
"Ini aku beneran ga boleh ngantor lagi nih?" tanya Izza yang sudah entah keberapa kali. Sejak bangun tidur hingga mereka selesai sarapan, Izza terus saja merengek.
Refan tetap menggeleng.
"Enggak boleh sayang!! Kamu santai-santai aja di rumah oke? Kalo gabut mending langsung streaming boy band kesukaan kamu aja oke?" jawab Refan. Biasanya ia selalu cemburu dan panas kalau Izza melakukan hal itu, tapi kali ini tak masalah asal Izza bisa diam di rumah.
"Huffftt oke! Oke!!!" ketus Izza pasrah. Refan terkekeh lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Makin sayang kalo nurut begini uuuuuuuu." cicit Refan gemas mencubiti kedua pipi istrinya.
'Tapi boong! Habis ini gue mau jalan-jalan ke mall yang dikasih sama mama Alice sambil ngontrol keadaan di sana. Habis gue sampai sana nanti, baru deh gue pamit. Ahahah pasti dibolehin.' batin Izza tersenyum miring.
"Iya. Udah ah sakit tau! Sana ke kantor. Kerja yang rajin, inget ya anak udah ada dua nih!!" usir Izza halus. Refan tertawa, Izza mencium tangan suaminya dan dibalas dengan kecupan di kening oleh Refan.
...****************...
"Astaga ini anak beneran pengen gue kutuk jadi kebo ye!! Udah jam segini masih molor mulu kerjaan." ucap Kevin geleng-geleng kepala. Ia baru saja kembali dari bawah dengan secangkir kopi di tangan.
"Woeh Leonil Alkebo bangun lo!!!" teriak Leon sambil menendang kaki Leon di atas sofa. Leon menggeliat perlahan.
"Nggghhhh paan si Klepon! Berisik lu pagi-pagi." gerutu Leon masih dengan mata terpejam. Kevin tak menghiraukan omelan Leon, ia malah dengan sengaja menduduki perut Leon seolah perut itu adalah sofa empuk.
Uhuk uhuk
Tentu saja Leon terbatuk karena perutnya ditimpa beban seberat Kevin.
Plak plak plak
"Woee brengshake lo ah!! Sesek napas gue woi." semprot Leon menyerang punggung lebar Kevin. Kevin pun berdiri dengan wajah sok polosnya.
"Lah ini elo? Gue kira tumpukan bantal."
"Mata doang yang gede, badan gue segede ini lu kagak bisa liat hah?!!" sembur Leon lagi. Tekanan darahnya sudah melambung naik sepagi ini karena satu atap dengan Kevin.
"Merusak Kamis pagiku!!" ketus Leon lagi.
"Ngoceh mulu! Tuh hp lo bunyi dari tadi!" ucap Kevin mengubah topik. Leon meraba meja di sampingnya untuk meraih iPhonenya.
"Dari tadi?"
"Hm. Sejak gue mau keluar bikin kopi." jawab Kevin polos. Leon melotot.
"Ya terus kenapa ga lo bangunin dari tadi monyet!!" maki Leon kembali naik darah. Kevin menatapnya tak kalah sengit.
"Udah gue bangunin lima puluh kali tapi elu nya budek Simpanse!!!" balasnya ngegas. Leon berdecak sebal.
"Ah tau ah ngambek aja gue!!"
"Ngambekan lu kek cewek. Ribet!!" ketus Kevin.
"Ngimbikin li kik ciwik. Ribit!!" tiru Leon menye.
📞3 missed call from Refan.
"Mana dari Refan pula. Alamat sarapan omelan lagi nih gue." gumam Leon malas. Refan selalu ngoceh tiada henti tiap ia atau Kevin telat mengangkat telepon darinya.
"Ilimit siripin imilin ligi nih gii." tiru Kevin menye seperti yang dilakukan oleh Leon tadi, intinya ia sedang balas dendam.
"Anak ngen!" maki Leon. Ia kemudian menelepon Refan.
📞Calling Refan....
Leon : Hal-
Refan : Lo dari mana aja sih nyet!!
Leon : Dari Hongkong.
Refan : Hah? Serius?
Leon : Iya njir.
Refan : Kok bisa? Kan lo semalem masih di markas?
