IZZALASKA

IZZALASKA
55. Dirgantara home



"HEH STELLA JERUK!!" panggil Izza melengking di sudut ruang keluarga. Mata jelinya menangkap siluet tubuh seorang wanita berbadan dua yang tengah duduk dengan bersandar di pundak mama mertuanya. Mama mertua Stella, ya mama mertua Izza juga.


"IJAH?!!" pekik Stella langsung bangkit dari sandaran nyamannya. Ia langsung berdiri sedangkan Izza bergegas berlari kecil menuju tempat Stella berdiri.


"Aaaaaaaa kangeeeeeeennn!!" pekik Izza memeluk Stella dengan erat. Kalian pikir sendiri aja lah gimana posisinya, hihi.


"Kenapa ga dari tadi siang sih? Kenapa baru malam ini ke sininya." protes Stella manyun. Izza terkekeh.


"Tadi Reza sama Jeje main ke rumah, baru aja pulang tadi sore. Ya udah sekalian aja aku sama Refan ke sini sekarang." jawab Izza.


"Kamu ke sini sendirian aja sayang?" tanya Alice setelahnya. Izza kemudian beralih mendekat ke mama mertuanya dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum mama sayang!!"


"Waalaikumsalam anak cantik! Kamu sendirian kah?" sahut Alice.


"Izza kesini sama Refan kok ma, anaknya masih di bawah." jawab Izza apa adanya. Alice mengangguk lalu memeluk Izza sejenak dan kemudian mengelus perut buncitnya.


"Cucu mama ga ngerepotin kan? Kamu sampai sekarang ga ada ngerasain morning sickness kan?" tanya Alice bertubi-tubi. Izza terkekeh kecil lalu menggeleng.


"Enggak ada kok ma, dari awal sampai sekarang aman ga ada mual-mual kek begitu."


"Ah syukurlah! Tipe kehamilan kamu sama Stella sama loh, sama kek mama dulu waktu hamil Rafael sama Refan. Ga pernah ada yang namanya morning sickness, cuma ngidamnya aja yang agak riweh haha." ucap Alice pada dua putri kesayangannya ini.


Stella dan Izza duduk mengapit Alice di tengah.


"Keturunan emang sulit dibedain sih ma hihi." sahut Stella.


"Ibarat segitiga dibelah jadi dua." celetuk Izza mulai ngawur. Alice dan Stella menoleh bersamaan.


"Kok segitiga?"


"Iya, mau dibelah jadi dua berkali-kalipun pasti tetep jadi segitiga lagi kan?" tanya Izza balik. Alice dan Stella tertawa setelah memahami maksud Izza.


Dan begitulah suasana hangat penuh canda tawa yang menghiasi antero ruang keluarga di kediaman Dirgantara. Ricuh tak mengenal sepi meskipun baru mereka bertiga yang berkumpul di sana. David sedang ada urusan di luar kota sejak tadi siang, Rafael masih di kamarnya, dan seperti yang dikatakan Izza tadi kalau Refan masih di bawah.


"Stella terakhir kali kamu ngidam, kamu minta apa ke Rafael?" tanya Alice pada menantu pertamanya. Stella tampak mengingat.


"Terakhir kali ngidam, aku ngajak Fael keliling Korea. Sekalian nonton konser ma, hehe." jawab si kpopers sejati, Stella.


Alice geleng-geleng kepala, mau heran tapi ini menantunya.


"Tumben Rafael mau nemenin kamu ngeliatin oppa oppa ganteng?"


"Dengan sedikit paksaan dan rayuan, Fael pun nurut." jawab Stella nyengir. Izza menahan tawa, ia teringat permintaan randomnya tentang PCY kemarin malam.


"Kamu kenapa ketawa gitu? Pasti ada yang aneh nih." tanya Alice peka.


"Iya ma, aku yakin ngidamnya Izza ga kalah ngawur." celetuk Stella. Stella sudah tau kalau Izza adalah kpopers jalur kepincut sama Chanyeol saat tak sengaja melihatnya di instagram.


Stella juga sering dicurhati oleh Izza yang ingin ke Korea untuk mencari idolanya, tapi Izza selalu tak punya waktu. Ia punya uang, ia punya segalanya bahkan Izza juga sudah punya support system yang selalu mendukungnya dalam segala hal alias Refan.


Tapi, yang namanya hidup kan selalu ada plus minusnya. Izza mungkin punya uang untuk membeli segala hal, tapi ia tak punya uang untuk membeli waktu dan kesempatan karena jadwal kerjanya yang selalu ada dan tak bisa diganggu gugat.


#SaveIZZA.


"Kamu ngidam apa aja sayang hm? Setelah ice cream dan jadi gogr*b, kamu nyari kengawuran apa lagi hm?" tanya Alice pindah ke menantu bungsu sekaligus putri emasnya ini.


