
"Sekarang dia dimana?" tanya Izza pada Darrel.
"Dia ada di ruangannya." jawab Darrel yang tadi baru saja kembali dengan bukti-bukti dari ruang cctv maupun jejak input di data kantor yang ia dapatkan tadi.
Izza, Genta, Ilham, Andin dan Darrel langsung mencocokkan semua bukti di depan mata mereka itu. Dan benar! Doddy memang terlibat. Ia adalah 'musang' dalam Rz Corp.
"Bisa-bisanya kecolongan sama pak tua!" sembur Ilham. Darrel menggaruk belakang telinganya yang sama sekali tak gatal.
"Sorry Lex, gue ga ngeh sama gerak-geriknya si dodot." ucap Darrel tak enak. Izza menghembuskan nafasnya kasar lalu menggeleng.
"Enggak sepenuhnya salah lo! Ga usah nyesel juga, toh ini udah terjadi." jawab Izza menenangkan Darrel. Darrel mengangguk.
"Terus lo mau ngasih perintah apa?" tanya Ilham siap menawarkan diri. Jiwa psikopatnya sudah meronta-ronta ingin diajak bermain.
Izza berfikir sejenak.
'Kata mama kan gue ga boleh banyak tingkah selama hamil, takut pamali! Apa gue kasih semuanya ke Ilham sama bang Genta aja ya? Toh mereka ga punya pantangan apapun sekarang.' batin Izza menimang keputusan.
"Dia harus gue apain Queen?" tanya Genta menyadarkan Izza dari lamunannya.
"Iya. Gue juga udah ga sabar nih pengen buru-buru nyabik kepala orang!" celetuk Ilham. Izza manggut-manggut siap menentukan rencana awal yang akan mereka ambil bersama.
...****************...
"Emang harus banget sekarang ya kesananya?" tanya Yonna alias Geisha. Wanita yang sedang menimang anak semata wayangnya itu tampak menghembuskan nafasnya gusar.
Ardha mengangguk.
"Iya lah. Sekalian ngurusin sisa bisnis kita yang di jepang, semua aset harus kita urus dan dicairkan secepatnya. Kan lo sendiri yang bikin keputusan untuk menetap tinggal di jakarta lagi. Ya kita harus ngurus sisa harta benda serta semua aset yang di Jepang dulu lah! Baru kita bisa fokus sepenuhnya di sini." jelas Ardha.
Yonna menghela nafas panjang. Mau tak mau, ia harus setuju. Seluruh aset miliknya dan Noval di negeri matahari terbit itu atas namanya dan Nathan, jadi ya mau tak mau ia harus ikut pergi
"Huh... Oke! Anak-anak juga di ajak?" tanya Yonna. Ardha mengangguk.
"Ya iyalah. Sama istri gue juga! Nyairin aset dan seluruh saham itu ga mudah Sha, butuh waktu yang lama. Untuk sementara waktu rumah ini bakalan kosong sampai kita kembali. Eh enggak sepenuhnya kosong juga sih, ART sama tukang kebun dan satpam tetep dipekerjakan di sini. Gue bisa pantau mereka dari jauh!" jelas Ardha lagi.
"Terus Alfahreza Corp gimana?"
"Tenang! Gue udah nemuin satu orang kepercayaan buat ngurus yang di sini. Jadi untuk sementara waktu ini, kita bisa pergi dengan tenang." jawab Ardha santai.
Yonna manggut-manggut, sebenarnya ia masih lumayan ragu perihal rencananya yang sebenarnya sudah siap itu. Hanya tinggal peluncuran kalau saja Ardha tak mengajaknya kembali ke Jepang untuk sementara waktu.
"Berarti rencana yang udah gue siapin buat Rosa sama Refan gimana dong?"
"Ya terpaksa mundur. Kita realisasikan belakangan!"
"Lah?" protes Yonna tak terima. Ia sudah sangat menantikan momen itu, ia sudah sangat ingin melihat Refan dan Izza bertengkar hebat!
"Ga papa lah kita kasih waktu bentar buat mereka hidup tenang, lagian juga kita kan masih banyak kerjaan, masih sibuk. Ntar aja setelah dari Jepang, baru kita mulai lagi. Dan puncaknya akan tiba saat anak-anak kita, Nathan dan Arfan tumbuh dewasa kelak!"
"Lo percaya kan sama janji gue Sha? Gue bakal didik Arfan dan Nathan dengan sebaik mungkin." sambung Ardha lagi. Geisha mengangguk dengan pandangan fokus ke anaknya yang tengah terlelap nyenyak.
"Iya gue percaya."
"Oh iya... Gue denger, permusuhan lama udah kembali bersemi dan memanas di dunia bawah." ucap Ardha setelah beberapa saat saling diam. Geisha, eh ralat! Yonna menoleh dengan satu alis terangkat.
"Hah? Apa?"
'Lah iya kan Geisha baru aja ngerti dunia bawah, dia mana tau masalah-masalah lama yang lebih dulu ada sebelum dia.' batin Ardha merutuki kebodohannya sendiri.
"Musuhan apaan oy!!" tanya Yonna tak sabaran.
"Bloody Dragon."
"Hah? Gangster juga tuh?" tanya Yonna makin ngebug. Bagaimana tidak ngebug kalau Ardha hanya menjelaskannya dengan setengah-setengah.
"Iya."
"Punya siapa?"
"Punya musuhnya Izza sama Refan. Bloody Dragon itu musuh bebuyutan BDG sama BW dari jaman dulu, dendam mereka masih berlanjut sampai sekarang karena keturunannya masih terus ada dan ga ada yang mau mengakhiri dengan perdamaian. Masalah-masalah baru juga terus lahir diantara mereka bertiga, makanya sampai sekarang belum berujung!" jelas Ardha panjang lebar.
