
"Ah capek!!" keluh Izza setelah kembali dari kamar sebelah, tepatnya dari ruang ganti. Cewek cantik yang sekarang sudah menyandang status istri orang itu kini sudah tampil santai tanpa make up dengan baju tidur berwarna merah maroon yang tampak sangat cantik dan menyala di kulit putih nya.
Malam ini, seluruh keluarga besar Alexander maupun Dirgantara sama-sama memutuskan untuk menginap di hotel milik Ricko yang memang sudah khsusus di kosongkan seluruh kamar di semua lantai khusus hari ini, di hari bahagia putri mereka.
Refan yang sedang menatap ke arah luar jendela kamar hotel pun menoleh. Terpana atau tidak? Ya terpana lah!! Ini adalah kali pertama Refan satu kamar dengan Izza dengan status sah dan halal.
"Cakep banget istri gue!" puji Refan yang langsung menghampiri Izza dan memeluk nya erat. Izza tersenyum membuat aura nya kian memancar dan cantik.
"Iya lah! Izza Dirgantara nih bos ahahah." sahut Izza dengan tawa merdu nya. Refan perlahan melepaskan pelukan nya dan memandangi wajah cantik yang kini benar-benar jadi milik nya seutuhnya lengkap dengan semua hal yang ada pada Izza.
Rasanya masih seperti mimpi! Kisah cinta yang telah lama terajut rapi dan sempat kandas putus di tengah jalan itu kini sudah lebih dari kata indah dan membaik. Bahkan mereka berdua kini sudah terikat satu sama lain, suci di dalam agama dan di depan tuhan mereka.
"Rasanya masih nggak nyangka ya?" tanya Izza sambil membelai lembut rahang tegas suami nya. Refan tersenyum tipis.
"Iya, mengingat jeda singkat di hubungan kita waktu itu dan sekarang ah rasanya ga bisa di ungkapin pake kata lagi ay." jawab Refan mengangguk. Salah satu tangan kekar nya itu sudah melingkari pinggang istri nya dan satu lagi membelai lembut pipi kiri Izza.
"Rasanya bahagia dan seneng banget!! Kita udah menjadi kita." ucap Refan lagi. Izza tersenyum.
"Janji kamu ga boleh ngingkarin ikatan kita ini ya?" ucap Izza. Refan mengangguk.
"Do you promise me?" tanya Izza lagi. Refan mengangguk sambil mengecup kilas hidung mancung istri nya.
"Im promise. Janji ini akan berlaku untuk malam ini, besok, dan seterusnya sampai takdir alam memisahkan kita, dan sampai tuhan memanggilku untuk kembali. Aku, Refan Alaska Dirgantara enggak akan pernah mengkhianati cinta kita apalagi ninggalin kamu. Sampai kapanpun!!" jawab Refan serius penuh janji. Izza menatap dalam sorot mata elang yang kini tampak sangat tenang penuh rasa malam ini.
"Apapun rintangan dan godaan yang akan datang suatu hari nanti, kita harus lewatin bareng-bareng!! Pokoknya aku mau kita tetep jadi kita sampai kapanpun!!" ucap Izza penuh penekanan untuk kesekian kali. Refan mengangguk dan menc*um kening Izza.
"Iya, sayang."
Ci*mannya mulai turun menjelajahi wajah cantik blasteran itu. Dari kening, kelopak mata, kedua pipi, hidung, dagu hingga akhirnya berlabuh lama di bibir ranum Izza yang kenyal.
Tapi baru saja Refan hendak membawa Izza ke ranjang untuk merealisasikan tugas perdana mereka, Izza melengos membuat kedua alis Refan tertaut.
"Kenapa?" tanya Refan serak. Izza nyengir.
"Hehe cuci muka dulu yuk ay?" ajak Izza. Refan mengeryit.
"Nanti aja selesai ini, sekalian kita mandi." elak Refan memelas. Izza menggeleng kuat.
"Aku bisa aja ketiduran sekarang kalo ga buru-buru cuci muka dulu!! Kamu mau nanti jatah perdana cuma dapet separuh ronde?" sahut Izza penuh penekanan. Mendengar ucapan berbau ancaman dari istrinya, Refan lantas mengangguk menurut dan menarik Izza ke dalam kamar mandi. Sesuai dengan apa yang di katakan oleh istri nya tadi.
