IZZALASKA

IZZALASKA
19. Mertua idaman



"Kita sebenernya mau kemana sih ay?" tanya Izza penasaran. Entah Refan membawanya kemana, yang jelas jalan ini belum pernah ia lewati sebelumnya. Satu arah dengan rumah utama Dirgantara, tapi Refan tidak berbelok masuk di pertigaan tadi.


"Ada deh, kalo aku kasih tau sekarang namanya bukan surprise dong." jawab Refan mengendikkan bahu. Ia terus melajukan mobil hitam nya membelah jalan raya yang lumayan sepi karena ini bukan jam berangkat kerja ataupun sekolah.


"Hufftt sok misterius!!" sindir Izza mendengus malas. Refan tertawa sambil mengacak rambut istrinya gemas. Izza manyun.


"Ihhhh Repaaaaann!! Rambutku jadi berantakan tau!!" omel Izza yang sudah manyun 5 cm. Refan tertawa renyah.


"Bukannya semalem lebih berantakan dari ini ya?" tanya Refan meledek. Izza melotot galak.


"Heh!"


"Ahahahha tapi kalo kamu sih makin berantakan, makin cantik dan seksi kok." celetuk Refan lagi. Cowok itu seolah tak memperdulikan komuk Izza yang sudah memerah antara malu dan sebal karena ucapan Refan yang kelewat frontal.


"Udah deh please, malu aku." gerutu Izza kesal.


"Ngapain malu? Sama suami sendiri juga. Malu nya ga seberapa, tapi nikmatnya ga terkira kan hmm??" tanya Refan makin gencar menggoda Izza.


"Salah! Nikmatnya masih ga seberapa di banding perih nih perih banget!!" sahut Izza menatap Refan tajam. Lagi-lagi cowok itu tertawa sambil sesekali melirik istri dan jalan secara bergantian.


"Itu karena baru pertama kali sayang.... Ntar kalo udah biasa juga ga bakal perih lagi kok! Mau aku bantuin nggak?" jawab Refan menawarkan bantuan. Izza menaikkan sebelah alis.


"Bantuin apa?"


"Bantuin kamu lah biar itu ga perih lagi. Mau ga?" ulang Refan lebih detail. Izza tentu sudah faham arah bicara itu.


"Emang gimana caranya?" tanya Izza polos.


"Nanti malem, besok, besok lusa, setiap hari kita bakar lagi malam panas kita. Biar lama kelamaan kamu terbiasa, jadi ga usah ngerasain perih lagi deh tiap paginya." jawab Refan panjang lebar. sama sekali tak ada wajah berdosa di tampang tengil nya ini. Izza melongo. Jadi ini bantuannya?


"Gimana ay? Enak loh kita tiap malemnya, terus juga rasa perihnya bakal hilang kalo kita rajin terapi ranjang." tanya Refan lagi. Izza menghembuskan nafasnya pasrah. Gini banget ya dapet suami bucin? Ah tidak. Sekarang ada predikat baru yang pantas di sandang Refan, yaitu mes*m!


"Itu sih enaknya di kamu doang, perihnya tetep di aku!" sungut Izza memutar bola matanya malas.


"Ahahaha bukan di aku doang hey, kamu juga semalem ke-ENAK-an tau!! Sampek merem melek ga karuan tuh." elak Refan tersenyum nakal.


"Bohong! Mana ada aku merem melek?" elak Izza balik. Ia agak salting sekarang ini. Entah mengapa saat mengingat malam pertama mereka kemarin, ia jadi malu sendiri.


"Ya kamu mana sadar, kan aku di atas kamu. Jadi aku yang bisa lihat semuanya!!" bantah Refan menang telak.


"Aku juga bisa lihat semuanya kok. Bukan cuma kamu wleeee!!" ucap Izza memeletkan lidah.


"Yaudah iya, emang kita udah buka-bukaan sama-sama tau. Jadi ga perlu di perdebatkan lagi." lerai Refan mengakhiri perdebatan kecil ini.


"Yee dari awal juga kamu yang memulai semuanya. Awal malam kita juga kamu yang mulai, semuanya pokoknya selalu kamu duluan deh." sahut Izza nyerocos santai tanpa beban. Refan lalu ngerem mendadak, ia menghentikan laju mobilnya lalu menghadap ke arah Izza. Izza yang merasa di tatap pun merasa aneh. Ada apa lagi ini?


"Kenapa ngeliatin aku begitu?" tanya Izza agak memundurkan posisi duduknya. Tangan Refan beralih pada sabuk pengaman dan melepaskan nya. Izza menelan ludahnya susah payah, sepertinya akan ada satu kegiatan yang akan segera mereka lakukan.


