IZZALASKA

IZZALASKA
39. Emosi Rayhan



"Gps-nya berhenti di sini, berarti bener dia ada di dalam sini."


Ajeng kini berdiri di depan bangunan menjulang tinggi bertuliskan RFN Club di bagian teratasnya. Ajeng tau club ini milik Izza.


"Harusnya aku yang marah! Tapi kenapa malah kamu yang kehilangan arah kek gini Re?" cicit Ajeng lirih. Kemudian ia segera melangkah masuk ke dalam dunia malam penuh gemerlap lampu warna-warni itu. Tujuannya tentu hanya satu, mencari Reza suaminya.


...****************...


Drtt drtt.


📞Refan is calling.....


Alice : Halo sayang, gimana?


Refan : Halo mah, mamah Dimana?


Alice : Di rumah, ini baru aja pulang dari ketemu temen-temen mama.


Refan : Izza udah pulang?


Alice : Belum sayang, dia bener udah pamit sama kamu kan?


Refan : Udah kok ma. Tadi Refan udah minta Darrel sama Ilham buat nemenin Izza.


Alice : Oh ya udah. Ini kamu dimana sama papamu? Udah selesai meeting?


Refan : Ini pesawat udah hampir landing ma.


Alice : Loh kok mau landing? Emang kalian mau kemana?


Refan : Ya pulang lah.


Alice : Loh kok bisa pulang? Bukannya harusnya pulang besok sore ya?


Refan : Hehe Refan kangen Izza ma. Udah ga bisa ditahan lagi! Jadi ya tadi Refan ngajakin papa buat ngebut deadline meeting. Makanya ini baru selesai terus langsung ke bandara deh.


Alice : Heleh dasar kamu ya!! Udah mau jadi bapak dari dua anak juga masih aja logatnya kek pengantin baru.


Refan : Ahahaha belum juga setahun kali ma.


Alice : Tapi kan kamu sama Izza udah hampir 6 tahun ga pernah lepas.


Refan : Beda dong!! Ya udah ma, Refan mau istirahat ya.


Alice : Iya sayang, kamu baik-baik sama papamu.


Refan : Iya.


Tut tut....


...****************...


"Jahat banget hiks!!" cicit Ajeng menangis sesegukan di dalam mobilnya. Ia tadi benar-benar masuk ke dalam club dan menemukan suaminya sedang duduk dan memeluk erat seorang wanita di sampingnya.


Karena merasa sakit hati, Ajeng mengurungkan niatnya untuk menemui Reza. Ia memilih untuk berbalik pergi saja dan tak ingin tau siapa wanita yang dipeluk oleh Reza. Yang jelas, wanita itu tampak seperti seumuran dengan dirinya.


Salsa.


Entah mengapa nama itu selalu terlintas di fikirannya. Bukannya suudzon pada masa lalu Reza, tapi masalahnya memang karena Salsa lah mereka bertengkar hebat tadi sore. Dan lagi, postur tubuh wanita yang bermanja dengan suaminya di dalam club itu juga hampir sama dengan Salsa. Ajeng berfikir kalau itu benar Salsa meskipun Ajeng tak bisa melihatnya dengan jelas karena lampu warna-warni samar dari dalam club.


"Aku kecewa sama kamu beb."


Setelah menangis sendirian beberapa saat, Ajeng kemudian memutar kemudinya untuk kembali pulang ke rumah Alexander, rumah mertuanya.


...****************...


"Coba sekarang lo jelasin ke gue, ngapain lo di sini heh? Caper? Apa nyari sensasi?" tanya Izza memberondong kembarannya yang menyandarkan kepalanya di bahu berlapis jaket miliknya.


Reza menggeleng.


"Ya terus apa!! Lo ngapain main ke tempat beginian hah? Lo lupa bini lo di rumah lagi bunting? Bisa diamuk abang-abang lo kalo mereka tau lo masih doyan mabuk-mabukan kek begini. Kek gue sama Refan dong, udah tobat dari kerlap-kerlip lampu penjerumus ini nih." omel Izza kesal. Ia masih tak habis pikir dengan Reza, kok bisa-bisanya!! Tapi ada yang mengganjal.