Sampainya di dalam kamar mandi, sepasang pengantin baru itu pun cuci muka bersama. Sikat gigi, sambil bercanda karena Refan sibuk menunggu Izza yang malah terlanjur asyik dengan skincare malam nya.
'Ribet juga ya jadi cewek? Ga papa deh. Toh yang cakep juga cewek gue sendiri.' batin Refan geleng-geleng kepala melihat rangkaian skincare malam Izza di depan wastafel. Kamar yang mereka pakai ini adalah kamar khusus yang biasa di pakai oleh Izza, jadi ya wajar saja kalau semua hal yang di butuhkan oleh nya sudah tersedia lengkap.
"Eh ay?" panggil Izza menatap Refan dari pentulan cermin wastafel yang besar dan lebar. Refan mengeryit, juga dengan menatap cermin.
"Hm?"
"Kok kamu ga bilang?" tanya Izza ambigu.
"Bilang apa?" tanya Refan tak mengerti.
"Kok kamu ga bilang soal maskawin tadi? Itu kebanyakan pula!!" tanya Izza penuh protes karena Refan tak memberitahu soal maskawin dengan jelas kemarin.
"Itu sih dikit ay." jawab Refan enteng tanpa beban.
"Terus kamu bisa dapet ide pake Euro itu dari mana coba?" tanya Izza lagi.
"Dari Reza, kan aku rundingan sama dia." jawab Refan jujur apa ada nya. Izza manggut-manggut
"Oh ya udah, tau gitu kamu nikahnya sama dia aja sekalian kenapa sama aku?" tanya Izza. Refan buru-buru memeluk leher Izza dari belakang dengan sama-sama menghadap ke depan cermin.
Bisa gawat kan kalau Izza ngambek di malam yang harusnya menjadi malam pertama mereka?
"Heh bukan gitu ay maksudnya, kan biar surprise buat kamu nya gitu loh!" elak Refan membela diri. Izza menatap tampang panik yang masih saja tampan dari cermin. Sudut bibir nya tertarik ke atas.
"Tapi harusnya ga perlu sebanyak itu juga!! 1T itu terlalu banyak, asal kita nikah halal aja aku udah seneng kok." sahut Izza lagi. Refan kemudian memutar balikkan kembali tubuh istrinya agar berhadapan sejajar dengan nya.
"1 Triliun itu dikit banget ay kalo di pake buat halalin kamu, kamu terlalu spesial! Berapapun nominalnya, itu akan selalu aku anggap kurang baut kamu! Dulu pas kita masih pacaran haram aja aku berani ngasih pabrik ice cream apalagi sekarang udah jadi hubungan serius kan? Ya pasti harus ngasih kamu yang terbaik lah." jelas Refan menangkup kedua pipi Izza. Izza tersenyum.
"Ah iya juga sih, dulu yang masih setengah-setengah milikin aku, yang belum dapet apa-apa dari aku aja kamu udah berani buang duit ratusan milyar, apalagi yang sekarang bisa jadiin aku sepenuhnya milik kamu dan bisa ambil semuanya ya kan? Ehm iya iya aku ngerti nih pasti otak kamu larinya kesana lagi kan?" tanya Izza penuh selidik. Refan nyengir karena ya memang kemanapun jalan mereka, arah nya pasti akan kesana.
"Hehe ya iya dong sayang... Kan aku cinta kamu! Dan ya maskawin tadi baru permulaan sayang, besok masih ada banyak hal yang nunggu tangan kamu menerimanya." ucap Refan memberikan sebuah bocoran yang akan ia berikan besok bersama mama dan papa nya di suatu tempat, selain di hotel ini.
"Apa lagi?"
"Ada deh besok." jawab Refan ogah memberitahu Izza terlebih dahulu.
"Thank you sayang!! Makasih ya udah jadiin aku ratu yang sebenarnya." ucap Izza menatap mata Refan dengan tenang. Refan mengangguk.
