IZZALASKA

IZZALASKA
25. Nathan dan Dendam!



"Nathan Alfahreza. Cepat besar ya sayang? Mama akan membesarkan kamu dan Arfan bersama Ardha, orang kepercayaan almarhum papa kamu. Dan Black Snake akan terlahir kembali dengan wajah baru." ucap Geisha membelai lembut pipi putra kecilnya yang baru memasuki usia dua bulan. Bayi kecil nan tampan itu sedang tertidur pulas.


Alfahreza adalah pelesetan nama marga dari ayah biologis Nathan yang terbunuh oleh Refan. Geisha sengaja tak menyandingkan marga asli Noval untuk melindungi dirinya serta putranya ini. Ia bahkan juga memilih untuk tak mengikut sertakan nama marga miliknya. Tujuan hidupnya sekarang hanya ada dua, membesarkan darah daging Noval dan balas dendam kepada Refan dan Izza.


"Kalau mama sama papa selalu kalah dibanding mereka, maka kamu harus bisa terlatih untuk menang melawan mereka dan anak-anak mereka kelak!" ucap Geisha lagi.


"Noval, lo tenang aja. Meskipun gue harus membesarkan anak kita sendirian, gue pastiin semua dendam kita terbayar suatu saat nanti!"


"Huffttt untung aja ada Ardha sama Desi yang bantuin aku sejak kamu ga ada. Putra mereka dan putra kita akan jadi dua jagoan yang siap merusak kebahagian Alexander dan Dirgantara! Aku janji Val." ucap Geisha mengebu-ebu. Seluruh bagian dari jiwa dan raganya kini sudah dipenuhi oleh api dendam dan kebencian.


Refan, Izza, dan keturunan mereka adalah target utama pembalasan dendamnya. Memang Geisha tak akan gegabah seperti dulu. Ia tak akan ceroboh melakukannya sekarang, tapi pasti akan terjadi suatu hari nanti.


Bahkan saking niatnya, Geisha sampai melalukan operasi plastik untuk merubah identitas, dan untunglah sebelum mati Noval sudah mendapatkan feeling dan merubah nama seluruh asetnya untuk geisha dan anaknya kelak. Geisha dengan dibantu oleh Desi dan Ardha sudah merombak habis-habisan nama satu perusahaan besar milik Noval. Memang tak sebesar milik sugar daddy dan sugar mommy Bad Twins, tapi setidaknya itu lebih dari cukup. Geisha sudah kembali ke Indonesia sejak ia melakukan operasi plastik dan merubah wajahnya agar tak bisa dikenali itu.


"Kalian bisa tertawa puas sekarang, nikmati sisa 17 tahun yang kalian miliki! Karena setelah anakku berusia 17 tahun, aku dan anakku akan merusak kebahagiaan kalian satu persatu. Refan Izza!!" pungkas Geisha mengepalkan tangannya geram.


Fyi, Ardha dan Desi adalah sepasang suami istri yang selama ini menemani Geisha dan Noval bahkan setelah Noval mati. Mereka juga dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Arfan. Ardha adalah sahabat Noval yang sudah diamanati sedemikian rupa oleh Noval sebelum penyerangannya dengan Blood Wolf terjadi. Ardha saat itu terlambat datang untuk menyelematkan Noval yang sudah meregang nyawa karena dihujani peluru oleh Refan. Karena merasa tak bisa menjaga sahabatnya, maka dari itulah Ardha mulai terikat sumpah yang ia buat sendiri. Bahwa ia bersumpah akan melindungi istri dan anak Noval, sekalipun nyawanya adalah taruhannya.


Ardha juga berjanji, kelak suatu hari nanti ia bersama dua jagoan baru itu akan membangkitkan kembali Black Snake dengan wajah baru yang lebih hebat.


...****************...


Tok tok kriet


"Lex?" panggil Andin setelah kepalanya menyembul dari balik pintu. Izza yang sedang membolak-balikkan berkas kantor pun mendongak dan memutar bola matanya malas.


"Emang ga ada nilai formalnya sama sekali nih anak." sindir Izza. Andin terkekeh.


"Sorry Lex, udah kebiasaan soalnya." jawab Andin terkekeh.


"Ya udah deh terserah apa kata Kakak Andin tercinta, ada apa? sini!" panggil Izza. Andin pun berjalan mendekat.


"Nih ada kiriman permintaan kerja sama dari-"


"Dari mana?" potong Izza tak sabaran.


"Ck. Dengerin dulu ya adikku Lexa binti Izza yang cakep!! Astagaaaaa." keluh Andin mengelus dadanya menggunakan amplop coklat di tangannya.


"Hehe maap! Apaan tuh dari mana?" tanya Izza ulang.


"Dari Alfahreza Corp nih, perusahaan baru gitu. Emang baru sih, tapi jangkauannya udah lumayan juga lah. Mereka mau men-"


"Ah iya iya udah tau gue pasti gitu-gitu doang kan." potong Izza yang sudah kembali sibuk pada berkas di atas meja.


