IZZALASKA

IZZALASKA
32. Overprotektif



Tok tok


"IYA MASUK!!" sahut suara lantang di dalam ruangan serba putih itu. Refan dan Izza masuk ke dalam ruangan dokter spesialis kandungan yang tak lain adalah Marsha sendiri, kakak ipar mereka.


"Cepet juga kalian ya." sapa Marsha saat mengetahui yang memasuki ruangannya adalah dua adik iparnya.


"Ga sabar gue kak." jawab Refan enteng. Izza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat raut wajah penuh antusias itu.


"Kamu mual dek?" tanya Marsha. Izza mengangguk.


"Dari bangun tadi rasanya aneh kak, badan pegel, pusing, mual pula. Beuhhh!!" sahut Izza curhat. Marsha manggut-manggut mengerti.


"Ya sudah kalo begitu, kamu naik ke bangkar gih! Biar kakak periksa." suruh Marsha sambil berjalan menggiring Izza ke bangkar yang tersedia di ruangannya ini.


Izza menurut saja saat digiring oleh Marsha, sementara Refan mengikuti kedua wanita itu di belakangnya.


Untunglah tadi Izza memutuskan untuk mengganti dress-nya dengan baju lain hingga bagian perutnya bisa sedikit di buka oleh Marsha karena harus diperiksa.


...****************...


"Kak Marsha jangan bilang dulu ke mama, papa sama yang lain ya kak? Nanti biar aku sama Refan langsung surprise ke mereka." itu adalah pesan yang disampaikan oleh Izza sebelum pergi tadi.


"Kamu kenapa si? Senyum-senyum terus dari tadi hm?" ucap Izza memecah hening di dalam mobil suaminya. Bagaimana Izza tidak heran kalau Refan sedari tadi, sejak setelah Marsha mengatakan hasil cek kehamilan, Refan terus saja tersenyum lebar tanpa ada niatan untuk mengakhiri senyum itu.


"Seneng lah." jawab Refan kembali melebarkan senyumnya setelah menjawab pertanyaan sang istri.


"Seneng sih seneng, tapi ga sebegitunya juga ay... Jatohnya malah aku kek takut kamu jadi gila loh gegara banyak senyum." cicit Izza ngeri. Refan mengeratkan genggaman tangan mereka, sebenarnya sejak tadi pun punggung tangan mulus Izza sudah tergenggam dan selalu dibelai oleh salah satu tangan Refan.


"Ah ayang mah gitu, ini tuh bentuk segala rasa yang menyatu jadi bahagia tauuuuu!! Aku ga sabar banget nunggu anak kita lahir hm mau aku ajak memanfaatkan lapangan basket di taman belakang tuh. Sejak kita pindah kan yang make cuma anak buah kita." rengek Refan mulai manja lagi. Izza tertawa.


"Ga sabar apaan? Baru aja umur 5 minggu ay! Masih ada 35 minggu lagi. Terus juga kalau kamu mau ngajak anak kita main basket, minimal ya kamu juga harus nunggu sampai umur 4 tahun kan?" sahut Izza. Refan auto manyun.


"Yahh lama amat." keluh Refan mendengus sebal. Izza kembali tertawa.


"Ahahahha lagian kamu juga aneh! Mana tau juga kamu anak kita cewek atau cowok heh? Kak Marsha bilang kan belum bisa di deteksi." ucap Izza lagi.


"Cewek atau cowok mah buat aku sama aja. Atau malah kita dapet dua-duanya juga ga papa." celetuk Refan santai.


"Maksudnya kembar?" tanya Izza. Refan mengangguk. Izza ikut manggut-manggut. Genggaman mereka masih terus berlanjut hingga sekarang, hanya saja Refan memilih diam sejenak saat Izza mendapat telepon dari Darrel. Biasalah, mantan jadi partner kerja. Jadi yang di bahas bukan urusan hati lagi, melainkan urusan kerja.


"Eh ay?" panggil Refan setelah Izza memasukkan iPhone nya kembali ke dalam tas. Izza menoleh.


"Apa?"


"Jadi mau honeymoon kapan nih? Aku udah ngatur semua tempat yang kita datangin nih." tanya Refan antusias.


"Ck. Kamu masih mau nanya honeymoon kita kapan?" tanya Izza balik.