"Hehe iya dong!! Anything for my Queen." jawab Refan sambil membelai lembut pipi tirus gemoy milik Izza. Perlahan tapi pasti, Refan mulai mengikis jarak wajah di antara kedua nya. Refan langsung menyambar benda kenyal favoritnya. Izza pun tak menolak, ia malah dengan sepenuh hati membalas setiap kecupan, ci*man bahkan gigitan kecil dari Refan. Saling ******* penuh gairah.
Refan menggendong tubuh Izza dan mendudukkannya di atas keramik wastafel. C*uman Refan kini sudah turun menjamah area leher Izza.
Tangannya pun mulai menyusup masuk ke dalam baju tidur tipis yang membuat Izza melenguh tertahan.
Merasa tak bisa leluasa di kamar mandi, Refan langsung menggendong tubuh ramping istrinya menuju ke ranjang.
Refan perlahan menurunkan tubuh cantik Izza ke atas kasur King size bersprei putih. Izza tersenyum nakal kala melihat dada bidang suami nya yang tertutup kemeja dengan dua kancing teratas nya yang sudah terbuka.
"Come on beib!" panggil Izza dengan gayanya. Entah setan mana pula yang bisa membuat Izza jadi seliar ini. Tunggu! Izza malam ini jadi sangat berbeda dengan Izza yang biasanya.
Refan kembali mel*mat bibir Izza di bawahnya, menjelajah kesana kemari untuk waktu yang lama. Menyusuri setiap inci di dalam mulut. Puas bermain di bibir, cium*n Refan perlahan turun menyusuri tiap inci kelembutan di leher jenjang putih milik Izza. Bulu kuduk Izza meremang, kembali terdengar lagi lenguhan tertahan darinya.
Puas bermain di leher, Refan beralih turun ke dua gundukan sintal milik istrinya. Ia menci*mi area itu dengan lembut dan penuh cinta. Melum*tnya dengan rakus.
Dinginnya AC pun jadi tak ada harga dirinya di depan dua insan yang tengah di bakar oleh bara gairah itu.
Sedangkan Izza? Kedua tangan mulus nya perlahan memancing bulu kuduk Refan dengan meraba dada bidang di balik kancing kemeja yang satu persatu mulai terlepas. Hal ini tentu membuat Refan memejamkan mata menahan kenikmatan rangsangan lembut yang diberikan oleh istrinya.
Tok tok
Refan baru saja kembali menc*um Izza saat ketokan pintu itu terdengar. Tangannya pun sudah menyusup masuk ke dalam busana maroon Izza.
"Siapa ay?" tanya Izza spontan tersadar dari aktivitas liar nya bersama Refan. Refan menggeleng acuh dengan masih melanjutkan gerakan nikmatnya pada leher jenjang Izza.
Tok tok tok
Lama kelamaan ketukan itu berubah jadi gedoran keras yang menyebalkan.
"Ya udah bentar ya." ucap Refan yang langsung bangkit dari atas tubuh Izza. Cowok itu berjalan menuju pintu sambil memasang kancing kemeja nya yang tadi telah dibuka oleh Izza tadi.
Kriet
"Hehe ngapain aja lu lama amat?" tanya Reza usil. Cowok itu nyengir tanpa dosa melihat tampang kesal Refan dengan rambut yang sudah acak-acakan akibat ulah Izza tadi.
"Ada apaan?" tanya Refan to the point.
"Galak amat! Nih jedai Izza ketinggalan di ruang ganti." ucap Reza sambil mengulurkan sebuah jedai kecil berwarna biru. Refan melongo. Jadi cuma pekara jedai doang sampai dia harus mengesampingkan hasratnya tadi? Satu kata untuk Reza, Sial!
"Cuma ini doang?" tanya Refan melongo sambil menerima jedai yang di berikan oleh Reza. Reza mengangguk polos.
"Iya. Eh btw lo udah main berapa ronde sama adek gue Fan?" tanya Reza dengan polos nya. Padahal Refan dan Izza gagal pun gagal di ronde awal gara-gara ulah tengil nya ini. Refan menggeplak kepala Reza dengan kesal.
"****** lu! Ganggu aja!!" ketus Refan yang langsung kembali masuk dengan membanting pintu nya keras-keras.
Brakk
"Widih ngamuk dia." cicit Reza ngeri.
