IZZALASKA

IZZALASKA
68. Di kediaman Dirgantara



"Jadi Refan mau ikut kesini juga sayang?" tanya Alice pada Stella yang baru saja selesai di telepon oleh Rafael.


Stella mengangguk.


"Iya Ma, katanya ada yang mau dibicarain bareng mama sama papa."


"Kan mereka tau kalau papanya masih di kantor jam segini." sanggah Alice.


"Udah Ma."


"Udah apanya Stella? Kamu mah suka banget ngomongnya setengah-setengah! Sama persis kayak adik ipar kamu berdua tuh." omel Alice. Stella terkekeh kecil.


"Maksudnya, papa udah disuruh pulang sama mereka." jawab Stella jelas. Alice manggut-manggut.


"Eh bentar! Kamu bilang kalo Refan mau kesini?" tanya Alice ngegas. Sepertinya ia teringat sesuatu.


"Iya." jawab Stella mengangguk.


"Terus Izzanya di rumah sama siapa dong? Masa dibiarin sendirian di rumah, ga diajak kesini?" tanya Alice lagi. Wajahnya langsung berubah menjadi khawatir. Biasanya kalau kedua anak kembarnya ingin membicarakan sesuatu kepada papanya, pasti ada hal yang terjadi.


"Eh iya juga ya? Apa aku hubungin Izza aja ya Ma, biar kesini dia." respond Stella yang langsung menyabet kembali iPhone yang ia letakan di meja ruang tamu tadi. Alice mengangguk setuju.


"Bent-"


Tok tok


"SPADAAAA PAKET!!!" teriakan nyaring bersamaan dengan suara ketukan pintu itu membuat Alice dan Stella saling pandang, bingung.


"Kamu pesen barang sayang?" tanya Alice menaikkan sebelah alis. Stella menggeleng.


"Enggak kok Ma."


"Ya terus itu apa?"


"Ya Stella ga tau, biar Stella lihat ya?" tawar Stella hendak berdiri tapi ditahan oleh Alice.


"No way Stella sayang!! Biar mama aja yang kesana oke? Kamu diem aja di sini sama cucu mama." tolak Alice yang langsung berdiri dan pergi. Stella diam mengikuti arahan mamanya, daripada nanti ngamuk kan bahaya.


"SPADAAAAA PAKEEEETT!!!" teriak suara itu yang makin mengeras, sepertinya 'kang paket' itu punya jiwa kesabaran yang sangat tipis.


"Iya iya sebentar!!" balas Alice setengah berteriak.


Cklek


"Ini paketnya Bu!" ucap suara familiar itu sambil menyodorkan totebag bertuliskan 'kue lapis pahlawan' di bagian depannya.


Ralita menerima uluran totebag itu tanpa rasa curiga dan sadar sedikitpun.


"Terimakas- eh?" cicit Alice. Setelah menerima totebag tadi, ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Kenapa pengantar paket ini bisa memakai cincin berlian yang pernah ia berikan kepada Izza? Ya! Alice ingat betul saat itu ia menghadiahkan cincin berlapis berlian langka itu kepada menantunya saat hari ulang tahunnya.


"Pengantar paket macam apa yang bisa membeli cincin ini dan memakainya?" lirih Alice masih membolak-balikkan jemari tangan yang ia pegang sejak tadi. Yang lebih aneh, tangannya sangat halus.


"Kok bisa ya?" tanya Alice masih belum mendongak untuk melihat wajah si 'pengantar paket' itu.


"Ya bisa lah, kan Mama yang beliin waktu itu." celetuk si 'pengantar paket'.


"Haisss kenapa suaramu mirip dengan suara putriku- eh loh? IZZA?!!" pekik Alice terkejut saat matanya mendongak ke arah wajah cantik yang sedang tersenyum geli kepadanya.


"Ahahaha good morning setengah siang mama!!" ucap Izza yang langsung mencium punggung tangan Alice. Alice masih melongo, bisa-bisanya ia tertipu dengan prank semacam ini.


"Astaga sayang!! Kamu ini usil banget ya. Bisa-bisanya mama ketipu juga." omel Alice. Izza terkekeh.


"Ehehehe Izza lagi gabrut Ma, makanya iseng cosplay jadi kurir paket."


"Gabrut?"


"Gabut brutal, Ma."


"Hih dasar kamu ya!! Bikin bingung aja pagi-pagi." gerutu Alice yang langsung memeluk menantu kesayangannya ini. Izza balas memeluknya.


"Oh ya ini Izza tadi habis dari Mall, karena Refan nyuruh pulang ke sini ya udah deh sekalian aku bawain kue lapis kesukaan Mama." ucap Izza mengulurkan totebag yang tadi tak jadi diambil oleh Alice.


Alice mengangguk dengan senyuman hangatnya.


"Terimakasih sayang!!"


"Ya udah ayo masuk, Stella pasti udah nungguin kita di dalam." ajak Alice membawa Izza masuk ke dalam rumahnya.


