
"Ya udah gue pamit dulu ya, masih ada beberapa yang mau gue anter nih!" ucap Abimana berdiri dari duduknya. Izza mengangguk.
"Oke, calon suami orang haha."
"Ye rese lu!" sembur Abimana tertawa. Percayalah! Ada banyak perih dan sakit dalam tawa itu, ada hati yang benar-benar dipaksa keras untuk merelakan dan melupakan.
'Izza itu perempuan baik, dia ga bersalah atas sakit yang gue dapat selama ini. Kalau ada yang harus disalahkan, maka itu adalah diri gue sendiri. Salah sendiri juga udah tau ada cowoknya, masih aja ngeyel kagum sampek terlanjur cinta sendirian gini. Haha!'
Kriet
"Onty Izzaaaaaaaaa!!" pekik seorang anak kecil berbaju hitam mix denim yang memasuki ruangan dan langsung berlari tergesa menuju Izza. Melihat bocil menggemaskan yang sudah ia tunggu sejak tadi, Izzaa pun sedikit merendah tapi tidak berjongkok karena mengingat perutnya yang sudah tidak kecil lagi.
"Eh Glen sayangnya onty!!" ucap Izza setelah Glen masuk ke dalam pelukannya. Tak terlewat pula kedua pipi Glen yang jadi sasaran empuk dari bibir Izza, dicium berkali-kali. Mungkin ia terlalu kangen dengan bocil itu.
"I miss you onty!!" seru Glen gantian mencium pipi kanan kemudian berpindah ke pipi kiri Izza. Izza tersenyum tulus.
"I miss you too handsome mwah!!"
"Loh Abi? Di sini juga lo?" tanya Genta pada Abi. Sementara Andin berdiri di sebelahnya. Izza dan Glen masih sibuk kangen-kangenan berdua.
"Iya Ta, ngasih undangan ke temen gue. Oh ya btw, punya lo udah gue titipin ke Andin tadi!" jawab Abimana mengangguk.
"Iya yang, aku simpen di tas tadi." sahut Andin mengiyakan. Genta manggut-manggut.
"Hm oke deh!"
"Ya udah gue sekalian mau pamit!" pungkas Abimana. Izza yang kini sudah berdiri sambil menggandeng tangan Glen pun menoleh.
"Kak Abi hati-hati ya? See you di hari H kalian." ucap Izza sebelum Abimana mengangguk dan akhirnya pergi. Pergi membawa sejuta sisa cinta yang menyakiti harapannya sendiri.
...****************...
"Ah akhirnya selesai juga!!" ucap Refan menghela nafas panjang. Pak Jimmy baru saja keluar dari ruangan itu dengan mendapat sebuah kesepakatan kerja sama dengan Refan sebagai pemimpin Blood Wolf, gangster yang beberapa jumlah anak buahnya telah ia sewa untuk beberapa minggu ke depan.
"Tinggal urus masalah kantor deh sekarang, eh? Surat mana surat??" tanya Refan menoleh ke arah Leon yang juga duduk dengan sama santainya di kursi sebelah Refan.
"Surat apaan? Lo pikir gua tukang pos?" tanya Leon mengeryit. Sepertinya anak ini terkena syndrom amnesia musiman!
"Dasar tua bangka pikun! Surat amplop item dari Bloody Dragon tadi lah bodoh!" semprot Refan jengah. Barulah Leon nyengir.
"Ehehe sorry bos, gue lupa!"
"Ck. Ya udah mana sini!" ucap Refan menegadahkan tangannya. Leon memasukkan tangannya ke sela saku jaket, ingin mengambil surat yang tadi ia simpan di dalam sana.
"Nih buruan bac-"
Drtt drtt
📞Kepin is calling....
"Bentar, asisten gue nelpon nih." tolak Refan tak jadi meminta suratnya karena tangannya lebih memilih untuk mengangkat telepon dari Kevin terlebih dahulu. Karena Kevin saat ini berada di RnAs, Refan yakin pasti ini lebih penting dari pada surat dari Bloody Dragon.
"Huh plin plan amat jadi bos besar!!" semprot Leon gantian jengah. Refan meliriknya bodoamat.
Kevin : Lama amat!
Refan : Gue ribut dulu sama Leon tadi. Kenapa?
Kevin : Lah? Lo masih di markas?
