IZZALASKA

IZZALASKA
27. Ngidam?



"Jadi tuh gitu ay!!" pungkas Izza mengakhiri ceritanya. Refan manggut-manggut.


"Oh ternyata kek gitu alasannya, btw kamu bilang tadi pagi ada meeting di luar sama Darrel kan ya?" tanya Refan mencermati detail cerita istrinya tadi. Izza mengangguk polos.


"Iya."


"Terus kenapa kamu ga bilang?" tanya Refan lagi. Izza menatap bingung ke bawah, tempat dimana Refan masih asyik tiduran di paha Izza.


"Lah emang aku ga bilang?" tanya Izza balik. Refan berdecak.


Ditanya malah nanya balik!


"Mana ada kamu bilang? Aku doang tadi yang izin mau meeting ke hotelnya pak Kusuma. Kamunya enggak!" sahut Refan mendengus malas.


"Oh ya kalo gitu aku lupa! Santai aja dong, ga usah ngegas masnya." omel Izza.


"Ya terserah aku lah!" sungut Refan sok ngambek. Wajah tampannya yang imut saat marah seperti ini membuat Izza selalu saja merasa gemas hingga menoel hidung mancung dari lelaki itu.


"Ngambekan mulu!" ledek Izza.


"Kamu tuh ngeselin mulu, kelupaan mulu!" balas Refan sengit. Izza terkekeh dengan masih terus saja menoel-noel hidung Refan.


"Ya udah bayi gedeku mau apa hm?" tanya Izza salah bicara, lagi.


Refan tersenyum nakal karena pertanyaan jebakan yang ia tunggu akhirnya terucap dengan sendirinya oleh Izza yang selalu saja terpancing.


Refan meraih tangan Izza yang sibuk dengan hidungnya dan menatap Izza dengan tatapan jahil. Selalu seperti biasa.


'Nah loh salah ucap lagi gue!!' maki Izza kepada dirinya sendiri.


'Sabar ya Za, punya suami emang gini nih ngeri. Untung aja gue cuma sisi lain dari lo dan ga punya raga sendiri hii ngeri!' sahut Refi bergidik. Hey, tunggu! Refi? Ah bagaimana bisa dia muncul tanpa hujan tanpa angin seperti ini.


'Ref kok lo bisa?'


'Gue kangen anjir sama dunia lo!' sungut Refi menjawab pertanyaan Izza.


"EKHEMM!!!" deheman serak itu lantas membuat Izza mengerjap sadar dan kembali dengan kehidupan normalnya, yaitu Refan.


Izza kembali menunduk ke arah suaminya.


"Kenapa? Keselek?" tanya Izza polos. Refan mengangguk.


"Iya, keselek kamu!" jawab Refan yang langsung mengangkat kepalanya ke atas dan mengecup singkat bibir sang istri. Izza melotot terkejut dengan kecupan singkat yang sangat tiba-tiba ini.


"KALIAN SEMUA BALIK BADAN!!" teriak Refan kepada empat bodyguard yang berjaga di area sekitar halaman belakang. Lelaki tampan dan gagah itu sudah duduk bangkit dari pangkuan sang istri.


Keempat anak buahnya langsung berbalik badan membelakangi sang bos besar.


"Why?" desis Izza heran kenapa Refan tiba-tiba menyuruh mereka semua berbalik badan? Refan tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis lalu mencium bibir istrinya selama beberapa detik. Setelahnya ia segera menggendong dan membawa pergi tubuh ramping Izza yang memang tak bisa dipungkiri kalau tubuh indahnya kini makin seksi dan berbody sejak setelah mereka menikah.


Definisi ciptaan suami wkwk.


...****************...


"Ay?" panggil Refan yang posisinya tiduran di samping Izza dengan posisi miring berbantal siku tangannya.


"Hm?" sahut Izza tanpa menoleh, ia masih sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya.


"Nyari abang tukang sate depan komplek yuk!!" ajak Refan.


"Hah?" cicit Izza melirik suaminya tak percaya. Sate adalah salah satu makanan terlaknat bagi seorang Refan, tapi malam ini?


