
DORRRR.
"Ck." decak Leon yang langsung berlari ke sumber suara, sedangkan Genta masih ditempatnya sambil memberi tembakan perlindungan untuk Leon yang berlari tanpa menembak musuh.
Darah merah kental mengucur deras dari atap kontainer, tembakan tadi bukan untuk Refan, bukan pula berasal dari laki-laki bermasker tadi. Tembakan dari sisi lain lebih dulu melesat tepat di kening lelaki bermasker, Kevin. Laki-laki yang baru sampai di TKP itu langsung menembak mati 'raja terakhir' yang hampir menghilangkan nyawa sepupunya.
"Pikiran lo dimana woy nyet!!" sembur Kevin menepuk-nepuk pundak Refan yang berdiri dengan sedikit bergetar. Tatapannya masih kosong, benar-benar tidak seperti Refan yang biasanya.
Merasa kesal tak mendapat jawaban, Kevin menjidat kasar kepala Refan yang langsung connect saat itu juga.
"Arghsss..." cicit Refan mengelus kepalanya. Saat itulah ia baru menyadari kalau ia masih berada di medan panas dan Kevin kini berada di depannya. Tunggu! Kevin? Sejak kapan dia disini?!
Setelah memastikan semua musuh berhasil dilumpuhkan, Genta berlari menyusul Leon yang hampir dekat ke temat Refan bersama Kevin.
"Lo kenapa sih Fan?" tanya Leon ngos-ngosan karena berlari.
"Fokus lo kemana aja hah?" sambung Genta.
"Iya, tumben lo ga fokus! Biasanya kan lo selalu peka sama keadaan sekitar, lo ada masalah apaan dah?" tambah Kevin heran. Refan menggeleng kosong, pikirannya benar-benar kalut saat ini. Ia hampir saja mengingkari janji pada Izza untuk selalu selamat dan tetap hidup, untunglah Kevin datang tepat waktu dan membantunya menepati janji itu.
"Ga ada, lo pada bawa barangnya ke markas. Gue langsung cabut!" pamitnya langsung kabur.
"Tuh anak kenapa sih?" tanya Genta heran.
"Banyak pikiran kali." jawab Kevin mengendikkan bahu.
"WOEYYY!!" terikat Leon tiba-tiba saat ia menyadari kehadiran Kevin, emang dasarnya lemot banget kesadarannya Leon mah.
"Buset kaget." pekik Kevin mengelus dada. Genta juga terhenyak saat itu.
"Lo kenapa demen banget sih teriak-teriak hah?!" sembur Genta emosi. Leon nyengir lalu memeluk Kevin dengan sangat erat.
"Aaaaaa sahabat sejati gue akhirnya balik dari Bogor!!" cicitnya alay mode on, Genta geleng-geleng lalu mulai mengecek kembali barang transaksi mereka untuk dibawa kembali ke markas.
"Dih dih lebay lu bangs*t najis bet." cicit Kevin bergidik ngeri.
"Utututu ayang Kepin....."
"Yon lepasin anjir gue masih normal." ucap Kevin berusaha melepaskan diri karena Leon memeluknya dengan sangat erat.
"Tapi kok lo bisa kesini?" tanya Genta setelah memastikan barang mereka aman.
"Tadi gue ke markas sih tapi kata si Rafael, kalian bertiga disini. Ya udah gue nyusul."
"Adek gue nggak disana?" tanya Genta, Kevin menggeleng.
"Katanya mau makan siang bareng Queen." jawab Kevin membuat Genta mengangguk.
"Untung aja lo dateng tepat waktu Vin! Hampir aja adik gue jadi janda kembang." sahut Genta kemudian mereka semua tertawa renyah.
"Whahahhanjirrr sialan mulut lo bang!"
"Ck ck ck kalo Refan denger, bisa disumpel mulut lo Ta ahahahh."
...****************...
"Queen...." panggil Ilham saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Izza menoleh sebentar kemudian lanjut streaming MV aespa, girl grup pertama yang baru saja ia idolakan karena satu agensi dengan EXO, NCT dan juga lagunya terkesan enak dengan konsep bagus.
"Paan?"
"Sebenernya Refan ngelarang gue ngomongin ini, tapi gue sama Rafael sepakat buat ngasih tau lo lebih dulu."
"Ngasih tau apaan si? Sok serius lu ah."
"Lo, harus gue amanin." terang Ilham sekali tarikan nafas. Izza menoleh lalu menatapnya bingung.
"Apaan si Ham? Kenape lu?"
"Duh ntar mending dijelasin Refan aja deh yang itu.... Sekarang lo harus ikut dulu!"
