
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Hubungan Refan dan Izza makin lengket sekarang, hampir tak ada kata jauh di antara mereka. Dalam week day, mereka hanya berpisah saat bekerja di kantor masing-masing saja. Karena seperti perjanjian awal, Refan tak boleh melarang Izza bekerja di perusahaannya sendiri kecuali nanti saat Izza hamil besar.
Drtt drtt
📞Bigboss❤️ is calling....
Izza : Halo? Gimana ay?
Refan : Dimana? Aku di ruangan kamu nih.
Izza : Loh kok? Kan masih jam 11, biasanya jam 12?
Refan : Kangen ini ga bisa di tahan sayang!!
Izza : Helleh! Orang juga baru tadi jam 9 kamu mampir kantor buat nemuin aku.
Refan : Sekarang udah kangen lagi tau! Kamu dimana si?
Izza : Meeting di kantor ABM.
Refan : Kantornya Abimana itu?
Izza : Iya, ini sama juga Darrel kok.
Refan : Aku jemput kesana ya? Udah kelar belum?
Izza : Eh enggak usah lah, ini juga aku udah di lift sama Darrel. Otw balik ke kantor!
Darrel : Iya woi Fan panik banget lu! Bini lo udah perjalanan gue bawa pulang nih.
Refan : Bawa pulang kemana heh?
Darrel : Ahahaha ke Rz maksudnya.
Izza : Udah dulu ay, tunggu aja di situ.
Refan : Ya udah hati-hati ya sayang!!
Izza : Iya.
Tut tut tut.....
"Refan emang harusnya mindahin aja tuh gedung RnAs ke samping gedung kita. Biar tenang dia." celetuk Darrel geleng-geleng kepala setelah Izza memutuskan teleponnya bersama sang suami. Izza tertawa.
"Sialan! Jangan sampek lo ngomongin itu ke Refan langsung, bisa-bisa itu saran dipertimbangin beneran loh sama dia haha." jawab Izza, Darrel ikutan tertawa.
"Emang susah deh si bucin satu itu."
...****************...
Refan berdiri di belakang meja CEO. Mata elangnya terpaku pada sebuah figura kecil di atas meja, terpampang jelas foto dirinya bersama Izza saat weeding itu. Izza yang cantik dan anggun dengan gaun putih, dan Refan yang gagah dan tampan dengan setelan jas kemeja senada dengan Izza.
Sudut bibir Refan tertarik ke atas saat mengingat hari-hari yang telah ia lewati berdua bersama Izza sebagai sepasang suami istri. Sangat indah dan berkesan.
"Kalo semua hal di hidup ini bisa di tukar dengan uang atau permata, gue bakal tukarin semuanya kecuali waktu-waktu gue yang terbuang sama istri gue." lirih Refan tersenyum tipis sambil mengelus foto mereka di figura tadi.
"Ekhemm pak bos!!" pekik Andin mengagetkan Refan yang sedang melamun menatap dalam ke arah figura foto, Refan langsung meletakkannya kembali di meja.
"Ndin kebiasaan lu ngagetin mulu." semprot Refan.
"Hehe sorry pak, marah-marah mulu!!" balas Andin tak kalah galak. Andin memang sudah terbiasa dalam hal seperti ini, Refan, Izza, maupun Darrel sudah tak terlalu ia anggap sebagai bos ataupun partner kerja. Tapi lebih seperti teman akrab saja.
"Kalo lo bukan istrinya Genta dan mamanya Glen, udah gue lempar lu ke luar pulau!" ucap Refan malas. Andin tertawa.
"Kalo gitu gue beruntung jadi istrinya Genta, jadi aman ga di lempar ke luar pulau ahahah." balas Andin tak takut sama sekali. Ia malah menganggap Refan bercanda padahal ia tadi serius kaget dan kesal karena ulahnya.
"Ada apaan?"
"Nih nitip ye, berkas buat ditanda tangani sama Izza eh Lexa. Gue mau ke HRD soalnya, ada urusan penting." ucap Andin menyodorkan tumpukan berkas merah kuning di tangan Refan.
"Terimakasih dan good bye!!" ucap Andin langsung nyelonong pergi tanpa menunggu persetujuan Refan terlebih dahulu.
"Emang ga ada akhlak tuh orang!" gerutu Refan malas lalu sembarang menjatuhkan tumpukan itu di meja tanpa melihat ada apa-apa saja di tempat itu.
Prang
"Waduh!! Mamp*s lo Fan!!" pekik Refan menatap nanar ke arah lantai yang kini berceceran pecahan jedai hitam bening kesayangan Izza. Benda itu pecah berkeping-keping karena tak sengaja terpental oleh hempasan berkas tadi.
