IZZALASKA

IZZALASKA
57. Belanja rusuh



"Oh jadi gitu ceritanya." ucap Refan manggut-manggut setelah Izza bercerita panjang lebar. Rasa kantuknya hilang seketika karenanya.


"Aku takut ay." cicit Izza memeluk Refan.


"Gimana kalau mimpinya jadi kenyataan? Gimana kalo hal buruk beneran terjadi ke anak-anak kita? Aku ga akan bisa hidup tanpa mereka." sambungnya sedikit terisak. Refan berusaha menenangkan istrinya, mengusap-usap puncak kepalanya dengan halus dan lembut.


"Ssttt jangan mikir aneh-aneh kek gitu ah! Kamu harus rilex demi anak-anak kita oke? Dont panic beib." ucap Refan kalem.


"Tapi gimana kalo-"


"Gimana kalo diem aja tenang, biar aku yang ngurus semuanya. Kamu akan selalu aman dibelakang aku, oke? Ga usah takut. Ga akan ada yang bisa nyentuh kamu selama ada aku!"


"Udah sekarang tidur lagi yuk? Besok katanya mau ngajak ke mall kan? Jadi ngajak belanja kebutuhan baby twins, atau aku suruh orang aja?" tanya Refan merayu Izza agar kembali tertidur dengan damai.


Izza menggeleng kuat.


"Kita kesana sendiri. Ini anak perdana ya, aku mau belanja semua kebutuhannya sendiri!"


"Ya makanya tidur gih."


"Oke." jawab Izza mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum lebar. Sepertinya Refan telah berhasil mengalihkan perhatian Izza dari traumanya pada mimpi buruk tadi.


"Nah pinter banget berlian gue!!" pekik Refan menyusul Izza yang sudah tiduran, ia memeluknya dengan erat dari samping. Sesekali Refan mengelus-elus perut besar sang istri, merasakan respond lucu dari anak-anaknya di dalam sana.


"Baby twins pasti udah ga sabar pengen ketemu sama papanya yang super ganteng ini nih." puji Refan pada dirinya sendiri. Izza meliriknya dengan penuh ledekan.


"Lebih pengen lagi sih ketemu mama cantiknya huuuu."


"Ah ya udah lah sama aja. Kan bibitnya juga dari aku, yang numbuhin jadi gede kamu, berarti kita berdua samain aja lah." jawab Refan mengambil jalan tengah. Izza memasang tampang pasrahnya saja.


"Ay/Ay?" panggil keduanya bersamaan. Mata mereka bertemu.


"Ya udah kamu dulu!" ucap Izza mempersilahkan tempat dan waktu. Tapi Refan menggeleng.


"Nggak ah, kamu aja."


"Manly first!" kekeuh Izza. Akhirnya, untuk yang kesekian kalipun Refan mengangguk nurut.


"Oke, aku dulu. Aku cuma mau nyeloteh doang sih tadi, ga kerasa kan ya calon bayi kita udah umur tujuh bulan lebih?"


"Iya sih emang, ga nyangka waktu kek cepet banget jalannya." jawab Izza setuju. Ia juga merasa kalau waktu berjalan sebegitu cepat.


"Itu berarti umur pernikahan kita udah hampir nyentuh angka delapan bulan, dan itu artinya juga kita udah dibersamakan selama lebih dari lima tahun. Hampir enam tahun! Dan aku harap hubungan kita ini unlimited tanpa batas, SELAMANYA!" ucap Refan menekankan satu kata terakhir.


"Aamiin, aku juga maunya sama kamu terus sepanjang hidupku. Semoga saat ajal itu datang, kita masih bisa saling support ya?" jawab Izza tersenyum tulus. Refan mengacak gemas rambut istrinya.


"Kalo boleh request, aku ga mau mati tanpa kamu. Aku ga mau sendirian, harus sama kamu kemanapun takdir membawaku!" ucap Refan serius. Izza terkekeh.


"Iya, aku selalu doain hubungan ini kebawa sampai kapanpun dan dimanapun. Suatu saat ketika kita sudah puas menikmati masa-masa hidup indah bersama anak cucu kita kelak, setelah itulah kita juga akan mengakhiri semuanya bersama-sama. Insyaallah ya!"