Refan : Kenapa?
Kevin : Lo kebiasaan banget sih? Jawab dulu baru nanya woy!!
Refan : Ck. Bawel! Iya iya ini gue masih di markas. Puas lo?
Kevin : Nah gitu dong!
Refan : Ken-
Kevin : Kenapa lama banget di sana woy?! Lo lupa ini udah kelewat jam hah?
Mendengar omelan dari Kevin, Refan kemudian melirik jam dinding di sebelah kanannya.
Refan : Baru juga jam 10. Kenapa panik hah? Lebay amat!
Kevin : Mata lu lebay! Kita ada meeting sama pak Hardian jam setengah 11 nanti woy!!
Ini adalah bukti kalau Kevin adalah satu-satunya anak buah yang berani memakai kata 'woy' dalam berbicara dengan atasannya. Mau heran, tapi mereka sama aja. Wkwk.
Mata Refan membulat sempurna! Bagaima ia bisa lupa dengan janji meeting yang sudah mereka sepakati seminggu yang lalu? Masalahnya adalah pak Hardian ini berasal dari luar kota, jadi mereka tak bisa main batal jadwal seenak jidat.
Refan : Waduh i'am forget!!
Kevin : Dih? Sok english lu bro!
Refan : Ah dahlah pokoknya tungguin. Gue otw ke kantor sekarang!!
Kevin : Hm oke!
Tut tut.....
"Kenapa panik bos?" tanya Leon mengerutkan kening heran. Refan langsung berdiri setelah memasukkan iPhonenya ke dalam saku jas hitamnya. Untunglah Refan tadi memakai setelan jas kantornya, dan bukan kaos oblong dengan jaket saja seperti biasa saat ia berkunjung ke markas Blood Wolf.
"Gue lupa ada meeting penting anj- ah dahlah gue duluan ya Yon!" ucap Refan tergesa-gesa ingin segera pergi meninggalkan ruangan itu. Leon menggebrak meja dengan pelan, untuk menarik perhatian Refan.
Brak
"Ngapa lo?"
"Terus ini suratnya gimana?" tanya Leon mengacungkan sepucuk surat yang sampai sekarang masih tak sempat dijamah oleh Refan. Refan menggeleng.
"Lo bawa aja, besok kasihin ke gue. Ini meeting penting banget sumpah!" jawab Refan. Leon berdecak, ia sebenarnya sudah sangat kepo dengan isi surat dari Bloody Dragon. Tapi Refan malah menyebalkan, lebih memilih kantornya dari pada markas.
"Tapi kan ini dari musuh bebuyutan kita bos!! Pasti isinya penting nih." kekeuh Leon.
"Nah justru itu! Makanya gue mau lo aja yang simpen, kalo gue yang bawa nanti bisa-bisa itu kertas putih kebuang sama gue! Lo lupa Yon? Gue pernah buang cek 20M dari papa gara-gada kertasnya warna putih. Kalo duit sih ga masalah gede, tapi ntar kalo itu surat yang kebuang, kan ga lucu?" cerocos Refan menjelaskan alasannya menyuruh Leon saja yang menyimpan surat itu.
Leon mendengus pasrah, memang benar juga sih! Refan memang suka ceroboh sama semua hal berwarna putih, apalagi kertas. Ia sering sekali tak sengaja membuang kertas cek, bahkan sampai beberapa surat motor maupun mobilnya karena berwarna putih. Uang aja kalau warnanya putih, yakin deh pasti ga bakal ada harga dirinya di mata seorang Alaska.
"Ya udah iya! Besok lo ke markas atau gue ke kan-"
"Besok gue samperin ke markas aja, sekalian jalan." potong Refan tak sabaran. Leon mengangguk.
"Oke deal!"
...****************...
"Ada apaan bang?" tanya Izza setelah Genta menutup sambungan telepon.
"Andre."
"Kenapa dia?"
"Kuwalahan ngurus meeting cuma berduaan sama Dandy. Gara-gara Ilham nih, tamu ga diundang! Ga ada yang ngajak, ga ada yang nyuruh, malah ngikut nangkring di sini." jelas Genta menggerutu.
