IZZALASKA

IZZALASKA
23. Sugar Mommy



Drrtt drtt


Refan dan Izza baru saja mencapai titik puncak pelepasannya saat benda pipih di meja itu bergetar. Teriakan puas nan nikmat dari keduanya bergelora memenuhi antero kamar. Mereka terengah-engah merasakan ledakan gairah panas yang menjalar dari pusat tubuh.


Refan pun ambruk di samping Izza setelah pencapaiannya tadi.


"Hp mu s-sayang!" ucap Izza memberitahu dengan nada bicara yang masih berantakan. Refan mengangguk dengan masih terengah-engah mengatur ritme nafasnya kembali.


"Dari Rafael." ucap Refan sambil menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon itu. Izza tidak bersuara, ia lebih memilih diam dan mengatur deru nafasnya saja.


📞Rafael is calling....


Rafael : Lama banget!!


Refan : Sorry.


Rafael : Lo dimana sekarang? Ke kantor papa gih buruan!!


Refan : Eh hah? Ng-ngapain? Gue lagi di Rz.


Rafael : Heh napas lo kenapa? Lo habis lari maraton?


Refan : Kepo aja lu!


Rafael : Halah gue keknya tau lo habis ngapain aja haha.


Refan : Rese lu! Ngapain gue ke kantor papa?


Rafael : Urusan warisan keluarga, buruan kesini! Bawa istri lo sekalian, mama sama papa nih yang nyuruh.


Refan melirik Izza yang balik menatapnya dengan tatapan sayu, sangat tampak sekali ia lelah karena pergulatan mereka tadi.


"Kenapa?" tanya Izza yang merasa aneh karena Refan terus saja menatapnya. Refan menggeleng.


"Nggak apa-apa." jawab Refan tanpa suara. Ia tak tega kalau harus membawa Izza dalam keadaan s ini. Belum lagi karena di leher putih Izza, ada beberapa kiss mark hasil percintaan mereka.


Rafael : Woi Alaska! Kenapa lu?


Refan : Emang harus sekarang ya?


Rafael : Ya iyalah sekarang kampret!! Besok kan gue udah balik ke NY.


Refan : Harus sama Izza? Gue sendiri aja gimana?


Rafael : Harus sama Izza. Titik! Ini perintah mutlak bukan tawaran.


Refan : Huftt ya udah, tunggu sejam gue kesana.


Rafael : Lama banget sejam? Perasaan Rz sampek kesini cuma butuh 20 menitan.


Refan : Siap-siap dulu lah anj*ng.


Rafael : Ahahaha jadi bener nih lo sama Izza habis nganu? Sialan lo Fan! Main gempur terus kerjaan lo.


Refan : Banyak cakap lah kau nih. Bye!!


Rafael : Ahahhah.


Tut tut....


"Kenapa ada Izza-Izza segala?" tanya Izza setelah Refan meletakan kembali Hp nya di nakas.


"Papa nyuruh kita datang ke kantornya ay." jawab Refan.


"Sekarang?" pekik Izza panik sendiri. Refan mengangguk.


"Lah terus ini gimana?" tanya Izza.


"Ya gini. Mandi dulu lah kita sebelum ke sana, kamu kan punya hairdryer di kamar ini." jawab Refan polos. Izza berdecak.


"Bukan masalah itunya ay."


"Ya terus?"


"Nih biru-biru gini gimana?" ucap Izza menunjuk beberapa kiss mark di leher nya.


"Ya kan sama aja ay, nih punyaku juga ada. Pake foundation, kamu bawa make up kan?" jawab Refan memberi solusi. Banyak kiss mark di leher Izza dan juga di leher Refan. Sekarang jni, sedikit banyak Izza juga sudah mulai pintar menciptakan maha karya kebiruan di leher berjakun milik suaminya.


"Bawa sih." jawab Izza.


"Nah ya udah clear! Ayo mandi. Terus ke kantor papa."


...****************...


Huek huek


"Duh kenapa perut gue jadi begini ya?" keluh Ajeng memegangi perutnya yang terasa mual. Sedari tadi hanya cairan bening saja yang keluar.


"Ini tanggal berapa ya? Keknya gue telat deh. Oh hah?!! Apa jangan-jangan gue-"


Tok tok tok


"Sayang!! Kamu di dalem ga?" teriak samar-samar suara dari luar kamar mandi. Ajeng buru-buru keluar dan mendapati wajah tampan suaminya.


"Eh kamu udah pulang? Tumben sorean." tanya Ajeng menyambut sang suami. Reza menangkup wajah Ajeng dan mencermatinya.


"Kamu pucat banget? Sakit ya? Kok ga bilang sih, harusnya aku bisa pulang loh dari tadi." tanya Reza nyerocos tanpa henti. Ajeng menggeleng.


"Enggak papa, cuman mual doang dari tadi." jawab Ajeng. Ajeng memeluknya erat dengan tiba-tiba. Reza agak heran, tapi ia tetap membalas pelukan hangat dari sang istri.