Refan mengangguk polos.


"Mana sempat! Udah keburu jadi." ucap Izza lagi. Refan mengedipkan matanya beberapa kali saat mencerna ucapan istrinya barusan. Benar juga, pembibitan mereka udah terlanjur jadi sebelum honeymoon.


"Ya tapi kan masih bisa babymoon?" tanya Refan lagi. Ia tetap ingin liburan berdua menghabiskan beberapa waktu, hanya berdua!


"Enggak mau. Lagian ya inget kata kak Marsha tadi? Ga boleh aneh-aneh dulu karena umur janin kita masih sangat rentan. Jangan ngadi-ngadi! Kalo kita liburan pas aku hamil, pasti kamu larinya bakal ke si nganu." tolak Izza beralasan logis. Refan nyengir kecil, benar juga sih haha.


"Ya oke itu bisa aku tahan aku kontrol ay, tapi ya masa kita ga ada liburannya sama sekali sejak nikah?" elak Refan lagi.


"Kan kamu sendiri yang bilang capek pengen istirahat dari kantor." sambungnya. Izza berfikir sejenak, iya juga sih. Izza yang menginginkan lepas sementara waktu dari dunia kerja mereka untuk sekedal liburan. Tapi Izza tak boleh egois memikirkan keinginannya sendiri, maupun Refan, karena kini sudah ada nyawa baru yang tumbuh di rahimnya. Hasil buah percintaan mereka berdua!


"Ay."


"Hm?" sahut Refan menaikkan sebelah alis, tentu saja karena menunggu jawaban dari sang istri.


"Kamu tau? Keputusan di hidup kita berdua sekarang tuh bukan cuma berlaku buat kita, tapi juga udah harus bisa berlaku juga buat janin ini. Ngerti maksudku nggak?" tanya Izza lembut agar si bucin yang keras kepala ini bisa mencerna ucapannya dan mengerti.


'Bener juga sih, sekarang udah ada anak gue. Kata kak Marsha tadi, Izza ga boleh kecapekan biar kondisinya stabil. Nggak boleh! Gue ga boleh jadi si egois yang mentingin kesenangan sendiri. Hufftt!' cicit Refan dalam hatinya.


'Udah siap jadi bapak baik selain cuma jadi suami bucin ya Fan haha?' ledek Aska.


'Nongol mulu lu pas kek gini.' gerutu Refan.


'Haha elu sih, nyari musuh baru gitu kek. Biar gue bisa keluar tuh perang.' decak Aska mulai bosan dengan ketentraman dan kedamaian ini.


'Nggak dulu deh, istri gue lagi buntingin anak gue. Mereka harus aman! Gue ga mau nurutin ajaran sesat lo wleee.' sahut Refan menye. Lihatlah si calon bapak sugar ini, ia malah asyik berdebat dengan jiwa lain dalam dirinya padahal Izza sedang menunggu keputusan darinya.


'Gangster kok menye!' ledek Aska.


'Dasar sengkuni! Hobinya ngehasut orang mulu. Dahlah!!' semprot Refan sebal. Aska sempat menertawakannya sebelum akhirnya pergi.


"Ay gimana isshhh malah ngelamun kamu mah." ucap Izza membuyarkan lamunan Refan.


"Hah ada apa?"


"Ck. Ya tadi gimana soal liburan?" tanya Izza ulang. Refan menghela nafas pasrah.


"Ya udah kita ga jadi honeymoon. Kita pending dulu, tapi sebagai gantinya kita ambil honeymoon setelah lahiran kamu ya?" jawab Refan penuh harap


"Lah terus anak kita?" tanya Izza heran.


"Kan ada mama papa. Ada dua pasang kakek nenek yang akan selalu siap jagain anak kita nanti." jawab Refan enteng. Izza hampir saja mengangguk setuju kalau saja Refan tidak melanjutkan ucapannya.


"Biar sekalian kita bikinin adik buat anak pertama kita kan? Ya lumayan lah seminggu sampek dua minggu!" sambung Refan lagi.


Plak


"Jangan ngawur!! Nggak akan lah aku ninggalin anakku sampek selama itu, apalagi masih bayi." omel Izza. Refan menepikan mobil lalu berhenti, untuk apa? Untung mengelus tangannya yang panas dan sakit di saat bersamaan. Ditabok oleh ketua gangster tentu saja bukan hal main-main! So hot.