Ilham memang tadi menyusul ke Rz Corp, entah darimana asal infonya hingga cowok itu tau kalau kakak dan keponakannya sedang berada di kantor Izza. Sekarang orangnya menghilang, kalau tidak salah dengar tadi dia izin mau ke toilet tapi yang berada di luar ruangan. Karena ia tau kalau ruangan CEO ini adalah privasi milik Izza.
"Heh adikku dimarahin mulu! Ga boleh kek gitu tau!!" sahut Andin menatap Genta dengan galak. Genta memutar bola matanya malas, nah ini dia nih yang membuat Ilham makin ngelunjak seenak jidat! Andin, si kakak iparnya ini selalu saja membela anak itu tanpa pandang bulu.
"Ya habis gimana dong sayang? Itu kan emang udah tanggung jawab dia, aku handle kantor dia handle markas. Kamu juga sih terlalu belain dia, jadi ngelunjak tuh sekarang!" balas Genta jengah. Bosan dengan pembelaan buta sisi ini.
"Kok kamu jadi ngamuknya ke aku heh?" tanya Andin makin menggalak. Percayalah! Izza dan Glen saat ini sedang saling pandang, menatap bingung ke arah papa dan mama Glen itu dengan sangat aneh.
"Enggak gitu, bukan ngamuk. Cuma ngoreksi doang! Kan kamu emang selalu belain Ilham. Over!" ulang Genta lagi.
"Ya tapi nada kamu itu kayak orang lagi mar-"
"Iya onty marahin aja mama sama papa tuh! Glen aja udah bosen liat mama sama papa debatin om Ilham teyus." sahut Glen manggut-manggut seperti sedang merajuk. Genta dan Andin pun diam mendengar omelan Izza beserta aduan sebal dari sang putra semata wayang itu.
Melihat kedua orang tuanya sudah diam dan tenang, Glen beralih kembali pada Izza. Menunjuk-nunjuk perut bulat Izza yang tertutupi oleh jas biru tosca.
"Itu dedenya kapan lahirnya sih onty? Glen kan udah ga sabar mau ngajak dede-dedenya ke mall." tanya Glen mengerucutkan bibirnya. Anak itu tampak sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik-adik kembarnya.
"Widih cakep juga tuh niatnya! Entar kalo dedenya udah gede, Glen harus janji buat jagain mereka ya?" sahut Izza mengelus-elus rambut lurus Glen. Glen mengangguk bersemangat.
"Pasti dong onty! Pokoknya mau Glen ajakin ke mall." seru Glen kekeuh menyebut kata mall. Izza mengangguk-angguk setuju.
"Emangnya Glen mau ngapain ke mall ngajakin dedenya hm? Mau main game atau makan ice cream hm?" tanya Izza menoel hidung mancung Glen. Glen terkekeh bersiap memberi jawabannya kepada Izza.
"Mau nyari cabe-cabean."
What the hell?
Izza, Andin dan Genta melongo lebar mendengar jawaban asal nyeplos dari Glen. Mau ini asal nyeplos ataupun salah bicara, pasti ini ada alasannya!
"Kok nyari cabe-cabean sih? Heh Glen ga boleh gitu ya!!" omel Izza mencubit hidung Glen.
"Alvaro ga boleh ngomong kotor kek gitu lagi! Kalo diulangin nanti mama marah. Mau?" omel Andin juga.
Genta masih ngebug.
"Emangnya kenapa sih Onty? Mam? Kan niat Glen baik mau ngajak dede nyari cabe-cabean buat main di rumah." tanya Glen masih dengan aura polosnya.
"Coba yang ngajarin ngomong begitu siapa? Bilang ke mama!" tanya Andin lagi.
"Om Ilham!" jawab Glen polos. Andin melongo, Genta makin ngebug. Jadi tersangkanya adalah orang terdekat dan kepercayaan mereka sendiri! Ilham jelas yang bertanggung jawab atas pencemaran otak suci dari anak mereka ini.
Izza menepuk jidatnya sendiri. Mahli ga punya otak atau ga punya akhlak sih?
"Emangnya kata om Ilham, cabe-cabean itu apa? Kok bisa ngajarin Glen kek begitu hm?" tanya Izza lembut.
"Katanya cabe-cabean itu mainan." jawab Glen polos. Izza makin melongo, tak habis pikir dengan jalan otak Ilham. Bisa-bisanya bocil seperti Glen sudah dibelokkan otaknya.