"Aaaa makin sayang banget sama kamu!!" pekik Refan tak bisa menahan diri dari magnet tubuh Izza. Tubuh yang selalu ingin ia peluk meski sekarang tak bisa sedekat dulu, you know lah. Wkwk.


"Mm ay?" panggil Izza setelah mereka saling hening dalam pelukan masing-masing.


"Apa hm?"


"Sayang sama aku kan?" tanya Izza nyeleneh. Refan auto mengangguk.


"Sayang banget malah. Kenapa emang?"


"Masih sanggup dan mau nurutin apapun yang aku mau?" tanya Izza lagi. Dan disinilah feeling Refan mulai tidak baik-baik saja, sepertinya akan ada bumil ngidam lagi.


'Feeling gue ga enak, tapi semoga kali ini ngidamnya agak bener deh.' batin Refan was-was.


"Mau, tapi ga ada embel-embel Korea atau idola kamu itu ya?" jawab Refan request. Izza mengangguk, ini bukan waktunya ia membahas idolnya.


"Enggak akan. Aku udah ikhlasin selingkuhanku wam- eh." cicit Izza keceplosan saat Refan sontak melotot setelah Izza dengan entengnya menyebut idolnya sebagai selingkuhan.


"Maksudnya PCY wamil ay, bercanda doang elah." dalih Izza ngeles. Refan menatapnya datar, sabar ya Fan! Bumil emang kek gitu kelakuannya. Nyebelinnya kelewatan!


"Ya udah mau minta apa?" tanya Refan to the point.


"Pengen makan sate."


"Sate di depan komplek? Aku beliin sekarang kah?" tanya Refan bersemangat. Ia hendak berdiri tapi dicekal kuat oleh Izza.


"Jangan sekarang, besok aja setelah pulang dari mall." larang Izza. Refan mengeryit bingung.


"Lah? Abang-abang sate kan mangkalnya tiap malem ay. Kita besok ke mall kan pagi?"


"Lah yang bilang mau sate punya abang komplek itu siapa heh?"


"Lah emang kamu enggak?" tanya Refan balik. Izza menggeleng.


"Ya terus?"


"Pengen ngerasain sate madura tak iye." jawab Izza memasang puppy eyesnya. Tuh kan bener! Apa kata feeling Refan tadi, pasti ngidamnya ga jauh-jauh dari kata aneh bin nyeleneh.


"S-sate Madura ay?"


"Iya."


"Belinya dimana? Di cabang Tangerang atau Bekasi?" tanya Refan lagi. Izza menggeleng.


"Ya beli di Madura asli dan langsung lah! Kalo beli di Bekasi itu namanya sate Bekasi." protes Izza ngegas. Aneh emang! Tadi nangis, terus senyum-senyum bahagia, eh sekarang udah berubah lagi moodnya.


"Seriusan?!!"


"Iya. Kita siang terbang kan ke sana, sore sampai langsung istirahat dulu di penginapan. Baru deh malamnya kita berburu kuliner khas Madura! Terus besok lusa baru terbang balik ke Jakarta." jelas Izza enteng tanpa beban. Refan tertekan.


'Kenapa ngidamnya enggak milih yang ngelibatin uang tanpa kata 'aneh' gitu sih? Perasaan bini gue selalu ada mulu ide nyelenehnya.' batin Refan pasrah. Mau gimana lagi? Sebagai bucin akut, tak ada yang bisa dilakukan oleh Refan selain menuruti semua permintaan istrinya.


"Mau kan?"


"Ya mau dong!! Besok kita take off jam 2 siang ya? Biar nanti aku suruh Kevin ngatur buat pesawat pribadi kita." jawab Refan siap siaga. Izza tersenyum senang lalu memeluk suaminya dengan posisi menyamping.


"Aaaa thank you sayang!!"


...****************...


"Langsung ke atas?" tanya Refan sambil menggandeng jemari tangan Izza. Izza sedikit mendongak untuk mengangguk.