Dan kecurigaannya benar-benar terjadi! Refan dengan gerakan cepat langsung menarik tengkuk Izza dan memagut bibirnya dengan lembut tapi penuh n*fsu. Izza tak menolak, tapi juga tak terbuai. Ia tidak kehilangan kesadarannya, ia sadar ia dan Refan ada di tepi jalan, tepatnya di depan sebuah gerbang tinggi menjulang dan bukan di kamar mereka. Izza tak membalas, ia hanya mengikuti alur yang di buat Refan saja.


Hingga ciuman itu terlepas, dua pasang mata itu bertemu di satu titik lurus. Refan membelai lembut pipi istrinya.


"Semalem udah lihai banget deh perasaan." sindir Refan. Izza mengerucutkan bibirnya, ia tau kalau suaminya ini sedang menyindir dirinya karena tak membalas ciuman yang ia berikan tadi.


"Ya kan semalem di kamar lah ini di mobil kan?Kelihatan tau dari luar!" jawab Izza menunjuk depan. Refan terkekeh.


"Tenang aja sayang... Kaca mobil aku hitam kok, jadi ga tembus dari luar." elak Refan. Ia hendak maju mencium Izza lagi, tapi Izza melengos sambil mendorong dada bidang suaminya.


"Bisa nanti aja pas di rumah ga? Sekarang kita ke tempat tujuan dulu. Udah kepo aku!!" tanya Izza. Refan mengangguk setuju.


"Oke nanti kita lanjutin pake durasi yang lebih lama di rumah, sekarang yuk turun?!" ajak Refan yang langsung beringsut mundur dan membuka pintu setelah ia melakukan panggilan singkat dengan seseorang di telepon. Izza menarik lengannya.


Bersamaan dengan itu, hanya berselang beberapa detik saja dan pintu gerbang besar nan tinggi itu pun terbuka secara otomatis. Jelas sekali sistem rumah ini telah dilengkapi dengan teknologi canggih.


Refan langsung menyalakan kembali mobil nya dan membawanya masuk ke dalam halaman yang sangat teramat luas.


"Loh kok keluar?" tanya Izza tak mengerti untuk apa suaminya keluar dari mobil.


"Udah sampe. Ini kejutannya." jawab Refan apa adanya. Izza lalu menatap kembali ke arah depannya, dimana ada sebuah bangunan rumah besar nan megah di depannya lengkap dengan kolam di bagian depan pula. Baru saja Izza hendak bersuara, Refan lebih dulu memotongnya.


"Udah kita turun aja dulu!!" suruh Refan. Izza mengangguk. Refan lalu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Izza.


"Auuuu..." pekik Izza saat baru menurunkan sebelah kakinya. Refan langsung gercep duduk jongkok di bawah istrinya.


"Kakimu masih sakit banget ay?" tanya Refan cemas. Izza mengangguk kecil.


"Sakit sih udah ga terlalu, tapi masih perih banget asshh." keluh Izza. Refan jadi menatap Izza melas. Bagaimanapun ini karena ulahnya juga.


"Mau aku gendong?" tawar Refan hendak merentangkan tangan tapi Izza menggeleng cepat.


"Haiss ga usah lah, aku masih bisa jalan tapi ga bisa petakilan kek biasanya."


"Hmm ya udah pelan-pelan aja, nih gandeng!" suruh Refan sambil menyerahkan lengan kirinya untuk istrinya. Izza menyambut uluran tangan itu.


"Biasa jalan pake gaya bar-bar, terus harus jalan pelan dikit-dikit gini rasanya aneh banget sih haha." ucap Izza menertawakan dirinya sendiri.


"Padahal semalem enak loh, tapi malah jadi kek gini." celetuk Izza keceplosan. Refan menoleh cepat dan tertawa.


"Hahahaha tuhkan apa aku bilang tadi! Kamu tuh juga menikmati percintaan kita semalem kan- Emphhh." Refan tak bisa melanjutkan kalimat ledekannya karena Izza buru-buru menyumpal mulutnya dengan tangan.


"Astaghfirullah Refan sumpah ya bar-bar banget si? Nanti di denger sama satpam tuh!!" omel Izza melirik-lirikan matanya pada tiga satpam di dekat pos gerbang utama yang sedang menatap heran ke arah mereka.


Refan langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh istrinya.


"APA YANG KALIAN LIHAT?!!" sentak Refan garang. Ketiga satpam bertubuh kekar itu langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke segala arah karena Refan mengeluarkan aura mengerikannya. Ternyata orang-orang itu adalah anak buah Refan dari Black Snake yang di tugaskan untuk mengamankan rumah nya dan sang istri.


"Dih jadi galak banget, tadi aja menye manja nyaingin Max." cibir Izza meledek. Refan terkekeh lagi saat kembali menatap istrinya yang gemoy dan lucu ini.


