUNYA GIO REZAAAAAAAAA." semprot Ajeng lebih galak dan nyaring dari sebelumnya. Untung saja kamar mereka ini kedap suara. Kalau tidak, teriakan dari mantan ketua tim cheerleaders GARUDA ini pasti bisa membangunkan seisi rumah.


"Iya iya iya.... Ini otw ngambil beb!!" pekik Reza tunggang langgang menuju lemari menyisakan Refan dan Izza yang tampak puas menertawakan pertengkaran ini.


"Ahahaha mamp*s!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