"Ya iya lah ay, kan tempatnya emang di atas." jawab Izza. Yang dimaksud itu adalah toko perlengkapan bayi. Yap! Kombinasi manusia sultan itu sudah berada di salah satu mall terbesar di Jakarta, bukan mall milik orang tuanya ataupun mertuanya. Izza hanya ingin belanja bebas tanpa ada kata gratis! Katanya ga enak kalo belanja di mall sendiri, ga bisa ngurangin saldo ATM. Definisi bingung cara ngehabisin duit.


Mau heran tapi dia emang Izza, si shultan komplit pake 'H'.


"Ya siapa tau kamu mau nge-ice cream dulu." celetuk Refan santai. Izza auto sumringah.


"Wuaaaaw ide bagus tuh!"


"Jadi mau ice cream dulu?" tawar Refan yang mengira kalau jawabannya adalah iya. Tapi dia salah! Buktinya, Izza malah menggeleng.


'Tumben nolak ice cream? Istri gue sehat kan ya?' batin Refan heran.


Sesampainya di tujuan.


"Ay!" panggil Izza. Refan yang sedang memandang sekitar sambil memegang troli pun menoleh.


"Hm?"


"Bagus ga?" tanya Izza menunjukkan dua buah sepatu berbadan dasar rajut.


"Itu apaan?" tanya Refan mengeryit.


"Kamu ga bisa lihat ini apa? Sepatu ay." jawab Izza balik heran. Refan menghela nafas berat, bukan itu yang ia maksud.


"Iya aku tau itu sepatu, tapi kenapa milih yang itu?" tanya Refan lagi.


"Emang kenapa? Lucu kali ah buat anak kita. Bagus kan?"


"Not good but not bad." jawab Refan manggut-manggut. Izza berdecak.


"Ngomongnya kek ga ikhlas banget si?"


"Aku ikhlas kok."


"Ya udah aku ambil ini ya? Buat baby twins. Oke?"


"Iya. Tapi kenapa ambil dua yang semodel? Kenapa ga nyari yang beda desain aja? Terus itu hitam sama biru? Itu kan warna kesukaanku sama kamu? Masa anak cewek masih bayi udah pake outfit item." tanya Refan setengah protes. Izza menggeleng.


"Kan bukan cuma buat baby girl, buat yg boy juga lah."


"Lah?"


"Ya kan anak kita kembar dua sayang. Yang cowok aku samain warnanya kek kamu, yang cewek ya aku samain sama diriku sendiri. Bener dong jadi hitam sama biru?" tanya Izza balik. Rupanya sengaja memilih dua warna berbeda dalam satu model karena memang ia tujukan kepada dua bayinya nanti.


"Itu buat anak lakik ya juga?"


"Iya. Lucu kan?"


"Nggak ah! Yakali cowok pake sepatu gitu." protes Refan menggeleng tak setuju. Menurutnya, model sepatu ini terlalu lucu untuk seorang laki-laki. Melawan hukum alam di kerajaan Alaska Dirgantara!


"Ya ga papa dong kan lucu tau rajutan begini, ih kamu mah buta model ay!!" cicit Izza balik protes. Refan tetap menggeleng, sama-sama kekeuh. Jiwa sesama anak bungsunya mulai kambuh disaat bersamaan lagi, dasar keras kepala!


"Gak boleh gak! Cari yang lain aja." tolak Refan mentah-mentah.


"Ck. Tap-"


"Udah sayangku.... Kan masih ada banyak model sepatu, kamu bisa cari yang lebih gentle buat bayi cowoknya kan? Kalo buat yang cewek sih oke-oke aja kek gini lucu, tapi kalo buat yang cowok ya harua bener-bener lakik!!" ucap Refan menepuk-nepuk pundak istrinya. Meskipun sebal, Izza mengangguk. Oke fine!


"Ya udah, tapi aku tetep mau ambil dua-duanya." ucap Izza memasukkan dua sepatu comel tadi ke dalam troli. Refan masih mengeryit tak mengerti.


"Yang hitam jadi?"


"Ya jadi lah."


"Buat?"


"Ya buat Izza junior lah!"


"Ay."


"Hm?"