"Jadi acc ga?" tanya Andin. Izza mengangguk.


"Terserah! Gue sibuk nih pusing. Sana balik ke meja." suruh Izza mengibaskan tangannya. Ia memang sedang pusing karena ada salah satu proyek yang kurang menyenangkan baginya.


"Gue liat dulu, kalo bagus langsung gue acc nih ya?" tanya Andin sebelum berbalik pergi. Izza mengangguk lalu Andin pun pergi.


"Ah pusing anj*ng sialan kadal kawin sama onta arghhh!!" ketus Izza nyerocos ngawur. Ia memijit keningnya yang terasa pening.


"Kalo gini sih gue butuh holiday nih, bisa setress gue mikirin kerja uang kerja uang terus ga ada habisnya." lirih Izza kemudian meraih Hp nya untuk menelepon big bos kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Refan.


📞Calling Bigboss❤️.......


Refan : Halo ay? Kenapa?


Izza : I need you!


Refan : Sekarang? Tumben. Kenapa sih kamu?


Izza : Ga papa juga sih, cuman lagi pusing aja.


Refan : Soal kantor?


Izza : Hm.


Refan : Ga usah terlalu di ambil pusing lah, kerjain rilex aja.


Izza : Aku tuh butuh kamu! Kamunya, bukan ceramahnya huh.


Refan : Ya udah tunggu dulu, habis meeting aku kesana deh sekalian kita lunch.


Izza : Ga usah.


Refan : Lah tadi katanya butuh aku? Sekarang aku mau kesana kamunya nolak.


Izza : Tadi beda sama yang sekarang dong!


Refan : Astaga temperamen banget hm... Kamu pms ya?


"Lah? Perasaan bulan ini gue belum pms deh?" lirih Izza teringat dengan tanggal datang bulannya yang sepertinya sudah kelewat telat.


Refan : Apa? Gimana ay?


Izza : Eh eng-nggak papa... Kamu tolong urus holiday kita ya? Aku pusing nih butuh refreshing!!


Refan : Ya udah nanti biar aku urus, kamu mau berangkatnya kapan? Besok? Lusa?


Izza : Last week.


Refan : Oke, empat hari lagi ya?


Izza : Iya sayangku!!


Refan : Ya udah aku mau balik masuk ruang meeting. Kamu baik-baik kerjanya, jangan sampek setress! Bagi bebannya sama Darrel sama Andin juga, pokoknya istriku ga boleh kecapekan sendiri.


Izza : Iya bawel!


Refan : Haha see you sayang.


Izza : See you Refan jelek!!


Tut tut....


Izza langsung buru-buru mematikan sambungan telepon itu sebelum Refan ngamuk karena dikatai jelek.


...****************...


"Serius di acc?" tanya Geisha tak percaya. Ardha manggut-manggut dan menunjukan bukti kalau Rz Corp menerima pengajuan kerja sama dengan Alfahreza Corp yang tak lain adalah milik Geisha dan Anaknya.


"Nih lo bisa cek sendiri kalo ga percaya!" suruh Ardha. Geisha geleng-geleng kepala karena Izza menerima pengajuan itu dengan sangat mudah.


"Wah banget sih! Gue ga nyangka bakal semudah ini." pekik Geisha.


"Tapi nyatanya emang mudah! Sekarang gue harus gimana? Atau lo mau langsung turun tangan aja?" tanya Ardha. Geisha menggeleng.


"Kita jangan bertingkah dulu! Kita main rapi aja, gue udah pernah grasa-grusu dulu dan gue kalah. Gue ga mau kita ketahuan apalagi hancur sebelum anak-anak besar nanti Dha." ucap Geisha.


"Kita harus jaga kinerja kita tetep bagus dan baik di mata mereka biar kita bisa memperpanjang kontrak sama mereka terus. Kita butuh masuk ke dalam bagian mereka untuk tau seluk beluknya." sambung Geisha lagi.


Ardha mengangguk paham.


"Oke gue ikut."


'Kita lihat Izza, Refan, apa kalian bisa ngenali wajah baru Geisha dengan strategi baru ini? Gue akan balas dendam!' batin Geisha tersenyum miring.


"Terus yang dikirim ke RnAs gimana?" tanya Geisha teringat dengan satu lagi permohonan kerja sama dari perusahaannya yang tadi pagi di antar ke perusahaan Refan.


Ardha menggeleng.


"Belum ada kabar bos!"


...****************...


Tok tok


"Masuk!!" teriak Refan dari balik kursi kebesarannya. Lelaki tampan bergaya dewasa dan gentle itu sedang menerawang jauh ke luar jendela ruangannya.


Mungkin hanya sekedar mencari inspirasi saja.


"Bos, ada tawaran kerja sama dari salah satu perusahaan baru nih." ucap Kevin menyodorkan sebuah map coklat di meja.


Refan memutar kursinya agar berhadapan dengan Kevin.


"Orangnya yang punya mana?"