"Pengen makan sate." rengek Refan bergelayut di salah satu lengan Izza.


Izza meninggalkan tugas kecil dalam laptop di pangkuannya. Malam ini Refan memang melewatkan jatahnya, entah mengapa ia tiba-tiba ingin membiarkan istrinya untuk benar-benar istirahat malam ini. Padahal langkah menuju malam panas hanya tinggal satu langkah saja.


Definisi predator yang rela melepaskan mangsanya.


"Ini udah jam 11 loh, kamu kan paling anti tuh makan larut malam gini? Kamu seriusan ga si? Kamu ga lagi ngigo kan?" tanya Izza heran.


"Iya lah serius masa becanda." decak Refan menggerutu.


"Tapi sejak kapan kamu doyan makan sate?" tanya Izza lagi. Wanita cantik ini masih mengira kalau suaminya hanya bergurau saja.


"Sejak tadi! Udah ayok ah." pungkas Refan yang lebih dulu bangun dari rebahannya dan duduk bersila menghadap sang istri. Izza malah menggaruk belakang telinganya, takut-takut kalau Refan kena rasukan setan.


"Heh malah ngelamun!! Ayok buruan sayang..... Suaminya lagi pengen sate juga ah malah diem-diem bae." gerutu Refan menggoyang-goyangkan lengan Izza untuk segera bangun.


"Kamu aneh banget sih kek orang ngidam aja ah malem-malem gini nyari barang aneh-aneh." sungut Izza memutar bola matanya malas.


"Terserah kamu mau bilang apa, pokoknya ayo beli ayaaaaaaangg!!" rengek Refan yang lagaknya sudah menyamai anak paud minta dibelikan jajan. Izza menghela nafas pasrah.


"Ya udah bentar aku ambil jaket buat kita dulu." ucap Izza beringsut bangkit dari ranjang. Refan juga melakukan hal yang sama.


Mereka berdua memutuskan untuk jalan kaki saja karena lokasinya sangat dekat. Hanya berada di depan pagar komplek, Lagipula juga angin malam akan makin terasa dingin kalau mereka memakai motor.


...****************...


Greb


"Sayang!" panggil Ajeng yang langsung memeluk leher Reza dari belakang. Lelaki tampan nan muda yang sebentar lagi akan menyandang gelar ayah itu masih berkutik dengan laptop di ruang kerjanya. Ia berniat mengerjakan semua kerjaan kantor yang harusnya ia selesaikan di besok lusa agar ia bisa diizinkan oleh Ricko maupun Rayhan untuk meninggalkan kantor seharian.


"Apa hm?" tanya Reza menoleh dan memberi kecupan singkat pada bibir tipis Ajeng. Ajeng tersenyum manja.


"Pengen mekdi!!" rengek Ajeng dengan bibir yang ditekuk sedemikian rupa hingga menjadi lebih kecil dari ukuran aslinya.


Mendengar permintaan sang istri yang berbau ngidam, Reza langsung menutup spontan laptopnya. Masa bodohlah dengan pekerjaannya itu.


"Kamu ngidam ya beb? Tumben lo jam 11 gini kamu mau makan?" tanya Reza antusias. Ajeng adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan penampilan hingga pola makannya, ia tak pernah makan di atas jam 8 malam. Katanya sih biar ga berlemak, maklum lah kan dia seorang model terkenal sekaligus desaigner.


Ajeng mengendikkan bahunya tak tau.


"Ga tau, tapi pengen ke mekdi." cicit Ajeng lagi.


"Sekarang?"


"Iya lah sekarang! Kalo besok ya ngapain aku bilang sekarang coba?" tanya Ajeng manyun. Reza terkekeh mencubit gemas kedua pipi Ajeng.


"Ya udah ayok sayangkuuuuu!!" ucap Reza langsung berdiri merangkul sang istri. Reza sudah siap menjalankan kewajiban pertamanya sebagai calon ayah yang baik.


"Ya udah kalo gitu aku packing dulu ya?" pamit Ajeng melepaskan rangkulan suaminya untuk lebih dulu pergi ke kamarnya.


