
"Huh! Akhirnya bisa juga gue lepas dari jadwal padat sialan itu. Mana sekertaris gue ganjen banget jadi orang! Untung aja gue selalu inget kalau istri gue di rumah lebih cantik dan menggoda....."
"Gue langsung cabut aja deh, sekalian mampir KFC dulu." pungkas Refan setelah lelah menggerutu perkara Rosa yang sejak tadi siang terus saja keluar masuk ruangannya dengan berbagai alasan dan gaya menyebalkan.
"Eh bentar! Keknya ada yang perlu gue lakuin deh biar penderitaan gue di kantor hilang...." gumam Refan kemudian merogoh saku jas untuk mengambil ponselnya.
📤Shella
Shel, lo cuti sampe kapan si?
Buruan masuk kerja!!
Gue capek di teror sepupu lo terus.
Read.
Alis Refan terangkat sebelah saat pesan yang baru ia kirim itu langsung dibaca oleh Shella, sekertarisnya yang asli.
Biasanya, Shella adalah tipe orang yang sangat jarang online whatsapp apalagi di jam 7 malam kebawah dengan alasan ia sibuk dan profesional kerja. Ah tapi sekarang mama muda itu sedang tidak bekerja karena cuti melahirkan bukan?
"Tumben ni anak gercep."
Drtt drtt
📞Shella is calling....
Refan : Buruan kerja!!
Shella : Astaga bos. Santai dulu dong!
Refan : Santai santai pala lu! Lu mah enak cuti di rumah kagak ngapa-ngapain, lah gua? Bos lu ini ya udah capek kerja, capek mikir, capek di teror sama sepupu lo pula.
Shella : Bentar bos bentar, kenapa jadi marahin saya? Kan pengajuan cuti kerja itu juga bos sendiri yang nyetujuin.
Refan : Karena waktu itu gue belum tau gimana kelakuannya Rosa.
Shella : Rosa? Emang dia kenapa si?
Refan : Ganjen banget tuh sepupu lo! Jijik gua.
Shella : Kalo gitu kenapa ga langsung dipecat aja?
Refan : Ck. Ya mau gimana lagi? Lo kan belum balik Shel.
Shella : Ya kan bisa nyari yang lain dulu sebelum saya balik bos!!
Refan : Ck. Gue udah cocok sama cara kerja lo yang perfeksionis dan selalu tepat waktu, lagian gue terlalu sibuk buat nyari orang baru. Susah juga!
Shella : Buset yang bakal jadi bapak-bapak, cerewet amat!
Refan : Ledek aja teros! Mentang-mentang lo punya Izza yang setia jadi back up.
Shella : Ahahaha bestie saya tuh bos!
Refan : Serah. Gua mau lo masuk kerja bulan depan!
Shella : Lah?
Refan : Ga ada protes!
Shella : Jatah cuti saya masih tiga bulan loh bos. Wah pelanggaran hak nih!
Refan : Bodoamat gua bodoamat! Pokoknya gua ga mau tau, bulan depan gua mau lo udah stay di meja itu lagi!
Shella : Tap-
Tut tut tut...
"Mamp*s lu Shel! Pusing kan lu sekarang? Sama. Gue malah udah berbulan-bulan dibuat pusing sama sepupu sialan lo itu." gerutu Refan tersenyum miring.
"Oke Fan, tinggal sebulan lagi! Lo pasti bisa." ucapnya menyemangati diri sendiri. Yap! Penderitaan ini ia harapkan akan segera berakhir bulan depan.
Drtt drtt
Masih berada di dalam mobil yang belum bergerak pergi dari bassement kantor, handphone nya kembali berdering. Kali ini Genta ya menelfon.
📞Genta is calling....
Genta : Halo Fan? Lo udah tau belum?
Refan : Tau apaan dulu Ta? Lo baru nyambung langsung ke inti ga pake intro!
Genta : Dandy udah tau siapa YH dan udah tau strategi baru Bloody Dragon yang bakal dilancarkan dalam waktu dekat.
Refan : Serius?!! Siapa dia?
Genta : Bima.
Refan : APA?!!!!
Genta : Target penyerangannya di rumah papa lo! Gua saranin amanin Queen dan keluarga lo dari sekarang.
Refan : Holly *****!! Kapan terjadinya Ta?
Refan : Mereka ngincer keluarganya Doddy?
Genta : Gue rasa bukan. Target utamanya Bima jelas di elo dan Queen.
Refan : Tapi kenapa-
Genta : Gue juga ga tau Refaaaannn.... Daripada lo nanya mulu mending malam ini kita ketemu! Yang penting lo amanin adek kesayangan gue!!
