IZZALASKA

IZZALASKA
28. Izza yang aneh



Tuk tuk tuk


Seorang wanita karir cantik itu tampak bosan dengan pandangan melayang jauh. Tangannya terus saja mengetuk-ngetukkan sebuah bolpoin kepada meja kayu besar di hadapannya. Satu kakinya terangkat ke atas kaki yang lain dengan sangat manis dan berwibawa.


"Emmmm kangen Refan." lirih Izza bermonolog. Ia lalu melirik ke arah tumpukan dokumen dan laptopnya yang masih menyala.


"Tapi kerjaan gue masih banyak." ucapnya lagi.


"Emm tapi gue ga peduli juga sih. Gue kesana aja ah!!"


"Ok, tapi gue harus ngecek jadwal meeting dulu. Kalo clear, gue ngapel ke RnAs." pungkas Izza tersenyum devil. Bodoamat lah dengan pekerjaannya, urusan hati dan perasaan lebih penting.


"ANDIIIIIINNNN KAK ANDIIIINN WOYYY!!" teriak Izza melengking.


"Apa bos?" sahut Darrel yang menyembulkan kepalanya di balik pintu.


Yang dipanggil siapa, yang nyahut siapa.


"Rel tolong panggilin Andin dong!" pinta Izza dengan nada beda dari logatnya di kantor seperti biasa. Darrel mengeryit.


"Minta dipanggilin sekertaris udah kek ngajak main gundu aja." ledek Darrel. Izza mendelik garang.


"Weeehh malah protes! Panggilin cepetan." omel Izza mengibaskan tangannya agar mantan kekasihnya itu segera memanggil sekertarisnya.


"Oke."


Tak berselang lama, Andin pun masuk ke dalam ruangan Izza.


"Ada apa Lex?" tanya Andin to the point.


"Iya Lex, ada apa?" celetuk Darrel nimbrung langsung duduk di kursi sebelah Andin. Andin dan Izza menatapnya datar.


"Ngikut mulu ni anak!" gerutu Andin malas. Darrel malah tertawa.


"Haha oke oke lanjut!!"


"Gue ada meeting ga hari ini?" tanya Izza. Andin menggeleng.


"Tadi ada sih di divisi pak Doni, tapi udah gue urus." jawab Andin apa adanya. Izza menggut-manggut.


"Jadi fix kosong ya buat hari ini sama besok?" tanya Izza lagi. Itu karena kemarin malam Izza sudah menghubungi Andin untuk mengosongkan jadwal meeting karena Izza ada reuni dengan sahabat sengkleknya.


"Iya kosong."


"Oke, kalo gitu gue mau cabut!" ucap Izza yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Darrel dan Andin mengeryit bersamaan.


"Lah mau kemana?"


"Ke tempatnya Refan. Nanti Kalo ada hal mendesak yg ga bisa di undur, lo calling gue." jawab Izza enteng sambil memasukan Hpnya ke dalam tas putih yang tadi ia bawa.


Andin dan Darrel saling pandang. Biasalah, bucin akut emang ga bisa ditebak kelakuannya.


"Sama kalau ada apa-apa soal Alfahreza Corp, salah satu dari kalian harus langsung hubungin gue! Ngerti?" tanya Izza menekankan kata Alfahreza. Kedua anak buah kepercayaannya itu pun mengangguk.


"Siap bos Lex!!" ucap Andin dan Darrel serempak pada CEO terhormatnya yang makin hari makin cantik ini.


'Emang ini bocah mantan gue yang paling bersinar paling cakep dah. Sayang banget dulu gue kelewat bodoh nyia-nyiain dia.' batin Darrel yang sampai saat ini pun masih saja mengagumi Izza, tapi ia juga sudah sadar diri dan posisi kalau Refan adalah pemenang yang berhasil mendapatkan Izza seutuhnya dan menjadi laki-laki paling beruntung.



"Eh mau gue anter ga?" tanya Darrel menawarkan diri. Tak ada maksud lain selain hanya untuk memastikan wanita yang membuatnya banyak belajar dari masa lalu itu agar tetap aman dan selamat.


Izza menggeleng.


"Ga usah Rel, lo di sini aja bantuin Andin." tolak Izza kemudian pergi setelah Darrel mengangguk pasrah.


...****************...


"Jadi saya mau kamu kerjakan semua ini secepatnya ya, kalau bisa besok siang harus sudah clear." ujar Refan menunjuk beberapa lembar kertas yang harus direvisi ulang oleh Rosa. Rosa mengangguk tapi tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan Refan yang tampak serius membolak-balikan halaman lembar berkas di hadapannya.


