
Drtt drtt
📞Andin is calling...
Izza : Iya ndin ada apa?
Andin : Besok kita ada kunjungan nih ke cabang Bandung.
Izza : Hah? Kok mendadak banget?
Andin : Iya ini soal nya saya baru di kasih tau sama Ardi.
Izza : Di kantor pake lo-gue, giliran nonformal malah pake saya-anda. Otak lo kek nya kebalik deh?
Andin : Hehe moodyan bos, maaf lah!!
Izza : Besok gue ke Bandung sama Ardi dong?
Andin : Iya, besok dia yg jemput. Biar pusat, gue sama Darrel yg urus.
Izza : Oh oke. Bye!!
Tut tut....
"Tidur bos! Besok kerja, belum ada yg nafkahin soal nya haha." ucap Izza bermolong lalu melakukan ritual gesek-gesek kaki sebelum tidur.
...****************...
"Anterin ke apartemen aja Ar!" suruh Izza pada Ardi yg menyetir mobil.
"Loh kenapa? Lo mau tidur di apart?" tanya Ardi langsung panik. Tentu saja panik! Ia di tugaskan oleh Refan untuk membawa Izza pulang sekitar jam 8 malam, dan ini malah di buronan nya minta di antar ke apartemen.
'waduh mamp*s! bisa berabe nih rencana nya Refan' batin Ardi panik.
"Enggak. Gue mau mandi dulu, ga betah gue gerah begini. Lagian juga gue ada tugas kampus yang ketinggalan di rumah utama kok." jawab Izza membuat Ardi menghembuskan nafas nya lega.
"Berarti gue tunggu nih?" tanya Ardi. Izza menggeleng.
"Ga usah! Gue ada mobil kok di sana." jawab Izza enteng sambil mengecek sesuatu di Hp nya.
'Kok tumben Refan nggak nyariin gue?' batin izza berdecak sebal karena tak ada notice whatsapp dari Refan sejak semalam.
"Lah kok bisa? Bukannya udah lama banget ya ga tidur di apart?" tanya Ardi lagi.
"Ya iya sih, cuman kemarin setelah berantem sama Refan. Gue kan kabur tuh ke Bandara, nah gue lupa deh kalo ada mobil satu ketinggalan di basement." jawab Izza apa adanya. Ardi auto geleng-geleng kepala.
"Buset... Orang kaya emang bener-bener sembrono ya? Naroh mobil aja geletakan semua kek naroh uang receh." sahut Ardi heran. Izza tertawa.
"Nggak usah berlebihan monyet!! Orang gue nya biasa aja dih." ucap Izza memukul pelan lengan Ardi di samping nya.
"Jadi nih beneran ga usah di tunggu?" tanya Ardi memastikan. Izza mengangguk yakin.
"Iya!! Tenang aja, gue bisa jaga diri! Jagain orang serumah aja gue bisa brother!!" jawab Izza dengan bangga nya. Ardi hanya manggut-manggut saja.
'Tapi ada bagus nya juga sih, jadi gue bisa duluan otw ke acara nya Refan.' batin Ardi bersyukur tak perlu lari-lari lewat pintu belakang seperti rencana awal yg mengira dirinya akan mengantarkan izza pulang sampai ke rumah.
...****************...
"Assalamualaikum!!" ucap Izza sesaat setelah membuka pintu utama.
Krik krik
"Tumben sepi amat? Gue ga salah masuk rumah kan ya ini?" tanya Izza pada dirinya sendiri. Heran? Tentu saja! Ini adalah kali pertama ia pulang ke rumah dalam keadaan sehening ini. Bahkan kebisingan dari Max, Keponakan nya itu tak terdengar sama sekali.
Dan anehnya lagi, garasi utama nya tadi sudah tertutup rapat seolah ada yg sedang di sembunyikan. Jadilah Izza memarkir mobil nya di depan rumah saja dari pada ia malas memanggil satpam atau bodyguard nya.
"ASSALAMUALAIKUM EPERIBADEH!!!!" teriak Izza melengking. Suara nya bahkan bisa memantul, tapi tetap saja tak ada sahutan sama sekali.
"Ini orang-orang pada kemana sih? Yakali jam 8 udah pada molor?" gerutu izza sebal. Ia lalu memutuskan untuk naik ke kamar atas saja. Daripada bingung, lebih baik tidur saja bukan?
"Wadiddaw!!! Sejak kapan ini tangga ada dandanan nya begini?" pekik Izza kaget melihat dekorasi tangga yg berbeda dari biasa nya.
"Ah paling juga si mama lagi gabut doang, makanya nih tangga di pakein dandanan segala." ucap Izza berpositif thingking.