Refan : Oke deh, gue ke markas lo atau-
Genta : Gue, Ilham sama Dandy yang bakal ke markas lo.
Refan : Oke. Ntar sekalian gue bawa Rafael juga!
Genta : Ya.
Tut tut tut....
"Sial! Jadi Bima dalangnya. Pantesan aja dia mucul tiba-tiba nemuin Izza waktu itu." decak Refan memukul stir mobilnya.
"Gue harus ngelakuin sesuatu. Izza sama bayi kembar gue ga boleh kenapa-napa!" pungkasnya yang kemudian segera melesat pergi meninggalkan bassement.
...****************...
Ckit
"Kenapa Ris?" tanya Izza agak terkejut karena Aris, sopirnya itu menginjak rem secara mendadak.
"Itu bos, ada mobil yang ngehadang." tunjuk Aris ke arah mobil tipe pajero sport berwarna hitam mengkilap.
Rupanya mobil itu menghadang jalan mereka. Alis Izza terangkat naik.
"Siapa tuh? Nantangin amat." gerutu Izza malas. Aris menggeleng diam tapi langsung bertindak, ia melepas seat beltnya sebelum pamit kepada bos nya ini.
"Biar saya yang turun dan ngecek. Bu bos tunggu disini aja ya? Kunci pintunya dari dalam setelah saya keluar. Kalau terjadi sesuatu bu Bos tinggalin saya aja." ucap Aris penuh tanggung jawab. Menjadi anak buah kepercayaan seorang Refan tentunya juga memiliki sisi bahaya dan beresiko tersendiri.
"Enak aja! Kalo ada apa-apa nanti ya saya bantu kamu lah." omel Izza protes.
"Saya turun dulu...."
...****************...
Sepasang kaki bersepatu pantofel mengkilap itu tampak melangkah tergesa-gesa memutari seisi kamar. Ia mencari keberadaan sang istri sejak ia menjejakan kakinya di rumah megah itu.
Refan. Yap! Ia sedang mencari Izza saat ini. Kekhawatirannya tadi semakin memuncak saat ia sampai di rumah yang ternyata kosong tanpa kehadiran sang istri, terlebih lagi Izza tidak bisa dihubungi.
"IZZA?!!!" teriak Refan melengking saat ia benar-benar tak bisa menemukan wanita itu di kamarnya.
"AY....."
"SAYANG???!!"
"Ish kemana sih dia? Tumben banget ngilang-ngilangan begini. Mana handphone nya ga aktif sejak tadi sore! Bikin khawatir aja, mana gue ga tau dia kemana." gerutu Refan mengacak rambutnya frustasi.
Tampang lelahnya setelah bekerja seharian tampak semakin kacau sekarang.
"MARKO!!" teriak Refan memanggil seorang pengawal yang ia tugaskan di lantai atas. Yang dipanggil langsung menghadap dalam beberapa detik saja.
"I-iya bos?" tanya lelaki kekar itu takut-takut. Ia tau bosnya sedang pusing, maka dari itu ia tak berani menatap wajah mengerikan sang bos besar.
"Istri saya kemana? Dia pergi ada bilang ke kamu atau tidak?" tanya Refan. Marko mengangguk.
"Bu bos masih belum pulang sejak tadi siang bos. Bilangnya tadi 'pak Marko saya mau nyari angin keluar, kalo Refan pulang terus nanya tolong kasih tau ya.' gitu bos!" jawab Marko menirukan logat bicara Izza saat berpesan sebelum pergi tadi.
Refan berdecak.
"Ck. Kenapa dia ga pamit gue dulu si?" gerutu Refan mendengus panjang. Tak biasanya Izza pergi tanpa izin darinya.
"Sama Aris?" tanya Refan kembali ke Marko. Marko mengangguk.
"Iya bos, Aris yang tadi diminta untuk mengantar bu bos."
"Kamu telfon Aris sekarang! Tanya posisinya dimana." suruh Refan.
"Maaf bos, tapi kenapa bukan bos sendiri yang telf-"
"Baterai saya habis. Kamu mau saya habisi juga hah?!" ancam Refan kesal. Berani-beraninya Marko keceplosan menyuruh dirinya saat sedang uring-uringan seperti ini.
"M-maaf bos. Saya akan menghubungi Aris sekarang juga!" cicit Marko cepat-cepat sebelum hari ini menjadi hari terakhirnya di dunia.
Marko bergegas mengeluarkan handphonenya dan mencoba mengubungi Ari.
📞Calling Aris....
Tut tut tut....
"Nomornya tidak aktif bos."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