Oh tidak, Izza kau berbohong!! Kau bilang sudah tobat? Lalu siapa yang beberapa bulan lalu masih bisa mabuk-mabukan berdua di VVIP hah? Khilaf kah? Wkwk.


"Gue ada masalah sama Jeje Ref." jawab Reza dengan satu hembusan nafas panjang.


"Heh goblok!! Kalo ada masalah tuh lari ke tuhan, sholat kek berdoa atau apa gitu!! Lah elu bukannya lari ke pencipta, malah lari ke club. Tolol amat dari dulu ga ada sembuh-sembunya!" sembur Izza galak.


Reza memeluk erat adik kembarnya itu, mencoba mencari ketenangan lain yang ia coba cari dengan melampiaskan semuanya di club malam ini tapi tak kunjung ia dapatkan.


"Otak lo itu kenapa sih Ja? Ada gangguan sarafnya apa gimana hah? Kalaupun ada masalah atau lo habis berantem. Sefatal apapun masalahnya, seribut apapun emosi kalian, harusnya ga perlu lah sampek kek gini!! Lo itu udah bukan ABG bujangan lagi yang bisa jalan ke kanan ke kiri sesuka hati lo!"


"Sekarang lo udah jadi suaminya orang, calon ayah pula! Harusnya lo udah bisa memposisikan kedewasaan lo dengan lebih baik, lo ga bisa mikirin mabuk ini cuma buat kesenangan lo doang. Lo juga harus mikirin gimana perasaannya Jeje dong kalo sampek dia tau lo lari ke tempat beginian?!!!" sembur Izza lagi dan lagi.


Reza makin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di balik rambut panjang Izza yang terurai cantik. Entah mengapa tapi justru Reza merasa lebih tenang setelah bertemu dan dimaki-maki oleh adik kembarnya sendiri. Ia merasa seperti pulang, perlahan akal bersihnya mulai kembali.


"Sekarang gue anter lo pulang!" ucap Izza. Reza mendongak, seperti tak yakin untuk memberikan jawaban 'iya' atas tawaran Izza.


"Ini perintah, bukan penawaran! Lo bawa mobil nggak?" sahut Izza lagi. Ia tau kalau saudara seduplikatnya ini awalnya mau menolak ajakannya.


"Bawa." jawab Reza dengan suara serak mengecil.


"Rel?" panggil Izza. Yang dipanggil sepertinya ketiduran di sofa sebelah Reza, posisinya tadi duduk mendongak bersandar di punggung sofa. Karena tak ada sahutan, Izza yakin kalau bocah tengil ini ketiduran.


"WOYY DARREL!!" teriak Izza lagi. Darrel gelagapan bangun, lucunya adalah dia langsung berdiri refleks memasang kuda-kuda seolah ada yang akan menyerangnya.


"Apa apa mana? Mana yang gangguin lo Lex?!!" pekik Darrel dengan mata yang masih setengah merem setengah melek.


Izza tertawa sedangkan Reza hanya melirik laki-laki itu dengan malas. Selera humor Reza sedang melambung tinggi saat ini. Entah karena kebanyakan minum, atau karena kebanyakan fikiran.


"Ga ada yang nyerang lol!"


"Hah? Ya terus kenapa ngagetin gitu? Arghh hampir aja jantungan gue." keluh Darrel kembali duduk sambil mengucek matanya yang terasa berat dan lengket.


"Ayo pulang!! Lo bawa mobil gue, gue bawa pulang Reza pake mobil dia."


"Lah si Ilham gimana? Dia kan bawa mobil sendiri?"


"Gampang!"


📞Calling Bang Genta....


Genta : Halo Queen?


Izza : Halo bang. Abang sibuk ga?


Genta : Enggak sih, ini baru mau pulang dari markas.


Izza melirik jam tangan, sudah jam sepuluh lewat. Pantas saja Genta sadar dari kerjaan gangster dan akan pulang.


Izza : Bawa mobil sendiri?


Genta : Kenapa emangnya?


Izza : Nih si Ilham mabuk, dia bawa mobil sendiri tadi.