"Kamu bebas kok atas apapun tentang aku hm." jawab Reza santai. Ajeng tersenyum tapi tak berlangsung lama karena perutnya kembali bergejolak ingin memuntahkan sesuatu.


Ajeng langsung melepaskan pelukannya dan berlari menuju kamar mandi.


"Loh sayang hey kenapa lagi?!!" pekik Reza panik. Ajeng melambaikan tangan tanpa menoleh. Reza pun menyusulnya ke dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa sih? Masuk angin?" tanya Reza khawatir sambil memijit tengkuk Ajeng agar istrinya bisa memuntahkan semua yang mengganggu perutnya hingga lega. Ajeng menggeleng.


"Enggak tau, rasanya aneh." jawab Ajeng.


"Ya udah aku mau minta mama buat bikinin kamu obat dulu ya? Kamu istirahat aja habis ini." tutur Reza lalu pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Ajeng.


...****************...


"Jadi gimana hasilnya? Positif nggak? Kamu hamil atau emang cuma masuk angin sayang? Hmm hm hmm?" tanya Reza langsung antusias memberondong Ajeng dengan banyak rentetan pertanyaan saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


Wajah Ajeng tampak biasa saja, bahkan terkesan murung. Reza mengeryit, sepertinya ekspetasinya dengan keluarganya masih meleset.


"Belum ya?" tanya Reza manyun gemas. Ajeng perlahan mengangkat tiga buah test pack berbeda merk dan bersamaan dengan itu pula senyum cantiknya merekah.


"We will have a baby!!" pekik Ajeng yang dengan kepala di goyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri dengan sangat imut karena saking bahagianya. Penantiannya bersama Reza selama hampir dua bulan ini membuahkan hasil. Kedua mata Reza melebar penuh suka cita. Ia melihat dengan nyata sekali dua garis merah di ketiga alat tes kehamilan itu.


Reza langsung memeluk erat tubuh istrinya saat itu juga. Akhirnya buah cintanya bersama Ajeng akan segera menampakan wujudnya.


"Aaaa sayang aku seneng banget! Akhirnya aku dapet keturunan dari kamu emmm." cicit Reza menghujani ciuman di pipi, kening dan bahkan bibir Ajeng berkali-kali. Sungguh kebahagiaan yang tak bisa ia jelaskan lagi. Rasanya super wah!


Thanks to god!


"Aku juga seneng banget, Reza junior is coming!" ucap Ajeng mengecup singkat bibir Reza sebagai tanda kebahagiaan tak terkira yang ia dapat. Impian Ajeng sejak SMA, untuk bisa langgeng bersama Reza hingga menikah dan punya anak akan segera terwujud.


Maha baik author dengan segala kebaikannya bukan? Wkwk.


"Ya udah yuk turun! Mama Papa, semuanya harus tau. Cucu ketiga Alexander bakal segera launching di antara kita!!" ajak Reza bersemangat. Ajeng mengangguk.


...****************...


"Kamu kenapa diem?" tanya Refan heran melirik istrinya. Izza menggeleng.


"Ga papa sih, cuma kebeban sama pembagian warisan tadi." jawab Izza.


"Kebeban gimana?"


"Sahamnya kebanyakan di aku ga si Fan? Aku ga enak tau sama Stella." jawab Izza menghembuskan nafas nya gusar. Refan mengeryit tak mengerti.


"Emang kek gimana? Kan bener tuh, saham Mall sama Rumah sakit dibagi rata 50% : 50%. Terus salon di kasih atas nama Stella Alandra, dan Butiknya atas nama Izza Alaska. Terus apanya yang aneh?" tanya Refan tak mengerti.


"Justru itu sayang!! Butik mama itu bukan sembarang Butik loh. Aku tau performa antara salon dan butiknya. Beda jauh banget! Omsetnya aja bisa 5 : 3." jelas Izza panjang lebar.


"Kalo gitu itu rejeki kamu! Mama tuh orangnya pemikir, jadi kalo dia udah ambil keputusan ya berarti itu udah bener-bener deal dari apa yang selama ini dia impiin. Kamu santai aja lah, papa, Stella sama Rafael juga udah clear kok." sahut Refan tak kalah analitis. Izza mendengus pasrah.


"Tetep aja ga enak Epaaaaann!! Kan sama-sama anak mantu, kenapa mama ga bagi sama aja kek di Mall sama Rumah sakit? Kan bisa lebih bagus." ucap Izza masih ngeyel.


"Gini ya sayangku!! Mama itu beda sama papa. Papa itu orangnya emang asli super adil ga peduli dia lebih sayang ke aku atau Rafael, pasti hartanya tetep dalam hitungan yang sama dan adil. Beda jauh sama mama yang dia itu memihak, sedangkan ya kamu maupun Stella tau sendiri kalau mama itu paling sayangnya ya sama kamu karena kamu yang lebih lama kenal baik sama keluarga. Toh juga Stella fine-fine aja kan? Jadi stop ngerasa ga enak. Dont worry oke?" jelas Refan mengelus rambut Izza dengan salah satu tangannya yang tak di pakai untuk nyetir.