"Ya terus? Ga mungkin juga kan kita ke luar negeri cuma sehari dua hari? Buat perjalanan aja udah habis ay. Aassshhh sakit banget lagi nih." cicit Refan protes.


"Ya tunggu anak kamu berumur dulu lah, paling ga pas dia udah ga cengeng lagi. Kasian tau masih bayi ditinggal mama papa nya! Kan butuh ASI juga." jawab Izza lagi.


"Yah yah yaaaaahhh... Lama amat astaga!!" protes Refan lagi dan lagi.


"Atau sekalian anak kita gede juga lebih bagus sih ay. Jadi kita bisa lama-lama di luar negerinya kalo sekalian bawa anak." tawar Izza.


"Mana sempat! Keburu tua, keburu jauh nanti selisih anak kita." bantah Refan.


Dan lihatlah, kebahagiaan yang terbangun karena mereka akan segera mendapat momongan ini malah jadi perdebatan sengit, hanya karena masalah honeymoon yang tertikung oleh calon anak mereka sendiri.


"Jadi tujuan kamu ini sebenernya cuma bikin adik baru kan?" tanya Izza serius.


Refan mengangguk antusias.


"Ya iya dong! Aku kan baik hati, kalo anak kita ga kembar, biar dia ga sendirian. Kan ga enak jadi tunggal, ga punya temen main." jawab Refan.


"Honeymoon cuma kedok ini sih. Ya kan?" tebak Izza memicingkan mata curiga. Refan nyengir.


"Hehe tau aja ay."


"Kalo cuma itu tujuan utamanya, di rumah sendiri juga bisa bikin anak! Ga usah pake jauh-jauh ke luar negeri." sahut Izza membuat cengiran Refan runtuh seketika.


"Yah tapi kan sensasinya itu bed-"


"Di rumah, atau enggak usah sama sekali?" tanya Izza memotong. Awalnya tadi Izza cuma bercanda saja soal tidak mau honeymoon dengan meninggalkan anaknya, tapi karena Refan sudah terlanjur terpancing suasana dan ini sangat seru, jadi Izza memutuskan untuk melanjutkan saja perdebatan ini.


Dan sekali lagi, Refan kalah debat. Dan tetap harus dipaksa mengalah oleh alam dan takdir.


"Huftt oke, di rumah aja." jawab Refan pasrah.


"Nah pinternya ututututuuu." puji Izza mencubit gemas hidung suaminya.


"Untung aja sayang." ucap Refan sambil menghela nafas pasrah. Kata legend yang selalu diucapkan refan saat ia kalah debat dengan Izza.


Tak tahan melihat raut wajah pasrah penuh tekanan dari sang suami, tawa Izza pecah seketika. Humornya langsung anjlok saat itu juga.


"Heh kamu kenapa? Ngeri banget ketawanya, mana ga jelas lagi sebabnya apa." pekik Refan kaget. Izza menyeka sudut matanya yang sampai berair karena saking ngakaknya.


"Aku tadi bercanda doang sayang!!!" ucap Izza menepuk-nepuk pundak suaminya itu. Refan melongo tak mengerti.


"Aku mau kok honeymoon di undur setelah baby Alaska lahir, nanti kan kita bisa bawa mama papa dua-duanya sekalian kita liburan bareng mereka." jawab Izza berusaha membuat suaminya mengerti.


"Lah terus bikin adiknya gimana kalo kita ngajak Alaska junior?" tanya Refan tak kunjung connect.


"Ck. Masih aja ngebug! Ya malamnya kita titipin baby-nya ke kakek sama neneknya dong. Biar gantian shift, atau malah bakal berantem rebutan tuh nanti haha." jawab Izza. Seringai lebar langsung terbit di wajah tampan tegas itu.


"Nah kalo yang ini aku setuju banget sama jalan fikiran kamu sayang!! Udah ga perlu debat lagi kek tadi." pekik Refan mengacak rambut Izza dengan gemas lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh cinta.


Tak berhenti di situ, tangan Refan turun ke perut Izza yang masih cenderung rata itu. Lalu mengecupnya meski terhalang oleh baju yang dipakai oleh Izza.