"Enggak ada kok ma, Izza udah tobat ngerjain Refan dengan kerandoman bumil." jawab Izza yang tentu saja berbohong! Kalian sendirilah yang menjadi saksi kesengsaraan Refan atas dunia ngidam dan permodusan Izza selama ini.


"Ga percaya sih gue Jah." ucap Stella memicingkan matanya curiga. Alice manggut-manggut setuju dan sejalan dengan pemikiran Stella.


"Sama Stell, mama juga ga percaya sama Izza kalo ngidamnya udah berhenti."


"Mmm sebenernya semalam aku sempet ngelantur mau nyuruh Refan nemenin PCY yang lagi wamil sih, tapi ga jadi. Soalnya niat awal emang cuma prank! Selain itu udah ga ada lagi deh sumpah, Ma, Stell!" pekik Izza mengacungkan dua jari peacenya.


Alice masih sulit percaya sementara Stella langsung percaya saat nama salah satu idol itu disebut.


"Bohong dia Ma! Ngidam ketiganya paling aneh, paling random, paling ga masuk di akal aku tau!!" celetuk Refan yang muncul sebelum Alice buka suara lagi. Ketiga wanita itu menoleh bersamaan.


'Yah ga jadi sok polos deh gue.' batin Izza merutuki Refan yang muncul di saat yang sangat tidak tepat.


"Oh ya Fan? Ngidam apa dia? Ngajak ke Korea? Eropa?" tanya Alice antusias.


"Minta mangga." jawab Refan setelah mendaratkan pantatnya di sofa yang berhadapan dengan mereka bertiga.


"Terus dimana letak ga masuk akalnya? Kamu beliin sekiosnya? Atau langsung ke kebunnya?" tanya Alice tak mengerti. Refan menggeleng dengan hembusan nafas panjang.


"Masih mending kalo minta dibeliin, ini enggak ma! Izza cuma minta satu biji doang, tapi dia ga mau belu dan mau yang dipetik langsung di pohon yang udah dia incer dari awal."


"And then?"


"Mama tau ga dia ngincer mangganya itu dimana? Lo bisa nebak nggak Stell?" tanya Refan. Stella nyimak, sementara Alice menggeleng dengan satu alis terangkat, Refan berhasil membawa suasana penuh misteri dalam cerita setengah curhatnya ini.


"Dimana?" tanya Alice dan Stella bersamaan.


"Di pohon samping pos satpam komplek! Paling ngawur dan ga bermodal. Masa iya aku disuruh manjat langsung mana di depan satpam komplek sama Ujang lagi ah. Hilang sudah martabat tinggi ini." keluh Refan geleng-geleng. Izza nyengir tanpa dosa sementara Alice dan Stella melongo, anak sultannya Alexander lagi kenapa sih? Ngidamnya ga ada yang ngabisin uang gitu kah?


"Sabar ay, orang sabar di sayang istri tau!" tutur Izza tertawan jahil.


"Untung aja aku sayangnya ugal-ugalan ga ada rem." jawab Refan geleng-geleng pasrah. Baru setelahnya Alice dan Stella connect, mereka pun tertawa.


"Sabar ya calon papa!!" seru Stella.


"Mama ya tolong nih jangan ngomongin yang aneh-aneh kek gitu ah, ntar bisa-bisa dipengenin beneran sama Izza. Mana aku ga pernah bisa nolak maunya dia pula!" protes Refan ngeri. Izza tersenyum nakal dengan alis naik turun.


"Boleh di coba." ucap Izza lirih. Refan menelan salivanya kasar, perasaannya mulai tak enak.


"WOY BUCIN!!" teriak suara khodam ngegas di belakang Refan. Suara yang sengaja diarahkan tepat ke telinga milik Refan.


"BANGS*T!!" maki Refan refleks meloncat dari duduknya. Ia langsung memutar tubuhnya ke arah belakang, matanya melotot setajam elang saat mengetahui siapa biang rusuh yang mengganggunya.


Rafael.


Lihatlah diplukat muka Refan itu kini sedang berkacak pinggang dengan tawa rese tanpa dosa. Sepertinya lelaki itu sudah puas menertawakan keterkejutan Refan tadi.


"Lebay gitu aja kaget!" cibir Rafael.


"B*ngke lu tong!" sembur Refan kesal. Rafael terkekeh kecil lalu menghampiri adik kembarnya dan berpelukan layaknya kakak beradik yang saling merindukan meskipun lisan juga tetap saling mencibir dan mengejek satu sama lain.


Kalau bukan karena sayang, yang namanya menye dan rese tak akan pernah dilakukan oleh duo kembar Digantara yang dikenal dingin dan angkuh di dunia luar itu.


"Pa kabar brader!!" sapa Rafael duluan.


"Not bad but not good." jawab Refan ngawur. Rafael melepaskan pelukan mereka, menatap adik kembarnya dengan heran.


"Kok gitu? Lo lagi ga baik-baik aja?"


"Iya."


