IZZALASKA

IZZALASKA
20. Masih surprise



"Sialan capek juga keliling satu rumah! Berasa ngelingin monas 7 kali. Tau gitu, aku ikut mama sama papa aja tadi berhenti di meja makan." keluh Izza di ujung anak tangga menuju basement rumah. Refan terkekeh sambil mengelus-elus punggung istrinya lembut.


"Sabar sayang, sekali ini doang. Besok-besok juga pasti ga akan muterin rumah kita lagi kok." sahut Refan.


"Ya iya lah! Besok udah keburu sibuk kita." sungut Izza.


"Maksud kamu sibuk bikin anak ay?" celetuk Refan menaik turunkan alisnya. Izza memutar bola matanya jengah.


"SAYAAAANGGG!!" cicit Izza gemas karena mulut suaminya yang fikirannya selalu dekat-dekat dengan hal itu.


"Hm?"


Izza mengepalkan tinjunya dengan garang.


"Jangan lupa! Selain jadi istri kamu, aku juga jadi pemimpin BDG loh. Ga usah di bahas di depan umum terus tolong ay please!!" pelik Izza kesal. Refan bergidik ngeri.


"Widihhh, ngeri!!"


"Ah udah yuk balik ke kamar atas aja gimana?" tanya Izza yang benar-benar sudah lelah.


"Second time?" tanya Refan bersemangat. Izza menimang sejenak lalu mengangguk.


"Terserah kamu! Yang penting kita istirahat dulu." jawab Izza. Refan mengacungkan jempol lalu mengecup kening istrinya dengan lembut penuh cinta.


Cups


"Oke, kita balik ke kamar." jawab Refan setuju. Izza langsung bersemangat membalik badan, Refan buru-buru menarik tangannya hingga kembali berbalik.


"Lah apa lagi?"


"Hanya tinggal satu ruangan terpenting yang belum kamu lihat ay." ucap Refan. Izza berdecak lagi.


"Aaaaa udah capek sayang!! Nanti sore aja deh, sekarang ga kuat aku naik turun tangga." keluh Izza lebay. Sebenarnya kata capek dan lelah hanya alasan mengantuknya.


"Nanti aku gendong kalo ga kuat, lagian kita ga perlu turun tangga. Kita bisa lihat dari atas." jawab Refan santai.


"Hah? Gimana maksudnya?"


"Makanya ikut dulu yuk!!" ajak Refan tak sabaran merangkul istrinya menuju ujung lantai dengan sandaran besi sebagai pembatas jalannya.



"Nah yang ini garasi kita!!" seru Refan menunjukan lantai basement yang luas dan dipenuhi oleh jajaran mobil sport mewah.


"D*mn oh ****!!" pekik Izza takjub.


"Suka ga?" tanya Refan penuh harap. Izza mengangguk.


"Suka banget lah! Nah ini model garasi yang aku mau dari dulu, tapi selalu di bilang ribet sama papa." jawab Izza berbinar. Refan menghembuskan nafasnya lega karena sang istri menyukai garasi hasil rombak tangannya beberapa minggu yang lalu.


"Eh tapi...." ucap Izza menggantung. Refan menaikkan sebelah alis.


"Tapi apa?"


"Blubie sama greysi kok bisa ada di sini? Itu mobil kesayangan aku kan ay?" tanya Izza menunjuk dua mobil lamborgini abu-abu dan biru yang berada di paling ujung. Refan mengangguk.


"Iya, dua mobil yang paling sering kamu pake yang aku bawa kesini." jawab Refan enteng.


"Terus yang putih? hitam? Merah? Kuning? Sama satu lagi si hitam yang biasa aku bawa ke markas kok ga sekalian sih ay?" tanya Izza nyerocos karena hanya dua mobil miliknya yang di bawa.


"Kan masih luas tuh!" tunjuk Izza pada bagasi di bawahnya, masih muat sekitar 7-9 Mobil lagi di sebelah jajaran motor sport koleksi Refan yang juga sudah di pindahkan ke rumah ini. Eh tunggu! Motor? Ah sial! Izza baru ingat, kalau ia juga punya motor kesayangan.


"Ah iya, motorku juga si item dua kenapa ga di bawa?" tanya Izza lagi. Cewek itu seolah tak memberikan waktu untuk Refan menjawab satu persatu pertanyaannya.


"Nggak beli baru aja?" tanya Refan. Izza menggeleng.


"Ga mau baru! Aku mau semua mobilku yang di rumah utama aja. Jangan lupa motor juga." ucap Izza request.


"Motor juga?"


"Iya dong."


"Motornya beli baru aja deh gimana?" tawar Refan. Izza menggeleng tegas.


"NGGAK MAU BARU!!" ucap Izza penuh penekanan. Refan menghela nafas pasrah.


"Ya udah iya, nanti aku suruh Kevin beresin semuanya."


...****************...


