IZZALASKA

IZZALASKA
33. Anak pungut



📞Calling Bang Rey....


Rayhan : Apaan? Gw masih meeting.


Reza : Bang cepet pulang bang!!


Rayhan : Apaan sih lu berisik kek jangkrik.


Reza : Arshaka kejepit woi!! Anak lo nangis nih kakinya parah banget.


Rayhan : HAH SERIUS?!!


Reza : Duarius malah! Buruan.


Rayhan : Oke oke gue pulang sekarang.


Tut tut...


"Pftt ahahahahhaha."


"Kenapa Re? Sakit?" tanya Marsha heran. Kalau kalian berfikir Reza tadi berbohong? Salah! Tapi kalau kalian pikir ia jujur? Tidak benar juga.


Karena Faktanya memang kaki Arshaka tadi terjepit, terjepit oleh kedua tangan kekar Reza yang gemas ingin menggigit pipi gemoy dari keponakannya itu. Arshaka kini jadi cucu tunggal di rumah megah ini karena Max sudah diboyong kembali ke London oleh Rendy dan Beby.


"Enggak kak, lucu doang." jawab Reza menggeleng.


"Sayang, nih kopi kamu." ucap Ajeng yang baru saja kembali mendekat ke ruang keluarga, dimana ada Reza, Marsha dan Arshaka di sana.


...****************...


Drtt drtt


"Siapa? Kok ga di angkat?" tanya Refan heran melirik istrinya yang tampak gelisah menimang-nimang benda pipih yang berdering sejak tadi.


"Dari... Abimana, boleh aku angkat ga si ay?" tanya Izza takut kalau Refan ngamuk. Refan mengangguk, kondisi hatinya sedang sangat stabil hari ini karena kabar menggembirakan itu. Mereka saat ini sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah utama Alexander.


"Boleh, angkat aja."


Tersambung.


Izza : Halo kak Abi?


Abimana : Hai Izza. Besok ke kantor kan? Tadi aku datang ke kantor kamu, tapi kata Andin kamu lagi cuti sakit. Sakit apa?


"Buset nanya udah kek kereta aja." lirih Izza geleng-geleng. Refan melirik istrinya sekilas lalu mengendikkan bahunya acuh dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Toh ia percaya dengan Izza, tak ada yang perlu di khawatirkan dari istrinya itu. Refan memang yakin istrinya itu setia, tapi ia juga tetap waspada dalam diamnya karena laki-laki rese di luaran sana pun banyak yang tetap mengincar Izza meski wanita itu sudah jelas-jelas menyandang gelar istri orang.


Izza : Besok ke kantor kok, ga sakit apa-apa cuma meriang doang.


"Meriang-nya bisa sampek bikin hamil ya ay?" celetuk Refan jahil. Izza mendelik sebal.


Abimana : Itu suara siapa?


Refan : Gue suaminya! Kenapa? Mau ngomong juga sama gue.


Abimana : Oh pak Refan.


Refan : Panggil Refan aja, anak gue belum launching perdana soalnya.


"Haiss udah udah ah ngawur kamu ay!" cicit Izza protes. Ia mendorong Refan agar menjauh dari Hp nya.


Izza : Emmm kak Abi, besok aja lanjut bahas proyek langsung di kantor aja ya? Ini aku ada urusan soalnya.


Abimana : Oh oke.


Tut tut....


"Ember banget astaga... Orang lain mah ga perlu tau ini ay." pekik Izza geleng-geleng kepala. Refan hanya bisa tertawa.


"Biar dia tau rasanya dipukul mundur sama keadaan sayang!!! Gemes banget aku tuh, dari sejak kuliah sampek sekarang masih aja ngejar kamu. Padahal dia kan juga datang tuh pas pernikahan kita." cerocos Refan tanpa henti. Izza menghela nafas pasrah, si calon bapak ini memang bisa jadi si cerewet di saat kepepet seperti ini.


Drtt drtt


📞Bang Genta is calling....


"Bang Genta." potong Izza sebelum Refan melempar pertanyaan untuknya. Refan manggut-manggut.


Izza : Halo bang?


Genta : Dimana?


Izza : Lagi di jalan sama Refan, kenapa emang?