'Kelewat sempurna.' decak Rosa kagum.


"Kamu faham atau tidak?" tanya Refan mendongakkan pandangannya kepada Rosa yang masih berdiri di depan meja kebesaran CEO. Rosa tampak agak kaget karena Refan tiba-tiba menatapnya balik, ia takut kalau nanti bos tampannya ini tau kalau sedari tadi ia menatap wajahnya, bukan berkasnya.


"F-faham tuan!" ucap Rosa mengangguk mantap. Refan mengangguk lalu kembali fokus pada kertas itu lagi.


"Oh ya mengenai berkas itu, tadi saya-"


Kriett


Refan mendongakkan pandangannya ke arah pintu ruangan yang terbuka, begitu juga dengan Rosa yang memutar lehernya untuk tau siapa yang datang.


"AYAAAANGGG!!!" pekik Izza yang baru saja masuk. Izza berjalan menuju belakang kursi Refan dan langsung bergelayut mesra di leher berjakun itu. Refan sedikit terhuyung, untung saja kursi tempatnya duduk ini berukuran cukup besar dan kokoh.


"Kangeeeeeeen!!" cicit Izza merengek dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Refan yang terhalang oleh kemeja dan jas kantornya. Seolah Izza tak memperdulikan kehadiran Rosa di antara mereka.


"Eh eh bentar dong ay... Aku ada urusan nih sama sekertarisku, kamu tunggu di sofa dulu ga papa ya?" ucap Refan agak panik. Bagaimana kalau nanti imannya tergoda disaat ada Rosa di dalam ruangan ini.


Izza berdecak, ia mendongakkan wajahnya menghadap Refan dengan sedikit mundur agar matanya bisa menjangkau tatapan Refan.


"Aku tuh kangen pengen meluk kamu, bukannya pengen duduk. Kalo cuma duduk mah di kantorku sendiri juga bisa!" sungut Izza manyun seperti anak Paud yang tidak dibelikan mainan oleh ayahnya.


'Tumben manja banget?' batin Refan heran. Sorot mata Izza sangat berbeda sekali dari biasanya.


"Ya udah iya kamu tetep disini." ucap Refan mengalah. Izza terkekeh lalu kembali memeluk leher Refan dari belakang, ia ikut memperhatikan apa saja yang di bahas oleh suaminya dan sekertarisnya.


Karena cukup lama Izza memeluknya dari belakang, Refan mulai meragukan ketahanan kaki Izza selama berdiri sejak tadi.


"Enggak. Emangnya leher kamu pegel ya aku peluk terus dari tadi?" tanya Izza balik. Refan juga menggeleng.


"Enggak. Ga ada pegel kalo sama kamu mah." jawab Refan menoel gemas hidung mancung istrinya.


Rosa semakin tak nyaman dengan semua ini. Ada rasa tak suka, kesal, panas dan mengganjal yang menjadi satu dalam lubuk hatinya.


"Ya udah kalo gitu diem! Lanjutin aja tuh kerjaanmu." pungkas Izza. Refan pun kembali pada berkas di hadapannya, tapi sepersekian menit kemudian ia kembali menatap istrinya lagi.


"Tapi kamu kenapa si ay? Tumben pagi-pagi gini udah agresif banget loh." tanya Refan langsung to the point. Sepertinya ia lupa kalau Rosa masih berada di sini.


"Kangen suami sendiri emang ga boleh? Apanya yang agresif coba? Ini normal bin wajar tau!" jawab Izza menggerutu.


"Ya ini apaan nih kalo bukan agresif? Meluknya aja di leher kan area sensitif banget nih." bantah Refan menunjuk kedua tangan Izza yang masih betah melingkar di lehernya.


"Ya ga papa, gemes aja mmmmmm." pekik Izza yang malah menyerukkan wajahnya di leher Refan. Refan bergidik geli karena Izza seolah seperti sengaja menyerang jakunnya yang sangat-sangat sensitif ketika bertemu dengan pawangnya, yang tak lain adalah Izza sendiri.


'Ini bini gue kenapa dah manjanya kelewat manja deh ga kayak biasanya?' batin Refan bingung. Izza-nya sangat manja dan agresif sekali hari ini, sangat berbeda dengan biasanya.


"Rosa, kamu boleh keluar dulu. Nanti saya kabari kalau saya sudah menemukan intinya." suruh Refan. Rosa dengan perasaan jengkel dan campur aduk pun keluar.


"Baik Tuan!"


'Tuan Refan biasanya irit bicara. Baru kali ini aku mendengarnya berbicara sedemikian panjang.' batin Rosa sembari berjalan keluar dari ruang CEO yang megah. Setelah Rosa menutup pintu, Refan menarik Izza hingga terduduk di atas pangkuannya.