"Eh loh Izza belum dateng?" tanya Reza yang baru saja datang dan celingukan. Ralita, Marsha, Beby, Ajeng, Max, dan Rendy yang sedang berada di ruang keluarga pun menoleh bersamaan. Bahkan Arshaka yang sedang di gendong oleh Ralita dan Max pun bisa menoleh, canda deh enggak wkwk. Mana ada bayi belum genep sebulan udah bisa nolehin suara.


"Belum Re, mungkin nanti siangan." jawab Ralita.


"Kenapa sih lu? Nyariin adek gue mulu!" sungut Rendy sewot. Reza kemudian duduk di sebelah Rendy dan menonyor pundaknya pelan.


"Yee kan kembaran gue bang! Ya terserah gue lah." sahut Reza nyolot. Marsha, Beby, dan Ajeng yang duduk di kursi panjang bertiga pun geleng-geleng kepala melihat dua orang itu.


"Gue kakak pertamanya, yang gendong dia dari bayi!" bantah Rendy tak mau kalah.


"Yee gue malah udah berbagi kehidupan bareng dia di kandungan wleee." sangkal Reza yang juga tak mau kalah.


"Gue juga pernah berbagi tempat, waktu di London." ucap Rendy lagi. Seolah anak tertua di Alexander ini tak bisa kehabisan akal.


"Gue malah berbagi rahim sama dia." jawab Reza enteng. Si mulut rese ini juga sama tak mau kalahnya.


"Gue mal-"


"Heh kalian ini udah tua udah nikah masih aja ribut kek anak kecil!" omel Ralita yang duduk di single sofa bersama kedua cucunya. Arshaka di gendongannya, sementara Max duduk menghimpit di sebelah omanya.


"Iya. Daddy sama Uncle Reza berisik!! Ngalahin Max sama dede Arshaka." celetuk Max dengan logat bocah nya.


"Tuh! Max aja anteng gini masa kalian ga malu?" tanya Ralita geleng-geleng kepala. Max manggut-manggut sebal melihat ayah dan om nya yang seperti anak kecil ini.


"Max, kok kamu ga belain Daddy sih?" tanya Rendy menatap tajam ke arah putranya. Max yang entah mengapa punya phobia terhadap mata tajam Rendy pun langsung bergegas turun dari sofa Ralita dan berlari memeluk mommy nya.


"Mommy Max takut!!" pekik Max langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan sang ibunda. Beby auto melotot tajam ke arah suaminya.


"Udah tau Max takut sama mata kamu! Malah dipelototin." omel Beby garang. Rendy langsung merubah mata tajamnya jadi biasa saja.


"Aaaa Max mau ke kamar aja sama Mommy, ga mau sama Daddy duluu huaaaaa!!" pekik Max yang malah jadi menangis. Anak hasil perbibitan unggul itu dikenal sebagai anak yang pemberani, tegas, ceria dan anti menangis di usia sedini itu. Kalau Max menangis, itu berarti Rendy telah melakukan sesuatu padanya. Karena hanya mulut dan mata daddy-nya yang bisa membuatnya takut.


Beby langsung menggendong anaknya untuk pergi dulu.


"Mama, semuanya, Beby ajak Max ke kamar dulu ya." pamit Beby langsung undur diri. Rendy tentu saja langsung mengejar sang istri bersama anaknya, jujur saja ia tak berniat menakuti atau memarahi Max. Rendy hanya bercanda saja tadi karena putranya ikut memarahinya tadi.


"Bwahahahha NANTI MALEM JANGAN DIKASIH JATAH KAK BEB, BIAR KAPOK TUH SI ABANG GALAK HAHA!!" teriak Reza penuh ejekan. Rendy menoleh sengit dan mengepalkan tinjunya dari kejauhan.


"Eh Re, Izza beneran bakal kesini hari ini?" tanya Ralita. Malah Ajeng dan Marsha yang lebih dulu mengangguk.


"Iya Ma." jawab keduanya bersamaan. Reza menaikkan sebelah alisnya heran.


"Lah kok kalian tau?"


"Tadi Jeje di chat sama Izza, aku liat hehe." jawab Marsha terkekeh. Ralita manggut-manggut.


"Tapi kapan kesininya? Baru semalam tapi rasanya mama kangen banget sama dia." tanya Ralita lagi. Ketiga anak-anaknya itu menggeleng bersamaan karena Izza tak memberitahukan kapan waktunya ia datang.


...****************...


"Kita ke rumahku besok aja deh ya? Sekalian ambil baju." celetuk Izza di dalam senderannya pada Refan. Refan yang sedang menatap santai ke arah kolam sambil memainkan puncak rambut Izza pun menoleh.


"Ga usah ambil baju lah, aku udah borong semua jenis baju dan hoodie di butik langganan kamu. Nanti sore juga mereka anter semuanya kok." jawab Refan santai.


"Beberapa doang ngambilnya ay, cuma baju-baju kesayanganku doang. Yang lain mah aku tinggal di rumah utama aja, toh juga nanti-nanti pasti bakal balik lagi ke sana." elak Izza. Refan mengangguk.


"Oke kalo gitu mau kamu, tapi kenapa harus besok? Kenapa ga sekarang, atau nanti malam aja sekalian nginep di sana? Ya itung-itung sebelum kita pindah rumah sih." tanya Refan heran.