"Kemana?"
"Ke rumahnya papa Ricko." ucap Ilham yang tampak serius, Dandy sudah memberitahu Ilham tentang Bima yang mengira kalau anak Stella adalah anak Izza. Karena takut terjadi hal buruk, Refan memberitahu Izza tanpa menunggu Refan memberitahunya sendiri.
"Lah? Lo lupa apa ngigo dah? Gue kan udah nikah sama Refan Mahliii... Ya gue pulangnya pasti ke rumah suami gue lah."
"Gue tau."
"Ya terus?"
"Bakal bahaya kalo lo di sana terus Za... Mending ke rumah lo yang lama aja biar aman."
"Ga mau! Pokoknya anterin gue pulang ke Refan aja, gue bakal lebih aman kalo gue dijaga sama Refan."
"Tap-"
"Gue ga suka ngulang-ngulang ya."
...****************...
Kriet, Refan membuka pintu kamarnya namun kosong. Istrinya tak ada di kasur, sofa atau bahkan di balkon.
"Sayang?" panggilnya beberapa kali lagi tetapi tetap tak ada sahutan dari Izza, kemana perginya dia tanpa mengabari Refan terlebih dahulu?
"Pasti keluyuran lagi nih sama si Arisialan." gerutu Refan mengeluarkan hp dari saku celana sambil berjalan keluar dari kamar. Izza selalu pergi dengan Aris, anggota Blood Wolf yang diberi kepercayaan olehnya untuk menjadi sopir pribadi Izza.
📞Calling Aris....
Refan : Halo Ris!
Aris : Ada tugas apa bos?
Refan : Tugas pala lo! Lo bawa kemana lagi istri gue nyet!!
Aris : Lah kok nanya gue bos?
Refan : Coba lo dimana sekarang?
Refan menekan knop pintu kamar, lalu keluar untuk segera menyusul Aris setelah ia menjawab dimana ia berada bersama Izza.
Aris : Disini.
Refan : Iya itu tempatnya dimana sialan.
Aris : Dibelakang lo bos, makanya noleh dulu.
"Ck." decak Refan langsung mematikan sambungan telepon. Aris kini telah berdiri tepat dibelakangnya, Refan celingukan.
"Istri gue mana?"
"Bukan sama gue bos."
"Terus?"
"Tadi sih dijemput Ilham BDG."
"Mau kemana mereka?"
"Ga tau."
"Ck harusnya lo tanya Ris!"
"Ya maap kan-"
"SAYANG!!!" potong Izza yang muncul dibalik pintu lift yang terbuka, bumil gede itu berlari kecil menuju sang suami yang sudah siap menyambutnya.
"Waduh banyak nyamuk nih, gue cabut aja deh." keluh Aris yang langsung kabur lewat tangga. Memberi ruang untuk dua bosnya.
Greb.
"Miss you so bad...." cicit Refan dalam pelukan eratnya, Izza yang merasa aneh langsung melepaskan pelukan mereka.
"Kamu aneh, kenapa?"
"Ga papa." jawab Refan menggeleng, Izza kemudian berjalan memutari sang suami untuk memastikan lelakinya ini baik-baik saja.
"Tadi aman?" tanya Izza lagi, Refan mengangguk dengan sedikit ragu.
"Aman maybe...."
"Kok maybe?"
"Ga papa, masuk kamar yuk? Aku mau deeptalk sama si kembar."
...****************...
"Niko!!" panggil Bima menemui Niko yang sedang bercengkerama asik dengan anak buah Bloody Dragon yang lain.
"Eh bos, ada apa bos?" tanya Niko beranjak dari kursi dan mendekati Bima. Bima menariknya ke sudut ruangan.
"Lo liat Fani dimana nggak?"
"Fani? Lah bukannya biasanya sama lo terus ya?" tanya Niko balik, Bima mendengus.
"Tu anak ilang-ilangan mulu dari kemarin, sejak gue nanya kenapa ruang-" ucapan Bima berhenti seketika saat ia ingat ia berbicara dengan siapa dan dimana.
"Ruang?? Apaan lanjutin lah." cicit Niko kepo. "Lo masih ga percaya sama gue ya? Gue udah bertahun-tahun juga disini elah." gerutu Niko saat memahami kalau Bima tampak ragu memberitahunya yang sebenarnya.
"Ya lo juga gitu."
"Itu kemarin ruang penyimpanan senjata kebuka pintunya, lo kan pergi kemarin jadi gue tanya ke Fani yang ada disini. Nah dari situ sampe sekarang tu anak jadi susah banget dicari."
