IZZALASKA

IZZALASKA
48. BD siap berulah?



Drtt drtt


📞Ilham is calling....


"Ada apa lagi nih anak?" tanya Izza pada dirinya sendiri. Tak menunggu lama, ia pun mengangkat telepon itu.


Izza : Gimana? Ada apa?


Ilham : Gue sama abang mau ke kantor lo!


Izza : Hah?


Ilham : Lo ga denger? Wifi lemot atau budeg Queen?


Izza : Emang ada apaan?


Ilham : Cerewet! Kita bahas face to face aja. Boleh ke kantor bos besar ga nih?


Izza : Iya iya apaan sih lu pake nanya segala! Biasanya juga keluar masuk sembarangan.


Ilham : Ya kan formalitas.


Izza : Sekarepmu wes. Bye!!


Tut tut tut....


"Alamak pening pula gegara si Mahli. Kemarin udah mumet gegara tragedinya Glen, sekarang biang rusuhnya mau ke sini lagi. Cobaan apa lagi tuhan!!" gerutu Izza menghembuskan nafasnya kasar.


"Amboyyyyyyy penat sangat ku tengok ni!" celetuk suara berat dari arah pintu. Izza yang sedang duduk di sofa sambil memangku laptopnya pun mendongak. Terkejut, terkaget tapi untungnya tidak terjengkang.


"Lah kok udah nyampe?!!" pekik Izza melongo. Ilham nyengir kemudian melebarkan pintu yang ia buka tadi.


"Ya udah lah, tadi pas gue nelpon itu gue udah di dalam lift." jawab Ilham polos tanpa dosa. Izza memutar bola matanya malas.


"Kalo udah di sini terus ngapain pake ijin segala tolol!" sembur Izza sebal. Ilham lagi-lagi hanya nyengir.


"Sekalian mastiin juga kalo lo ada di ruangan lah!" jawab Ilham enteng, cukup sudah! Izza sudah kehabisan akal dan kata untuk merespond laki-laki itu lagi.


Capek!


"Enggak ganggu kan?" tanya Genta to the point. Keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan, tapi perbedaan antara keduanya tampak sangat menonjol. Genta yang datang dengan kharismatiknya, sedangkan Ilham dengan ketengilannya.


Entahlah, sampai sekarang ini masih belum ditemukan ramuan untuk menyembungkan kemiringan otak Ilham. Padahal Ilham yang paling ahli meracik ramuan pembunuh maupun penyembuh, tapi untuk menciptakan penangkal kebodohannya sendiri ia masih gagal.


"Enggak kok bang, kerjaan lagi ga numpuk juga. Kenapa tumben dateng barengan gini? Ga lagi ada masalah kan?" tanya Izza mulai merasa bad feeling. Genta duduk di sebelah Izza sementara Ilham duduk di sofa yang menghadap kearah dua orang itu.


"Ada kabar buruk Queen! Kemarin pas kita rame-rame di sini, ternyata ada musuh masuk." ucap Genta mulai membuka isi topik yang ia bawa hari ini.


"Apa?!! Tapi ga ada yang terluka kan? Orang-orang kita gimana?" pekik Izza kaget. Genta menggeleng.


"Orang kita semuanya aman, ga ada perlawanan. Cuma mereka ninggalin jejak. Sebuah kotak!" jawab Genta, Izza mengeryit tak mengerti.


"Kotak?"


"Iya. Sebenernya aku sama Ilham emang ga seharusnya ngikut campurin kamu ke dalam masalah gangster lagi, t-tapi....."


"Tapi apaan?"


"Tapi kali ini tujuannya spesifik soal kamu, jadi ya menurut abang, kamu atau Refan harus wajib tau soal ini. Karena gimanapun juga ini menyangkut keselamatan kalian pribadi!" jawab Genta dengan satu hembusan nafas panjang.


"Emang apa isi kotaknya? Aku mau liat dong! Bikin penasaran aja heh?" tanya Izza tak sabaran. Genta memang suka kebanyakan teka-teki untuk Izza yang males mikir riweh.


"Ada nih surat!!" celetuk Ilham polos. Ia menodongkan sebuah lipatan kertas itu kepada Izza.


Plak


Genta melemparkan bolpoin dari samping Izza hingga mengenai wajah songong yang kelewat polos itu.


"Kenapa ditunjukin heh!!" semprot Genta. Ilham hanya bisa nyengir. Biasalah!


Izza makin penasaran karenanya, ia pun langsung menyambar kertas di tangan Ilham dengan secepat kilat.


"Apaan sih pake disembunyiin segala!" ucap Izza mulai membuka lipatan surat.


"Dari Bloody Dragon?" tanya Izza mengalihkan pandangannya sebentar kepada dua kakak beradik itu, di pojok surat ada tanda tangan pengirim.


Dari Bloody Dragon, musuh abadi dari Black Diamond Girl dan Blood Wolf.


"Iya. Lebih tepatnya Bloody Dragon dan antek-antek barunya, PSG Group!" jawab Genta apa adanya. Izza meliriknya sebentar kemudian membaca isi suratnya.


'Huffttt kayaknya jalan lurus dan mulus untuk gue sama Refan udah hampir sampai ke ujung deh. Pasti setelah datangnya surat ini, bakal muncul banyak belokan, tikungan dan tanjakan ekstrem lagi! Baru juga tujuh bulan gue sama Refan hidup tenang dan normal, eh ini udah ngajakin war lagi.' batin Izza jengah. Bosan boleh, lelah boleh, ngeluh boleh, tapi jangan nyerah apalagi ngalah! Karena kalah tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada di kamus Izza maupun Refan.