"Udah balik lah, ini aja gue eh saya dapet dari Rosa." jawab Kevin mengendikkan bahu.


"Terus kenapa lo bawa kesini?" tanya Refan lagi. Kevin mengeryit bingung.


"Karena kau bosnya lah!!" sahut Kevin tanpa dosa. Refan memutar bola matanya malas.


"Ya biar di cek sama Rosa aja lah! Nambahin beban gue aja lo!" omel Refan.


"Lah kok ngamok?!!" celetuk Kevin bergidik ngeri. Refan memutar bola matanya malas.


Jemarinya lalu menekan salah satu tombol telepon meja yang bisa langsung dengan Rosa, sekertarisnya.


📞 : Iya bagaimana tuan muda?


Refan : Kamu masuk ke ruangan saya sekarang!


📞 : Baik tuan.


Tut.


"Lo ga ngecek dulu tuh berkas? Mana tau itu dari musuh lo gitu?" tanya Kevin setelah Refan memutuskan sambungan telepon. Refan menggeleng.


"Hidup gue udah lebih damai kali, musuh-musuh paling bahaya yang main fisik kan udah kita singkirin semua Vin! Lagian juga mana ada musuh gue, tapi perusahaannya masih awal merintis?" tanya balik Refan. Kevin manggut-manggut karena memang benar juga apa yang di kata oleh Refan.


Black Snake, musuh terbesar mereka sudah mati malam itu. Bahkan perusahaan pusat terbesar milik mendiang Trisal dan Dani juga sudah di akuisisi oleh Izza waktu itu.


"Lo cuma parnoan aja tuh! Santai aja lah, lagian nih ya bersatunya seorang Refan sama Izza tuh udah jadi tembok besar terkokoh untuk saling melindungi di semua penjuru. Apalagi ada Genta dan mas Kepin kesayangan gue ini selalu ada nih haha." ucap Refan menaik turunkan alis dengan gaya tengilnya. Hal ini dilakukan oleh Refan untuk membuat sepupunya ini rilex.


"Semoga aja gitu deh."


Tok tok kriet


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" tanya Rosa begitu ia masuk. Refan mengangguk.


"Itu ada permohonan kerja sama dari klien baru, tolong kamu cek semua datanya. Kalau clear dan relatif baik, langsung acc!" ucap Refan dengan wibawa dan karisma penuh. Sangat berbeda dengan caranya berbicara dengan Kevin tadi.


Rosa mengangguk lalu mengambil berkas yang dimaksud oleh Refan.


"Silahkan keluar sekarang, kerjakan dengan baik tanpa cacat!" ucap Refan tegas. Rosa mengangguk lalu segera berbalik pergi.


'Arghh aku ini kenapa? Jelas-jelas laki-laki dingin dan cuek itu adalah bos dan sudah punya istri. Lalu kenapa hatiku terus saja berteriak menginginkannya? Dia sangat sombong, tapi dia tampan. Dan aku menyukainya!' batin Rosa seraya melangkah pergi keluar dari ruangan CEO.


"Lo jam segini tumben masih di sini Fan?" tanya Kevin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Refan tertawa tengil.


"Lo mau ngusir gue dari kantor gue?" tanya Refan heran.


"Bukan gitu! Ini udah hampir masuk jam setengah dua belas, biasanya masih jam sebelas aja lo udah buru-buru tuh ke kantor Izza." tanya Kevin ulang. Refan menghela nafas panjang.


"Dia lagi ga mau disamperin, tau tuh kenapa juga gue ga tau." jawab Refan pasrah. Kevin tertawa meledek.


"Ahahahah Izza bosen kali tiap hari tiap waktu ngeliat muka lu terus wkwkwkkw."


Refan memutar bola matanya malas.


"Ketawa puas lu sekarang! Laknat banget emang." ketus Refan ngamuk. Kevin justru makin terbahak-bahak.


"Lagian nih ya, lo dari pada ngalor ngidul bolak-balik Rz sampai RnAs mulu tiap hari... Mending lo pindah aja nih kantor ke samping Rz biar lo enak ngapelnya!" usul Kevin yang tiba-tiba mendapat ide.


Refan tersenyum aneh dengan anggukan, sungguh membuat Kevin jadi panik seketika. Jangan sampai Refan menganggap gurauan Kevintadi serius! Pokoknya jangan!


"Boleh juga ide lo Vin!" ucap Refan dengan senyum puas. Kevin menepuk jidatnya sendiri.


'Goblok lu Kevin!! Suka banget sih nyari penyakit. Udah tau Refan bucinnya udah kelewat angan-angan normal, ini malah dipancing.' gerutu Kevin memaki Kevin sendiri.


Aneh? Emang! Karena emang ga ada satu pun tokoh yang waras di novel ini. Dulu pernah ada sih, si Kennath dulu adalah yang paling normal dibanding yang lain. Tapi lama kelamaan kesucian otak seorang Kennath juga ikut ternodai oleh ketidakwarasan teman-temannya.


Sekian dan terima kasih, wkwk.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