Tak mau ambil pusing, Izza langsung berjalan naik menapaki satu persatu anak tangga.
"Lah lah apa-apaan nih gelap bener? masa iya papa lupa bayar token listrik?"
"Tapi yg bawah tadi nyala tuh, yakali beda saklar?" tanya Izza nyeleneh.
"Mana gue ga tau lagi tuh mana tombol lampu. Seumur-umur aja gue ga pernah nyalain atau matiin lampu di rumah ini." omel Izza menggerutu. Hari ini, di umur nya yang sudah berkepala dua ini ia baru sadar kalau selama ia hidup ia tak pernah menyalakan atau mematikan lampu. Kecuali di kamar nya sendiri.
Bermodal nekat dan feeling, Izza memutuskan untuk berjalan saja ke depan. Ia mengikuti arah kanan karena tangga lantai dua ada di sebelah kanan. Tapi ada sesuatu yg aneh! Balon? Kenapa bisa Izza menendang sebuah balon? Tekstur nya yg kosong mengembang itu membuat Izza tau benda apa itu meski dalam keadaan gelap.
"Kok ada balon?" tanya Izza makin penasaran ada apa di rumah nya. Baru saja sehari ia meninggalkan rumah, sudah ada aja acara yang tidak di ketahui oleh nya.
Tap
satu bunyi pencetan tombol saja, dan semua lampu gemerlap di ruangan itu menyala.
"SURPRISE!!!" ucap ricuh semua orang. Izza masih sedikit mengerjap karena kaget dengan cahaya lampu yg tiba-tiba menyergap mata nya.
Dekorasi Depan (utama).
Dekorasi samping kanan.
Dekorasi samping kiri.
Izza terbengong saat melihat dekorasi di ruang rumah lantai dua ini. Serba balon indah dan tampak sangat mengangumkan. Apalagi dengan semua keluarga nya serta orang-orang terdekatnya ada juga di sana. Bahkan Ardi! Sejak kapan joki sopir itu ada disini? Baru saja Izza mau buka suara untuk menanyakan ada apa di rumah ini, sebuah lengan kekar berjas rapi itu merangkulnya dari belakang. Reza. Ya, dia adalah Reza.
"HAPPY BIRTHDAY BAD TWINS!!!" Teriak semua orang bersamaan. Ralita dan Ricko ada di barisan paling depan dan tengah dengan sebuah kue indah khusus untuk kedua anak kembarnya. Ralita perlahan berjalan maju menuju ke dua anak kembar kesayangan nya itu dengan kue yang ada di tangan nya.
"Ini acara apaan? Kok pada bilang Happy birthday?" tanya izza polos dengan berbisik pada Reza. Reza melongo lalu sedikit membungkukkan pandangan nya untuk melihat ke arah adik kembar nya.
"Lo lupa ya?" tanya Reza balik. Izza menatap nya cengoh.
"Lupa apaan? 13 Oktober bukan nya masih besok lusa ya?" tanya Izza lagi. Reza menepuk jidat nya sendiri. Bisa-bisa nya Izza lupa dengan tanggal lahir nya sendiri.
"Aduh Refi.... Ulangtahun kita tuh tanggal 11 Oktober dong!! Jangan sampek nanti kalo lo punya anak, lo lupa sama tanggal lahir mereka." omel Reza geleng-geleng kepala. Baru kali ini ia menghadapi masalah separah ini.
Kok ada ya orang yang lupa sama tanggal lahirnya sendiri? BTW Kalo tanggal 13 Oktober itu ulangtahun nya author:'v
"Loh emang iya?" tanya izza polos nyengir kecil. Ia agak merasa bersalah juga karena melupakan tanggal lahir Reza juga. Padahal tanggal lahir Rendy dan Rayhan ia hafal.
"Iya Refi astaga.... Mama papa sama yg lain tuh bikin pesta suprise ini buat kita! Ya meskipun gue udah tau rencana nya dari awal sih." ucap Reza menjelaskan.
"Lah kalo lo tau, berarti bukan surprise dong Ejaa" omel Izza. Bukan nya menikmati surprise mereka, dua kembar ini malah asyik bertengkar sendiri.
"Ya biarin! Pesta kita tahun ini tuh lebih terkhusus di dedikasikan buat elu Repiandraaaaa!!" jawab Reza mendengus malas.
"Lah kok gitu? Harusnya musti adil dong! Kan kita brojol nya berdua?" protes Izza.
"Haisss kalian ini malah bercanda!! Ayo make a wish." potong Ralita menyudahi perdebatan mereka.