"Kamu mancing aku ya hm?" tanya Refan dengan tatapan laparnya. Izza menggeleng polos.


"Enggak, aku kangen doang kok." jawab Izza enteng. Untuk beberapa saat keduanya saling diam dan memandangi wajah satu sama lain. Tatapan penuh cinta dan kagum yang seolah tak pernah luput dari keduanya. Perlahan tapi pasti, jarak diantara keduanya mulai terkikis.


Refan hendak mencium bibir kenyal Izza, tapi tangan Izza mendorong jidatnya agar menjauh.


"Kevin kemana?" tanya Izza sebelum mereka ketangkap basah lagi oleh Kevin si tukang rusuh yang tak pernah bisa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Dia lagi aku suruh ke kantor papa, dia baru aja berangkat ay jadi tenang aja. Dia ga akan kesini selama satu sampai dua jam lagi kok." jawab Refan dengan seringai nakalnya.


Setelah mengatakan itu, Refan dan Izza pun larut dalam suasana romantis penuh cinta yang selalu bisa diciptakan oleh mereka berdua. Dan tentunya masih dalam posisi duduk berpangku di atas Refan.


Drtt drtt


Baru saja Refan hendak beralih menyerang leher putih istrinya, iPhone Izza berdering. Izza pun mendorong bahu lebar suaminya agar menyudahi aktivitas mereka.


"Ga penting itu ay." cicit Refan masih dengan posisi ingin seperti tadi. Tapi sialnya Izza kekeuh menggeleng menjauhkan Refan dari dirinya dan tetap meraih iPhone yang tadi ia masukan di tas yang kini ada di atas meja Refan.


📞Andin is calling.....


"Dari Andin." ucap Izza menunjukan layar Hp nya. Refan berdecak malas. Singa yang sudah bangun hanya butuh mangsa, bukan alasan.


"Halah paling cuma-"


"Ssstt tadi aku udah pesen ke Andin, kalo ada hal mendesak dia harus ngabarin. Bentar!!" potong Izza meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Refan.


Refan mengangguk dan menghela nafas pasrah.


Izza : Halo Ndin? Ada apa?


Andin : Target lo beneran dateng anjir!!


Izza : Hah? Target yang mana?


Refan sontak memutar leher dan menatap istrinya, ia ingin sedikit menguping apa yang sedang dibicarakannya dengan Andin.


Andin : Ishh itu CEO Alfahreza Corp datang kesini. Katanya mau ketemu CEO Rz Corp sekaligus mau ngajak lunch untuk merayakan kontrak kerja sama baru.


Izza : Terus dia dimana sekarang?


Andin : Ada tuh di ruangan lo sama Darrel.


Izza : Cewek apa cowok?


Andin : Cewek, asistennya cowok.


'Fix gue yakin dia beneran Geisha, dari awal gue emang udah curiga sama dia dan semua hal ganjal yang selama ini terjadi sejak dia gue kirim ke China.' batin Izza dengan nafas bergemuruh. Ada sisa dendam dalam dirinya kalau memang benar orang itu adalah Geisha.


Izza : Oke Ndin, lo suruh Darrel tetep nahan dia di ruangan gue! Gue balik sekarang.


Andin : Oke deh!


Tut tut...


"Ada CEO Alfahreza Corp ay. Aku harus balik ke kantorku sekarang!" ucap Izza memasukan Hpnya ke dalam tas.


"Eh eh terus ini kita gimana dong? Nanggung banget ay." protes Refan mencebik. Izza beringsut bangkit dari pangkuan suaminya. Rasa rindunya tadi langsung hilang setelah ia mendengar kabar dari Andin. Rasa curiga dan penasaran Izza atas Alfahreza Corp jelas lebih besar sekarang. Lagipula apa yang telah ia lakukan bersama Refan tadi sudah lebih dari cukup untuk mengobati kangennya.


"Nanti lanjut di rumah kan bisa. Aku harus ketemu langsung sama dia buat mastiin kecurigaanku sama Darrel. Oke?" tutur Izza membelai pipi Refan dengan lembut.


"Yah tapi ay-" cicit Refan. Izza menarik rahang tegas Refan dan...


Cups


"See you at home." bisik Izza setelah mengecup singkat bibir Refan, ia lalu pergi keluar ruangan. Meninggalkan sang suami yang masih menggerutu tak terima.


"Dia yang mancing, dia juga yang berhentiin di tengah jalan. Nanggung amat! Untung aja cinta." gerutu Refan bersungut-sungut.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