IZZALASKA

IZZALASKA
52. Krik krik



Drtt drtt


"Nuning nuning ada telpon masuk, nyonya!!" ucap Refan menyenggol lengan istrinya. Benda pipih di atas meja itu menyala terang karena notice yang masuk. Izza hanya menoleh sekilas saja, ia masih sibuk dengan ice cream rasa mangga di tangannya. Ice cream berbentuk stik yang baru saja dibelikan oleh Refan di minimarket dekat kompleks.


"Ay?"


"Hm?" sahut Izza masih asyik dengan dunianya sendiri. Ice cream manis bercampur masam itu berhasil menyita seluruh perhatian Izza.


Drtt drtt


Benda pipih itu kembali menyala disertai deringan keras.


"Ay itu handphone-mu bunyi heyyyy... Ada notice!" seru Refan menggoyang-goyangkan lengan Izza. Izza berdecak, Refan ini sangat menganggu!!


"Ishh apaan si ay... Ganggu mulu ih!" sungut Izza menggerutu sebal. Refan menunjuk iPhone Izza di meja.


"Itu bunyi loh astaga!!"


"Males ngangkat! Aku sibuk nih." tolak Izza sambil mengacungkan ice cream nya pada Refan. Refan melongo datar, hanya makan dan disebut dengan sibuk?


"Terus kalo itu telepon penting gimana?" tanya Refan.


"Ya udah kalo gitu kamu aja yang ngangkat." suruh Izza santai, masih menikmati setiap sensasi dari rasa manis dan masam itu.


"Untung aja sayang." lirih Refan geleng-geleng. Meskipun mengeluh, tapi ia tetap mengangkat telepon itu.


📞Ejaaa is calling.....


"Dari kembara kembar nakal ay." ucap Refan menunjukkan layar monitor itu. Izza mengangguk acuh, ice creamnya lebih menarik perhatiannya.


"Ya udah angkat aja!" suruh Izza enteng. Refan mengangguk, suaminya penurut ya bund? Wkwk.


Refan : Apaan?


Reza : Heh dugong! Mana kembaran gue.


Refan : Dia ogah ngomong sama lo! Ice cream mangga lebih menggoda.


Reza : Hah?


Refan : Hah heh hoh!!


Reza : Dih?


Refan : Ada apaan nyet? Ntar biar gue sampein. Istri gue lagi sibuk ngemilin ice crem nih! Gue aja dicuekin dari tadi.


Refan cepu! Mengadu, tapi ia salah orang. Reza saja tak peduli. Wkwk.


Reza : Bodoamat sama nasib lu HAHA!!


Refan : Bocah prik!


Reza : Yodah deh gue ngomong sama lo aja. Kan kalian sama aja! Gue besok mau-


"Siniin ay!" serobot Izza merebut paksa iPhonenya. Refan agak kaget tapi membiarkannya saja, kan memang itu bukan iPhone miliknya. Ia membiarkan istrinya ngoceh bersama kembarannya, sementara Refan memilih untuk mencari saluran televisi yang bagus.


Dan ketemu! Ada liga bola dengan idola andalannya sebagai pemainnya, Ronaldo.


Izza : Ada apaan Ja?


Reza : Lah Refan mana?


Izza : Jadinya ini lo nyari gue atau Refan?


Reza : Lah tadi kan sama Refan?


Izza : Tau gitu telpon di dia aja dih jangan di gue!


Reza : Lah kok ngamok?!!


Izza : KRIK KRIK.


Reza : Prik prik.


Izza : Hnggggggg.


Reza : Kalo kita ketemu di satu titik waktu gini, kita jadi aneh ya Ref? Gilanya keliatan banget.


Izza : Kita? Lo aja kali, gue sih enggak. Dih!!


Reza : Pengen gue ceburin ke amazon!


Izza : Aaaa takut!!


Reza : Ah udah udah skip! Lanjut besok lagi aja. Soalnya besok gue mau-


Izza : Mau apaan lo? Nyari kentang MCD? Nitip dong!! Bawain dua ya ke rumah.


Reza : Dengerin dulu b*ngke! Makanan mulu isi tuh otak.


Izza : Hehe oke lanjut!


Reza : Gue besok mau ke sana, sama Jeje.


Izza : Ngapain?


Reza : Emang ga boleh? Laknat amat!


Izza : Gue cuma nanya ngapain! Pinter dikit ngapa?


Reza : Ngomong dong! Ga ada perlu apa-apa sih, cuma Jeje tiba-tiba pengen ghibah katanya. Sama sahabat terdekatnya, ya siapa lagi kalo bukan lo?


Izza : Oh.


Reza : Dih? Panjang lebar gini cuma OH doang?


Izza : Ya kalo mau ke sini langsung datang aja sih! Pake izin segala. Lu pikir rumah gue punya sistem kek istana presiden?


Reza : Malah lebih ketat ga si? Dua ketua gangster yang menyeramkan haha.


Izza : Dih?


Reza : Lo enggak ngantor kan?