"Cepat lahir ya junior, papa sama mama disini menunggu kamu!" ucap Refan masih dengan menghadapkan wajahnya di perut Izza. Izza juga mengelus-elus rambut Refan di bawahnya dengan penuh sayang.


"Biar cepet bisa bikin adik juga buat kamu haha." sambung Refan dengan tawanya. Izza geleng-geleng kepala.


"Ada-ada aja ngerayunya." cibir Izza Refan mendongak lalu duduk tegap lagi dan berhadapan dengan Izza.


"Makasih ya sayang." cicit Refan dengan satu tangan mengelus punggung tangan Izza, dan tangan yang lain mengelus lembut pipi putih mulus istrinya ini.


"Makasih?" tanya Izza. Refan mengangguk.


"Tapi buat apa?"


"Makasih udah mau mengandung untuk anak aku. Rasanya masih aja kek mimpi tau ay, aku bisa dapetin kamu aja rasanya masih wow banget! Apalagi dengan kehadiran buah cinta kita ini, ah mungkin hari ini aku adalah lelaki paling beruntung dan bahagia di dunia ini." cerocos Refan panjang lebar. Satu tangan Izza meraih tangan kekar Refan yang masih betah mengelus pipi nya.


"Iya, tapi ngapain pake makasih si? Kita kan emang sama-sama menginginkan kehadiran anak ini. Aku tuh istri kamu! Jadi kan udah jadi hak maupun kewajiban aku buat ngandung anak ini, anak kamu, anak kita. Lagian juga mau ngandung anak siapa lagi kalo bukan kamu hm?" jawab Izza lembut membuat senyum di wajah Refan makin enggan untuk memudar.


"Dan udah jadi tanggungjawab aku buat jaga kalian berdua." sahut Refan. Izza mengangguk.


Cups


Refan memberi satu kecupan singkat namun begitu manis di bibir tipis istrinya.


"Kita langsung ke rumah utama ayah Ricko ya?" tanya Refan setelah melepaskan tangannya dari Izza. Izza mengangguk.


Tapi sebelum Refan menancap gas, Izza lebih dulu mencium pipi kirinya.


Cups


"Hati-hati ayang!! Hihi." ucap Izza nyengir. Refan terkekeh kecil lalu melajukan mobil ke kediaman Alexander. Kenapa harus ke kediaman Alexander terlebih dahulu? Kenapa tidak ke kediaman Dirgantara dulu padahal posisi Refan dan Izza lebih dekat dengan rumah David? Itu karena orang tua Refan ada di London sejak beberapa hari yang lalu.


"Eh eh ay!!" cicit Izza tiba-tiba. Refan sontak menoleh kaget.


"Kenapa?"


"Mau makan ice cream!" pinta Izza memasang puppy eyesnya. Refan menghela nafas lega, kekhawatirannya tadi ternyata bukan apa-apa.


"Ya ampun sayang, ngagetin aja! Aku kira ada apa tadi." omel Refan geleng-geleng. Izza terkekeh.


"Hehe ya maaf. Jadi beli kan?"


Refan mengangguk.


"Anything for my Queen."


...****************...


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri Re?" tanya Ricko menatap heran ke arah putra bungsu nya. Ricko sedang berada di dalam ruangan Reza karena urusan pekerjaannya. Reza lalu menunjukan foto USG cek kehamilan yang tadi di kirimkan oleh Refan sebagai narasumber info.


Satu alis Ricko terangkat.


"Ajeng habis USG? Terus kenapa kamu malah di sini? Harusnya kamu siap siaga dong jadi suami. Harus temenin istri sama calon anak kamu!" omel Ricko yang mengira kalau foto itu adalah janin milik menantunya. Reza menggelengkan kepalanya cepat.


"Kamu ini dikasih tau malah geleng-geleng! Calon bapak durhaka kamu ya." omel Ricko lagi. Reza berdecak.


"Dengerin Reza dulu dong! Ini bukan janin milik Jeje pa." elak Reza mencoba menjelaskan. Ricko mengerutkan kening.


"Terus siapa? Kamu punya istri lagi ya?" tuduh Ricko garang. Entah angin apa yang membuat lelaki yang hampir berumur setengah abad itu suudzon terus kepada putranya ini.


