
"ASSALAMUALAIKUM!!" teriak izza melengking di antero rumah.
"astaga nih anak, salam ga bisa baik-baik dulu kali ah" omel Rendy yg kebetulan muncul bersama dengan Beby.
"heh kamu juga yang, waalaikumsalam dulu baru ngomel" omel balik Beby. izza malah dengan polos nya menertawakan pertengkaran kecil sepasang suami istri itu.
"AUNTYYYYYY!!!" teriak lagi suara kecil menggemaskan dari arah belakang papa mama mereka, Ya! dia adalah Max. Max kesayangan izza. Max datang berlarian kencang ke arah orang yg selama ini ia cari dengan merentangkan kedua tangan nya, bersiap untuk memeluk.
"mmmm Maxxi nya aunty mwahh" cicit izza merentangkan tangan nya juga dengan posisi duduk agar keponakan kecil nya bisa meraih tinggi badan nya.
sepasang tante dan keponakan itu saling memeluk erat penuh kasih sayang. ya wajar saja, Max adalah keponakan pertama izza dan selalu bersama dengan nya hingga Max umur satu tahun karena setelah Beby melahirkan, ia meminta Rendy untuk tinggal dulu di jakarta.
"oh jadi gitu ya... mentang-mentang udah ada ponakan, abang nya di lupain" sindir Rendy kekanak-kanakan. izza terkekeh lalu melepaskan Max sejenak dari dekapan nya.
"bentar ya sayang, papa kamu iri tuh belum di peluk sama aunty" ucap izza lembut pada Max. Max mengangguk mengerti. disinilah letak perbedaan sifat Max kepada izza dan dengan yg lain. kalau saat bersama aunty atau uncle nya yg lain, Max cenderung rewel dan susah di atur. tapi kalau sudah sama izza? lebih mirip seperti ular sanca dan pawang nya.
"iri mulu bayi gede... aaaa kangen abang juga tapi mmmm" cicit izza dalam pelukan nya bersama Rendy. Rendy mengelus punggung adik nya dengan penuh kasih.
"kamu bohong kan selama ini?" tebak Rendy. izza belum ingin merespond nya, ia memilih untuk memeluk Beby terlebih dahulu.
"miss you kak Beb aaaaa" rengek izza juga di dalam dekapan lembut Beby yg memang dasar nya anak nya kalem dan penuh kasih sayang.
"miss you to dek... are you okay?" tanya Beby. izza mengacungkan jempol.
"kalo enggak oke, aku ga bakal ada disini dong kak" ucap izza terkekeh kecil. Rendy memutar paksa kepala izza yg awal nya menghadap ke arah Beby menjadi ke arah nya secara sempurna.
"heh kamu belum ngaku ke abang!" omel Rendy.
"ngaku apaan si?" tanya izza heran. ia tak tau kalau Rendy baru saja mendapatkan kabar karam nya kapal izza-Refan tadi pagi dari Ardi yg tak sengaja keceplosan saat meeting di kantor milik izza.
"kamu sebenernya enggak lagi bisnis tour kan?" tanya Rendy.
deg!
"mamp*s gue!! kok bang Rendy bisa tau si?" gerutu izza merutuki dirinya sendiri.
"tadi asisten mu ga sengaja keceplosan kalau kamu ke belanda itu cuma buat self healing doang... terus kenapa ga bilang ke abang kalo kalian putus? kan abang bisa bantu dek" ucap Rendy tanpa di duga-duga.
"maksud nya bantu?" tanya izza kurang faham.
"abang bantu Refan buat buktiin ke kamu kalau hubungan kalian bisa terselamatkan lah.... abang itu tau, pasti kamu ga ngasih tau abang karena takut abang marah-marah brutal ke Refan kan?" tanya Rendy. izza mengangguk samar. Rendy tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk pundak izza.
"itu sih dulu sebelum hubungan kalian sejauh ini, Refan udah berhasil kok bikin abang yakin kalau dia emang laki-laki terbaik buat kamu! dan ya, kamu sama dia itu udah gede. jadi ya abang ga akan ikut campur terlalu jauh lagi kek jaman kalian masih SMA dulu... ya intinya, abang udah terlanjur yakin dan percaya sama Refan. abang percaya kalau teori : sejauh apapun kamu pergi, tempat kembalimu adalah dia yg mencintaimu dalam tunggu. itu berlaku buat kamu sama Refan" cerocos Rendy panjang lebar. izza kembali memeluk Rendy dengan erat.
"pokoknya kamu tenang aja, abang selalu dukung apapun keputusan kamu kok! tapi kek nya abang positif thingking kalo kalian pasti bakal balikan lagi, udah sama-sama bucin soal nya haha" ucap Rendy lagi sambil mengacak gemas rambut panjang izza.
"sa ae"
"lah malah becanda nih anak" ucap Rendy memutar bola mata nya malas. izza beringsut melepaskan pelukan nya.
"aunty aunty... ayok jalan-jalan yuk sama uncle efan, Max kangen pengen di beliin ice cream" rengek Max menarik-narik tangan izza dengan gaya sedikit cadel nya.
"emmm uncle Refan nya sibuk sayang.... gimana kalau kita jalan-jalan berdua aja dulu?" jawab izza berbohong. padahal kalau saja izza mau memberitau Refan, cowok itu pastilah akan datang meskipun dirinya sedang sibuk sekalipun. biasalah, si bucin.