Izza : Enggak. Gue udah ambil cuti!


Reza : Oh.


Izza : Dahlah bye!! Besok hati-hati lo di jalan bawa calon ponakan gue.


Reza : Iya baw-


Tut tut....


"Besok Reza sama Jeje mau ke sini." ucap Izza setelah memutus sambungan telepon. Ia meletakkan kembali iPhonenya di atas meja.


"Kamu ga usah ngantor ya? Masa kamu tega jadiin aku obat nyamuk di rumah sendiri." sambung Izza lagi. Merasa aneh karena tak ada sahutan sama sekali, Izza pun mendongakkan pandangannya. Tampak Refan sangat fokus pada layar televisi super besar yang terpampang di tembok itu.


"Ay kamu denger ga si?"


"YAK YAK MAJU WOYY HIYAAKK ARGHHH TOLOL! Gue bantuin nendang juga tuh bola ah." teriak Refan heboh. Ga nyambung sama cerocosan Izza sejak tadi.


Krik krik


"Sialan gue dikacangin!!" umpat Izza mendengus sebal. Barulah ia tersadar kalau Refan sedang menonton idolanya bermain bola.


"Ay?" panggil Izza.


Satu.


"Ayang?" panggil nya lagi. Refan masih belum bergeming, tapi Izza masih bisa menahan jiwa psikopatnya.


Dua.


"Ay?"


"Sayang?"


Empat. Dan cukup!


"REFAN ALASKAAAAAAAAA!!" pekik Izza melengking panjang tepat di sebelah telinga Refan. Fokus Refan langsung terkoyak tak karuan, ia memekik kaget.


"Eh bujubuset! Ada apa heh ngagetin tau!"


"Bola virtual teros yang diliatin fokus dari tadi, ga dikasih jatah di real life ntar nangis!" semprot Izza kesal. Refan panik dan memutar posisi duduknya yang awalnya menghadap ke depan, jadi menghadap lurus ke arah istri di sampingnya.


"Dih? Kok marah? Jangan bawa-bawa gituan juga dong ay. Bercandanya jadi garing ah, ga lucu!" protes Refan mengedip-ngedipkan bola matanya. Sok imut agar Izza luluh, tapi percuma sih. Udah terlanjur membatu soalnya.


"Ya terserah aku lah. Emangnya siapa yang lagi bercanda heh?" sahut Izza menye, bodoamat. Ia menggeser tubuhnya agak menjauh, tapi Refan juga dengan gercep langsung mepet lagi.


"Kenapa hm? Emang tadi kamu manggil berulang kali ya? Kalo iya, berarti aku ga denger. Maaf aihh!" ucap Refan mencolek dagu Izza dengan genit.


Gak mempan! Bumil udah terlanjur ngambek.


Krik krik


"Kok diem si ay?" tanya Refan, masih garing.


"Jawab dongggggggg." rengeknya seperti bocil yang minta jajan.


"Merasa selalu dicintai, diperhatikan, dan dinomorsatukan itu ternyata ga menjamin kita menjadi dunianya ya. Ga pernah ngelirik cewek lain sih, tapi giliran udah ketemu bola aja ceweknya dianggurin, didiemin, DI-DUAIN TEROSSSSSS!!" sindir Izza tanpa melirik suaminya sama sekali. Refan sampai berjingkat mendengar ucapan di kata terakhir, aura pembunuhnya keluar!


"Lagian aneh! Sekelas Ronaldo sama Messi yang kaya aset dan harta tujuh turunan kek gitu, masih aja mau capek-capek ngerebutin satu bola! Perkara bola aja direbutin sampek mau jatuh bangun. Beli sendiri-sendiri emang ga bisa apa? Gue beliin juga nih satu-satu. Biar ga pada rebutan!!" cerocos Izza mengomel.


Mon maap mba Queen Izza yang terhormat, tapi enggak gitu juga mba konsepnya!!


Oke, Refan mengerti! Izza sedang ngambek karena ia terlalu asyik dengan siaran televisi yang sedang menayangkan club idolanya.


"Ngambek?" tanya Refan. Izza masih menatap lurus ke depan, tak menoleh sedikitpun.


"Ga."


"Iya deh maaf, aku udah lama loh ga nonton bola. Maaflah jadi keasikan tadi ay." jawaban ngeles Refan ini sontak membuat Izza melotot tajam. Refan refleks menarik bahunya karena saking terkejutnya.


"Udah lama? What the pak!! Kemarin malam kan kamu baru aja bergadang sama Ujang tuh sampek pagi cuma buat nonton begituan. Bapaknya udah pikun?" sembur Izza kesal. Refan terkekeh polos.


"Hehe iya deng lupa."


Krik krik


Izza no respond mode on.


"Ya udah aku harus apa biar kamu ga ngambek?" tawar Refan.


"Ay?"


"Aih si ayang mah... Aku harus gimana oy?"


"Jangan ngambek dong!!"


"Bilang aja kamu mau apa, janji bakal aku kabulin deh!"


