IZZALASKA

IZZALASKA
66. Bima Yudhania Hasan



"Jadi kamu lupa sama aku, Refiandra Izza Alexander?"


"Lupa sama siapa? Siapa si?" tanya Izza tak ingat siapa orang di depannya ini.


"Padahal aku tiap malam masih suka ingat nama kamu loh dari dulu sampai sekarang Za." jawab lelaki itu dengan ukiran senyum yang tak mau luntur dari bibir tipisnya.


"Tinggal sebut nama aja susah banget sih! Kalo ga mau sebut nama ya udah, saya sibuk!!" ketus Izza kesal.


Izza hendak pergi tapi tangannya di cekal oleh lelaki itu. Izza berhenti lalu menoleh dengan tatapan tajam.


"Jangan sentuh SAYA!" Izza galak mode on. Moodnya rusak karena orang aneh di depannya ini, untung saja ia sedang dalam perjalanan menuju stand ice cream.


"Eitss masih galak aja ya dari dulu? Ini dia nih yang bikin aku jatuh cinta sampe ga bisa lupain kamu."


"Apa si? Ga lucu. Ga jelas!" sembur Izza lagi dan lagi.


"Ahahaha ini aku Za, kakak kelas kamu di SMA." jawab orang itu, sepertinya ia mulai serius sekarang.


"Senior gue banyak. Yang mana satu?" tanya Izza masih dengan nada tak santai.


"Yang disingkiran sama pacar kamu sebelum aku sempet maju. Partner kerjanya kakak ipar kamu, Marsha." ucapnya memberi petunjuk, Izza berpikir sejenak.


"Gimana? udah inget?" tanyanya lagi. Izza terdiam sejenak lalu tercekat kaget setelah teringat seseorang dari masa lalunya yang pernah punya satu tugas kerja dengan Marsha, hanya Bima kan?


'****! Jadi ini anak masih hidup? Gue kira dia udah ngilang sejak dulu.' batin Izza kaget. Ia mendongakkan pandangan untuk menatap kembali sepasang manik mata di hadapannya, benar! Sorot mata ini tidak asing lagi baginya setelah ia ingat siapa nama orang ini.


"Bima ya?" tanya Izza. Bima mengangguk dengan senyum mengembang.


"Smart girl!" puji Bima refleks ingin mengacak puncak rambut Izza tapi Izza menghindar lebih cepat.


"Ga usah berlebihan." tutur Izza datar. Ia ingat jelas kalau Refan tak suka ia dekat-dekat dengan Bima sejak dulu, bisa ngamuk tujuh hari tujuh malem dia kalau tau Izza bertemu dengan Bima meskipun ini tidak disengaja.


"Oke, kamu apa kabar?" tanya Bima.


"Seperti yang lo liat, gue baik-baik aja." jawab Izza singkat. Kalau bima berharap Izza akan bertanya balik, maka harapannya hanyalah semu. Izza tak akan melakukannya.


Bima manggut-manggut.


"Kamu hamil? Anak Refan?" tanya Bima beralih melirik perut Izza yang sudah terlihat besar. Izza memakai dress panjang selutut dengan jas oversize yang sangat cocok sekali di tubuhnya yang berbadan tiga.


"Iya."


'Itu memang anak Refan, tapi suatu saat nanti kamu dan anak-anak kamu pasti bakal jadi milikku Za.' batin Bima berharap tinggi.


"Kamu-"


"Mmm Kak Bim sorry, gue disini karena ada kerjaan. Gue pergi dulu ya? Permisi!" potong Izza yang langsung pergi meninggalkan Bima. Bima mengangguk, ia menoleh ke belakang untuk melihat punggung Izza yang makin menjauh.


"Suatu saat, aku pasti bisa Za. Bakal ada saatnya nama kamu bersanding dengan Bima Yudhania Hasan, bukan Refan Alaska Dirgantara lagi." lirihnya tersenyum tipis penuh percaya diri.


...****************...


"Rumahnya nomer berapa Yon?" tanya Kevin si pengemudi. Ia dan Leon pergi bersama naik satu mobil untuk menjemput keluarga Doddy seperti apa yang telah diperintahkan oleh Refan tadi.


Leon tampak membolak-balik selembar kertas yang ia bawa. Kevin menyadari kalau Leon sedang kebingungan.


"WOY YONI!! DENGER APA KAGAK SIH LU?" tanya Kevin ngegas. Leon terhenyak menutup telinga.


"Sial! Gue bisa budeg tolol!!" maki Kevin kesal. Leon ngebug, lalu mendelik galak setelah otaknya kembali connect.


"Harusnya yang marah itu gue monyet!!!" maki Leon balik. Kevin tertawa.


"Ahahaha lola sih lu. Buruan nomer berapa nyet?! Kita udah masuk perumahannya nih." tanya Kevin lagi. Ia baru saja memasuki perumahan kamboja.