Refan membanting pintu dengan kesal sementara Reza malah tertawa ngakak membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar itu. Reza pasti datang saat mereka sedang asyik bergelut wkwk.
"Siapa ay?" tanya Izza saat Refan kembali masuk.
"Reza. Nih jedai kamu." jawab Refan meletakan jedai rambut Izza di nakas. Izza mengangguk.
Refan menggosok ujung hidung nya dengan gelisah karena hasrat nya yang belum terealisasikan tadi. Percayalah, menahan ereksi ini bukanlah hal sepele. Izza yang peka langsung bangkit dari rebahan nya dan berdiri di atas kasur.
"Ngapain?" tanya Refan heran. Izza tak menjawab tapi langsung berlari melompat langsung kepada Refan. Refan langsung refleks menangkapnya.
"Ayok lanjut!! Kita belum selesai ibadah kan?" ajak Izza yang mengerti kalau suami nya itu butuh pelampiasan gairah.
Sebagai laki-laki normal, Refan tentu saja dengan senang hati mengabulkan permintaan istrinya yang sangat menyenangkan baginya itu. Ia menjatuhkan istrinya di atas ranjang.
Refan juga meninggalkan beberapa jejak kebiruan di leher putih Izza sebagai tanda kepemilikan.
"You is mine!"
Refan menarik dirinya dari atas tubuh Izza dengan kedua lutut sebagai tumpuan berdiri untuk melepas kemeja putih yang ia pakai. Izza terpukau melihat penampakan roti sobek di depan mata nya. Mungkin ini bukan kali pertama Izza melihat perut six pack Refan, tapi ini adalah kali pertama Izza bisa menyebut perut six pack gagah penuh otot itu adalah milik nya? Ah rasanya masih seperti mimpi! Mimpi yang terlampau indah.
Refan tersenyum tipis melihat ekspresi pias Izza yang tangan nya sudah berkelana menjelajahi perut six pack milik nya. Membelai perut penuh otot itu dengan lembut penuh gairah.
"Semua ini milikmu, sayang!" bisik Refan yang sudah kembali mengikis jarak diantara mereka.
"Kita lanjut ya?" tanya Refan sebelum memulainya kembali. Izza mengangguk.
Sesi malam panas itu kembali berlanjut. Bara api yang sempat meredup tadi, kini sudah kembali menyala. Kalian pasti bisa bayangkan sendiri bagaimana sisa malam ini dihabiskan oleh mereka berdua dengan penuh cinta.
Ada sensasi bangga dan kepuasan tersendiri bagi Refan saat ia berhasil menembus dan menguasai Izza, untuk dirinya sendiri.
...****************...
"Sss silau." cicit Izza mengerjapkan mata karena merasa silau. Ia ternyata tidur dengan menghadap ke arah jendela, tepat tegak lurus dengan datangnya sinar mentari pagi yang menembus di sela gorden.
Belum sadar sepenuhnya, Izza merasa area disekitar intinya perih dan nyeri. Tubuhnya juga terasa berat dan susah digerakkan. Seperti ada sesuatu yang mendekapnya dengan teramat erat. Oh ya dan benar saja! Ada Refan di hadapannya. Laki-laki tampan itu merengkuh rakus tubuh Izza dengan sangat erat, seolah tak mau istrinya pergi meninggalkannya.
Izza sedikit menggeser tubuhnya agar bisa leluasa bergerak. Dipandanginya wajah suaminya itu, masih terekam dengan jelas apa-apa saja yang telah mereka lalui semalam. Malam panas berdua yang indah dan belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Izza beralih membelai wajah tegas maskulin yang masih terlelap itu. Izza tersenyum saat mengigat semua hal yang telah mereka lewati bersama. Semua ingatan itu tiba-tiba berputar. Mulai dari awal pertemuan mereka, hari dimana ia koma dan amnesia, jeda singkat menyakitkan saat mereka putus dulu, hingga detik-detik akad nikah mereka semalam. Ada kebahagian dan kebanggaan tersendiri dalam hatinya.
