
"Tadi kenapa?" tanya Izza saat sudah berada di dalam kamarnya bersama Refan. Refan yang sedang melepas sepatunya pun mendongak, menatap sang istri yang juga balik menatapnya sambil melepas jas kerja.
Refan berdecak. Rupanya meskipun tingkat ngambeknya berhasil diredakan oleh Izza karena iming-iming malam jumat tadi, Refan masih tetap menyimpan rasa tidak sukanya terhadap Izza dan Abimana di cafe tadi.
"Masih ga tau salah kamu dimana?" tanya Refan. Izza menggeleng sambil melepas anting emas dan meletakkannya di atas meja rias.
"Enggak. Emang aku ada salah? Kapan?"
"Cafe."
"Aku makan minum doang tadi, sama bahas masalah BDG doang." jawab Izza seadanya.
"Sama siapa coba?"
"Bang Genta."
"Genta doang?" tanya Refan menatap istrinya dengan malas. Izza mengangguk kemudian menggeleng.
"Ah iya tadi ketemu juga sama kak Abi hehe." ralat Izza nyengir.
"Ck. Enak ya reunian sama senior kampus di cafe?" sindir Refan kesal. Izza kemudian berjalan mendekat ke arah Refan, ia duduk disebelah ranjang tempat Refan duduk.
"Jadi kamu cemburu? Kamu masih cemburu dari dulu sampai sekarang?" tanya Izza manggut-manggut. Refan memutar bola matanya malas.
Izza ini memang tidak peka atau cuma ingin menggodanya saja!
"Ya menurut kamu?"
"Astaga sayang!!! Ngapain cemburu si? Aku aja tadi ga sengaja doang ketemu sama dia." ucap Izza geleng-geleng kepala.
"Terus ngapain pake acara pegang-pegangan tangan hah?!" sungut Refan dengan nafas memburu tiba-tiba, pasti karena saking kesalnya.
"Tadi dia kegores pecahan gelas, ya aku tolongin dong." jawab Izza seadanya.
"Ya tapi kan bisa kali minta yang lain aja yang bantu, kenapa harus kamu?" tanya Refan tak mau terima kenyataan. Aneh banget emang kelakuan si bucin satu ini, lagian juga udah kejadian. Percuma ga bakal bisa terulang.
"Ga ada orang lain sayaaaaang... Bang Genta waktu itu juga lagi di toilet, lagian juga itu gegara gelasku. Emang aku ga boleh bantu orang yang aku kenal?"
"Ya boleh! Tapi ga usah kontak fisik juga. Apalagi sama manusia bernama Abi itu. Enggak boleh lagi pokoknya!! Titik." tegas Refan penuh penekanan. Izza menghela nafas panjang, memang dari dulu Refan tidak pernah nyaman ataupun suka tiap kali ia melihat Abi dekat-dekat dengan Izza. Meskipun ia tau kalau kontrak kerja Izza dan Abi hampie mustahil berakhir, karena keuntungan yang mereka berdua dapatkan sangat fantastis. Bukan sembarang nominal.
"Astaga pegang tangan doang dikata kontak fisik?"
"Ya terus apa kalo enggak kontak fisik. Kontaktrol eh kontaktrol eh kontraktor ah apalah itu pokoknya!!"
Izza yang sudah gemas langsung menangkup kedua pipi Refan untuk menghadap lurus kepadanya. Matanya menatap sepasang bola mata hitam Refan dengan sangat dalam.
"Hey dengerin ya!! Cuma pegang tangan aja kamu permasalahin beneran nih?"
"Ya iya lah! Kamu kan punyaku. Cuma punyaku! Yang lain ga boleh ikutan nyentuh kamu." kekeuh Refan merajuk. Persis seperti anak kecil yang tak rela kalau ada orang lain menyentuh mobil-mobilan miliknya.
"Iya aku tau aku punya kamu, tapi ga segitunya juga Refaaaaaan!!" cicit Izza hampir frustasi.
"Aku tadi cuma pengen nolongin dia doang, sumpah ga ada niatan lain!!" sambungnya lagi dengan dua jari peace terangkat.
"Kamu niatnya emang cuma gitu, tapi kamu ga tau kan gimana aslinya Abi? Dia itu suka sama kamu ay. Bisa aja dia baper nanti gegara kamu pegang-pegang tangannya, terus juga dapet perhatian dari kamu." cerocos Refan panjang lebar.
Izza tertawa receh.
"Kamu tuh yang baperan! Dia kan cuma bisa megang tangan aku, yang bisa nguasai semuanya dari aku kan tetep kamu? Apa aja coba yang udah kamu pegang dan milikin? Semuanya kan? Lah ini si Abi cuma aku pegang tangannya doang kamu udah ngamuk-ngamuk kek mau makan orang." celoteh Izza panjang lebar. Mulai keluar deh itu bar-barnya
'Hm iya juga si?' batin Refan.
"Nah udah ya sekarang ngambeknya? Ga usah diperpanjang lagi. Abi cuma sebatas klien dan temen. Karena segalaku, cuma ada di kamu. Aku ulangin! Hanya di kamu!!" pekik Izza menoel hidung mancung Refan di ujung kalimatnya.