Tanya Izza ragu, Refan ikut menoleh.


Genta : Hati-hati ya?


Izza : Lah emang kenapa bang? Gangster lagi ada gesrek?


Genta : Gue sama Ilham memprediksi bakal ada musuh datang.


Izza : Lo atasin berdua sama Ilham bisa kan bang? Sorry banget gue ga bisa ikut turun tangan langsung selama sembilan sampai sepuluh tahun ke depan.


Genta : Loh kenapa? Lama banget hiatus?


Izza : Gue lagi hamil anak Refan nih, kan ga mungkin gue bisa-


Genta : Hah? Kamu hamil Queen?


Izza : Iya abangkuuuuu.


Genta : Arghh selamat datang calon penerus Black Diamond Girl. Generasi baru udah siap serang nih!


Izza : Ahhaha bisa aja.


Genta : Kalo gitu ga usah ke markas deh. Cari aman aja! Kamu pantau dari rumah aja, biar aku sama Ilham yang kirim info terus. Jaga calon ponakan gue baik-baik!! The next leader BDG harus dipastikan keamanan dan keselamatannya.


Izza : Iya bawel.


Genta : Ya udah Queen, see you.


Izza : See you abang ganteng.


Tut tut....


'Demi anak gue, gue harus bisa kontrol diri sama emosi gue biar ga come back ke dunia bawah dulu. BDG mungkin butuh gue, tapi BDG juga udah punya bang Genta sama Ilham. Sedangkan anak gue ini? Dia cuma punya gue. Selama dia masih di dalam kandungan, cuma gue yang bisa jagain dia.'


"Kenapa? Genta kek heboh banget." tanya Refan kepo.


"Mau dapet penerus BDG, girangnya kebangetan." jawab Izza.


"Loh loh anak pertama ya di BW dulu lah ay. Kan lahirnya duluan BW ketimbang BDG." protes Refan.


"Tergantung yang ngelahirin dong!"


"Ya ga bisa dong."


"Bisa dong!"


"Nggak bisa ay."


"Bisa sayang!!"


"Ya udah bismillah kembar dua aja biar kita ga usah rebutan." pungkas Refan mengakhiri perdebatan ini.


"Deal!!"


...****************...


"ASSALAMUALAIKUM!!" pekik Rayhan ngos-ngosan saat memasuki ruang keluarga. Semua orang menoleh, ada Reza, Ajeng, Ricko dan Arshaka di gendongan Ajeng.


"Kamu kenapa Rey? Aneh gitu." tanya Ricko heran. Ajeng sama herannya dengan Ricko, beda dengan Reza yang sudah menduga hal ini.


"Shaka mana? Masih sakit?" pekik Rayhan langsung menghampiri Ajeng yang menggendong anaknya. Heran. Kenapa bukan Marsha yang mendampingi putranya?


"Terus Marsha mana?" tanya Rayhan lagi.


"Kak Marsha ikut mama masak-masak di dapur bang." jawab Ajeng. Baru saja Rayhan buka mulut lagi, Marsha muncul di balik tembok dengan sendok di tangannya.


"Loh kamu udah pulang sayang?" tanya Marsha.


"Kok kamu malah masak sih? Kan Shakanya lagi sakit." tanya Rayhan balik. Nafasnya masih tersenggal karena panik ditambah lagi dengan Marsha yang malah sibuk dengan dapur.


"Hah apanya yang sakit?" tanya Marsha lagi. Rayhan berdecak.


"Kaki Shaka lah."


"Enggak kok. Shaka aman kan ya Je?" tanya Marsha pada Ajeng. Ajeng mengangguk.


"Iya kak, Shaka anteng baik-baik aja dari tadi." jawab Ajeng membenarkan.


"Lah bukannya kakinya Shaka kejepit pintu ya?" tanya Rayhan polos.


Pfftt


Reza mati-matian menahan tawa.


"Kata siapa? Orang Arshaka masih tidur dari habis aku mandiin sampek sekarang juga dia belum bangun." jawab Marsha menggeleng. Rayhan berfikir sebentar, oh sial! Jadi Reza membodohinya tadi.