Reza dan Izza pun memejamkan mata bersamaan sambil mengucapkan mantra eh, make a wish maksud nya. Setelah nya pun dua kembar itu meniup lilin berbentuk angka 23 bersamaan.
Prok prok prok
"Makin sukses ya sayang nya mama... Panjang umur, sehat selalu!!" ucap Ralita memeluk erat putra putri nya itu. Reza dan Izza mengangguk bersamaan.
"We love you Mom!" ucap Izza dan Reza bersamaan. Sudah 23 tahun, setiap kali mereka ulang tahun pasti dua kembar nakal itu akan mengucapkan hal yg sama berbunyi 'we love you mom'.
"Ekhemmm" deheman Ricko kemudian membuat Ralita menyudahi pelukan nya agar kedua anak nya ini bisa berganti pada papa nya.
"We love you to Dad!" ucap dua kembar itu sambil memeluk erat papa ganteng mereka.
"Sukses terus jagoan-jagoan papa ya! Makin dewasa harus makin bertanggung jawab dan berkualitas!" pesan Ricko mengelus punggung dua anak nya.
kemudian di susul dengan Rendy dan Rayhan yg bergantian memeluk si kembar, dan kakak-kakak ipar mereka juga pasti nya.
Terakhir! Setelah pelukan nya dengan Rayhan terlepas, Izza tiba-tiba manyun. Hal itu pun membuat mereka bertanya-tanya dengan perubahan raut wajah Izza yg sekarang tampak kesal. Padahal sebelumnya, gadis cantik itu tampak sangat bahagia.
"Kenapa?" tanya Reza yg berada di samping nya.
"Iya dek, kenapa?" tanya Marsha yg ada di samping nya. Perut Marsha tampak kian membuncit saat itu, seperti nya ia akan segera menggendong anak sebentar lagi.
"Refan!" ucap Izza singkat dengan kesal.
"Kenapa Refan?" tanya mereka semua tanpa di sengaja.
"Jahat! Kalo hari ini gue beneran ulang tahun, kok dia diem-diem aja? Padahal tahun-tahun sebelumnya dia ga pernah absen ngucapin!!" omel Izza menggerutu. Reza menaikan sebelah alis nya usil, tiba-tiba saja ide jahil nya muncul.
"Lah kan kalian udah putus? Bukan nya elo yg mutusin dia? Terus apa masalahnya?" tanya Reza mengejek. Izza lalu berkacak pinggang sambil memutar tubuh nya untuk menghadap ke arah Reza.
"Lo ngejek gua?" tanya Izza nyolot. Reza mengangguk.
"Bukan ngejek sih, emang kenyataan nya bener kan? Lo sama Refan kan udah jelas-jelas putus, terus ngapain lo ngarepin dia inget heh? Kasian huhu 23 tahun ga ada pacar huuuu." ledek Reza makin menjadi-jadi. sementara yang lain tampak menahan tawa mereka karena ulah Reza yg mengompori Izza seolah Refan tak ingat. Padahal semua acara ini adalah ide Refan, Alice dan Ralita.
Izza kemudian tampak seperti menjelajahi sekitar, melihati satu persatu orang yang hadir. Dan benar saja, ia tak melihat kehadiran Ajeng.
"Ma, Jeje kemana?" tanya Izza pada Ralita.
"Oh jeje ada urusan sama keluarga nya di Singapore. Jadi ga bisa datang." jawab Ralita apa ada nya. Izza tersenyum miring lalu kembali menatap Reza dengan berkacak pinggang. Izza lalu mengibaskan telapak tangan kanan nya di depan wakah Reza.
"HEH NGACA BRADERRRR!! Tuh lo ulang tahun juga ga ada calon istri huuuu." ledek balik Izza. Skakmat! Reza hanya bisa memutar bola mata nya malas karena Izza berhasil menemukan celah kecil untuk membalikkan ejekan dari nya.
"sialan!" gerutu Reza sebal. Izza memeletkan lidah nya dengan tampang usil andalan nya.
Tap
"Eh loh? Listrik nya padam?" tanya Izza kaget karena tiba-tiba lampu nya mati lagi dan menyisakan gelap. Reza kemudian memutar balikkan bahu izza untuk menghadap ke tempat yang sudah di atur oleh Refan.
"tuh!" tunjuk Reza ke depan. Izza memicingkan mata nya tajam.
"R-Refan?!" pekik Izza lirih saat mengenali sosok tinggi tegap yg berdiri di tengah dekorasi dengan lampu sorot khusus di atas kepala nya. Ia tampak memegang sebuah bouquet flower.
"Come on beib!" panggil Refan yg sangat jelas masuk ke dalam telinga izza karena situasi ramai tadi tiba-tiba berubah menjadi hening sepi.