Genta : Lah bukannya dia ditugasin Refan buat ngawal lo ya?


Izza : Awalnya emang iya, tapi sekarang udah ga tau kemana tuh tadi perginya. Jemput dia ya bang? Gua ga yakin sama tuh anak. Soalnya si Darrel gua suruh bawa mobil gua, terus gua bawa si Reza nih.


Genta : Kok ada Reza?


Izza : Long story abang... Pokoknya jemput nih si Alvaro terandom. Bye!!


Genta : Oke. Emang nyusahin amat punya adek satu itu tuh.


Izza : Ahahaha.


Tut tut...


"Satu masalah clear! Udah yuk Rel lu bantuin gua bawa Reza ke mobil nih." ajak Izza. Darrel mengeryit.


"Terus mobil lo gimana? Gue pulang ke rumah lo buat nukerin mobil dulu gitu?" tanya Darrel karena mobilnya tadi ditinggal di rumah Izza.


"Besok aja. Lo nanti langsung pulang!"


"Oke siap!!"


Sesampainya di kediaman Alexander.


Kriet.


"Assalamualaikum?"


Krik krik.


"Spadaaaaaaa!!"


"Buset! Sepi amat nih rumah satu yak? Yakali jam segini udah pada tidur." ucap Izza bermonolog sambil terus berjalan merangkul Reza yang lumayan oleng.


"Kan pada di atas semua Ref!"


Ting.


Pintu lift terbuka, Izza dan Reza baru saja menapaki lantai marmer hitam pertama di atas lantai tiga itu.


"Huftt akhirnya sampai juga." ucap Izza menghela nafas lega. Setelah mengantar Reza, ia bisa langsung pulang menemui mama mertuanya dan tugasnya malam ini pun selesai.


Itu hanya ekspetasi Izza saja, tapi tidak dengan kehendak tuhan!


Bugh.


Ternyata tuhan tak mengizinkan Izza pulang dengan damai dan mudah karena Rayhan muncul bersama aura sengitnya yang super garang dan menakutkan.


"ABANG!!!" Teriak Izza memekik kaget saat tiba-tiba Rayhan muncul dan langsung menghantam wajah Reza dengan satu bogeman mentah. Sontak cekalan tangan Izza di pinggang Reza terlepas begitu saja. Reza tersungkur karena hilang keseimbangan.


Marsha muncul bersama Ajeng di belakang Rayhan, mata Ajeng tampak sembab dan memerah. Entah apa yang membuatnya seperti itu.


"Bangun sini lo bangs*t!!" umpat Rayhan menarik kerah kemeja Reza hingga berdiri terhuyung. Sorot mata tajam, deru nafas tak karuan dengan rahang mengeras menambah aura pekat hitam mengelilingi sosok sulung kedua Alexander itu.


"LO MAU JADI APA RE, HAH?!!!" maki Rayhan mencengkeram kuat kerah Reza hingga Reza sedikit terbatuk kesulitan bernafas. Ia tak bisa melawan Rayhan karena tubuhnya lemas, tak sekuat Rayhan yang darahnya saja sudah tercampur emosi. Apalah daya Reza yang darahnya udah kecampur sama anggur merah? Wkwk.


Izza bingung, tak semudah itu meredakan emosi Rayhan. Dari dulu pun Izza tau kalau Rayhan paling susah di bujuk. Izza menatap kak Marsha untuk meminta bantuan atau saran, tapi Marsha menggeleng kecil sambil menunjuk Ajeng di dekapannya dengan lirikan mata. Dari sinilah Izza faham, sepertinya Rayhan marah kepada Reza karena telah membuat Ajeng menangis. Tapi pertanyaannya adalah mengapa?


"CUMA PENGECUT YANG MAININ HATI CEWEK!! Dan ga ada satupun dari keluarga ini yang punya kelakuan busuk selain elo Re!! Lo mau bikin malu kita semua? Lo nggak mikirin hati istri lo hah?!" maki Rayhan lagi.


"Lo mau bikin malu nama keluarga kita?!! Kalo bang Rendy ada, bisa mati lo sekarang juga!!"