"Tetep ga suka ih... Kalo asetku makin banyak, berarti uangku makin banyak dong?" tanya Izza. Refan mengangguk.


"Nah itu dia masalahnya! Kalo uangku makin banyak, makin banyak pula masalah yang bakal aku hadapi nanti! Seperti gimana cara menghabiskan uang itu. Masa iya harus nambah black card lagi? Bosen aku jadi nasabah american express mulu." gerutu Izza sebal. Bibirnya sudah manyun lima meter sejak tadi.


Sultan emang beda! Mentang-mentang duitnya sendiri dari perusahaan IT, perusahaan cabang bahan pangan, Mall, Big Bar, Club, Hotel, ibox, Beberapa Restoran dan Cafe udah ga ada limit nya. Orang normal kalo dikasih warisan lebih pasti seneng, tapi ternyata tokoh utama kita berbeda!


"Uangku udah banyak tau ay! Uangku sendiri aja udah ga kuat aku ngehabisinnya, belum lagi yang dari kamu yg masuk rekening aku udah berapa M aja tuh tiap minggunya?" tanya Izza mulai nyerocos.


"Udah aku beliin mobil sampek rumah utama full mobil aku, bassement apartemen sampai markas pun ada. Mau aku investasi? Ah udah kebanyakan! Bukannya habis, yang ada nanti uangnya makin bertambah!! Sumpah deh bisa setress aku lama-lama kelamaan mikirin cara ngehabisin uang kek gimana." gerutu Izza makin merambat kemana-mana. Refan tertawa mendengar keluhan istrinya ini. Disaat orang lain setress mencari jalan untuk memperbanyak harta, Izza malah setress mencari jalan menghabiskan uangnya yang unlimited itu.


Oke guys! Ternyata idola kita sedang bingung untuk menghabiskan uangnya, bagaimana kalau kita bantu saja dia? Huuaaaa.


"Shooping?" tanya Refan.


"Mall juga kita punya sendiri, percuma aku belanja banyak pun tetep ga bayar." sahut Izza bersungut-sungut. Refan tertawa lagi.


"Udah banyak juga yang aku kasih ke panti asuhan, panti jompo, maupun masjid. Tapi uang itu kek makin bermutasi Refan.... Makin ga ada habisnya tau ga?!"


"Ya udah kalo gitu kita habisin uangnya bareng-bareng gimana? Aku bantuin kamu biar ga setress?" ucap Refan menawarkan diri. Refan sama sekali tak menganggap istrinya boros atau semacamnya, karena ya pada kenyataannya memang Izza adalah si kaya raya karena usahanya sendiri. Terlepas dari asal keluarga, Izza adalah seorang pekerja keras. Terbukti dari Rz Corp yang sudah berhasil menjadi sebesar itu karena usahanya sendiri, bahkan orang tuanya saja tidak ada yang tau pasti kapan Izza merintis usaha itu.


Refan bahkan sering menjuluki Izza sebagai Sugar Mommy untuk anak-anak mereka kelak. kece ga tuh!


Refan percaya kalau terlalu banyak uang juga bisa membuat seseorang jadi setress karena bingung, bingung gimana caranya biar uang itu bisa habis.


"Bantu gimana? Kita bakar pake solar?" tanya Izza ngawur. Refan mendelik kaget dengan pernyataan ceplosan Izza ini.


"Heh ya ga gitu juga sayang! Itu namanya mubadzir dong." elak Refan.


"Ya terus diapain lagi? di pake wallpaper tembok?" tanya Izza semakin menjadi-jadi ngawurnya. Refan tertawa lagi, sudah tak bisa ia menahan gejolak humornya sendiri.


"Bukan sayang!! Kita habisin uangnya buat ngilangin setress kita. Kita holiday? Eh honeymoon deh. Kebetulan kan kita belum sempet honeymoon tuh. Gimana?" tanya Refan menaik turunkan alisnya. Izza berpikir sejenak.


"Emmm ide yang bagus! Kita tour ke seluruh Eropa dan Asia ya? Beberapa minggu sabilah buat nguras black card kita. Setelah uangnya habis, baru deh kita kerja lagi bagai kuda." jawab Izza antusias. Refan melipat bibirnya kedalam karena menahan tawa.


'Sugar mommy kesayangan gue emang beda! Kek enggak ada harga dirinya banget tuh uang, di tarik ulur doang cuma buat ngilangin setress sama bosen.' batin Refan geleng-geleng kepala.


"Oke, kita atur waktu kosong di kantor ya buat holiday sekaligus honeymoon. Deal?" pungkas Refan dengan deal akhir mengulurkan jabatan tangannya kepada Izza. Refan kebetulan berhenti di lampu merah.


Izza menyambutnya dengan suka cita.


"Oke, deal!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