"Enggghh." Refan melenguh terbangun dari mimpi. Izza membulatkan mata kaget, sepertinya belaian tadi membangunkan Refan. Izza hendak buru-buru menarik tangan nya tapi buru-buru pula di cekal oleh Refan. Mata hitam nya masih mengerjap menyesuaikan cahaya, tapi dirinya sudah yakin dan sadar kalau belaian lembut yang mengganggu tidurnya adalah dari istrinya sendiri.
"Kenapa ay?" tanya Refan dengan suara serak khas bangun tidur. Izza menggeleng dengan senyum canggungnya. Mereka berdua masih dalam posisi saling berpelukan.
"Enggak papa kok, kamu keganggu ya?" tanya Izza gugup. Refan tertawa receh.
"Ahahah apaan sih malah jadi canggung gini hm? Ga masalah kalo yang ngelakuin istriku sendiri mah." ucap Refan dengan mata yang sudah terbuka lebar. Kesadarannya sudah kembali. Izza bersemu merah kala Refan menyebutnya dengan kata 'istriku'.
"Ya enggak, kan kirain gimana gitu." elak Izza mencoba biasa saja. Refan menggesekkan hidungnya dengan hidung Izza.
"Ulululuuu gemes banget si!!" ceracau Refan gemas sambil mengeratkan pelukannya membuat Izza sesak tak bisa bernafas.
"Aaa Efan.... Aku ga bisa nafas ihh!!" cicit Izza menepuk-nepuk tangan kekar Refan yang merengkuh tubuhnya. Refan terkekeh.
"Iya iya maaf deh, mandi yuk? Aku mau nunjukin satu lagi hadiah buat kamu." ajak Refan beringsut berdiri mendudukkan diri dan bersandar di sandaran ranjang. Izza buru-buru menarik kembali selimut yang tergeser jatuh karena gerakan semena-mena Refan ini. Bagaimana tidak? Tubuhnya masih polos sementara Refan malah membuat selimut penutup mereka melorot.
"Aku udah lihat semuanya ay, kita berdua udah sama-sama tau. Apanya lagi yang mau disembunyiin hm?" goda Refan menaik turunkan alis dengan jail. Izza mengerucutkan bibir.
"Malu tau!!" ketus Izza.
"Sama suami sendiri ngapain malu sih? Udah yuk mandi!!" ajak Refan merengek. Izza menaikkan sebelah alis.
"Maksudnya ayok mandi itu apa ya?"
"Halah sok polos! Dah yuk bangun ay!!" ajak Refan tak sabaran.
"Iya iya bawel." gerutu Izza hendak bangun tapi ia malah menjerit refleks karena merasa sakit dan perih di area bawah.
"Sakit ya?" tanya Refan. Izza mengangguk polos.
"Kok perih ya?" tanya Izza. Refan langsung berdiri dan memakai boxer hitam yang berserakan di lantai dan langsung membawa Izza dalam gendongannya. Awalnya Izza kaget, tapi ia tau. Ia harus mulai terbiasa dengan semua ini bersama Refan, suaminya sendiri.
"Maaf ya gara-gara aku nih kamu jadi kesakitan." cicit Refan menggendong Izza menuju bathroom. Izza menggeleng dan melingkarkan tangan dileher putih Refan.
"Ga usah minta maaf ay." jawab Izza santai. Refan tersenyum tipis melihat istrinya, sepertinya Izza memang sudah mulai membiasakan diri dengan tidak terlalu malu ataupun takut seperti saat tadi malam.
"Makasih udah percayain mahkotamu buat aku. Makasih buat semuanya, love you banyak-banyak!!" pekik Refan menciumi puncak rambut Izza. Izza terkekeh.
"Selama ini aku menjaga 'itu' emang buat suamiku di masa depan, nah kan kamu udah jadi suamiku? Jadi ya udah lah ga usah dibahas mulu, aku malu tau!!" jawab Izza mendongak. Refan menunduk dan mencium gemas hidung istrinya.
"Iya iya bawel!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Monmaap untuk semua readers🥺 Aku telat update karena reviewnya lama, kan banyak dari kalian yang minta MP nah ternyata kontenku yang awal terlalu vulgar. Jadi ya harus aku saring dan rombak ulang makanya menghabiskan waktu lama.
✨Happy Reading Guys✨