Senyum tipis tercetak di bibir Refan. Izza lega karena kesalahpahaman ini selesai. Hubungannya aman!
Cups.
Izza memberi satu hadiah kecupan di sisi kanan bibir Refan. Entah mengapa sisi itu jadi bagian favorit Izza setiap waktu. Refan terpaku sejenak setelah mendapat reward dadakan dari sang istri.
Ia sempat bersimrik nakal sebelum akhirnya melancarkan aksinya malam ini. Malam jumat! Izza sudah membangunkan serigala yang kelaparan akan sunah rasul, dan malam indah panjang penuh kenikmatan pun tejadi diantara keduanya.
...****************...
"Ay." lirih Izza sambil memasangkan dasi berwarna merah maroon Refan. Refan berdehem sambil mengenakan jam tangan.
"Hm?"
"Aku boleh ke kantor ya? Gabut tau di rumah sendirian. Ga enak!" rengek Izza karena Refan melarangnya pergi ke kantor hari ini. Alasannya karena ia tak mau istri dan bayi dalam kandungannya kelelahan, apalagi setelah pertempuran panjang mereka semalam yang sangat-sangat menguras tenaga.
"Enggak boleh! Kamu istirahat aja di rumah, besok baru boleh ke kantor." tolak Refan tetap pada keputusan awalnya tadi.
"Yah terus kerjaan di kantor gimana? Kan Rz Corp butuh pemimpinnya." rengek Izza pantang menyerah.
"Suruh aja Darrel sama Andin ngirim filenya ke email kamu, jadi bisa dikerjain sambil rebahan santuy." jawab Refan enteng. Izza berdecak.
"Yah ay tapi kan ga enak di sini tuh ga enak kalo sendirian. Rumah ini rasanya kek mati, hambar. Kalo ga ada kamu!! Aku kesepian tau, masa iya aku ngomong sama tembok?" cerocos Izza menyeracau karena kekeuh ingin berangkat ke kantor.
"Oh jadi masalahnya cuma karena ga ada aku, terus kamu takut kesepian gitu hm?" tanya Refan membelai lembut pipi istrinya.
Izza mengangguk cepat.
"Iya!"
"Ya udah kalo gitu aku temenin aja di rumah. Gimana? Tiga ronde lagi hm?" tanya Refan menawarkan diri. Ia menaik turunkan alis dengan genitnya. Ya! Kegenitan penuh modus.
Refan hanya tersenyum tipis lalu mencium kening sang istri dengan lembut. Mencurahkan segala rasa cinta dan kasih sayangnya pada wanita terhebat kebanggaannya ini.
"Nah kalo mau nurut dari tadi kan enak sayang!!" ucap Refan berhadapan dengan Izza kemudian ia membungkuk, menjatuhkan pandangannya pada perut Izza yang mulai membuncit.
Refan mengelus-elus perut berisi darah dagingnya, bukti kekuatan cintanya bersama Izza.
"Baby Alaska sayang, kamu jagain mama baik-baik di rumah ya? Papa kerja dulu."
Cups cups cups.
Refan menghujani perut Izza yang terhalang oleh kain dress putih tipis dengan beberapa kecupan lembut. Berusaha menunjukkan kasih sayangnya juga kepada sang anak, meski sepertinya sayang dan cinta Refan kepada calon anaknya itu tak akan sebesar cintanya kepada ibu dari anaknya. Maklum lah, definisi bucin setengah mati.
"Siap papa ganteng!! Baby Alaska siap jagain mama kok, palingan nanti agak oleng dikit doang hihi." sahut Izza menirukan logat anak kecil saat berbicara. Refan tertawa kemudian kembali berdiri tegak.
Greb.
Refan memeluk tubuh istrinya yang makin berisi dengan sangat erat. Refan sepertinya akan telat datang ke kantor karena ia kini malah asyik membenamkan wajahnya di ceruk leher Izza. Menciumi dan mengendus wangi tubuh Izza yang sangat menenangkan. Wangi yang selalu bisa membuat Refan nyaman, dan selalu ingin bergegas pulang ke rumah barunya. Yaitu Izza.
"Sayang kamu banyak banyak!!" cicit Refan dalam dekapannya. Izza tersenyum dengan tangan mengacak-acak kecil rambut Refan.
"Jangan lupa nanti sore kita udah bikin janji ketemu sama kak Marsha!" pesan Izza. Refan kemudian mendongak, menyudahi ketenangan jiwanya di kenyamanan lekuk tubuh istrinya.
"Ah iya hampir aja lupa ay!! Ya udah deh aku berangkat sekarang ya? Semua kerjaan harus selesai sebelum jam tiga sore. Setelah itu aku pulang jemput kamu, dan kita meluncur bersama ke dokter Marsha kepercayaan kita untuk cek jenis kelamin anak kita kan?" sahut Refan antusias. Izza mengangguk.
"Iya."