Izza pun perlahan berjalan maju ke arah 'beloved boy' yg tampak tampan dan gagah dengan setelan jas dan jeans navy nya.
"Happy Birthday my beloved woman!" ucap Refan tersenyum tulus di balik remang nya cahaya di sekitar mereka. Izza tersenyum lebar sambil menerima uluran bunga dari Refan.
"Thanks beib." jawab Izza yg logat nya malah jadi seperti anak kecil yg malu-malu karena di berikan hadiah. Refan pun membelai pipi Izza yg merona dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"EMM EMM NYENGIR LU SEKARANG NYENGIR!!!!" celetuk Reza ricuh sendiri. Izza menoleh dan menatap tajam ke arah cowok yg sampai di umur nya yang sekarang itu masih saja rese.
"Diem lu!" ketus Izza sebal.
"Ay!" panggil Refan sambil meraih tangan kiri Izza. Izza pun kembali beralih menatap Refan yg saat ini sedang duduk jongkok di bawah Izza dengan tangan yg menggenggam erat jemari tangan Izza.
"Heh ngapain? Ayo bangun ah!" omel Izza hendak menarik Refan agar bangun, tapi Refan menolak nya dan malah merogoh saku jas nya. Sebuah kotak merah berbentuk 'Love' muncul dari balik jas itu. Izza menaikan sebelah alis nya.
"Apa ini?" tanya Izza. Refan hanya tersenyum, ia melepaskan tangan Izza sejenak lalu membuka kotak merah itu. Dan tadaaaaaa!! sebuah cincin emas cantik dengan taburan berlian biru di sekeliling puncak berlian itu tampak sangat indah dan memukau di antara redup nya lampu.
"Cincin? Buat?" tanya Izza tak peka. Refan kemudian mengambil cincin itu dan meraih kembali tangan halus Izza. sebenarnya Refan sudah menyiapkan cincin cantik itu sejak sebelum putus dengan Izza untuk rencana nya melamar Izza. Dan cincin itu melakukan tugas nya hari ini.
"Special ring for my special woman!" ucap Refan sembari memasukan jemari Izza ke lingkaran cincin yg sudah ia siapkan untuk wanita pilihan hati yang sudah menjadi support system terbaik yg ia miliki selama ini.
"Will you marry me?" tanya Refan serius. Sorot mata nya menajam, tapi justru malah menyiratkan sebuah pinta yg sangat tulus dan sayang di dalam nya. Tak berbeda jauh dari Refan, Izza juga menunduk menatap Refan dengan penuh bahagia! Ah ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Mungkin karena apa yg ia tunggu dan perjuangkan selama ini telah mencapai titik terbaik dalam takdir hidup nya.
Refan, Laki-laki yg telah berhasil membuktikan pada dirinya kalau ia adalah cinta terbaik yg hadir melengkapi rongga-rongga hidup Izza.
Senyum Izza sudah tak bisa ia sembunyikan lagi. Ia tersenyum lebar penuh syukur dan bangga karena Refan telah berhasil mengabulkan syarat yang telah ia tentukan beberapa hari yg lalu. Laki-laki yg ia cintai itu telah menunjukan bukti keseriusan nya. Tak bisa di sangkal lagi, bahkan air mata bahagia Izza sudah tak bisa terbendung lagi. Tetesan air mata haru bercampur bahagia itu lolos dari pelupuk mata nya dan membasahi sebelah pipi.
"hey ay, kok nangis?" tanya Refan panik dan segera berdiri untuk mengusap lelehan air mata kekasih nya.
Izza tak menjawab pertanyaan itu. Ia memilih untuk langsung memeluk tubuh tegap Refan sebagai obat dari segala hal yg ia rasakan. Refan pun mengelus punggung izza dengan lembut untuk memberi nya ketenangan. Jujur saja lelaki itu tak tau alasan apa yg membuat wanitanya menangis. Dia bahagia? Atau malah sedih?
"Yea. I will!" jawab Izza tepat di telinga Refan. Refan langsung melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Izza intens untuk menuntut keseriusan dari ucapan Izza tadi.
"Seriously?" cicit Refan dengan mata yg malah ikut berkaca-kaca. Entah mengapa jiwa gentle Refan jadi melow karena hal ini. Izza mengangguk pasti.
"Yeah! I want to be a part of your life, Beib!" ucap Izza tersenyum Cantik.
Semua orang yang menjadi saksi lamaran Refan kepada Izza itu bersorak gembira dan lega saat pinangan nya di terima langsung oleh Izza.
