
"Huffttt banyak juga kerjaan gue hari ini... Efek kemarin bolong dua hari sih. Nasib banget jadi CEO!" gerutu Refan kesal membolak-balik lembar dokumen penting yang harus segera ia baca dan tanda tangani.
Belakangan ini memang Refan merasa malas dan sebal dengan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan dan kantor. Yang ia mau hanyalah berduaan dengan sang istri di rumah, tak tau apa artinya yang jelas memang seperti itulah kenyataannya.
Drtt drtt
Handphone yang tergeletak di atas meja itu berdering. Refan memang bukan tipe orang yang akan mematikan telepon meskipun ia dalam keadaan paling sibuk sekalipun, alasannya jelas karena Izza. Pertama, dari sejak mereka pacaran Refan tak ingin membuat Izza khawatir tanpa kabar dan yang kedua adalah karena istrinya itu sedang hamil besar, ia bisa melahirkan sewaktu-waktu tanpa menunggu perkiraan lahir bukan? Izza, suami idaman macam mana lagi yang hendak kau dustakan?
📞Myworld❤️ is calling....
"Nah capek-capek gini emang cuma Izza yang gue butuhin."
Refan : Ay kangennnnnn.....
Izza : Lah kok? Aku yang telfon, kamu yang bilang kangen.
Refan : Aku capek kerja tau!!
Izza : Maksud kamu aku jadi pelampiasan capek doang nih?
Refan : Lebih dari itu tau! Kamu kan obat terbaik dari segala lelah dan sakit. Aku-
Izza : Aissshhh iya iya aku tau kamu mau ngomong apa udah.
Refan : Eheheh.... Ada apa tumben nelfon siang-siang gini? Kalo kamu mau nanya aku pulang jam berapa, mungkin agak sorean. Aku banyak kerjaan soalnya.
Izza : Yah sibuk ya?
Refan : Heem.
Izza : Padahal aku lagi pengen kaepci.
Refan : Eitsss kalo buat kamu mah bisa kok ay, habis ini aku anter ke rumah. Tunggu ya!!
Izza : Tapi ga papa deng, ga usah dipaksain juga kalo lagi sibuk. Aku bisa gopud.
Refan : Anak sama istri aku yang minta, masa yang ngasih abang-abang gopud sih? Aku aja.
Izza : Tapi-
Refan : Aku aja!!
Izza : Ya udah iya....
Refan : Oke, aku berangkat ke kaepci sekarang nih.
Izza : Eh eh bentar ay!!
Refan : Apa lagi? Mau tambah kentang goreng kan? Udah tau aku.
Izza : Bukan itu.
Refan : Ya terus?
Izza : Catet ay! Aku minta dibeliin ayam kaepci-nya doang, bukan kaepci-nya!
Refan : Ish iya ay udah ngerti aku. Ga usah nyindir ah!
Izza : Ahahahah ya siapa tau kamu nanti kepikiran mau ngebeli kaepci kek waktu kamu beliin mekdi waktu itu.
Refan : Itu kan karena kamu ga jelas ngomongnya apa!
Izza : Aku tunggu kaepci-nya ya, BYE!!
Tut tut tut....
"Oke, gue cabut bentar ga papa kali ya. Palingan cuma sejam doang!" lirih Refan langsung beranjak dari kursi CEO miliknya.
Tok tok
Belum sempat Refan melangkahkan kaki, suara ketukan pintu itu membuatnya mendongak.
"Ya masuk!!" suruhnya.
Kriet
Sosok sekertaris penggantinya itu muncul dan memasuki ruangan bersama beberapa map warna merah dan hijau di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Rosa.
"Ada apa?" tanya Refan datar seperti biasa.
Rosa menyodorkan beberapa dokumen yang ia bawa tadi dengan senyum lebarnya, seperti biasa ingin menarik perhatian lelaki yang bahkan tidak memperhatikannya sama sekali.
"Saya mau pergi sebent-"
"Tapi sekarang ini ada meeting bersama TBA Group, tuan." jawab Rosa cepat. Refan mendengus karena ucapannya terpotong tapi ia tak mau ambil pusing karena ini bukan saat yang tepat untuk ia marah.
"Jam berapa memang?"