"Ya kan beda orang ay... Ya udah yuk kesana?!" ajak Refan menggandeng Izza. Izza baru saja menoleh ke depan dan betapa terkejutnya dia melihat apa yang terpampang di depan matanya ini. Satu kata, Spektakuler!



"Ini rumah siapa?" tanya Izza takjub melihat kemegahan rumah di depannya. Oh ralat! Bagunan besar dengan halaman super luas sepanjang mata memandang ini lebih pantas di sebut dengan mansion. Bahkan rumah utamanya yang sudah sangat besar selama ini, masih kalah saing dengan rumah ini.


"Ini rumah baru kita." jawab Refan enteng. Izza melongo tak percaya.


"Seriously?" pekik Izza tak percaya. Refan mengangguk santai dengan salah satu tangan masuk ke dalam saku celana dan yang satunya lagi merangkul pundak istrinya.


"Anggep aja ini hadiah pernikahan kita sekaligus anniversarry kelima tahun yang kemarin hilang." jawab Refan menatap lurus ke arah mata Izza. Izza tersenyum.


"Thank you beib!!" cicit Izza memeluk erat pinggang suaminya dari samping. Refan pun membalasnya dengan merangkul pundak izza lebih erat.


"Do you feel happy?" tanya Refan. Izza mengangguk.


"Yeah, im so so so happy."


"Deal! Kita nikmatin malam ini di kamar baru kita hihi itung-itung gantinya honey moon deh." jawab Izza membuat Refan tersenyum miring penuh kemenangan.


'Yes! Jatah lancar.' batin Refan bersorak senang. Sepasang pengantin baru itu masih sibuk berpelukan mesra sampai satu suara mengejutkan mereka.


Ekhemmm


"Cieee pengantin baru, nempel buanget!!" sindir seseorang bersuara lembut dengan nada agak meninggi dari arah samping. Refan dan Izza pun menoleh.


"Mama Papa!!" pekik keduanya bersamaan. David dan Alice tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ternyata dua paruh baya itu sudah ada di situ sejak tadi tapi tak disadari oleh Izza maupun Refan.


"Loh mama sama papa udah sampek lama?" tanya Refan.


"Iyalah dari tadi, kalian berdua aja yang sibuk mesra-mesraan ya kan sampek ga nengok kanan kiri." sahut David sewot. Refan tertawa.


"Dih iri? Bilang bos!" jawab Refan kelewat santuy dengan orang tuanya. David geleng-geleng kepala.


Sementara Izza dan Alice berpelukan penuh sayang. Pandangan Izza teralih kepada sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna hitam biru di belakang Alice dan David.


"Widihh papa David beli mobil baru? Cakep dan modis juga ya jiwa mudanya." tanya Izza memekik takjub.


"Kamu ngeledek papa Izza?" tanya David bersidekap dada. Izza terkekeh.


"Hehe dikit sih."


"Nih ambil." ucap David mengulurkan sebuah kunci remote mobil. Izza mengeryit heran.


"Loh?"


"Ini kado pernikahan kamu sama anak papa." ucap David lagi. Izza membulatkan mata.


"Loh kok?"


"Terima aja sayang." suruh Alice. Izza pun menerima uluran kunci dari David dan memeluknya sejenak.


"Hehe makasih, papa kedua yang terbaik!!" cicit Izza berterimakasih. David tersenyum dan mengelus kepala Izza seolah ia sedang bersama anak perempuannya.


"Sama-sama anak gadis papa."



"Mama juga ada buat kamu nih." ucap Alice mengeluarkan satu persatu kotak besar berjumlah tiga dari dalam satu paper bag besar yang ia letakan di bawah karena saking beratnya. Ia pun mengeluarkan satu persatu kotak lalu membukanya dan menunjukkannya pada Izza.



"Ini biru, karena kamu suka warna biru." ucap Alice menyerahkan kotak itu untuk berpindah tangan kepada menantunya. Ia lalu beralih mengambil kotak yang lain di dalam paper bag.



"Yang ini mama beli merah, karena Refan suka warna merah." tunjuk Alice lagi. Ia kembali mengambil kotak lain di dalam paper bag setelah menyerahkan kotak kedua kepada Izza yang tampak sedikit kuwalahan karena dua kotak berukuran besar ini mememuhi kedua tangannya.


"Dan ini yang terakhir." ucap Alice menunjukkan kotak terakhir. Yang ini paling besar!



"Emas putih murni karena mama lebih suka perhiasan warna silver, putih ataupun warna perak." habis! Ya sudah habis. Izza yang kuwalahan pun menyerahkan dua kotak sebelumnya kepada Refan dahulu sebelum menerima kotak yang baru.


"Ini semua buat Izza ma?" tanya Izza melongo. Alice mengangguk.