Leon : Di mimpi maksudnya Fan... Tadi gue mimpi jalan-jalan di sekitaran patung liberty. (ngawur mode on)
Refan : Hah? (sahut Refan ngebug)
Plak
Kevin menggeplak kepala Leon dengan kesal. Emosinya di ujung tanduk mendengar jokes dark Leon.
"Patung liberty itu adanya di New York dong tolol!" maki Kevin dengan tak santainya. Leon mengelus kepalanya, ia sudah duduk berjejer tempat dengan Leon di satu sofa.
Refan : Ahahaha mamp*s! Renyah banget tuh tabokannya sepupu gue.
Leon : Emang jahat banget lo berdua.
"Ya elu g*bloknya sampe ke DNA si. Udah jelas-jelas kalo di Hongkong itu adanya cuma menara eiffel." celetuk Kevin lagi.
Krik krik
"Menara eiffel itu di paris pon klepon!!" ketus Leon balik emosi. Ia menonyor kepala Kevin. Kevin malah nyengir.
Refan : Woi pin kepin!!
Kevin : Apaan Fan?
Refan : Gue kira lo lebih pinter dari Leon, ternyata gue salah. Kalian berdua sama aja, kagak ada warasnya!!
Leon : Udah udah woi cukup!! Fan lo ada apaan nelpon gue?
Refan : Mau kasih tugas lah kadal! Pake nanya polos banget lagi lu. Mana lama amat ngangkat telpon tadi.
Leon : Ya sorry. Namanya juga tidur! Lagian ya kalo udah tau gue ga bisa dihubungin, kenapa ga nelpon Kepin aja hah? Ga punya nomernya lu?
Refan : Kevin juga sama aja kek elu! Hpnya aja malah off dari semalem.
Plak
Leon balas menabok kepala Kevin. Kevin melotot tak terima. Ia memang begitu, suka main tangan ke Leon tapi ga mau di balas.
"Ternyata bener kata Refan, lu sama aja! Punya hp ya di online-in kek jangan dipendem mulu di jaket." sembur Leon galak sementara yang dimarahi hanya memasang tampang datar tak merasa bersalah.
"Dih hp gue, yang beli gue, ya terserah gue!" balas Kevin.
"Terserah lu aje JAMAL!! Capek gue sama lo."
Refan : Berisik woi sialan! Gue lagi di jalan mau ke kantor nih. Sekarang juga lo pada siap-siap buat-
Leon : Buat apa bos? Mau ada penyerangan ya? Siap! Gue suka kekerasan kek gini. (potong Leon bersemangat)
Refan : Bukan itu loh bodoh!
Leon : Ya terus?
Refan : Kalian berdua jemput keluarganya si Doddy. Terus habis itu, Kevin lu langsung berangkat ke kantor gue butuh diskusi sama lo buat nyiapin materi meeting buat nanti siang!
Leon : Sialan gue kena php lagi.
Melihat itu, Kevin merebut hp Leon untuk menanyakan beberapa hal pada Refan.
Kevin : Terus kita bawa kemana? Ga mungkin dibawa ke markas juga kan?
Refan : Nanti gue kasih tau tempatnya kalo lo berdua udah masukin mereka ke mobil.
Kevin : Oke b-
Tut tut tut....
"Refan ga berakhlak!!" maki Kevin kepada sambungan telepon yang sudah terputus.
...****************...
"Ini kita berangkat ke mall yang mana ya bos?" tanya salah satu anak buah Refan yang berkedok sebagai sopir. Izza yang tadinya sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard hp pun mendongak, ia duduk di seat belakang.
"Di AD mall ya." jawab Izza singkat.
"Maksudnya di ZAFAN mall? Mall bu bos besar yang sudah dialihkan ke bu bos kan?" tanya sopir itu lagi. Yang dimaksud 'bu bos besar' olehnya adalah Alice, yap! Sepertinya Izza lupa kalau AD mall sudah berganti nama sejak jatuh ke tangannya.
Izza menepuk jidatnya pelan.
"Oh iya maaf-maaf saya lupa hehe, iya ke sana."
"Baik bos."
"Oh ya, jangan laporan ke bos kamu dulu ya! Biar saya sendiri nanti yang izin ke dia." pesan Izza. Kalau Refan tau ia nekat keluar rumah dari bodyguardnya, ia pasti akan ngamuk nanti.
"Iya bos, siap!!"
Drtt drtt
"Baru juga di chat, langsung nelpo aja si bocahnya." lirih Izza geleng-geleng. Tak basa-basi, ia pun mengangkat teleponnya.