"Makanya Glen mau ngajak dede-dedenya nyari cabe-cabean nanti! Kan enak, semuanya nanti dibeli terus dibawa pulang deh. Buat mainan di rumah!" sambung Glen lagi. Lagi-lagi pula dengan sangat polosnya.
Izza tersenyum kecut di depan Glen, tak mungkin ia marah kan? Kalau ada yang perlu dimarahi, itu adalah Ilham. Tersangka dari segala tersangka!
Andin dan Genta nangis di pojokan ga tuh? Wkwk.
"Mo nangis!!" pekik Izza menghela nafas berat. Kedua pundaknya sampai bergetar karena menahan tawa! Oh ralat. Bukan sepenuhnya tawa karena humornya bercampur dengan kesal dan ingin menangis. Semua ini karena ulah Ilham!
Dasar Mahli!
"Loh onty kenapa nangis? Mau ikut juga ya?" tanya Glen mengelus pipi Izza dengan sangat manis. Izza membalas senyuman hangat dari bocah laki-laki ini. He's a sweet little boy!
Please! Siapapun, tolong jauhin otak random Ilham dari kepolosan Glen!!
"Hehe ga papa kok sayang, onty cuma kaget aja. Ke mall nya nanti tante ga ikut deh. Kamu sama dedenya kalo nyari mainan, jangan disebut cabe-cabean lagi ya? Ga boleh!" tutur Izza selembut mungkin. Berusaha memberikan pengertian agar Glen kecil bisa memahaminya.
Melihat tampang syok dari Genta dan Andin, Izza tau kalau dua orang itu masih ngebug berat. Pasti mereka menyesal telah menitipkan anak kesayangannya kepada orang yang salah. Ilham memang bisa menjaga dan menjamin keselamatan nyawa Glen, tapi dia bukan orang yang tepat untuk menjaga kesucian dan kepolosan Glen.
Glen mengeryit.
"Tapi kenapa onty ga ikut? Kan nanti sekalian cariin sugar daddy buat Glen! Glen suka, enak banget." tanya Glen makin ngadi-ngadi. Oke! Ini kedua kalinya Glen membuat tiga orang dewasa itu melongo, syok berat!
'Ilham bangs*t! Gue potong lidah lo habis ini. Bisa-bisanya ngotorin otaknya anak gue!' batin Genta siap mengeluarkan larva panas dalam dirinya.
'Kalo Ilham bukan adek sendiri, udah gue jatuhin dari gedung ini nih pasti!' batin Andin menahan emosi. Tahan Andin tahan! Mau serandom dan sebodoh apapun, Ilham punya satu marga yang sama dengan anak kesayangan lo! Sabar ya sabar!!
"Depresot! Ilham setress." umpat Izza lirih.
"Depresot itu apa onty?" tanya Glen kepo. Maklum ya bund, di usia seperti ini memang anak lagi aktif-aktifnya ya.
"Hehe enggak papa kok sayang, yang tadi itu siapa lagi yang ngajarin? Om Ilham juga?" tanya Izza lembut. Glen mengangguk polos.
"Apa artinya?"
"Kembang gula kan? Yang gede warna pink itu enak loh onty. Glen suka banget! Tiap jalan-jalan sama om Ilham pasti Glen dibeliin itu. Terus pas Glen nanya namanya apa, om Ilham jawabnya itu sugar daddy!" jawab Glen polos, lagi.
Izza tersenyum ngeri, kelewatan emang!
"Itu namanya kembang gula doang, ga ada sugar daddy nya. Mulai sekarang Glen nyebutnya cukup kembang gula aja ya sayang?" tutur Izza lembut. Glen tentu saja mengangguk dan menurut.
"Oke siap onty!!" jawab Glen mengacungkan kedua jempolnya pada Izza yang mengangguk lega.
"Sayang Alvaro sini!" panggil Andin. Alvaro junior pun mendekat ke mamanya, sudah ketebak kan? Jelas sekali Andin pasti sedang memberi siraman rohani positif untuk mengusir semua ajaran dari siraman rohalus yang berasal dari Ilham. Si pucuk masalah!
"Bang, ini kalo ga buruan ditindak lanjut. Gua khawatir Glen dewasa sebelum waktunya deh. Rusak nih anak kalo dibawa terus-terusan sama Mahli eh Ilham." ucap Izza pada Genta. Genta mendengus kesal.