"Biasanya harus apa?" tanya Izza balik. Refan menyunggingkan senyumannya dengan salah satu mata berkedip genit.


"Ngidam dadakan kan?" tebak Refan. Izza mengangguk samar.


"Oke, sekarang kamu mau minta apa hm?" tanya Refan antusias. Izza bersmirk, ada yang lebih seru daripada ngidam beneran. Yaitu ngidam palsu, demi ngerjain Refan.


Ahha!


"Mau minta kalkun." jawab Izza ngawur. Sebenarnya ia sedang tak menginginkan apa-apa, ia hanya ingin memberi pelajaran pada suaminya. Biar kapok!


Kapokmu kapan Fan! -Author


Ga nduwe kapok thor! -Refan


EKHEMMMMM!!! -Izza


Eh eh iyo ay iyo, aku wes kapok hehe. -Refan


Mamp*s! -Author


Tos sek thor? -Izza


Tos lah!! -Author


Maha benar perempuan dengan segala cangkemannya. -Refan2021.


#BUKANMAEN.


"Hah? Kalkun mau dibuat apa? Makan? Maksudnya kamu mau makan ayam kalkun? Di resto mana?" tanya Refan memekik kaget. Ini adalah pertama kalinya Izza menyebut nama kalkun.


"Bukan buat dimakan, tapi dipelihara." jawab Izza santai.


"Hah?!!"


"Iya. Kamu bilang mau kabulin kan? Jadi aku mau pelihara kalkun!" tekan Izza sok serius. Sumpah demi apapun! Ingin sekali Izza tertawa melihat raut wajah kaget bercampur bingung yang masih ngebug di hadapannya itu.


'What the hell? Cobaan random apalagi ini tuhan!' batin Refan pasrah.


"Ay bisa ganti yang lain aja ga? Yang masuk akal dikit kek. Darimana juga aku bisa dapet kalkun hidup?" rengek Refan menawar. Izza berfikir sejenak, mengingat daerah penghasil kalkun.


"Meksiko atau Spanyol kan ada, terserah kamu mau ambil yang mana." jawab Izza dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.


"Ay ayo lah please... Yang lain aja ya mintanya? Apa aja deh asal jangan nyari kalkun. Gimana pula caranya naikin ke pesawat?" rayu Refan mengelus-elus pundak istrinya, berharap requestnya bisa dinego.


"Mmm ya udah oke ganti aja ngidamnya. Ga jadi kalkun deh!" jawab Izza. Refan menghela nafas lega.


"Nah gitu dong! Aku langsung meluncur kalo minta yg lain. Mau minta apa hm?" tanya Refan dengan senyum lebar dan manis.


"Mau ke seoul, nemuin PCY wamil." jawab Izza yang berhasil meruntuhkan senyuman indah di wajah Refan.


Refan makin melotot karena request kedua ini. Ternyata, kalkun tidak terlalu buruk.


"Oke. Kamu mau kalkun warna apa? Segede apa? Bilang aja cepet. Aku otw langsung ke spanyol sama Meksiko ya, aku ambil dua jenis dari kandangnya langsung!" sahut Refan yang malah lebih menyetujui request pertama yang tadi diajukan oleh Izza.


"Loh tadi katanya ga mau nyari kalkun?"


"Enggak jadi, aku berubah pikiran! Cepetan mau yang model kek gimana? Aku mau nelpon pilot nih biar buruan bawa pesawatnya." tanya Refan lagi. Izza menggeleng, percayalah! Jauh didalam sudut dirinya, ia sedang mati-matian menahan tawa karena berhasjl membuat Refan kalang kabut, panik, bercampur cemburu pastinya karena Izza membawa-bawa nama idol favoritnya.


"Enggak usah ay nggak usah repot-repot bawa kalkun, susah loh. Udah mending bawa aku ke seoul aja deh." tolak Izza lagi. Refan menggeleng cepat.


"Ga papa ay, aku rela kok repot-repot asal demi kamu." jawab Refan meyakinkan.


"Bwhahaahhahaha."


Cukup sudah! Izza sudah tak bisa lagi menahan gejolak tawanya.


"Lah? Orang ga ada yang ngelawak, malah ketawa dih." cicit Refan heran. Izza mengusap sudut matanya yang berair karena saking terharunya dengan semua ini.


"Ahahaha kamu tuh yang lucu!"


"Lah kok jadi aku ay?"


"Buruan kamu jadi mau minta kalkun warna apa?" sambung Refan lagi. Izza menggeleng dengan sisa tawanya.


"Aku cuma bercanda Refaaaaaann!!"


"Lah? Jadi dari tadi cuma prank doang?" tanya Refan mendengus lesu. Izza mengangguk polos.


"Nee."


"Astaghfirullah umi! Udah kaget panik luar biasa, taunya cuma diprank!!" keluh Refan geleng-geleng. Izza masih berada dalam mode tak merasa bersalah.


"Salah sendiri berani nyuekin aku."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