"Itu dia! Gue bingung nih, ini angka enam apa sembilan ya Pin?" tanya Leon menunjukkan selembar kertas.


"Lo tadi cuma nulis satu angka ini doang?" tanya Kevin melotot tak percaya. Doddy tadi menyebutkan alamat lengkapnya dan Leon hanya menuliskan satu angka di selembar kertas besar.


"Iya. Kan nama perumahannya gampang di hafal, timbang nomer doang yang susah diinget." jawab Leon polos. Kevin berdecak.


"Ya terus sekarang lo udah inget apa belum ini nomer berapa nyet?!"


"Gue tadi inget, tapi karena keseringan gue sebut, sekarang jadi lupa monyet!!" balas Leon tak kalah ngegas. Kevin memutar bola matanya malas.


"Ini nih resiko punya temen yang otaknya cuma secuil." gerutu Kevin. Leon menaikkan sebelah alis.


"Lo bilang apa?" tanya Leon. Kevin menggeleng malas.


"Yodah kita coba nomer enam dulu."


"Oke." setelah Leon setuju, Kevin melajukan mobil ke rumah dengan urutan nomor enam.


"Lo yang masuk, gue jaga di mobil." intruksi Kevin setelah ia berhenti di depan gerbang bertuliskan nomor enam.


Leon memicingkan mata.


"Dih? Kenapa gue yang dijadiin tumbal heh?!!" sembur Leon.


"Gue jaga-jaga disini Yoni!! Siapa tau ada musuh nanti, lo mau disergap sama mereka hah?"


"Ya enggak juga sih."


"Ya udah sono keluar!!" usir Kevin. Leon berdecak tapi ia tetap nurut untuk keluar membuka pintu mobil.


"Ck. Iye-iye cerewet amat lu Klepon!!"


...****************...


"Gue udah dapetin yang gue mau dari Doddy Fel."


"Emang lo yakin mereka belum mengubah passwordnya Fan?" tanya Rafael.


Rafael hari ini sengaja datang ke kantor Refan. Refan tak berada di Dirgantara Group hari ini karena ia ada urusan di RnAs Corp. Rafael tau dimana keberadaan adiknya itu karena ia tadi sudah mengecek keberadaannya ke Dirgantara Group.


"Ck. Ga ada pekerjaan yang sempurna didunia ini RAFAEL AKBAR!"


"Nama gue Alandra tolol bukan Akbar!!" sembur Rafael ngegas. Refan berdecak.


"Mau tau penjelasannya ga sih?" tanya Refan datar.


"Oke lanjut!!"


"Nah saking paniknya, mereka pasti melupakan hal-hal kecil seperti ini. Itu dia alasan kenapa gue melihara si Doddy! Kita bisa memanfaatkan dia buat menerobos masuk dan mencari tau siapa dalang dibalik keberanian Yoga dan Arga." jelas Refan panjang lebar. Rafael manggut-manggut.


"Duh jadi sombong nih gue."


"Ga usah mulai deh lu Refan Alkafirun!"


"Hahahaha bagus juga plesetan nama gue." sahut Refan tertawa tanpa dosa.


Tak butuh waktu lama, Refan berhasil menerobos masuk ke sistem perusahaan PSG Group. Benar dugaaannya kalau Yoga maupun Arga melupakan detail kecil sepenting ini, mereka belum merubah password keamanan kantornya yang telah diketahui oleh Doddy sejak mereka bekerja sama dulu.


Klik


"Tuh kan gue bisa!! Gue bilang juga apa tadi bang." seru Refan tersenyum penuh kemenangan. Rafael tampak antusias menatap layar monitor laptop milik Refan, ia geleng-geleng penuh takjub akan kebodohan CEO kembar itu.


"Sok berani nantangin pihak kita, padahal otaknya masih seukuran kecebong. Haha!" ucap Rafael berdecih. Refan mendongak pada Rafael yang berdiri di sebelahnya.


"Masalahnya, itu kecebong yang lo maksud tuh punya gue apa punya elu?" tanya Refan polos. Rafael ngebug beberapa saat sebelum ia melayangkan tabokan maut.


Plak


"Otak kotor najis!!" maki Rafael. Refan tertawa.


"Sama-sama udah bukan bujang, ga usah sok suci lu Akbar!!"


"Dih tapi gue ga setraveling elu Kafirun!!" balas Rafael sengit. Refan tertawa lagi, entah mengapa humornya jadi sereceh ini.


"Udah-udah ketawa mulu lu! Buruan buka situsnya woi, keburu mereka sadar nanti." suruh Rafael cepat. Refan manut tanpa b*cot mode on.


Jemari Refan tampak lihai dan cepat dalam mengotak-atik isi situs yang ia bobol. Bukan file rahasia PSG yang ia incar, ia hanya ingin tau siapa dalang dibalik keberanian mereka selama ini.