"Oh gitu.... Terus lo manggil gue tadi buat apa?" tanya Niko kembali ke topik, dalam hatinya ia bersorak lega karena rencananya bersama Dandy untuk mengadu domba Fani dan Bima mulai berjalan perlahan.
"Ya itu lo lihat dia nggak?"
"Eng-"
"Bos!" celetuk seseorang dari samping mereka, keduanya menoleh. Rupanya Fani.
"Tumben ngomong berdua tapi di tempat rame gini, ada apaan nih?" tanya Fani saat sudah berada tepat di samping keduanya.
"Tadi-"
"Ga ada apa-apa." potong Bima.
"Lah?"
"Malam ini gue transaksi diamond lewat pelabuhan biasa, lo jagain markas baik-baik Fan!" ucap Bima memberi perintah. Fani mengangguk namun sempat bingung.
"Gue disini?"
"Iya lo disini sama anak baru yang masuk tim inti. Siapa tuh namanya? Doni apa Dani itu."
"Doni kemarin udah bilang dia ke Bogor tiga hari karena neneknya meninggal." jawab Fani karena Doni alias Dandy memang sudah tidak datang ke markas sejak kemarin dengan alasan pulang kampung.
"Ya udah kalo gitu lo sendiri aja yang lain."
"Terus yang nemenin lo siapa kalo gue disini bos?" tanya Fabu lagi
"Biar gue sama Niko aja." jawaban Bima bukan hanya membuat Fani terkejut tapi juga Niko yang sontak refleks menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan Bima tidak salah bicara.
"G-gue bos?"
"Iya, kenapa? Lo nggak siap?"
"Eh eh siap dong bos!! Anything for our king."
"Serah, gue tunggu nanti malem jam 10 di depan markas. Soalnya gue harus pulang dulu sekarang!"
"Bos!" protes Fani tak terima saat Bima seenak hatinya ingin langsung pergi tanpa mendengarnya berbicara terlebih dahulu.
"Apa?"
"Kenapa jadi lo balik gini? Biasanya Niko yang lo suruh jaga markas sementara gue ikut lo keluar? Lo aneh banget."
"Lo yang aneh! Gue cuma mau nyoba ngasih pengalaman lebih dari Niko, justru karena lo orang yang paling gue percaya makanya gue nitipin ni markas malam ini."
"Tapi bos-"
"Gue musti pulang sekarang."
...****************...
"Iya, lo urus aja sama yang lain bang.... Gue ga bisa pergi malam ini." pungkas Refan mengakhiri panggilan telepon dengan Genta.
Atas ide Dandy bersama Niko, Genta ingin melancarkan serangan malam ini kepada Bloody Dragon. Refan menyetujui siasat cerdik dari dua penyusup itu tapi ia tak bisa pergi karena sudah berjanji pada Izza untuk tetap di rumah malam ini.
Merasakan hawa dingin di balkon semakin menjadi-jadi, Refan pun memasuki kamarnya lalu mengunci rapat pintu balkon. Senyum tipis terukir indah saat ia menatap sang istri masih setia menunggunya di atas ranjang dengan tatapan hangat yang seolah enggan berpaling.
"Udah selesai selingkuhnya sama bang Genta?" sindir Izza manyun, akhir-akhir ini ia merasa hidup suaminya lebih didominasi oleh Genta daripada dirinya sendiri.
"Cemburu?" tanya Refan mendekat.
"Menurut kamu?"
"Ya masa cemburu sama batang sih ay.... Kamu kan tau aku normal."
"Sama aja."
"Udah udah ga usah dibikin ngambek, mending peluk aja...." cicit Refan beraksi, memeluk erat sang istri dengan rakus.
"Eh btw ay..." lirih Izza agak ragu sambil mengelus rambut Refan yang kepalanya terbenam di ceruk lehernya.
"Heum?"
"Tadi aku jalan sama Ilham."
"Udah tau dari Aris."
"Ish ga peka banget! Minimal tanyain kek aku ngobrolin apa aja sama dia." gerutu Izza jengah. Refan terkikik kecil masih dalam posisi yang sama.
"Eheheheh iya iya maaf, emang ngobrol tentang apa aja hm?" tanya Refan yang kemudian mendapat jawaban panjang lebar dari Izza. Ia menceritakan semua hal yang dikatakan oleh Ilham di dalam mobil sepulang dari cafe tadi.
'Sialan Ilham sama Fael, gue belum nyari alasan pas malah mereka bongkar kedok duluan.' batin Refan mengutuk sebal pada duo dalang itu, ia yang awalnya sudah terjebak nyaman dalam posisi cuddle nya sampai harus mendongak kembali karena mendengar cerita Izza.