"Dihoaxin siapa bang?" tanya Ajeng yang sepertinya tau kalau suaminya ada di balik semua ini.


"Kerjaan suami lo nih!" jawab Rayhan melempar sebuah bantal sofa ke arah Reza. Jebol sudah pertahanannya! Reza tertawa ngakak.


"Ahahahhah apaan kok gue?" tanya Reza sok bego padahal jelas-jelas dia sudah tertawa paling puas.


"Elu tadi yang nelpon gue bangs*t!!" sentak Rayhan kesal.


Tuk


"Ada Shaka. Ngomongnya di jaga!"omel Marsha mengetokkan sendok besinya ke kepala Rayhan. Rayhan nyengir. Dasar bapak berdosa!


"Maaf sayang." setelah itu Marsha kembali ke dapur. Ajeng memang dilarang oleh Ralita karena menantunya ini sedang mengandung, jadi Ralita meminta Ajeng untuk menjaga Shaka saja. Biar Marsha yang membantunya memasak bersama asisten rumah yang lain.


"Inget Re, dendam gue belum selesai!" ucap Rayhan sengit. Reza tertawa lagi.


"Ya elu yang aneh bang! Gampang banget dibegoin. Udah jelas-jelas Arshaka belum bisa jalan, terus gimana ceritanya tuh kaki nangkring di pintu coba?" tanya Reza heran dengan pemikiran kecil kakaknya itu.


"Lo yang sialan! Namanya panik ya mana sempet mikir tolol!!" semprot Rayhan masih nyolot.


"Lagian ya siapa suruh lo ngatain gue berisik kek jangkrik, ya udah sekalian aja gue kerjain balik."


"Ah tau ah."


"Sudah udah! Rayhan kamu lebih baik mandi gih terus ke sini lagi buat acara." lerai Ricko.


"Acara apaan pa?"


"Syukuran kecil-kecilan, nyambut kehadiran calon ponakan kamu yang baru lagi." jawab Ricko. Satu alis Rayhan terangkat. Siapa? Bukannya syukuran untuk Ajeng dan calon bayinya sudah dilakukan sekitar seminggu yang lalu?


"Siapa? Jeje kan udah." tanya Rayhan lagi.


"Banyak cincong nih anak." gerutu Reza mencibir. Rayhan menatapnya tajam.


"Izza Rey... Adik kesayanganmu itu juga bakal ngasih keturunan baru buat kita semua." jawab Ricko cepat sebelum Rayhan dan Reza ribut lagi. Sebenarnya menempatkan Rayhan Reza dalam satu atap adalah sebuah kesalahan karena bisa memancing emosi dan ketulian pada telinga. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh Ricko dan Ralita hanyalah Shaka cucunya, Marsha, Ajeng dan calon bayi Ajeng saja. Mereka berdua sudah pusing tujuh keliling terus berurusan dengan dua anak kandungnya yang super rese itu. Tapi ya sudahlah, udah jadi takdir.


Kalau kalian bingung kenapa ada dua putra di rumah Alexander, itu karena ada dua faktor. Faktor pertama adalah Shaka yang masih kecil dan butuh asuhan penuh sementara Marsha sudah kembali sibuk pada dunia kedokterannya, Ralita yang sudah memutuskan pensiun dari dokterlah yang kini menjaga Shaka. Sebenarnya Marsha harusnya tinggal di rumah Andrean karena ia adalah anak tunggal, Rayhan dan kedua orang tuanya pun setuju dengan keputusan itu. Tapi karena kedua orang tua Marsha masih sama-sama sibuk di dunia kerjanya, maka dari itu Marsha dan Rayhan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ini sampai Shaka berumur beberapa bulan lagi dan semoga saat itu, mamanya Marsha sudah siap resign dari perusahaan dan bisa menjaga cucunya.


Dan alasan kedua mengapa Ralita juga masih menahan Marsha dan Shaka adalah karena bayi Ajeng dan Reza belum lahir. Setidaknya harus ada satu cucu di rumahnya agar terlihat hidup. Ralita tak mau rumahnya sepi, si sulung dan si bontot sudah keluar dari rumah. Hanya tinggal mereka saja.


"Gercep juga si kadal."