...****************...


"Udah dibales sama Refan apa belum woi?" tanya Kevin tak sabaran. Ia daritadi hanya mengemudikan mobilnya tanpa arah, karena Refan belum memberikan alamat tempat untuk pengamanan keluarga Doddy.


Daripada harus bolak-balik markas, Kevin lebih suka muter-muter ga jelas.


"Belum."


"Ya terus?"


"Terus apanya? Ya belok lah! Ntar lo nabrak pohon itu tuh, mau lo?" sahut Leon menunjuk pohon di ujung jalan setelah pertigaan. Kevin menghela nafas panjang.


Terserah Leon saja!


"Jangan ampe lu gua makan habis ini." ancam Kevin sebal. Leon nyengir.


"Iye iye gue tau, maksud lo tadi lo mau gue nelpon Refan yekan? Dah tau gue!!" sahut Leon yang kemudian menelepon Refan.


"Ssstt ngamuk mulu lu kek emak-emak!!"


Drtt drtt


📞Refan is calling.....


"Lah panjang umur juga ni bocah." lirih Leon saat Refan lebih dulu menghubunginya. Kevin hanya melirik tipis untuk memastikan.


Refan : Hm ada apaan lo daritadi nelpon?


Leon : Lu daritadi kemana aja si bos?


Refan : Hp nya mode silent, gue lupa.


Leon : Ini keluarganya Dodot harua gue bawa kemana?


Refan : Bawa ke rumah papa.


Leon : Papa lo?


Refan : Ya iyalah, masa ke rumah papa lo!! Mau lo bawa ke kuburan hah?


Leon : Ehehehe iya juga si, jokes lu cakep juga bos.


Refan : Dark jokes.


Leon : ahahha-


Tut tut tut....


"Emang ngajak berantem ni anak." gerutu Leon saat sambungan teleponnya tiba-tiba diputus oleh Refan. Kevin menertawakannya dalam diam.


"Ape lu pake ketawa segala!!"


"Dih?"


"Bawa ke rumah utama Dirgantara." ucap Leon.


"Seriusan?"


"Hm."


...****************...


"Ay!" panggil Refan melambaikan tangannya pada sang istri, siapa lagi kalau bukan Izza.


Izza yang masih asyik berghibah ria di ruang tengah bersama Shella dan Alice pun menoleh.


"Apa?" sahut Izza setengah berteriak karena Refan berjarak lumayan jauh darinya. Refan dan Rafael sudah sampai rumah sejak tadi dan Refan sepertinya baru saja kembali dari ruang kerjanya bersama Rafael. Bedanya adalah Rafael langsung menghampiri mereka di ruang tengah sedangkan Refan malah berhenti di tengah-tengah tangga.


"Sini!!" panggil Refan. Izza menggeleng.


"Ga mau!"


"Ay!!" omel Refan sok galak padahal ia tak pernah bisa galak kepada istri emas kesayangannya itu.


"Samperin sono Za, daripada ntar malem lu kelagepan diterkam sama dia hayoooo." celetuk Rafael menakut-nakuti Izza. Kebetulan hari ini hari kamis yang artinya malam ini adalah malam jumat.


"Sunahnya jangan lupa kaka." sahut Stella meledek. Ia kini manja bersandar pada bahu Rafael. Alice malah tertawa saat melihat raut wajah panik Izza.


"Tuh sayang mending kamu samperin gih! Nanti kalau anaknya ngambek, kamu sendiri yang repot loh." suruh Alice. Izza menghela nafas panjang lalu mengangguk.


"Hm, iya deh."


"AYANG BURUAN WOIIIIIII." pekik Refan tak sabaran. Izza yang baru saja berdiri pun berdecak sebal.


"Ck. Iya! Ini juga mau kesana ih."


Setelah Izza pergi, Alice mengajukan pertanyaan pada anak sulungnya.


"Fael!"


"Iya ma?"


"Refan mau ngapain manggil Izza? Bukannya kalian mau ngajak ngobrol mama sama papa?" tanya Alice heran, harusnya Refan yang turun kesini. Bukan malah memanggil Izza ke atas.


"Oh itu, ada yang mau dibicarain berdua dulu katanya. Sambil nunggu papa kan juga belum pulang Ma." jawab Rafael enteng. Alice manggut-manggut. Stella tim nyimak.


"Sama nungguin Kevin sama Leon." tambah Rafael. Alice mengeryit heran.


"Loh? Ngapain mereka kesini? Tumben banget barengan kek gini?" tanya Alice kepo.


"Nanti juga mama bakalan tau kok." jawab Rafael enggan menjelaskan pokok masalah itu sekarang, lebih baik menunggu David terlebih dahulu bukan?


Back to duo bucin.


"Kenapa?" tanya Izza to the point saat ia sudah berdiri tepat dihadapan Refan. Refan meraih pergelangan tangannya.


"Ayo ke kamar bentar, ada yang mau aku bicarain."


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