Baru saja Refan akan mengambil pecahan itu, sebuah suara manja dari ambang pintu lebih dulu memenuhi ruang pikir nya.
"SAYANG!!" pekik Izza yang langsung berlari dan menghambur dalam pelukan sang suami.
"Kangen banget!" ucap Izza saat Refan baru saja akan membuka mulutnya untuk bicara. Refan tertawa.
"Hahaha kamu hafal ay?" tanya Refan. Izza manggut-manggut.
"Tiap hari, bahkan tiap kurang dari dua jam sekali juga kamu selalu bilang gitu!" jawab Izza. Refan menempelkan hidung dan kening mereka dalam satu titik. Ia juga menangkup kedua pipi Izza dengan sangat gemas.
Cups
"Gemesin banget si?!!" cicit Refan setelah menghadiahkan satu kecupan ringan di bibir Izza. Izza terkekeh.
Izza sudah terduduk di atas meja dengan Refan yang berdiri di depannya. Keduanya sudah saling menempel satu sama lain.
"Iya dong, nyonya Alaska emang terkenal cantik dan gemesin wlee!!" jawab Izza menjulurkan lidahnya. Melihat peluang bagus ini, sudut bibir Refan tertarik.
"Eitsss ga usah mulai lagi ya!!" omel Izza yang juga sedikit memundurkan wajahnya dari Refan. Refan cemberut.
"Ishhh kenapa ay? Kan udah halal, ah kamu mah kek belum pernah aja." dengus Refan sebal.
"Aku masih trauma sama kejadian yang di kantor kamu tau!! Nanti kalo Darrel tiba-tiba masuk sama kek Kevin waktu itu gimana coba?" tanya Izza mengingatkan Refan kecolongan mereka waktu itu. Hampir saja Refan dan Izza bercinta di depan Kevin yang asal masuk ruangannya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Saat itu pernikahan Refan dan Izza masih baru berjalan sekitar lima hari dan Izza berada di RnAs Corp, perusahaan suaminya.
-Flashback on-
"Emphhh... Ah...." ******* merdu dari bibir Izza lolos begitu saja saat Refan dengan lihainya menciumi leher putih yang di lingkari oleh kalung permata merah maroon.
Ciuman ringan nan lembut itu makin lama makin menggairahkan, Refan mulai memainkan skill nya dalam menciptakan kiss mark. Ia tersenyum bangga saat tanda kepemilikan merah kebiruan di leher istrinya itu tercipta. Mahakarya yang sangat sempurna!
gigitan kecil dengan jilatan lembut di leher mulus itu membuat Izza kembali mendesah tertahan yang juga makin menyulut gairah seorang Refan Alaska.
Refan kembali menaikan ciumannya ke bibir kenyal yang selalu menjadi sasaran enak terfavoritnya. Lidah mereka berdua saling membelit dan menikmati satu sama lain. Hingga saat kedunya merasa kehabisan oksigen, ciuman itu terlepas. Refan dan Izza berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya. Nafas mereka berantakan tak karuan. Refan mulai tak tahan dengan semua pemanasan ini, ia butuh pelepasan bersama Izza.
"Mau lanjut di sofa ini, atau pindah ke kamar?" bisik Refan sensual di telinga Izza. Tubuh Izza bergetar merinding karena tiupan kecil yang telah berhasil merangsang dirinya dan semakin menyulut gairah.
"Di kamar." jawab Izza dengan senyum cantiknya yang sangat menggoda. Bibir tipis yang tertarik itu membuat Refan mengangguk mengabulkan request sang istri. Tapi sebelum membawa tubuh Izza dalam gendongan, Refan ingin mencium bibir ranum itu sekali lagi.
Refan sudah mendekatkan bibirnya ke tempat berlabuhnya, hanya tinggal jarak satu hembusan nafas saja sebelum benda kenyal itu kembali bersatu.
Cklek
"Fan! Ini ada kiriman dokumen dari- ASTAGA AMPUN GUE SALAH MASUK!!" pekik Kevin membulatkan mata yang saat itu juga langsung buru-buru memutar tubuhnya untuk membelakangi pemandangan super dewasa ini. Kevin langsung menutup kedua matanya dengan tangan saat melihat sepupu dan iparnya yang sedang bercumbu mesra.
'Duh nyesel gue main masuk aja pas ada Izza!! Gimana gue bisa kelupaan gini sih!' cicit Kevin merutuki kebodohannya sendiri.