Untunglah saat itu rumah sedang sepi. Hanya ada Rayhan dan Marsha karena Ricko dan Ralita sedang menginap di villa Bandung.


"Kenapa diem aja. JAWAB GUE BANGS*T!!" umpat Rayhan makin mengganas.


"Gua jawab pun percuma! Lo udah terlanjur nelan info dari satu sisi, dan lo akan tetep nyerang gua." jawab Reza dengan tampang sangat berantakan. Bayangkan saja, dia baru saja mabuk dan pulang sempoyongan. Langsung dapat bogem mentah pula!


Sebenarnya Ajeng tidak tega, Marsha pun sama kasihannya melihat kondisi adik iparnya yang sangat kacau itu. Tapi ya kembali lagi ke sikap keras Rayhan yang sulit diluluhkan. Apalagi Marsha tau alasan apa yang membuat suaminya semarah itu. Ya! Ajeng menceritakan kejadian yang ia lihat di club tadi kepada Marsha. Sebenarnya ia hanya ingin didengar saja oleh Marsha, untuk sekedar menenangkan hatinya. Tapi tanpa sadar, Rayhan telah mendengar semua percakapan mereka dari balik tembok ruang keluarga.


Rayhan menggertakkan giginya semakin geram. Tingkat smosinya kian meninggi.


Bugh.


Satu lagi pukulan keras mendarat di pipi kiri Reza hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"ABANG CUKUP!!!" teriak Izza menangahi pertikaian dua bersaudara itu. Izza sudah tak tahan lagi melihat satu bagian dari dirinya dilukai oleh abangnya sendiri. Izza langsung pasang badan di depan Reza untuk melindunginya. Tatapannya menajam kepada Rayhan yang terus saja menyerang kembarannya sejak tadi.


"Cil lo apa-apaan sih! Minggir nggak lo?" sungut Rayhan hendak menggeser bahu Izza, tapi Izza kekeuh tak mau berpindah tempat.


"Abang yang apa-apaan mukulin kembaran gue! Maksudnya apa hah?!!" sentak Izza kesal hingga mendongak karena harus mencapai pandangan wajah Rayhan yang lebih tinggi darinya. Kecil-kecil cabe rawit bos! Mental sama nyalinya Izza emang ga ada lawan.


"Elo yang apa-apan ngebelain orang bersalah kek dia!" balas Rayhan tak kalah galak. Izza berdecih, Reza ini saudara kembarnya. Ya jelas lah Izza akan selalu membela laki-laki di belakangnya ini.


"Bersalah kek gimana? Maksudnya apa? Sebut dulu kesalahan Reza apa sebelum abang main fisik!! Gimanapun juga, sebesar apapun dosa kesalahannya, Reza tetep saudara lo juga bang! Bicarain dulu baik-baik jangan pake emosi. Kita semua udah sama-sama dewasa. Lo ga malu kalo seaindainya papa mama ngeliat lo arogan ke anak bungsunya kayak tadi hah?!!" bentak Izza sambil menekan kedua pundak Rayhan, bermaksud menekan amarah dari lelaki 24 tahun itu.


"Kontrol emosi, kuasai diri lo dulu bang! Jangan mau dikendaliin sama emosi." ucap Izza mulai melembut. Masih dengan kedua tangan di pundak abangnya.


Rayhan diam mencerna semuanya. Perlahan nafasnya mulai beraturan tak seperti tadi.


"Jeje bilang, dia lihat pake mata kepala sendiri kalau Reza pelukan mesra sama cewek lain dari club. Lo tau cil? Ajeng hamil anak dia. Ajeng nangis dari tadi gara-gara kebodohan kembaran lo! Orang udah terbukti salah gitu masih mau lo belain?" jelas Rayhan panjang lebar setelah bara emosinya mulai bisa terpadamkan.


Izza berdecak lega. Rupanya hanya salah faham! Jelas-jelas tadi Izza yang memeluk Reza di club. Betul kan readers? Betul dong!!


"Reza emang salah udah mabuk di club, tapi dia ga salah soal cewek. Cewek itu-"


"Terus aja lo bela nih kembaran brengsek!! Dari dulu sampai sekarang, dalam masalah apapun juga lo selalu belain dia kan?" potong Rayhan tersenyum kecut. Tampak sangat tak suka dengan pembelaan Izza yang selalu mengatrol posisi Reza.