Reza buru-buru mencekal lengan putih istrinya. Apa dia bilang? Packing? Sejak kapan ada aturan beli mekdi harus bawa koper?


"Apa lagi beb? Katanya tadi udah deal mau beliin." tanya Ajeng menoleh, ia mengeryit heran.


"Kamu tadi bilang mau packing?" tanya Reza menaikkan sebelah alis. Ajeng mengangguk polos.


"Iya."


"Di mekdi anggrek doang pake segala bawa baju ganti? Kamu mau nginep di outlet nya?" tanya Reza tak mengerti. Ajeng berbalik badan kembali menatap suaminya dengan kedua tangan bersidekap dada.


"Lah siapa yang bilang mau beli di deket taman hm?" tanya Ajeng dengan gaya sangarnya. Yang dimaksud dengan mekdi anggrek oleh Reza tadi adalah mekdi yang ada di jalan anggrek, tepat di samping taman.


"Di outlet yang deket sama Farm house Lembang." jawab Ajeng enteng.


"Lembang bukannya Bandung ya?" tanya Reza mulai tak enak dengan feelingnya. Ajeng mengangguk polos.


"Emang iya, dari dulu juga Lembang itu di bandung." jawab Ajeng lumayan nyolot. Mungkin ini syndrom janin dikandungan nya karena Ajeng yang biasanya adalah Ajeng si manja dan kalem. Sangat berbeda dengan Ajeng yang sekarang


"Lah?"


"Aku tuh pengen beli susu khas Farm House beb... Udah lama aku ga kesana sejak kuliah semester 4 lalu. Sekalian kan di samping ada mekdinya." cerocos Ajeng menjelaskan panjang lebar.


"Jadi kamu ini ngidam mekdi atau susu Lembang?" pekik Reza mulai syok dengan ngidam versi Ajeng.


"Dua-duanya lah! Mekdinya buat makan, susunya buat minum." jawab Ajeng lagi-lagi dengan sangat enteng tanpa beban sedikitpun di wajah dan tiap kata yang meluncur mulus dari bibirnya.


'Woah bukan maen nih istri gue ngidamnya! Anak gue masih di perut aja mintanya udah sembarangan ngawur, apalagi nanti kalo udah lahir? Bisa-bisa tuh anak kelakuannya mirip beneran lagi sama gue yang suka semena-mena minta aneh-aneh ke papa sama mama dulu?' batin Reza ngeri membayangkan anaknya nanti yang dicurigai olehnya akan punya sifat bandel dan super nakal seperti dirinya sendiri.


"Papaku kan punya Villa di deket sana, jadi nanti kita bisa nginep." sambung Ajeng lagi. Reza tersadar dari lamunannya.


Masalahnya bukan di jauhnya tempat atau jenis makanan yang Ajeng minta, tapi ini tentang jam 11 malam! Memangnya apa outlet-outlet itu masih buka selarut ini? Apalagi posisi mereka masih di jakarta.


"Terus reuni sama anak-anak besok lusa gimana?" tanya Reza teringat dengan acara reuni.


"Lebay banget sih beb!! Besok sore kita balik kesini lagi lah." sahut Ajeng mendengus malas. Reza bergidik tiba-tiba.


'Buset bawaan anak gue gini banget, Jeje jadi super nyolot gini.' cicit Reza ketar-ketir.


"Oke, kita berangkat sekarang! Tapi mampir kamar mama papa dulu, pamit." finally Reza mengabulkan keinginan istrinya. Ajeng berjingkrak senang.


Ajeng lalu mengecup singkat pipi Reza sebagai ucapan terimakasih.


"Makasih sayang!! Aku packing dulu buat baju ganti kita besok ya... Bye bye!!" pekik Ajeng yang langsung berlari keluar dari ruang kerja Reza. Reza geleng-geleng kepala melihat tingkah Ajeng yang kini berubah lagi jadi seperti anak paud.


"SAYANG HATI-HATI JANGAN LARI-LARI GITU!!"


...****************...


"Bang dua porsi makan sini ya!" pesan Refan melambaikan tangan pada abang-abang kang sate.


"Siap Mas!!"