"Oke, Rey mandi sekarang!!" pekik Rayhan langsung ngibrit lari ke atas setelah menyempatkan diri untuk mencium Shaka putranya terlebih dulu.


nx


...****************...


Tok tok


"Eh non Izza sama den Refan, selamat malam. Silahkan masuk non, den, Nyonya sama tuan dan yang lain sudah menunggu." ucap Bi Inah, ART dengan rekor kerja terlama di rumah Alexander. Sejak Izza dan Reza lahir.




"Loh ditunggu bi?" tanya Izza. Bi Inah mengangguk.


"Iya non, silahkan masuk ya non. Saya masih ada pekerjaan di luar." jawab Bi Inah sopan lalu mengundurkan diri keluar dari rumah menuju pekarangan depan. Karena memang tadi ia berniat keluar rumah, dan malah bertepatan dengan dua majikan mudanya.


"Kok di tunggu ay? Papa sama Mama belum kamu kasih tau kan?" tanya Izza curiga.


"Perasaan gue ga enak nih." lirih Refan panik.


"Heh?! Kamu kasih ember beneran kan?" desak Izza hampir ngamuk. Refan menggeleng cepat.


"Enggak ay, sumpah aku ga kasih tau mama sama ayah!!" ucap Refan setengah panik mengacungkan dua jari peace nya.


"Udahlah ayok masuk dulu!!" ajak Refan merangkul istri emasnya ini untuk masuk ke dalam rumah megah itu.


"Assalamualaikum." ucap Refan saat memasuki ruang keluarga. Seperti biasa, selalu ramai di ruangan depan televisi layar lebar itu tiap jam makan malam. Semua orang menoleh, Ralita langsung berlari menghampiri putri kesayangannya itu.


"Aaaaa sayangnya mama!!" pekik Ralita memeluk erat Izza. Izza membalas pelukan hangat itu. Tadi sudah lebih dulu Refan menyalimi tangan mertuanya.


"Gimana kabar kamu sama calon cucunya mama hm?" tanya Ralita beralih mengusap perut Izza yang masih relatif rata. Izza mengerutkan kening, tapi mengangguk sebagai jawaban mamanya tadi. Oh sial. Ternyata beritanya sudah bocor!


"Fan tos dulu dong sama ayah!!" pekik Ricko menghampiri menantunya. Refan terkekeh lalu tos ala cowok-cowok gentle bersama sang mertua.


"Makasih ya Fan udah ngasih the next keturunan buat Alexander sama Dirgantara!!" ucap Ricko menepuk-nepuk pundak Refan. Refan mengangguk.


"So pasti dong Ayah."


"Lah kok udah pada tau si? Kan aku belum ngasih tau?" potong Izza keheranan sendiri. Ricko


"Reza yang ngasih tau papa sama mama."


"Lah kok Reza udah tau aja?"


"Di kasih tau sama Refan!" jawab Reza menunjuk Refan yang melotot. Reza takut di semprot sendirian oleh Izza, jadi ia mencari tumbal kesengsaraan. Izza menyoroti wajah suaminya dengan tatapan sebal, siap menikam kapan saja.


"Heh tapi kan gue udah bilang buat lu diem nyet!!" semprot Refan tak terima dipakai tameng oleh kakak ipar sialannya itu.


"Reza pasti yang emberay, aku enggak ikut-ikutan ah." ucap Refan beralih pada istrinya. Izza kemudian memutar pandangannya pada Reza dengan sangat tajam.


Kembaran minus akhlak itu kini meringis nyengir dengan dua jari peace yang terangkat.


"Hehe sorry ref!"


"Ah Eja elu mah dari dulu ga seru lu! Ngerusakin surprise gue mulu kerjaan lu mah." gerutu Izza sebal. Ingin sekali ia menarik telinga Reza dengan keras kalau saja ia tidak sedang hamil. Takut karma!


"Udah udah ga usah berantem. Mau kamu surprise ataupun kita udah tau lebih dulu, ini tetep kabar bahagia kok sayang." lerai Ralita kembali memasukan Izza pada dekapan hangatnya. Izza menghela nafas pasrah, udah terjadi!