"Nah dapat!!" seru Refan begitu ia berhasil masuk. Rafael kembali ikut fokus menatap laptop.


"Siapa nama leadernya?"


"Disini tertulis Mr. YH sebagai leader baru." ucap Refan bermonolog. Rafael mengeryit.


"Ga ada nama terangnya?" tanya Rafael. Refan menoleh dengan simrik yang mencurigakan.


"Lo mau nama terangnya?" tanya Refan. Rafael mengangguk.


"Iya."


Tanpa menjawab lagi, Refan langsung menyalakan flash di iPhonenya dan mengarahkannya tepat di kedua mata Rafael. Rafael kelagapan karena kaget dengan cahaya terang yang tiba-tiba menyerang retina matanya.


"Sialan! Silau gobl*k!!" maki Rafael.


"Lah kan elu yang minta diterangin tadi?" balas Refan polos. Rafael memutar bola matanya malas.


"Sengklek virusnya Leon keknya udah nular ya?"


"Haha."


"Btw lo udah nyuruh Leon sama Kevin buat jemput target?" tanya Rafael beralih topik.


Refan mengangguk.


"Udah. Palingan udah nyampe dirumahnya sekarang."


"Oke urusan si YH ini bisa kita cari tau lagi nanti, yang penting kita udah dapet inisialnya. Yang haris jadi fokus kita sekarang adalah istri sama anaknya Doddy mau lu sembunyiin dimana hah?" tanya Rafael. Refan berfikir sejenak.


"Hotel? Apart?"


"Kita ga bisa ngawasin kalo disitu." tolak Rafael.


"Ya terus dimana ege? Kan ga mungkin juga dibawa ke markas." tanya Refan jengah. Rafael adalah si terlalu perfeksionis yang sangat memperhatikan hal kecil sedangkan Refan adalah si gampang asal jadi.


Rafael diam sebentar, menimang keputusan terbaik untuk tempat persembunyian yang aman untuk keluarga sekutu mereka, Doddy.


"Ahha gue tau dimana tempat yang paling aman dan minim resiko." cetus Rafael semangat.


"Dimana?" tanya si kepo Refan. Rafaelpun berbisik di telinga adiknya.


...****************...


"Hosh hosh hosh huh hampir aja tadi!!" pekik Leon yang nafasnya naik turun terombang-ambing tak karuan. Ia baru saja kembali dari rumah nomor enam tadi.


"Kenapa lu?" tanya Kevin heran. Leon masih berusaha mengatur ulang nafasnya yang tak teratur ini.


"Gue tadi hampir kena lemparan panci cog!!" cicit Leon masih ngos-ngosan.


"Lah kok bisa?"


"Ya bisa lah! Keknya kita salah masuk rumah deh Pin, di rumah itu tadi lagi ada war in the word yang ketiga woi... Ada emak-emak yang nyerang suaminya gegara selingkuh. Buset gegara gue iseng buka pintu sendiri, gue hampir aja kena balingan panci warna pink tadi kalo ga cepet-cepet pergi." cerocos Leon panjang lebar.


Kevin tertawa sampai ngik-ngik.


"Ahahaha mamp*s!!"


"Ye biadab! Malah ngece lagi lu." gerutu Leon kesal.


"Ya siapa suruh lu buka pintu sembarangan Leoni!!" balas Kevin masih dengan sisa tawanya. Leon manyun kiyowo mode on.


"Ya kan gue gemes Vin, dari tadi gue pencet tombol kagak ada yang nyaut."


"Ahahaha untung aja kepala lo masih selamet ye."


"Untung aja kagak jadi benjol hari ini. Bisa diketawain Refan tiga hari empat malem kalo dia tau! Huh." gerutu Leon lagi dan lagi.


"Jadi fix itu bukan rumahnya Doddy ya?" tanya Kevin memastikan. Leon mengangguk yakin.


"Iya fix! Tadi gue lihat foto di dinding juga kagak ada mukanya Doddy." jawab Leon.


"Oke, kalo gitu kita langsung maju ke rumah nomor sembilan di ujung sana tuh." balas Kevin menunjuk rumah diurutan paling terakhir di jalan kompleks. Tepat selisih tiga rumah dari rumah di depan mereka saat ini.


"Hm. Tapi itu kek ada mobilnya di depan Vin?" tanya Leon begitu matanya melihat sebuah mobol pajero sport hitam tanpa plat terparkir di depan rumah nomor sembilan. Jaraknya tak terlalu jauh, jadi Leon masih bisa melihat mobil itu dengan jelas.


"Iya juga. Mobil siapa ya?" tanya Kevin balik. Sama-sama berfikir kemudian saling pandang dengan isi dugaan dan pikiran yang sama.


"Jangan-jangan itu mobil......" ucap Kevin tergantung.


"Anak buah Bloody Dragon?!!!" pekik keduanya bersamaan.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