Tak berbeda jauh dari Kevin, sepasang pengantin baru itu juga sama terkejutnya. Izza refleks mendorong dada Refan dan beringsut duduk gugup di sofa. Refan berdecak kesal.
"Vin lo ga bisa ketuk pintu dulu?" sentak Refan kesal.
"S-sorry bos!! Gue belum terbiasa sama status baru kalian." jawab Kevin tanpa menoleh. Ia masih tremor mengingat apa yang ia lihat tadi.
Refan berdecak.
"Bawa dulu tuh dokumen! Jangan ganggu gue. Jangan masuk ke sini lagi sebelum gue suruh!" ucap Refan mengintruksi. Kevin mengangguk lalu segera pergi dari tempat panas ini. Ah sial! Bayangan tadi terus berputar di otaknya.
"Huffttt." lirih Izza menghela nafas panjang.
"Langsung ke kamar?" tanya Refan kembali menatap istrinya. Izza mengangguk, sudah tak ada lagi kata sungkan ataupun malu di dalam kamus hidup mereka. Hal ini sudah menjadi kebiasaan baru yang tertanam kuat dalam diri masing-masing.
Izza lebih dulu melingkarkan kedua tangannya ke leher Refan yang langsung menggendongnya menuju kamar pribadinya di ruang kantor yang megah dan luas ini.
-Flashback off-
"Ya udah kalo trauma disini, langsung ke kamar aja gimana?" tanya Refan menaik turunkan alisnya. Izza mengangguk lalu celingukan.
"Okay, tapi..."
"Tapi apa hm?" tanya Refan sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya.
"Jedai. Jedaiku kemana ya? Tadi perasaan ada di meja ini deh ay." ucap Izza meraba-raba seluruh permukaan meja. Refan teringat jedai yang tadi ia jatuhkan hingga pecah.
"Buat apa emang?" tanya Refan takut-takut.
"Ya biar nanti ga sumpek dan gerah, rambutku kan panjang." jawab Izza apa adanya. Refan menangkup kedua pipi Izza agar menghadap kepadanya.
"Kalo gitu ga usah di rapiin, aku lebih suka rambut kamu pas berantakan. You look so sexy!!" bisik Refan di telinga Izza. Izza menoleh hingga dua pasang mata itu bertemu di satu garis lurus yang sangat tipis.
"Seriously?"
"Yeah, are you ready beib?" tanya Refan balik. Masa bodohlah untuk jedai itu, ia bisa menggantinya nanti. Yang penting sekarang adalah apa sudah ia ingin sejak tadi segera terpenuhi dulu.
"Always ready for you!" jawab Izza dan ya kalian sudah pasti tau jawabannya bukan? Refan menggendong Izza menuju kamar pribadinya dan proses cocok tanam dalam rangka membudidayakan sumber daya manusia dan perkembangbiakan benih baru dari dua bibit unggul pun di mulai!!
Jeng jeng jeng----
...****************...
"Emang harus sekarang banget ya pa?" tanya Rafael pada David yang sedang mempersiapkan banyak sekali dokumen di meja nya.
"Iya dong Fael.... Adikmu itu kan juga sudah menikah, jadi pembagian herta warisan papa dan mama buat kalian berdua harus segera terealisasikan!" jawab David mantap.
"Iya Fael sayang... Kan udah sesuai dengan perjanjian kita di awal, kalau seluruh harta keluarga kita akan dibagi setelah kamu dan Refan sama-sama menikah. Mama juga kan perlu menurunkan usaha butik, salon, Mall dan rumah sakit mama kepada Stella sama Izza. Mama mau hari ini juga semuanya selesai!" sahut Alice penuh penekanan. Stella hanya diam manggut-manggut saja membahas hal seperti ini. Ia lebih memilih untuk duduk santai sambil mengelus bayi dalam kandungannya yang mulai membesar.
"Terus Refan gimana? Tadi sebelum kesini, Aku mampir ke kantornya Refan terus kata Kevin dia pergi." tanya Rafael lagi.
"Halah pasti dia ada di kantornya Izza. Maklum lah masih anget, baru tiga minggu." jawab Alice santai.
"Coba aja kamu telepon sekarang, suruh dia kesini sekalian sama Izza nya juga!" suruh David. Rafael mengangguk lalu menelepon Refan.
📞Calling Refan.....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Guys! Sambil nunggu BT Season 2 update tiap harinya, kalian juga bisa lah ya mampir ke 2 karya on goingku yang lain🥺 Dijamin ga kalah seru kok!!
- DEVANO
- ALEXAND
Hehe thank you for your support guys!!🥰