"Nggak! Kakiku masih sakit, terus aku jalannya juga masih lumayan susah. Bisa-bisa nanti aku di bully habis-habisan sama abang-abang, kan mereka masih di sana.


"Lah bukannya besok juga tetep sama aja? Kan nanti malam kita ulangin lagi." celetuk Refan tanpa dosa dan menaik turunkan alisnya. Izza menghembuskan nafas nya pasrah.


"Bisa ga jangan di bahas terus hmm?" tanya Izza jengah. Refan tertawa.


"Iya deh iya ga usah di bahas lagi, langsung kita praktekin aja hihi."


...****************...


"CEO kalian belum datang jam segini?" tanya Abimana pada Andin dan Darrel yang sedang berbincang seputar meeting di meja Andin. Keduanya lantas menoleh.


"Eh Pak Abimana, nona Lexa belum datang hari ini." jawab Andin sopan.


"Lebih tepatnya tidak datang." koreksi Darrel membenarkan.


"Kemana?" tanya Abimana polos.


"Di rumahnya lah, kan masih anget-angetnya." sahut Darrel enteng.


'Sial gue lupa kalo Izza nikah semalam. Kan gue juga dateng? Ah bego lu Abimana!!' batin Abimana menggerutu. Setelah itu pun ia berbalik dan pergi.


"Loh eh Pak Abi mau kemana Pak!!" teriak Andin melihat Abimana berbalik pergi.


"Biarin aja sih Ndin, tuh cowok patah hati kali!" celetuk Darrel santai.


"Patah hati sama siapa?"


"Sama Izza lah, siapa lagi!"


...************...


Malam hari di kediaman Alaska.


"Sayang?" panggil Izza. Refan yang sedang memasukan jas kesayangannya kedalam salah satu lemari pun menoleh.


"Hm?"


"Ini semua baju kita?" tanya Izza melongo. Ia duduk di sofa yang berada di tengah-tengah ruangan besar berisikan lemari pakaian dan sepatu.


Refan mengangguk.


"Ya emang mau baju siapa lagi?" tanya Refan balik sambil berjalan mendekat.



"Heh ini tuh kelewat banyak! Sejak kapan juga udah rapi begini?" tanya Izza lagi.


"Tadi pas aku ngajak kamu jalan ke mekdi depan, aku suruh ART sama orang butik buat ngerapiin semuanya di tempat. Jadi kita terima beres deh, cuman itu aku masukin jas kesayanganku yang aku dapet dari kamu tahun lalu." jawab Refan santai.


"Ini berlebihan sih."


"Enggak! Biasa aja ini sih." bantah Refan enteng.


Izza geleng-geleng kepala, ia sudah tau lagi bagaimana cara menghadapi suaminya ini. Semuanya berlebihan bagi Izza, selalu di anggap biasa saja bagi Refan.


"Terserah tuan muda Alaska aja deh." jawab Izza pasrah. Refan tiba-tiba memeluknya erat.


"Dih, kenapa?"


"Nggak papa, aku seneng aja." jawab Refan masih dalam posisi memeluk istrinya dengan erat. Refan menyerukkan wajahnya di perpotongan leher Izza hingga Izza menggeliat geli.


"Ah ah aduhh ay geli tau!! Kenapa sih kamu hm?" tanya Izza geli sendiri karena Refan seperti sengaja mengendus di area leher nya.


"Seneng lah bisa nikahin kamu beneran. Hidup berdua sama kamu tuh jadi impian terbesarku dari dulu! Dan sekarang udah kesampaian." jawab Refan bangkit dari leher istrinya dan mengelus pipi Izza dengan lembut. Senyum manis nan lebar itu tak pudar dari wajah tampannya.


"Udah puluhan kali kamu bilang itu dari semalem!" ledek Izza terkikik.


"Biarin wleee." sahut Refan memeletkan lidahnya. Entah terdorong oleh apa, ataupun terkena angin dari mana, Izza tiba-tiba berjinjit untuk mencium bibir suaminya.


Cups


"Wleeee!!" menye Izza setelah ciuman singkat itu. Refan tersenyum miring melihat aksi mangsa yang masuk kandang singa ini. Lagian Izza juga sih, singa kok di pancing. Ya langsung Hap!! Meskipun malam masih belum larut.


Sebelum Izza hendak berdiri pergi untuk memasukan kemeja putih milik Refan, Refan lebih dulu menarik tengkuknya dan menempelkan bibir Izza pada bibirnya. Kecupan itu berubah jadi ciuman dan ******* lembut yang sangat menggairahkan. Refan perlahan menaikkan tubuh Izza ke atas gendongannya tanpa melepas pagutan mereka. Izza yang takut jatuh pun langsung melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang Refan. Perlahan Refan membawa istrinya ke ranjang, dan Malam kedua punuh bara gair*h itu pun bermula.


Readers be like : Jangan lupa Izza, besok kalian ke rumah Alexander loh wkwk.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