"Tuh anak emang perlu disikat otaknya pake samurai." gerutu Genta mengepalkan tangannya geram.
Kriet
Pucuk dicinta ulam pun tiba! Ilham muncul kembali dari pintu utama. Andin, Izza dan Genta langsung reflkes bersama-sama memasang wajah datar dengan tatapan elang tajam kepada cowok yang baru saja kembali dari toilet itu.
'Ini kenapa tatapannya pada tajem banget ya? Salah apa lagi nih gue? Bulu kuduk gue kek berasa ajal mendekat aja. Auranya lebih serem dari pada perang sama Black Snake.' batin Ilham bad feeling.
"Woy sini lo!" panggil Genta garang mode on.
"Apaan bang? Ga usah sok galak deh lo! Gue udah dua puluh tahun lebih ya, udah bukan bocil SMA lagi. Lo ga bisa ah galak-galakan gini lagi!" balas Ilham ngomel. Ia belum tau apa ujung masalahnya.
"Lo ngajarin apa aja ke anak gue nyet!!" tanya Genta berdiri. Kemudian berjalan menghampiri Ilham dengan langkah perlahan tapi pasti. Ilham menggeleng tak mengerti.
"Hah? Maksudnya?"
"Maksud lo apa make kosakata random ke Glen hah?!" omel Genta lagi. Ilham masih geleng-geleng tak mengerti.
"Lo keterlaluan banget sih Li, parah lu anak kecil udah dinodain pake kerandoman otak bangs*t lo itu! Emang pantes geprek aja kepalanya bang!" celetuk Izza kompor. Sejujurnya ia merindukan saat seperti ini, pemandangan Genta yang ngamuk ke Ilham. Dulu ia sering melihat hal seperti ini saat di markas, tapi sejak ia hamil Izza sudah tak pernah datang ke markasnya dan sudah lama tak melihat pertikaian bersaudara itu.
Seru! Jangan lupa siapin pop corn sama kopi ya guys wkwk.
"Ilham emang halal buat dibunuh. Semua ajarannya selalu meresahkan!!" sahut Genta mengangguk, jaraknya sudah makin terkikis dengan Ilham.
Ilham menelan ludahnya susah payah, sepertinya ia mulai peka dengan apa yang terjadi karena Glen dipeluk oleh Andin. Dan Izza serta Genta yang sejak tadi marah-marah dengan menyebut 'kosakata random'.
'Mamp*s! Pasti Glen cepu nih. Sialan! Mana tadi lupa enggak gue briefing dulu di rumah. Arghhh bisa di geprek beneran nih sama abang galak.' batin Ilham was-was.
Kini Genta sudah berdiri tepat di depannya, ia mengeluarkan dua kepalan tangannya yang sudah sama-sama mengeras. Mengarahkannya tepat di depan wajah Ilham, menimangnya terlebih dahulu.
"Lo mau masuk rumah sakit dulu? Atau langsung nyemplung ke liang lahat aja hah?" tanya Genta tersenyum miring, kebiasaannya setiap berada di markas.
Glek
'Mau hidup susah, mau mati juga tanggung. Bulan depan udah mau nikah, ya kali gue mati sekarang?' batin Ilham bergidik ngeri.
"Hehe lo tega sama gue bang? Udahlah turunin aja tangan kekernya ini ya? Ngeri tau!" ucap Ilham nyengir kuda, berusaha menurunkan kepalan tangan Genta tapi dihalangi oleh kekuatan tangan Genta yang masih kekeuh di tempatnya
"Ga usah nyengir lo! Sekali lagi gue tau lo ngajarin yang enggak-enggak ke anak gue, gue potong lidah lo pake pedang di markas!" sungut Genta kesal. Iham mengangguk, masih dengan cengiran polosnya.
"Hehe iya iya maap! Gue kan khilap." jawab Ilham terkekeh dengan wajah tanpa dosa. Genta memutar bola matanya malas.
"Wo dasar Mahli! Udah random, seenak jidat lagi lu!" semprot Izza ber-hu-ria. Ilham melotot.
"Gue Ilham, bukan Mahli. Kampret!!" balas Ilham tak kalah ngegas. Izza tertawa renyah.
"Sama aja. Sama-sama kebalik otaknya haha."
"Bocah prik!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