Pyurrrr
Bersamaan dengan di terima nya Refan sebagai calon suami Izza. Kelopak bunga mawar merah segar menghunjani sepasang kekasih yg sedang menikmati takdir bahagia mereka. Izza mendongak dengan tawa bahagia saat melihat hujan mawar itu turun dari atas lantai tiga.
"Suka nggak?" tanya Refan menggenggam erat kedua tangan Izza. Izza mengangguk.
"Nggak pernah aku sesuka ini, ini kejutan ulang tahun paling bermakna yang pernah kamu kasih beib!" jawab Izza membelai lembut pipi Refan. Refan menghembuskan nafas lega dan bahagia nya karena berhasil membuat ulang tahun izza kali ini jadi yang paling WOW!
Izza memahat tatapan mata indah nya di kedua bola mata Refan. Terpancar sensasi kebahagian tak terkira dari empat bola mata saling cinta itu. Seolah menangkap sebuah kode, tanpa di duga-duga oleh yang lain. Refan langsung mengambil kesempatan tepat itu untuk nyosor.
Bukan lagi kecupan singkat, tapi benar-benar ci*man. Izza tak menolak, ia malah membalas ci*man Refan dengan senang hati. Tangan Izza perlahan menurunkan tangan nya dari pipi Refan dan beralih melingkarkan tangan nya di pinggang ramping Refan. Begitu juga Refan yg tangan nya sudah aktif di tengkuk Izza untuk memperdalam ci*man mereka dengan satu tangan yg lain merengkuh pinggang ramping izza agar tetap dekat dengan nya. Sepasang insan yang sedang di mabuk cinta itu sampai hilang kendali dan lupa dimana tempat mereka saat ini.
Beby langsung refleks menutup kedua mata Max. Sebagai putra tunggal yg ia miliki, Beby tak mau anak kesayangan nya itu dewasa sebelum waktu nya.
Semua orang yang menyaksikan hal itu sontak saja membulatkan mata nya lebar dengan mulut ternganga. Ini adalah kali pertama mereka melihat sepasang kekasih yang tampak seperti balok es di permukaan itu bisa semesra ini. Benar-benar pemandangan langka bagi mereka, tapi berbeda dengan Refan dan Izza yg sudah tak kaget lagi karena ini adalah pemandangan dan perasaan yang sudah berulang kali mereka nikmati bersama.
"EKHEMMMMM!!! TUNGGU HALAL DULU BISA NGGAK SIH WOYYY!!!" Teriak Rendy tak sabaran melihat aksi adik kesayangan nya dan Refan yg tak kunjung berhenti sejak tadi. Rendy sudah menahan dirinya untuk memberi mereka kesempatan bercinta, toh Refan sudah membuktikan cinta serius nya. Tapi mereka berdua sudah melewati batas waktu normal yg di berikan Rendy. Semakin lama di diamkan, semakin lama juga durasi mereka.
Ci*man itu pun terlepas menyisakan raut panik dari kedua belah pihak.
"mamp*s!" lirih Refan dan Izza bersamaan. Mereka sudah satu Feeling soal ini.
"FAN LO MAU REQUEST KUBURAN BENTUK APA NYET?!!" Teriak Reza yang juga sama kesal nya dengan Rendy. Mata elang nya sudah sangat tajam menatap sahabat nya itu.
"LO MINTA BOGEM TANGAN KANAN APA KIRI?? TANGAN GUE UDAH GATEL NIH PENGEN NONJOK ORANG." Sahut Rayhan tak kalah sengit dengan tatapan memangsa nya. Kedua tangan nya sudah sangat gatal melihat tindakan berani Refan itu.
Tiga garda terdepan Izza itu sudah bersiap melancarkan aksi nya untuk membantai Refan yg sudah melampaui batas nya.
Tapi berbeda dengan Ricko dan David yg malah menunjukan rasa terpukau mereka kepada anak-anak nya yang sepertinya sudah sama-sama handal dan tak sabar menunggu hari halal mereka.
"WOW!! Hebat juga anakku ini!!" salut Ricko malah bertepuk tangan. Ekspresi wajah nya sangat bahagia dan bangga, berbanding terbalik dengan ketiga putra nya yg tampak kesal dan marah.
"Pasti di ajarin sama putraku dulu itu Rick!" sahut David ikutan antusias.
Rendy, Rayhan dan Reza menatap tajam ke arah David dan Ricko yg menurut mereka sangat absurd. Bisa-bisa nya bapak-bapak itu malah kegirangan melihat pemandangan ini.
Merasa jadi pusat perhatian dari ketiga cowok itu, Ricko dan David saling pandang lalu menatap ketiga nya dengan polos.
"Kenapa?"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