Lagipula jalan ekstrem ini adalah pilihan mereka sendiri, jadi harus enjoy!!


...****************...


"Huffttt akhirnya kelar juga kerjaan gue!!" ucap Refan menghembuskan nafas panjang. Rasanya sangat lega sekali.


"Eh tapi ini masih pagi nih? Baru jam 10 dan semua kerjaan udah kelar aja. Widihh tumben banget gue kerajinan kek gini haha." ledek Refan kepada dirinya sendiri. Kelakuannya ada aja emang!


"Atau gue ke kantornya ayang? Eh jangan deh. Nanti kan gue ada lunch sama pak hermanto, huh ah iya kenapa ga gue vidcall aja? Lumayan charge energi biar ngejreng!"


Setelah berdebat dengan fikirannya, Refan pun berinisiatif untuk langsung mengambil hp nya dan menelepon istri tercintanya itu.


🎥Calling Myworld❤️........


Tut tut tut....


"Dih kok ga aktif? Kemana? Tumben amat Hp dimatiin." ucap Refan heran. Ia masih mencoba menelpon istrinya berulang kali tapi masih juga gagal, tak ada jawaban. Bahkan tak ada nada sambung sama sekali.


"Masa iya Rz Corp kehabisan wifi? Atau lagi ada pemadaman listrik kali ya? Tapi kan ada-"


Tok tok tok


"Siapa tuh berani-beraninya gangguin gue." gerutu Refan kesal.


Kriet


"Holla bosku!!" pekik Kevin dengan segala kehebohannya. Refan menatapnya datar, ia sudah mati rasa dan mati respond terhadap kelakuan Kevin yang seperti ini.


"Prik!"


"Dih?"


"Ada apaan?"


"Wuih to the point amat pak?" cibir Kevin melangkah memasuki ruangan megah itu. Refan berdecak.


"Ketukan lo tadi gangguin gue! Buruan ada apaan, kalo ga penting mending pergi jauh-jauh aja lo dari gue!" sungut Refan tak sabaran.


"Helleh palingan juga lo lagi mau mesra-mesraan sama bos Queen kan? Heran. Ga ada capeknya lu berdua ngebucin mulu!" cibir Kevin rese. Refan memutar bola matanya malas.


"Gue ga lagi mood bercanda Pin, lo ada hal penting apa kagak nih?" tanya Refan hampir melemparkan laptop di mejanya kepada Kevin. Gak deh canda!


"Nih ada surat buat lo baca!" ucap Kevin membalingkan sebuah amplop. Anak buah kurang ajar emang!


Tobat lu Vin!


"Dari siapa? Kalo ga penting kayak yang waktu itu, langsung buang aja deh! Ogah gue ntar malah jadi ribut lagi sama Izza." tanya Refan masih enggan menyentuh amplop kertas itu. Beberapa minggu yang lalu, Refan dan Izza sempat bertengkar kecil karena sebuah surat dari seorang perempuan tak dikenal yang mengaku terang-terangan menyukai Refan. Jadi sudah cukup sekali itu saja! Refan tak mau lagi bertengkar dengan wanita kesayangannya hanya karena sepucuk kertas.


"Astaga emang susah ya kalo udah bucin sampek tulang? Itu surat dari Leon woy!!" pekik Kevin frustasi dengan semua kebucinan ini.


"Lah ngapain dia ngirim surat? Gaptek whatsapp apa gimana?"


"Nah ini dia nih definisi bucin membuatmu kehilangan akal. Elu lagi low connect apa gimana sih pak bos??? Itu surat titipan doang. Katanya itu surat yang kemarin belum sempet lo baca di markas! Bukannya surat cinta dari Leon. Setress kali ah!!" keluh Kevin mengerang frustasi. Refan hanya ber-oh ria tanpa merasa bersalahan. Sangat menyebalkan sekali bukan?


"Terus anaknya mana?" tanya Refan lagi.


"Leon kan belum kawin! Gimana caranya punya anak?" tanya Kevin balik. Refan memutar bola matanya malas.


"Nah ini dia nih definisi iri membuatmu lemot! Maksud gue tuh Leonnya mana, bukannya anak Leon kampret!!"


"Oh itu, dia pergi lagi lah. Katanya ada urusan!"


"Oh."


"Ah oh ah oh!! Dahlah males gue mo balik kontrol ke ruang HRD, samlekom!" keluh Kevin segera pergi keluar dari ruangan CEO yang elite dan megah ini.


Meninggalkan Refan yang tampak ragu menimang-nimang amplop berisi kertas surat berwarna hitam itu. Kemarin ia ingin cepat membukanya, tapi sekarang ia tak yakin. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat hatinya tak tenang.


Surat yang sudah ia ketahui asalnya dari gangster musuh, Bloody Dragon itu membuat perasaan Refan jadi campur aduk tak karuan. Padahal biasanya, apapun masalahnya dan siapapun lawannya, Refan tak pernah mengenal kata was-was apalagi takut. Tapi kenapa di surat misterius yang satu ini, rasanya sangat berbeda! Seolah kali ini, nyali Refan sengaja ditakdirkan menjadi ciut oleh tuhan.


"Feeling gue jadi ga enak."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