"Jam 11 ini tuan, dan pihak TBA sudah mengkonfirmasi bahwa mereka telah berada di dalam perjalanan menuju kemari." jawab Rosa.
Refan berdecak saat melihat jam rolex di tangannya. Jam 11? Sedangkan sekarang ini jam sudah menunjukkan pukul 10.48 tepat.
"Ga bisa diundur habis makan siang Ros?" tanya Refan. Rosa menggeleng kecil.
"Tidak bisa tuan."
"Kalo reschedule?"
"Malah lebih tidak bisa lagi tuan, meeting dengan klien dari TBA Group ini sudah kita undur sejak tiga hari yang lalu. Saya takut mereka marah dan membatalkan kerja sama ini. Apalagi kan TBA Group termasuk investor besar di perusahaan ini." jawab Rosa tetap menggeleng.
Refan sejenak memejamkan matanya frustasi. Bagaimana ini?
"Ya sudah, kamu siapkan semua bahan meeting hari ini. Cepat keluar!" suruh Refan datar. Moodnya hancur seketika.
"Emm tuan jadi pergi?"
"Kubilang keluar!!" ketus Refan dingin. Rosa langsung pergi karena ketakutan dengan aura kuat Refan.
"Ck. Terpaksa deh! Baru kali ini nih gue ga bisa nurutin ngidamnya istri gue. Sialan banget hari ini!" gerutu Refan yang akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Izza kalau ia tak jadi pulang membawakan pesanannya tadi.
"Bukan karena gue takut rugi atau gimana sih, tapi karena gue ga mau citra perusahaan gue jelek di mata pebisnis lain."
📤RefanAd to Myworld❤️
Ay
Mau tak mau ia harus mengkesampingkan Izza sementara ini. Mau minta tolong Kevin, tapi lelaki itu sedang berada di Bogor bersama Leon karena ada sesuatu hal.
📞Calling Myworld❤️....
Izza : Apaan? Udah di depan kah? Cepet banget ay? Kamu naik mobil apa jet-
Refan : I'm sorry beb...
Izza : Loh kenapa?
Refan : Aku ga bisa bawain pesenan kamu sekarang.
Izza : Loh? Kamu kenapa? Ada masalah?
Refan : Aku ga papa, tapi ini ada meeting mepet banget ay.... Terus ga bisa dicancel juga, klien aku udah nunggu meeting ini sejak tiga hari lalu.
Izza : Ck. Kirain ada apaan! Aku khawatir tau.
Refan : Ntar pulang kerja deh aku bawain sekalian, ya?
Izza : Ga usah, aku beli sendiri aja.
Refan : Eh jangan dong! Kamu kan udah hamil gede ay, nanti kalo ada apa-apa gimana? PSG sama YH masih berkeliaran, aku ga mau kamu-
Izza : Ssstt udah diem! Aku bisa minta antar sopir kebanggaan kamu tuh.
Refan : Tapi ay-
Izza : Ga ada tapi-tapi! Kamu kerja aja yang fokus oke? Fighting sayang!! BYE.
Tut tut tut....
Izza menutup telefon sebelum Refan angkat bicara.
"Untung sayang...."
...****************...
"DONI!!" panggil Niko meninggikan suaranya, laki-laki yang dipanggil itu menoleh.
Doni yang dimaksud itu tak lain adalah Dandy.
"Apa?" jawabnya dingin.
"Lo ikut gue!"
"Kemana?"
"Ck. Ikut aja ga usah banyak bac*t bisa ga si lu?" gerutu Niko kesal. Dandy memutar bola matanya malas.
"Hm..."
'Lama-lama gue racun juga ni orang satu, kemarin udah ngejerumusin gue ke tim inti, ketemu YH sih tapi percuma aja gue ga dikasih tau nama aslinya! Kalo bukan karena gue butuh dia buat jembatan ke YH, udah gue racun beneran pake formula dari Ilham.' gerutu Dandy yang mengikuti langkah Niko dari belakang.
Tanpa diketahui Dandy, Niko menyunggingkan senyum dari depan. Ia tau kalau orang dibelakangnya ini sedang mengomel dalam hati.