"Gue ga pernah belain orang tanpa alasan abang! Kalo gue bela Reza, berarti menurut gue emang Reza nggak ada salah!" sahut Izza cepat. Ia tak mau Rayhan salah paham lebih jauh lagi.


"Ga ada perselingkuhan yang pernah dibenarkan, salah tetep salah!" ucap Rayhan tegas. Entah mengapa, membahas soal perselingkuhan membuat emosi Rayhan kembali naik dan ingin kembali melampiaskan kemarahan dan kecewanya kepada Reza. Tangan terkepalnya kembali bersiap, melihat perubahan raut wajah Rayhan yang kembali mengeras, Izza langsung panik.


"Masalah harus disingkirin!"


"Iya tapi masalahnya Reza enggak selingkuh! Cewek yang sama Reza itu gue!!" jawab Izza cepat dan tepat sebelum Rayhan kembali menyentuh Reza.


Rayhan menghentikan kepalan tangannya di udara dan perlahan mulai menurunkan tinjunya. Mengatur nafasnya yang tadinya sudah kembali berantakan tak karuan.


"Apa lo bilang?" tanya Rayhan menajamkan matanya pada Izza.


"Gue yang nemenin Reza di meja club, bukan orang lain. Tanya aja ke Darrel sama Ilham kalo ga percaya!" jawab Izza percaya diri. Rayhan tertawa receh.


"Terus lo Ngapain ke club? Bukannya suami lo lagi di luar negeri? Oh atau jangan-jangan penyakit lo sama Reza kambuhnya barengan? Iya?" tanya Rayhan tak mudah percaya. Izza mendelik kemudian mengelus dadanya sendiri. Mencari stok kesabaran.


"Astaghfirullah.... Gue sama Ilham Darrel abang!! Itu club kan punya gue, gue ada urusan kerjaan disana. Gue juga udah izin ke Refan dan diizinin kok. Lagian juga gue ini hamil, gue tau mana yang baik mana yang enggak!!" jawab Izza bersungguh-sungguh.


"Gue tekanin sekali lagi, Reza ga salah! Dia ga pernah selingkuh. Dan abang, ga boleh kasar tanpa arah jelas kek tadi lagi!!" tegas Izza menunjuk wajah bermode gahar didepannya.


Izza menuntun Reza untuk berjalan ke arah belakang Rayhan.


Izza mendekati Ajeng yang sesegukan kecil di pelukan Marsha. Dua bumil itu bertemu! Usianya beda dua minggu, lebih tua usia kandungan Jeje tapi lebih besar perut Izza. Karena Izza mengandung dua bayi kembar, sedangkan Jeje mengandung satu anak berjenis kelamin laki-laki dari hasil pemeriksaannya beberapa minggu lalu. Ya! Satu anak laki-laki dari Reza.


"Udah ya je, gue ga tau masalah lo sama Reza apa. Tapi yang jelas sekarang nih bawa suami lo ke kamar, kalian selesaiin ini sendiri dengan baik dan tanpa emosi lagi. Okw? Yang jelas, cewek yang lo lihat itu gue kok. Reza enggak pernah sama cewek lain. Kalo lo masih ga bisa percaya sama gue, lo bisa tanya ke Ilham atau Darrel!" jelas Izza. Ajeng mengangguk.


Setelah Reza dipapah oleh Ajeng memasuki kamarnya, maka tinggalah Izza, Marsha dan Rayhan yang berjalan mendekati Izza yang berdiri bersebelahan dengan Marsha.


"Cil!" panggil Rayhan. Izza memutar pandangannya.


"Apaan?"


"Lo ngelakuin itu tadi bukan semata-mata buat ngelindungun kembaran lo doang kan? Lo ga bohongin kita semua kan?" tanya Rayhan masih lumayan ragu. Izza memutar bola matanya malas. Emang kelewatan nih abang-abang satu! Udah emosian, kasar, keras kepala, ga percayaan pula sama adik sendiri. Huh untung aja sodara sendiri!