"Iya dong sayang, ini semua mama beli dari jauh-jauh hari buat menantu mama yang cantik ini!!" jawab Alice memeluk Izza erat.


"Ihh cantik semuanya ma, makasih mama cantik!!" pekik Izza tersenyum bahagia. Ah rasanya beruntung sekali memiliki mertua sebaik Alice dan David. Refan tersenyum lega, selalu tenang dan sejuk tiap melihat interaksi Izza dengan mama nya yang sangat akrab. Wajar sih, mereka sudah kenal sejak 5 tahun kebelakang.


Terimakasih untuk tuhan yang selalu bersama Izza, tak peduli sebesar dan apa saja dosa yang telah ia perbuat sebelumnya.


"Ya udah yuk kita home tour di rumah baru kalian? Mama udah ga sabar nih pengen lihat detail isi rumahnya." ajak Alice tak sabaran. Izza memasukan dulu kotak-kotak perhiasannya ke dalam paper bag yang tadi dengan di bantu oleh Refan.


"Akhhh..." desis Izza yang tiba-tiba kembali merasakan perih di area intinya. Baru saja satu langkah, ia lupa untuk berjalan lebih perlahan dan kecil dari biasanya. Refan langsung menoleh sigap.


"Duh sayang... Pelan-pelan okay? Ga usah gugup." ucap Refan kembali menautkan tangan Izza ke lengannya. Alice dan David yang sudah berjalan di depan mereka pun menoleh.


"Izza kenapa Fan?!" tanya David panik.


"Sayang kamu ga papa?" tanya Alice yang juga panik.


"Eh enggak papa kok ma, tadi Izza salah langkah aja terus terkilir deh hehe." elak Izza ngeles. Refan melipat bibirnya kedalam karena menahan tawa. Ralit malah mengangguk-angguk saja dengan mudahnya percaya.


David yang melihat eskpresi menahan tawa dari Izza pun mengerti apa yang sebenarnya membuat Izza tiba-tiba mendesis kesakitan.


"Oooohhh ularnya semalem salah jalan ya Izza? Aduh Refan kamu gimana sih nyari jalan aja sampek salah gitu. Kasian Izza nya tau!!" omel David. Izza dan Refan sama-sama mendelik kaget. Rupanya David bisa membaca apa yang sedang terjadi. Izza mengalihkan pandangannya salting. Refan? tentu saja membalas tuduhan papanya yang merendahkan harga dirinya sebagai pro player ini.


"Eh ya enggak lah masa iya Refan salah masuk! Ngawur aja si papa, meskipun baru pertama kali tapi skill Refan bisa di adu sama pemain bok-"


"Heh husssttt!!" cicit Izza menutup mulut Refan dengan segera berjinjit.


"Haha bagus deh, kalian berdua semangat ya! Papa tunggu launching perdana penerus keluarga kita dari kalian ya." ucap David dengan tawa menggodanya. Ia lalu menarik tangan Alice yang masih tak mengerti dengan topik ini. Mereka berjalan duluan ke depan karena tak mau mengganggu momen pengantin baru yang masih panas-panasnya.


"Kamu ya astaga sumpah kelewatan bar-bar!!" omel lzza kesal. Refan terkekeh.


"Sorry ay, keceplosan."


"Emang masih sakit banget ya?" tanya Refan berbisik di telinga Izza setelah mama dan papanya lebih dulu berjalan memasuki halaman luas rumah.


"Masih lah! Pake nanya lagi ah." gerutu Izza.


"Aneh banget ya ay?" tanya Refan. Izza menaikkan sebelah alis.


"Hah? Apanya?"


"Kan punyaku yang kejepit, tapi kenapa kamu yang teriak kesakitan sampek sekarang?" tanya Refan ngasal bin ngawur bin ngelantur.


"Hah? Apanya yang kejepit?" tanya Izza cengoh dan polos. Otak nya masih ngebug dan belum connect sampai ke arah 'itu' sampai saat Refan menaik turunkan alis dengan sorot mata memangsa, baru lah ia sadar dan menabok lengan suami nya.


Plak


"Tobat sayang tobat!! Otakku makin ternodai astaga." pekik Izza geleng-geleng. Refan tertawa lalu menggandeng istrinya untuk masuk menjelajahi rumah baru.


"Lagian ngapain juga beli rumah segede ini? Kita kan sama-sama sibuk. Mana ada waktu gabut buat muterin satu rumah?" tanya Izza sambil berjalan bersama sang suami. Refan melirik istrinya dengan tatapan jahil lagi dan lagi. Entah kenapa kadar keusilannya pada Izza jadi makin meninggi sejak tadi pagi.


"Kita kalo gabut ya main panas aja berdua, ngapain juga muterin rumah ini? Enak engga, capek iya."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