"Dih ngapain nyama-nyamain? Bloody Dragon juga punya sejarah hitam sama Black Snake. Kita juga musuhan meskipun udah lama banget ga pernah terjadi bentrok setelah kematian bos Tristan dan bos Dani!" protes Ardha mengelak. Yonna memutar bola matanya malas. Orang namanya ga tau, malag main ngegas aja si Ardha mah!
"Ya emang apa bedanya? Kan intinya sama-sama punya dendam turun temurun sama Refan Izza kan?" tanya Yonna kekeuh mempertahankan opininya tadi. Ardha berfikir sejenak kemudian mengangguk ragu.
"Ya ada benernya juga sih."
"Ya udah buruan beres-beres! Besok siang kita flying!!" suruh Ardha mengalihkan topik. Sejujurnya ia malas membahas tentang Bloody Dragon karena Yonna dengan seenak jidat main menyamakannya dengan Black Snake.
"Oke."
'Tunggu aja Izza Refan, untuk sekarang hingga beberapa tahun kedepan kalian masih gua beri waktu untuk hidup tenang. tapi, Black Swan akan segera lahir sebagai generasi baru Black Snake, tentunya setelah anakku dan Noval tumbuh besar. Dan dia yang akan membayarkan semua dendam atas kematian ayah dan kakek neneknya!' batin Yonna tersenyum miring.
...****************...
"Jadi deal ya! Darrel sama Andin ngawasin Dodot di kantor, Ilham mantau lewat akses BDG, bang Genta awasin melalui semua koneksi kita di luar. Pokoknya bang, Ham, gue minta kalian kerahin beberapa orang kita buat mantau Doddy dari dekat. Semuanya harus perfect! Mulai sekarang, Doddy jadi target kita. Oke?" jelas Izza selesai briefing. Keempat manusia di sekelilingnya mengangguk setuju.
"Target doang? Nggak langsung di bidik aja?" tanya Ilham tak sabaran. Genta menonyor kepala Ilham yang berada di sebelahnya. Memang dasar tukang kompor!
Entah sejak kapan posisi mereka semua berubah. Darrel jadi bersebelahan dengan Andin, Genta duduk dengan Ilham, sementara Izza berdiri di tengah-tengah jarak pandang mereka.
"Ck. Sabar ah! Kita cari tau dulu latar belakangnya apa, baru kita bergerak." sahut Izza.
"Ya kan kali aja lo mau langsung sat set sat set kek biasanya." jawab Ilham ngeles.
"Situasinya beda Mahliiiiii.... Gue lagi hamil, kalo gue banyak tingkah entar bisa diamuk sama semua orang tau!" semprot Izza jengah. Ilham nyengir.
"Lagian kita juga belum cukup info Ham! Ga bisa asal grasak-grusuk doang." sahut Genta setuju dengan Izza.
"Lah?"
"Kalaupun kita bisa langsung matiin si Doddy juga percuma! Info udah dia jual ke musuh, musuh udah terlanjur tau juga. Ga bakal ada untungnya kalau Doddy mati sekarang. Justru kita harus awetin umur dia, kita manfaatin latar belakangnya. Dan itu tugas lo, cari latar belakangnya dan seluruh keluarganya!!" jelas Genta semakin rinci. Izza menjentikkan jarinya setuju! Ilham mengangguk siap.
"Nah itu dia yang ada di fikiran gue bang!"
"Oke habis pulang dari sini, gue langsung gerak masuk ke data pribadinya Doddy and the geng." jawab Ilham langsung setuju dan menyanggupinya
Kalau sudah menyangkut urusan gangster seperti ini, Andin dan Darrel tentu saja diam. Karena bukan wilayah kekuasaan mereka untuk bekerja!
"Oh iya, gue punya satu permintaan lagi!" ucap Izza menatap empat orang itu bergantuan.
"Apa?"
"Kalo bisa jangan kasih tau Refan dulu ya? Gue ga mau dia kebanyakan fikiran. Masalah kerja sama gangsternya sendiri aja udah beuhhh banyak!" pinta Izza. Andin dan Darrel tentu manggut-manggut saja, tapi sudut pandang mereka berbeda jauh dengan duo Alvaro. Mereka punya sudut pandang sendiri dalam menyikapi hal sensitif ini.
"Bukannya malah lebih baik kalo dia tau ya? Kan dia yang bisa jagain lo 24 jam Queen!!" bantah Ilham agak ragu. Genta mengangguk setuju.
"Iya tuh bener, Refan kan yang paling bisa diandalkan dalam hal kek gini Queen. Kasih tau dia aja gimana? Abang ga tenang kalo kamu ga ada yang jagain secara ekstra. Percuma kita ngekang gerak musuh kalau kamu sendiri masih berkeliaran tanpa pengawasan double!" sanggah Genta penuh teori. Izza mengangguk mengerti tapi setelah itu ia tetap menggeleng lagi.
"Ah no no no! Gua takut dia stress berat ntar kalo kebanyakan tekanan. Masalah terror ini tuh-"
Kriet
Izza langsung memutar tubuhnya 180 deraja, melihat siapa yang datang.
Greb
Refan langsung berjalan tergesa dan memeluk erat tubuh istrinya. Memasukkannya dalam kehangatan.
"Are you okay?" bisik Refan. Izza mengangguk samar sambil membalas pelukannya.
"Yeah, im okay!"
"Keknya dia udah keburu tau sendiri deh ya bang?" celetuk Ilham berbisik. Genta mengangguk.
"Iya, Refan pasti udah tau kabar ini."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