"Ngapain gue boong? Lo mau ngecek cctv nggak? gue bisa dapetin cctv itu sekarang juga kalo abang mau." jawab Izza cerdas. Rayhan memicingkan mata, mencari kebohongan di sorot mata santai Izza tapi tak bisa ia temukan. Berarti Izza memang tidak berbohong!


"Sembarangan aja lu! Kembaran gue di tonjok!! Lain kali dengerin dulu dong." omel Izza.


"Iya iya bawel!!" gerutu Rayhan mengusapkan seluruh telapak tangannya ke wajah Izza yang bersungut-sungut.


"Jadi butuh bukti CCTV ga nih?" tanya Izza lagi. Ia merasa menang di atas awan saat ini.


"Ga usah. Males gue ngeliat orang dugem!" jawab Rayhan malas.


"Kenapa? Iri lu?"


"Ya iri lah! Gua udah ga pernah ngeclub sejak nikah sama-"


Ekhemmm


"Mampus kak Marsha denger ahahaha!!" seru Izza tertawa puas. Jebakannya ternyata berhasil.


"Eh eh enggak sayang... Bercanda doang kok hehe." pekik Rayhan panik dan langsung merangkul istrinya. Melakukan hal-hal kecil seperti menoel hiding Marsha hingga mencubiti pipinya agar wanita-nya itu tidak ngambek apalagi marah.


Kehadiran Marsha memang membawa banyak sekali perubahan di hidup Rayhan. Dari yang nakal banget jadi lumayan ga nakal (catet ya! Cuma lumayan), dari yang susah di atur jadi lebih gampang di atur, dari yang dulunya suka main ke club bareng Dimas dan Ivan kini jadi hampir tak pernah. Meskipun mereka bertiga hanya sekedar minum-minum saja tanpa melibatkan kata wanita.


Apalagi sejak Rayhan dan Marsha telah resmi menikah. Tak jauh berbeda dari Refan, Rayhan juga selalu melakukan apapun hal yang diminta ataupun dilarang oleh istrinya.


Everything for his wife!


"Dasar alumni bad boy!" sembur Marsha dengan bibir mengerucut sebal. Rayhan mengecup bibir Marsha seenak jidat tanpa memperhatikan ada Izza yang jadi obat nyamuk mereka.


"Kan dulu, sebelum ketemu kamu."


WOEEE UDAH WOEEE!! Gue jadi nyamuk di sini!" celetuk Izza tak kuat lagi melihat tebaran keuwuan di hadapannya. Rayhan dan Marsha baru bisa sadar kalau ada Izza di antara keuwuan mereka. Jadi saksi bisu, eh saksi bawel deh wkwk.


"Huu cari suami lo sana!!" ledek Rayhan menye. Izza memutar bola matanya malas.


"Gua tandain muka lu bang!"


"Udah yuk sayang masuk ke kamar aja, kasian amat dia jomblo." ucap Rayhan pada Marsha yang mengangguk-angguk saja.


"Dek kamu nginep di sini aja ya? Udah malem banget. Kasihan kandungan kamu loh!" tutur Marsha sebelum berbalik pergi.


"Iya."


"Nyebelin banget ye di rumah yang isinya couple semua, lah ini gua sendirian tanpa Refan." gerutu Izza langsung berjalan menuju kamarnya yang letaknya masih sama, di sebelah kamar Reza.


Baru tiga langkah ia berjalan maju, dua tangan kekar menghentikan langkahnya dengan melingkari leher putihnya.


Greb.


"Eh?"


"Aaaaa miss you ay!!" bisik Refan yang tengah menikmati gelayutan mesranya pada ceruk leher Izza. Izza tercengang dengan kehadiran sosok lelaki favoritnya ini.


"Refan?! Kok kamu bisa tau aku ada di sini?" tanya Izza heran.


"Tadi nanya ke Darrel. Nanya mulu ih!! Bukannya dipeluk dulu atau di kasih kiss night gitu kek!" protes Refan menggerutu. Izza terkekeh lalu memutar balikan tubuhnya, memeluk suaminya dengan lebih erat.


Cups


"I miss you too babeee!!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