"Kadal mesir!! Yowww mamen! Topcer juga lu ye." puji Rayhan menghampiri sang adik ipar. Dua manusia itu berpelukan layaknya seorang laki-laki, bertiga deh sama Reza juga ikut nimbrung.


"Biasalah gue kan jagoan!!" jawab Refan sombong. Reza menjitak pelan kepala manusia songong itu.


"Banyak gaya mulu anj*ng!"


"Aaaa jeje anak kita nanti bakal jadi satu angkatan ini sih fix! Sesuai dengan harapan ngawur kita waktu itu." ucap Izza menghampiri Ajeng yang duduk di sofa dengan Shaka di gendongannya. Ajeng memeluk Izza dengan salah satu tangannya.


"Aaaa terwujud dong!! Mana sepupuan lagi tuh." ucap Ajeng kegirangan.


"Ini Shaka, kak Marsha nya kemana?" tanya Izza.


"Yuhuu kak Marsha cantik di sini." celetuk suara lembut keibuan dari belakang mereka. Marsha baru saja kembali dari toilet.


"Sekali lagi selamat ya adik cantik." ucap Marsha mencubit pipi Izza. Izza terkekeh.


"WOE BOCIL!!" pekik Rayhan tepat di telinga Izza. Izza terjingkat kaget.


Plak


Bukan Izza yang menggeplak Rayhan, tapi Refan.


"Istri gue lagi hamil woy sembarangan nih abang satu." omel Refan.


"Simbiringin nih ibing siti, bac*t lo anj*ng ah!!" semprot Rayhan menye.


Plak


Satu lagi tabokan keras mendarat empuk di lengan Rayhan. Kali ini pelakunya adalah Marsha, istrinya sendiri.


"Ada Shaka, ucapannya astaghfirullah banget!!" keluh Marsha hampir saja menikam Rayhan kalau saja ia tidak mager. Rayhan terkekeh.


"Gegara elu nih!" omel Rayhan pada Refan yang mengendikkan bahu acuh.


"Woy Bocil!" panggil Rayhan lagi. Izza menoleh.


"Apaan sih abang tuwir. Kenapa? Lo kangen sama gua? Peluk aja sini." ucap Izza merentangkan tangannya. Rayhan bergidik ngeri lalu menonyor pelan jidat adiknya.


"Ga usah GR! Cuma mau bilang selamat atas tumbuhnya hasil cocok tanam elu sama Refan. Berarti lu beneran udah ga perawan nih haha." ucap Rayhan setengah meledek. Yang lain tertawa selain Izza yang merasa abangnya ini terkena gangguan saraf di bagian otak.


"Yee sinting lu bang!" ketus Izza kembali membalikkan badannya menghadap Shaka yang kini sudah berada di gendongan Marsha. Izza membelakangi Rayhan, tapi tiba-tiba sepasang tangan kekar milik abang keduanya itu merengkuhnya erat dari belakang. Rayhan meletakkan dagunya di atas pundak kiri Izza.


"Kangen sama bocil huuu." ucap Rayhan. Izza terkikik kecil.


"Sudah ku duga!"


"Dih?"


"Karena gue emang ngangenin haha."


Cups


"Elu cakep gini cil, kok bisa nyantol sama laki model kadal kek Refan sih?" tanya Rayhan setelah mencium pipi Izza. Izza tertawa kecil lalu menoel hidung Rayhan dengan salah satu tangannya.


"Ngawur!! Laki gue cakep gitu dibilang mirip kadal, mirip biawak kali tuh baru pantes haha." sahut Izza yang malah makin membully suaminya sendiri. Refan berdehem.


Ekhem


"Bisa-bisanya ghibahin suami sendiri, sama abangnya pula." sindir Refan. Izza dan Rayhan tertawa, begitupun yang lain.


"Eh eh woy lepasin woy udah bubar!!" pekik Refan menarik paksa Rayhan yang tampak sangat nyaman sekali melingkarkan tangannya di leher Izza. Rayhan mendengus malas.


"Songong lu mentang-mentang udah jadi suaminya! Baru juga dua bulan behh belum aja lu gue telen sampek habis." semprot Rayhan.


"bilim iji li gii tilin simpik hibis." sahut Refan menye menjiplak kalimat terakhir Rayhan.