📞Bigboss is calling.....
Izza : Hallo sayang!!
Refan : Maksud isi chatnya tadi apaan hm? Kamu lagi di luar?
Izza : Ehehehe boring parah ay di rumah tuh.... Aku nggak kerja ke kantor kok, cuman mau ke-
Refan : Kemana? Sama siapa heh?
Izza : Mau ke mall yang dari mama, ini dianterin sama sopir kepercayaan kamu!
Refan : Kamu mau shopping? Kenapa ga nunggu aku di rumah dulu si? Kan bisa aku temenin ay.
Izza : Ih apaan si ay ga usah ah, kamu kan juga sibuk. Aku cuma ngecek keadaan doang kok bentar.
Refan : Ya udah oke! Tapi janji habis selesai langsung pulang ya. Sopir suruh nunggu sampai kamu selesai!!
Izza : Iya bawel.
Refan : Ya udah hati-hati babe.
Izza : Oke see you sayang!!
Tut tut tut....
Tak berselang lama pun mobil berplat R 1 ALX telah memasuki parkiran bassement di salah satu mall terbesar di Jakarta.
"Sudah sampai bos."
"Oke, bapak tunggu di sini sampai saya selesai ya? Saya cuma sebentar kok." pesan Izza. Sopirnya mengangguk.
"Siap bu bos!!"
Setelahnya Izza pun pergi meninggalkan bassement menuju ke lantai paling atas, dimana tempat yang ia tuju berada.
"Eh? Emmmm kok gue jadi pengen makan ice cream ya?" ucap Izza bermonolog, ia sudah berada di dalam lift menuju lantai paling atas. Lift khusus tentunya, lift yang punya akses naik ke gedung paling atas.
"Langsung ke atas dulu atau nurutin ngidam dulu nih?"
"Udah nanggung sih tinggal dikit lagi nyampe atas, tapi gue pengen makan ice creamnya sekarang."
"Manager Arin juga udah nunggu dari tadi."
Ting
Pintu lift terbuka, Izza sudah sampai di tempat tujuannya. Tapi ia tak mau keluar karena berubah pikiran.
"Ah bodoamat ah sama kerjaan, yang penting gue ga ngiler dulu!" pungkas Izza langsung menekan tombol lift untuk kembali turun ke lantai dua, dimana stand ice cream banyak bertebaran di sana.
"Gue nge-es dulu habis itu baru bisa kerja!!" monolog Izza. Ia kemudian merogoh tas nya untuk mengabari manager Arin terlebih dahulu.
📞Calling Mngr Arin.....
Izza : Halo Arin?
Arin : Iya bu Izza? Ibu udah ada di sini?
Izza : Sudah tapi saya ada keperluan sebentar di lantai bawah, kamu tetap di ruangan saya ya? Setengah jam lagi saya ke atas.
Arin : Baik bu.
Tut tut.....
"Nah kan udah beres!! Sekarang gue bisa makan ice cream dengan tenang deh." ucap Izza memasukan kembali iPhonenya ke dalam tas. Ia melangkahkan kaki keluar dengan menunduk karena lift sudah terbuka.
"Saatnya meluncur." ucapnya setelah memasukkan iPhone. Ia menepuk-nepuk kecil tasnya masih dalam kondisi menunduk.
Bruk
"Eh eh sorry sorry!!" cicit Izza terkejut karena ia tak sengaja menubruk tubuh seseorang di depannya.
"Eh iya sorry too, are you okay?" tanya orang itu ikutan terkejut dan menangkup kedua pundak Izza karena takut kalau si 'penabrak' nya itu terjatuh.
Izza mengangguk lalu mendongak.
*Deg!
'Kayaknya tuhan emang lagi mainin takdirnya buat kita berdua ya Za? Ini buktinya! Aku bahkan belum sempat nyari kamu hari ini, tapi kamu sendiri yang datang duluan nemuin aku. Tuhan ngirim kamu hanya untukku*!!' ucap laki-laki bertubuh tinggi itu dengan sudut bibir tertarik tipis. Izza mengeryitkan alisnya heran.
'Kenapa dia tersenyum? Siapa dia?' batin Izza heran.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Izza sambil menepis tangan kekar di bahunya. Laki-laki itu lagi-lagi tersenyum tipis penuh arti.
"Jadi kamu lupa sama aku, Refiandra Izza Alexander?"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