"Ya udah kalo gitu, aku berangkat ya sayang!!" pamit Refan menyabet jas di tepi ranjang. Setelah menciumi kening, kedua pipi dan memberi kecupan kilas di bibir Izza, Refan pun pergi.
...****************...
"Pokoknya gue ga mau tau ya Vin! Harus ketemu. Gue yakin pasti jatuh pas gue jalan dari bassement sampek atas sini nih." ucap Refan kekeuh. Kevin menghela nafas.
"Gue udah minta satpam, OB OG, bahkan seluruh staff pegawai juga gue suruh ikut nyari gelang item itu sesuai perintah lo Faaan!!! Sabar dulu kenapa si? Baru juga dua puluh menit yang lalu lo ngasih perintah, butuh proses brader!!" pekik Kevin frustasi menghadapi bosnnya yang kelewat ngadi-ngadi bin nyeleneh ini.
Bagaimana Kevin tidak frustasi? Selama dua puluh menit belakangan ini ia terus saja diteror oleh Refan yang tidak sabaran menyuruhnya segera menemukan benda sakti yang sakral itu.
Refan kehilangan gelang hitam berinisial 'i' yang di berikan oleh Izza sejak anniversary pertama mereka, lima tahun yang lalu. Dan masih Refan pakai sampai saat sebelum gelang itu hilang.
Usaha Refan yang harus di acungi jempol dalam perjuangannya mencari gelang hitam berinisial pawangnya itu adalah karena ia sampai rela mempause seluruh kegiatan di kantor. Seluruh orang di kantor, dari OB, Satpam, Staff hingga manager semuanya harus meninggalkan pekerjaan mereka demi untuk mencari gelang yang hilang itu.
Alasannya cuma satu, Refan takut izza ngamuk kalau ia tau gelang pemberiannya dijatuhkan oleh Refan dan hilang. Padahal sampai sekarang pun gelang hitam berinisial 'R' milik Izza masih bertengger manis di pergelangan tangannya.
"Aduhhh bisa mamp*s beneran ini kalau Izza tau gue ngilangin gelang itu." gerutu Refanp mondar-mandir kesana kemari. Kevin menjentikkan jari, mendapatkan sebuah ide yang mungkin saja bisa membantu.
"Ahha gue tau Fan!!"
"Gimana?"
"Lo beli aja gelang yang baru. Gue bisa cari orang buat beliin gelang yang sama." ucap Kevin bersemangat. Refan memutar bola matanya malas.
"Enggak membantu! Izza itu jeniusnya kelewat gabut, semuanya dia bisa mengetahui keganjalannya tau!" sahut Refan benar-benar frustasi saat ini.
"Saran lo barusan ga guna, skip! Ganti tips." omel Refan lagi. Kevin mendengus malas, ikutan kesal.
"KALIAN SEMUA HARUS CARI SAMPAI DAPAT YA!!" teriak Refan tiba-tiba. Ia dan Andre kini berada di loby kantor karena Refan yang sudah tak sabaran ingin segera menemukan gelang nya. Gelangnya memang bernominal murah, tapi segala rasa dan kenangannya ga bisa di beli.
"Kalau tidak ketemu, saya tambah jam lembur kalian bulan ini!!!"
Semua karyawan di lantai loby itu menoleh kemudian mendelik bersamaan. Untuk kesalahan yang jelas datangnya dari Refan, tapi kenapa apesnya kena mereka semua?
Saat tengah sibuk mengomel, Izza datang tiba-tiba.
"Sayang!!" pekik Izza langsung menubruk tubuh tegap suaminya dari belakang. Memeluknya erat.
"Loh kamu ngapain ay?" pekik tanya Refan terkejut. Satu alis Izza terangkat.
"Lah ke kantor suami sendiri emang ga boleh?'" tanya Izza balik. Refan berdecak panik.
"Ya boleh lah, maksudnya kenapa mendadak?" ralat Refan.
"Emang harus selalu izin dulu?"
"Ya enggak gitu juga sih."
"Dari aku masuk bassement bawah sampai di sini, semua orang kelihatan sibuk. Pada ngapain? kek lagi nyari sesuatu? Ada barang kantor yang ilang?" tanya Izza kepo.
'duh mampus gue'
"Emm itu pada nyari-" ucap Refan kaku bersiap bohong. Izza merogoh sesuatu di dalam tas maroon kecil yang ia bawa.
"Ah iya nih aku mau nganterin gelang inisial milik kamu, kayaknya semalem jatuh deh. Aku nemuin di pojok ranjang soalnya." ucap Izza menyodorkan gelang itu. Refan tampak antusias dan mengambil gelangnya. Untung saja tidak hilang.
"Astaga sayang. Aku kira itu hilang tau!! Syukur aja deh enggak ilang." cicit Refan kegirangan. Izza manggut-manggut.
Kevin melongo melihat ini.
"What the f*ck?!! gue udah capek ngelilingin gedung segede ini, dan ternyata jatuhnya di kamar? Wah emang ga tau diri banget si refan!!" pekik Kevin syok. Refan menoleh pada Kevin dan nyengir.
"Sabar!! Hidup emang banyak cobaannya."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