"Kenapa? Lo lagi ada masalah? Punya masalah sama siapa lo? Ngomongin ke gue aja sini! Biar gue kasih paham." tanya Rafael nyerocos tanpa henti. Refan manggut-manggut.


"Sama lo! Silahkan hajar sendiri diri anda menggunakan tenaga anda sendiri." suruh Refan tertawa puas. Rafael berdecak.


"Sialan!"


"Lagian lo keras kepala banget jadi orang! Udah dibilang lagi riweh, malah ngeyel ke sini." sembur Refan to the point. Rafael tertawa kecil. Sementara Alice, Izza dan Stella yang sudah mengerti arah bicara dua bersaudara kandung itu memilih untuk diam dan menyimak saja.


Ya anggap aja mereka sedang berjaga-jaga, takutnya nanti keributan mereka naik level menjadi perang fisik yang melibatkan clurit dan pedang samurai. Wkwk canda deh!


"Biarin aja mereka, mama baru mantau belum mutusin keempat telinganya." bisik Alice pada putri-putrinya. Izza dan Stella menurut mengangguk.


"Lo ngatain gue kepala batu nih?" tanya Rafael. Refan mengangguk.


"Emang iya kan?" tanya Refan balik.


"Terus apa bedanya sama lo heh? Kita kan kembar lol. Kalo gue kepala batu, lo hati batunya. Kan sejalan terus kita!!" jawab Rafael santai. Refan menatapnya datar dan malas.


Bukan gitu konsepnya samsul!!


"Masalahnya, secara ga langsung ini lo ngebahayain nyawa Stella sama anak-anak lo sendiri bege!! Bukan masalah elu sama gue kembar atau enggak aelah." sahut Refan mengomel.


"Mereka semua bakal aman. Santai aja kali! Gue kesini juga sekalian mau bantuin elu! Sekali-kali lah gue ikut perang." jawab Rafael tenang. Ia sudah lama juga sejak menikah dengan Stella, tak pernah ia sempat ikut membantu Refan di medan tempur Blood Wolf.


"Ya tap-"


*Drtt drtt


Drtt drtt*


Dua iPhone berdering di satu waktu yang sama. Keramaian akibat perdebatan Dirgantara Twins itu kemudian membeku seketika karena dua benda pipih itu berhasil menyita seluruh perhatian.


Izza meraih iPhone-nya yang tadi sempat ia letakan di atas meja, sementara Refan merogoh saku celananya. Rupanya hanya IPhone milik Izza dan Refan yang bisa menghentikan pertengkaran persaudaraan tadi.


📞Ilham is calling....


'Ngapain dia tumben nelpon? Apa udah ada kabar dari Doddy ya?' batin Izza bertanya-tanya.


"Kamu dapet dari siapa ay?" tanya Refan. Izza menunjukan layar iPhonya pada sang suami.


"Dari Mahli."


Melakukan hal yang sama, Refan juga menunjukan layar displaynya pada sang istri.


📞Leon is calling....


"Lah aku dari Leon."


'Apa dia udah dapet info dari Bloody Dragon ya?' batin Refan menebak. Ia dan Izza saling pandang, kontak mata dalam beberapa detik kemudian kompak berdiri dari sofa masing-masing.


"Ma, Refan angkat telepon dulu." pamit Refan langsung pergi.


"Semuanya, aku angkat ini dulu ya?" pamit Izza yang juga pergi menjauh, tempatnya berlawanan arah dengan Refan. Refan ke kiri sedangkan Izza ke kanan.


"Pasti ada yang ga beres nih." ucap Rafael menebak. Matanya menatap punggung Izza dan Refan secara bergantian.


"Ada apa sih di antara mereka Fael? Ada masalah ya?" tanya Alice was-was.


"Biasa lah mam, orang besar memang punya banyak musuh disamping banyak temannya. Tapi mama tenang aja, Refan sama Izza pasti baik-baik aja. Mereka berdua orang cerdas yang dikelilingi oleh manusia-manusia tangguh yang baik, lagian juga ada Rafael disini yang akan ngebantu mereka nyari ujung masalahnya." jelas Rafael panjang lebar.


"Huffttt oke deh, kamu jaga diri dan adik-adik kamu baik-baik ya? Mama ga mau terjadi sesuatu ke kalian semua. Termasuk Stella dan calon cucu-cucu mama." pesan Alice. Rafael mengangguk bersamaan dengan Stella.


'Gue harus mulai masukin masalah ini, dan gerbang awalnya ada di Leon. Gue harus tau pucuk masalahnya sebelum gue bantuin Refan langsung. Itu anak pasti ga bakal mau ngasih tau gue apa masalahnya, nyebelin emang! Kalo ada masalah, ga mau ngerepotin gue sedikitpun huh.' batin Rafael kesal dengan Refan yang melakukan apa-apa serba sendiri tanpa mau mengikutcampurkan orang lain termasuk Rafael sekalipun.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