'Dandy Dandy.... Kalo lo bukan sekutu yang berpotensi ngebantuin siasat gue, udah gue cepuin kedok penyamaran lo ke Bima. Haha untung aja kita sama-sama membutuhkan disini, tanpa lo tau.' batinnya tersenyum miring.
...****************...
"Aduh bu bos, tolonglah!! Biar saya aja yang beli makanannya ya? Bu bos tunggu aja di sini. Saya bisa diomelin sama bos Refan kalo saya-"
"SSSTT Aris diem!! Saya bukan anak kecil ya. Saya beli sendiri, dan anda cukup diam saja menunggu saya di sini." potong Izza sebal. Karena Refan selalu mengancam sopirnya agar bekerja dengan ekstra hati-hati saat menjaganya, Aris jadi super cerewet terhadapnya yang memang keras kepala.
"Tapi Bu bos-"
"SAYA BILANG DIAM!" sentak Izza yang sebenarnya tidak serius membentak lelaki itu. Aris langsung bungkam seketika.
Izza nyengir.
"Nah gitu dong! Sama saya tuh jangan banyak ngomong, jangan banyak protes. Udah ya saya masuk dulu, kamu tunggu aja disini!"
"B-baik bos."
Segera setelah itu Izza langsung buru-buru memasuki tempat makan berpapan besar dengan tulisan 'KAEPCI'.
"Gila! Rame juga... Ah iya, gue lupa! Ini kan jam makan siang ege..." gerutu Izza bermonolog. Ada dua masalah mengapa tempat ini ramai, pertama karena ini masuk jam makan siang dan yang kedua adalah tempat ini bukan milik Izza. Kalau saja ini miliknya, maka ia akan mengosongkannya hari ini.
"Apa gue beli aja kali ya?" tanya Izza pada dirinya sendiri. Ia kemudian menggeleng.
"Kalo ada Refi, gue pasti dimaki-maki sama dia." lirihnya.
"IZZA?!!" panggil suara berat dari arah samping. Izza segera menolehkan pandangannya ke arah kiri, Abi!
"Eh? Kak Abi?!!!" pekik Izza sedikit terkejut. Lelaki yang tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita itu melambaikan tangan, Izza yang kebetulan sedang pusing mencari tempat kosong pun segera mendekat.
"Hai kak!" sapa Izza. Karena sudah terlalu akrab sejak zaman kuliah, panggilan Izza kepada Abi saat di kantor ataupun ditempat lain memang tidak pernah berubah.
"Hai... Kamu sendirian?" tanya lelaki itu. Izza mengangguk.
"Refan lagi sibuk... Oh ya ini siapa? Eh ini istri kak Abi yang waktu itu kan?" tanya Izza mencoba mengingat sesuatu, lebih tepatnya untuk mengingat wajah wanita yang dulu bersanding dengan Abi di pelaminan. Sudah hampir satu bulan lamanya hingga Izzaa lupa.
"Hai? Im Berlian, his wife." ucap wanita berambut sedikit pirang itu. Ia mengulurkan tangan pada Izza yang tersenyum ke arahnya.
"Ciahh gue baru sadar loh ternyata istri lo bule kak?" cicit Izza antusias.
Abi mengangguk kecil dengan senyuman. Segera setelah itu, Izza menjabat tangan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Belian tadi.
"And im Izza, nice to meet you..."
"Bahas inggris kamu juga lancar, kamu blasteran ya?" tanya Berlian setelah mempersilahkan Izza untuk duduk. Jadilah mereka duduk bertiga di meja bundar.
Izza mengangguk.
"Mama indonesia dan papa keturunan Jerman-Perancis." jawabnya. Berlian manggut-manggut.
"Kalo kamu?" tanya Izza kemudian.
"Papa mama asli Indonesia, tapi mereka menetap di London karena mama ikut ayah sambungnya sejak sekolah." jawab Berlian apa adanya.
'Dia ini Izza yang waktu itu dimaksud sama mamanya Abi bukan sih? Yang katanya cinta pertama Abi waktu kuliah, tapi kata mama dia licik dan munafik bukan? Tapi kenapa ini berbeda? Rasanya seperti dia memang asli baik dan ramah. Ah entahlah, toh aku tidak bisa menyimpulkan sifat seseorang hanya dengan sekali lihat.' batin Berlian menerka-nerka.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