"eummm oke deh aunty, tapi besok harus sama uncle juga ya?!" ucap Max lagi.
"iya Maxxi sayang nya aunty.... ya udah yuk ikut ke kamar aunty nggak? aunty mau mandi dulu" ajak izza menawarkan. Max hendak mengangguk tapi di larang oleh Beby.
"haisss Max sayang, kan kamu juga harus mandi dulu dong!!" tutur Beby.
"hehe iya mom, aunty Max juga mau mandi dulu aja deh... nanti Max nyusul ke kamar nya aunty" ucap Max lagi. izza menoel-noel gemas pipi gemoy Max lalu mereka berpisah untuk mandi masing-masing.
...****************...
keesokan pagi nya...
"sialan ngeledekin mulu" gerutu izza memutar bola mata nya malas.
"oh iya tuh ngomong-ngomong... asisten pribadi lo yg baru udah sampek. ada di kasih breifing sama si Ardi" ucap Andin lagi.
"maksud lo Darrel?" tanya izza. Andin mengangguk.
"oh oke"
"ah iya, sama itu semua berkas yg gue tunda sama Ardi karena nunggu tanda tangan lo, udah numpuk semua tuh di meja.. buruan kelarin ye, soalnya gue udah janji hari ini sama semua client nya" ucap Andin lagi.
"iya bawel!!" sungut izza malas. tapi baru saja dua langkah, izza kembali berbalik.
"eh din"
"apa?" tanya Andin mendongak.
"Refan udah kesini?" tanya izza. Andin mengangguk.
"udah tuh kemaren, udah gue kasih tau kemarin... kata nya dia bakal kesini nanti jam 10 setelah meeting di bogor" jawab Andin.
"oh oke"
...****************...
tok tok
"masuk!!" suruh izza entah pada siapa orang yg telah mengetuk pintu ruangan nya. yg jelas, kalau Andin membiarkan orang itu. berarti memang orang itu adalah orang-orang yg punya janji penting dengan nya. sementara izza masih fokus pada tumpukan berkas yg mangantre sejak lima hari yg lalu untuk di tanda tangani.
"se sibuk itu ya?" tanya suara familiar yg berhasil sudah membuat izza mendogak dan mengalihkan pandangan nya dari berkas yg telah membuatnya mengabaikan Darrel, Ardi bahkan Andin sekalipun. sedari tadi izza hanya mengangguk dan menggeleng sebagai jawaban dan tanpa menoleh sedikitpun. tapi saat mendengar suara dari orang yg coba ia hindari selama 5 hari ini muncul, ia langsung balik mengabaikan berkas nya.
"Refan" lirih izza yg seolah terpana dengan gaya karismatik Refan tiap cowok itu memakai setelan jas rapi. aura nya jelas berbeda daripada dulu semasa sekolah. izza selalu seperti jatuh hati berkali-kali di tempat yg sama tiap memandangi Refan.
"baru juga 5 hari ga ketemu, rasanya kamu makin cantik aja ay" lirih Refan tanpa sadar. izza mendengar nya, tapi ia berlagak seolah tak terjadi apa-apa.
"duduk" suruh izza singkat. Refan menurut saja.
"kaku banget sih ay" protes Refan. izza menaikkan sebelah alis nya dengan tampang datar.
'gue pengen tau, sejauh apa sih dia serius pengen merjuangin hubungan karam ini' batin izza mulai menyusun siasat bagaimana cara nya agar Refan bisa membuktikan keseriusan nya kali ini.
"ngapain?" tanya izza.
"hah? ini ya duduk ay" jawab Refan polos. otak nya belum connect. izza mendengus sebal. ini Refan yg memang asli lemot atau karena terlalu lama di tinggal?
"lima hari kemarin ngapain tiap hari ngecek kesini? kan udah di bilangin sama Andin kalo aku ga ada" tanya izza ulang dengan memperjelas pengucapan nya. Refan manggut-manggut mengerti.
"ya mau mastiin aja siapa tau Andin cuma bohong biar aku ga nemuin kamu" jawab Refan enteng apa ada nya.
"terus nemuin aku nggak?" tanya izza lagi. Refan menggeleng.
"hehe enggak ay" jawab Refan.
"ya udah kalo gitu kita sama" sahut izza lagi. Refan mengeryitkan alis nya.
"emang kamu nyari apa? kan justru aku yg bingung nyariin kamu, tanya ke ayah Ricko juga selalu di bilang kamu ga pengen di ganggu" tanya balik Refan. jujur saja ia penasaran dengan apa yg coba di cari oleh perempuan kesayangan nya itu.
"sama kek aku, selama lima hari ini aku juga masih ga bisa nemuin cara buat mendem kenangan kita" jawab izza tercekat. Refan membulatkan mata nya seketika. hati nya sakit mendengar pernyataan izza yg tampak nya serius berasal dari hati terdalam nya.
"k-kamu mau lupain aku ay?" tanya Refan tercekat. entah mengapa, lidah nya terasa sangat berat saat ini. hati nya sakit dan perih, seolah ada benda tajam yg menusuk hati nya yg sedang tak karuan. izza tersenyum tipis dengan tatapan lurus, sudut mata nya mulai berair. tapi ia menggeleng.
"enggak"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