"Eh satu porsi aja deh bang!!" ralat Izza menolak dipesankan oleh Refan.


"Siap atuh neng!!" sahut abang sate lagi. Izza mengangguk sementara Refan menoleh dengan satu alis terangkat heran.


"Lah kenapa? Kan kamu suka sate?" tanya Refan heran.


"Lagi nggak pengen." jawab Izza menggeleng seperti sedang muak.


'Aneh? Biasanya dia ga pernah nolak tuh yang namanya sate sama ice cream?' batin Refan bingung dengan Izza yang temperamen dan cenderung labil pendiriannya sejak tadi pagi.a


"Terus pengennya apa? Masa iya kamu ngeliatin doang?" tanya Refan lagi. Izza mengangguk santai.


"Iya."


"Serius nih? Ga nyesel kamu ga ikut makan sate?" tanya Refan sekali lagi. Izza mendengus lalu mengangguk.


"Iya sayang!! Aku nggak mau sate kambing, maunya saterusnya sama kamu aja mweheeee." sahut Izza bucin mode on. Refan terkekeh.


"Oke, permintaan akan selalu dikabulkan! anything for my Queen." balas Refan menoel hidung Izza dengan gemas.


Tak berselang lama pun pesanan sate Refan sampai. Izza awalnya tak yakin kalau Refan akan benar-benar memakan makanan yang sangat dibenci oleh dirinya, tapi ternyata Izza salah! Refan melahap tiap tusuknya dengan santai tapi lahap, seolah makanan bertusuk-tusuk itu adalah makanan favoritnya.


'Aneh! Yang biasa suka kan gue, dan yang ga doyan tuh Refan. Ini kenapa jadi kebolak-balik gini dah?' batin Izza geleng-geleng kepala.


Drtt drtt


📞Bang Genta is calling....


"Siapa?" tanya Refan saat Izza menatap layar ponsel. Izza menoleh sejenak.


"Bang genta" jawab Izza apa adanya. Refan mengangguk singkat lalu kembali asyik dengan sate miliknya.


Izza : Iya bang, kenapa? Tumben malam-malam nelpon? Markas ga lagi ada masalah kan?


Genta : Masalahnya bukan di markas, tapi di pemimpinnya!


Izza : Hah? Emang lo ada masalah apa bang? Sama siapa?


Refan langsung menoleh dengan tatapan heran melihat wajah istrinya yang tampak serius membicarakan sesuatu dengan Genta.


Genta : Pemimpin asli, bukan pemimpin pengganti.


Izza : Maksudnya gue?


Genta : Iya! Maksud lo apaan tuh main asal terima Alfahreza Corp? Kamu udah tau siapa CEO nya apa belum?


Izza : Belum tau pasti sih, tapi-


Genta : Terus kenapa main acc?


Izza : Ih abang mah marah-marah mulu yang diduluin! Izza tuh udah bukan si ceroboh kelas kakap lagi. Gue udah tau apa yang gue lakuin.


Genta : Maksudnya?


Izza : Abang nelpon gue terus marah-marah gini pasti karena abang nemuin beberapa fakta mengganjal dari perusahaan itu kan?


Genta : Hm terus?


Izza : Sebelum Andin eh kak Andin bawa surat permohonan itu, gue sama Darrel udah lebih dulu tau seluk beluknya.


Genta : Terus kenapa lo terima?


Izza : Karena gue punya rencana. Dahlah pokoknya bang Genta ga usah terlalu ambil pusing soal ini, selagi gue sama Darrel masih bisa handle. Andin sama lo ga usah bingung.


Genta : Oke kalo gitu, tapi kalo ada apa-apa jangan lupa hubungin gue atau Ilham!


Izza : Iya bawel... Udah dulu ya? Gue lagi di luar nih sama Refan.


Genta : Oke, take care Queen.


Izza : Oke abangku sayang haha.


Tut tut....


"Kenapa Genta?" tanya Refan melahap suapan terakhir dari sate kambingnya. Izza melongo masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Benarkan Refan berhasil menghabiskan sepiring sate yang biasanya sangat ia hindari? Wah!


"Soal Alfahreza Corp."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