"Eh jangan deh bang, kasian anaknya Refi entar." celetuk Reza. Refan dan Rayhan menoleh.


"Hah?"


"Kok bisa?"


"Tau ah males ngomong sama orang low connection! Mending gue sama kembaran gue aja." ucap Reza menyebalkan. Refan dan Rayhan hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Calon ponakan gue uah berapa usia Ref?" tanya Reza.


"Lima."


"Hah? Lima apaan?" tanya Reza lagi.


"Lima tahun!" jawab Izza ngasal. Reza menatap kembarannya dengan datar.


"Ga lucu mbak!"


"Gue juga ga lagi ngelucu."


"Izza....."


"Reza...."


"Refiandraaaa."


"Rafiandraaaa."


"Ah elu mah gitu Ref ga seru!" sungut Reza sebal.


"Lah emangnya lu pikir lu seru?" sahut Izza tak kalah menyebalkan.


"Ah tau ah pusing gue!!" gerutu Reza kesal dan langsung kembali berdiri dari sofa.


"Lima minggu Za?" tanya Ajeng mendekat. Izza mengangguk dengan mudahnya.


"Iya Je, lima minggu. Selisih dua minggu kan ya sama lo?" tanya Izza balik. Ajeng mengangguk.


"Ini sih fix anak kita nanti bakalan satu geng lagi kek kita dulu haha."


"Jawab tuh jawab!! Giliran Jeje aja yang nanya dia langsung jawabnya serius, giliran gue aja diumetin mulu!! Kembaran lo tuh gue atau Jeje si?" cibir Reza bersungut-sungut.


Izza memutar bola matanya jengah.


"Diem lo anak pungut!"


"Ahhahahah."


Gelak tawa langsung pecah saat Izza dengan santainya mengatai kembarannya sekejam itu. Bahkan Ralita dan Ricko ikut terbahak-bahak melihat wajah kesal Reza. Wkwk emang dasar keluarga minus akhlak semua.


"Eh kalian berdua menginap malam ini kan?" tanya Ricko.


"Iya Ayah." jawab Refan.


"Kalo gitu ayo makan malam dulu yuk sayang! Mama sama kak Marsha, Jeje juga tadi udah nyiapin semuanya khusus buat kamu sama Refan." ajak Ralita merangkul putri semata wayang dan menantunya yang sudah lama tak menginap di rumah ini.


"Abangmu udah tau apa belum?" tanya Ralita pada kedua orang yang berada di gandengan tangannya. Keduanya mengangguk.


"Udah kok Ma, tadi Izza sama Refan usah video call-an sama bang Rendy." jawab Izza. Ralita manggut-manggut.


"Terus David sama Alice gimana Fan? Mereka masih di London kan?" tanya Ricko nyahut. Refan mengangguk.


"Iya Yah, mama sama papa baru bisa pulang besok lusa. Tapi tadi aku sama Izza udah ngabarin lewat video call sama Rafael juga bertiga." jawab Refan sejelas mungkin. Ricko manggut-manggut.


"Lima dong ay! Aku sama mama ga di hitung?" sela Izza. Refan tertawa.


"Maksudnya kan tiga nomor yang kesambung, lima orang yang terhubung. Gitu sayangku!!" jawab Refan menbenarkan. Izza manggut-manggut saja.


"Giti siyingki. Hallah!!" cibir Reza menye.


"BUCIN emang susah BUCIN!!" semprot Rayhan ikutan. Refan melet.


"Iri mulu lu duo anak pungut!!"


Bukan Refan yang nyemprot, tapi Izza. Memangnya siapa lagi yang bisa semena-mena mengatai, membully, dan menjatuhkan abang-abangnya dengan seenak jidat tanpa takut di balas kalau bukan Izza. Ya, si putri semata wayang keturunan Alexander itu memang adalah penguasa dari segalanya, segala hal. Izza masih jadi penguasa pemegang tahta tertinggi di keluarga Alexander, menantu kesayangan di keluarga Dirgantara, dan semakin sempurna karena Izza telah menjadi Queen of Alaska. Istri kesayangan tuan muda yang tampan, berwibawa dan super bucin, Refan Alaska dirgantara.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