"Jadi gitu ay ceritanya...."
"Jadi dalangnya Ilham Fael lagi nih." pekik Refan malas.
"Ga usah sok ngalihin. Jelasin!!"
"Itu karena Dandy udah dapet info soal YH sama Bloody Dragon ay." jawab Refan apa adanya, Izza mendelik terkejut.
"Apa aja infonya? Siapa tuh si YH?!!"
"Cowo yang ketemu kamu di mall."
"Siapa? Kak Abi? Ga mungkin banget ay.... Mmm apa Bim- eh?!" cicit Izza yang langsung menutup mulut rapat-rapat. Refan mengangguk.
"Beneran Bima ketos?!!"
"Iya. Ternyata dia itu keponakan dan satu-satunya keturunan yang tersisa dari leader BD yang berhasil aku habisin beberapa tahun silam."
"Shik men.... Terus rencana kamu selanjutnya gimana?"
"Ya ngikutin langkah dari Ilham tadi ay... Aku sama Fael udah sepakat sama jalan itu."
"Kamu beneran mau ngirim aku ke rumah papa?" tanya Izza tak percaya, Refan bangkit dari tidurnya lalu duduk menghadap sang istri. Menggenggam erat jemari mungil Izza yang meronta ingin dilepas karena tak terima dengan rencana Refan.
"Kamu harus ngertiin aku kali ini ay."
"Terus maksudnya kamu ngelawan Bima sendirian gitu?"
"Iya...."
"No! Aku ga bakal biarin kamu kenapa-napa sendirian ay."
"Kamu bakal lebih aman kalau dirumah ayah ay... Target mereka itu di rumah papa."
"Papa David? Kok bisa?"
"Ya bisa, pokoknya kita kosongin rumah ini juga rumah papa."
"Terus Stella sama kembar gimana?"
"Stella, baby M kembar sama mama juga bakal dipindah sementara ke rumah papa Ricko bareng kamu juga."
"Jadi papa sama Rafael ikut kamu?"
"Iya, mereka juga bakal turun tangan. Makanya aku mau kamu juga stay di rumah ayah Rick-"
"Ga mau. Aku ikut kamu!" kekeuh Izza dengan tatapan tajam khas yang aura dinginnya sudah lama tak terjamah. Izza yang lama seperti kembali detik ini juga.
"Ga usah ay..."
"Usah!! Inget kataku dulu nggak? Bebas kemanapun kamu pergi, asal aku ikut!!" tegas Izza tak ingin dilarang apalagi dibantah.
"Tapi untuk kali ini aja ay, please ga usah ya..."
"AKU IKUT."
"Izza...."
"Aku ikut. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja Refan!" oke, kalau nama Refan sudah terucap dari mulut Izza maka dunia akan segera tidak baik-baik saja.
"Kamu cuma mikirin aku? Kamu ga mikirin gimana kondisi anak kita nanti kalo kamu ambil resiko ini hah?!" tegas Refan balik, dingin tak selalu harus dibalas hangat bukan? Kadang memang perlu sedikit keras untuk melawan Izza yang keras kepala.
Izza langsung diam, karena kekhawatirannya atas Refan ia sampai lupa kalau ia kini tengah berbadan tiga. Izza bisa mengorbankan nyawanya untuk Refan tapi ia tak bisa egois untuk ikut mengorbankan dua nyawa lain yang bahkan tak tau apa-apa.
"Kamu ga mau anak kita kenapa-napa kan sayang? Ya udah kamu diem aja kali ini, doain aku sama yang lain ga usah ikut campur!" jelas Refan lagi.
"Tapi-"
"Jangan bantah aku sekali ini aja! Aku suami kamu, dan kamu harus patuh. Ini juga demi kebaikan kita semua, oke?"
"Huh.... Tapi janji! Kamu pergi utuh, kembali juga utuh."
"Iya aku janji."
"Ya udah ayo tidur." ajak Izza memeluk erat Refan, Refan tentu menyambutnya dengan hangat tanpa keberatan. Ia membelai lembut rambut sang istri yang nafasnya sudah mulai teratur, tanda kalau ia sudah terlelap tidur.
'Gue ga percaya Izza bakal nurut segampang ini, dia pasti bakal tetep ngehalalin segala cara demi gue. Oke, maaf sayang tapi kali ini aku harus minta Ilham ngebuatin obat tidur buat kamu.' batin Refan mulai memikirkan cara lain untuk mencegah kalau Izza sendiri juga punya rencana lain untuk tetap ikut.