"Aku tau kamu suka warna item, aku juga suka cewek pake outfit serba item, tapi ya jangan diturunin ke anak kita di usia sekecil itu dong? Tampilannya nanti terlalu swag, jadi ga ada lucu-lucu nya dong?" tutur Refan nego. Izza menggeleng.


"Ga papa, sesuai ucapan kamu tadi. Biar LAKIK!!"


'Bar-barnya kumat lagi nih. Anak gue dipaksa swag di usia dini oleh keadaan mamanya yang subhanallah randomnya.' batin Refan ngebug.


"Ya udah iya ga papa, terserah apa kata mamanya aja." jawab Refan mengalah. Kalau ia melanjutkan perdebatan ini terus, maka sampai mall tutup pun mereka tidak akan berhenti. Refan pun memilih untuk mengalihkan pandangannya ke rak sepatu lain, mencari barang yang ia cari.


"Itu kamu celingukan nyari apaan?" tanya Izza mengikuti arah pandang Refan yang loncat kanan, loncat kiri.


"Nyari sepatu futsal." jawab Refan. Izza mengira kalau suaminya ini sedang ngelantur, tapi ternyata salah.


"Kamu ngejokes?"


"No. I'm so seriously!" jawab Refan enteng. Sepertinya dia memang benar-benar serius.


"Sepatu futsal di rak mana sih ay?" tanya Refan kemudian.


"Lah? Kenapa nyari sepatu futsal? Bussines man sekelas kamu, masih bisa mikirin futsal kah? Sejak kapan? Perasaan udah lama banget sejak SMA kamu ga pernah main gituan." pekik Izza memberondong Refan dengan banyak sekali tanya. Refan menggeleng. Siapa juga yang punya waktu untuk hal semacam itu? Kalau ia sedang tidak sibuk kerja sekalipun, Refan akan lebih memilih bermesraan dengan Izza di rumah dari pada harus lari-larian ngejar bola.


Kalo bisa nonton di televisi? Kenapa harus praktek sendiri?


"Bukan buat aku sayang!!"


"Ya terus?"


"Buat anak kita lah."


"Hah?!!" pekik Izza syok. Apa sebenarnya yang ada di otak suaminya ini? Terlalu random untuk di cerna.


'Ku kira aku yang paling payah, ternyata dia lebih parah.' batin Izza geleng-geleng.


"Kan anak kita yang satu cowok ay. Ga salah dong?" tanya Refan santai. Sama sekali tak terlihat raut wajah bersalah ataupun berdosa di ekspresi tengilnya ini.


"Ya emang ga salah ay, tapi waktunya ga bener juga dong! Ya kali baru lahir udah main futsal." jawab Izza menghela nafas panjang.


"Ah iya sekalian rak sepatu basket juga dong! Tuh lapangan belakang biar ada manfaatnya nanti. Bosen juga aku main cuma sama Ujang and the geng." tambah Refan lagi. Masalah sepatu futsal belum selesai, sekarang udah nambah lagi.


Izza memutar bola matanya malas. Ketidakwarasan macam apa ini?


"Ga sekalian nyari pistol sama samurai aja ay? Biar lahiran nanti bisa langsung di latih di markas. Buat nerusin kita, gimana?" tanya Izza yang ikut ngawur. Niatnya untuk nyindir Refan, tapi malah masuk lubang sendiri dianya.


"Nah ide bagus tuh ay!! Ah pinter banget sih istriku." cicit Refan bangga. Ia mengecup kening istrinya singkat.


Cups.


"Kalo nyari senjata gitu sih bukan di sini tempatnya, aku sama kamu kan udah ada langganan penyelundup dari luar negeri. Nanti biar kusuruh Kevin pesan senjata baru ya!" ucap Refan masih ngeyel. Izza menepuk jidat sampai geleng-geleng pasrah.


"Ah tau ah bisa sinting aku!!" ketus Izza kesal. Wanuta itu langsung berjalan maju begitu saja tanpa menoleh atau mengajak suaminya.


"Eh eh ay mau kemana??" tanya Refan protes karena ia ditinggalkan, padahal sepatu futsal atau sepatu basket yang ia cari belum ketemu. Izza menoleh sejenak, bersiap berteriak mengeluarkan jawaban super sebalnya.


"Nyari gawang bola sama ring!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