"Astaghfirullah amit-amit jabang bayi!! Papa parah amat busettt." cicit Reza ngegas.


"Ya terus itu punya siapa? Kalo nginfo itu jangan setengah-setengah dong!" omel Ricko ikutan ngegas.


'Ini kenapa gue jadi ribut sama bapak sendiri gegara foto USG dah?' cicit Reza dalam hati.


"Ini tuh hasil percocokan tanam dari anak kesayangan papa noh." jawab Reza. Ricko yang mulai connect langsung merebut alih Hp Reza dan memandangi hasil USG itu dengan seksama.


"Maksud kamu Izza? I-ini janin punya adikmu? Iya Re?" tanya Ricko beralih menatap Reza dengan sangat antusias. Reza mengangguk.


"Iya. Selamat ya Bapak Ricko Alexander yang ganteng tapi udah mulai tua, anda akan segera mendapatkan cucu keempat." ucap Reza memberi selamat kepada papanya dengan lagak formal.


Plak


Ricko menggeplak kepala Reza dengan enteng, tanpa dosa dan tanpa tekanan.


"Aku ini bapakmu, bukan klienmu! Jangan kurang ajar kamu Re pake bawa-bawa umur segala. Papa kutuk jadi musang bertanduk nanti baru kapok!" omel Ricko garang. Reza mengelus kepalanya yang lumayan panas bercampur syndrom kaget. Satu senyuman bahagia terbit di wajah Ricko.


"Sekarang nyengir nyengir sendiri dah tuh, tadi aja suudzon banget sama anak sendiri." gerutu Reza kesal. Ricko berdiri dari duduknya.


"Udah ga usah banyak protes! Sekarang ayo pulang, mama harus tau ini. Kita buat pesta kecil-kecilan buat menyambut Izza dan Refan. Mereka mau datang ke rumah kita kan?" ajak Ricko. Ia sempat membaca pesan chat dari Refan di Hp Reza, Refan mengatakan kalau ia dan Izza akan datang ke rumah utama malam ini.


Plak


Reza menepuk jidatnya sendiri. Ricko mengeryit heran.


"Waduh, mamp*s gue!" pekik Reza.


"Kenapa kamu?" tanya Ricko heran.


"Papa ngapain baca chat nya sih? Arghh padahal Refan bilang ini itu surprise buat nanti malam. Eh malah ketahuan. Bakal di semprot sama Izza nih gue." cicit Reza menggerutu.


"Halah sama aja! Udah ayo pulang. Sekalian telepon si Rayhan, suruh dia langsung pulang secepatnya setelah meeting sama pak Hudi." ucap Ricko. Reza mengangguk.


"Papa ambil barang di ruangan dulu, kamu langsung tunggu di mobil aja ya?" ucap Ricko lagi. Hari ini sopir andalannya Ricko sedang sakit dan dia tak mau ganti sopir, jadi Reza yang ia paksa untuk menjadi sopir karena tadi pagi Rayhan sudah berangkat terlebih dahulu.


"Iya bapak bawel!!"


...****************...


Ckit


"Haisss kenapa?" cicit Izza heran karena Refan tiba-tiba ngerem dan mengurangi kecepatannya dengan sangat tidak normal. Sangat pelan sekali. Bahkan kalau ada anak kecil naik sepeda, anak itu pasti bisa menyalip laju mobil Refan.


"Apanya ay?" tanya Refan balik. Mobil lamborghini hitam itu sudah tidak berada di jalan raya utama lagi, jadi kondisi jalan lumayan sepi.


"Kenapa pelan banget?" tanya Izza.


"Tuh tuh lihat ada polisi tidur di depan sana." ucap Refan menunjuk dua polisi tidur dengan jarak lumayan dekat di depan jalan sana. Izza mengeryit semakin heran.


"Lah terus apa hubungannya?"


"Kan tadi kak Marsha, kandungan kamu masih dini kan sayang. Terus juga harus di hati-hati ga boleh terguncang ataupun terbentur apapun." jawab Refan yang ternyata berlindung di balik saran Marsha tadi. Izza melongo tak percaya kalau suaminya akan berfikir sejauh itu, bukan itu konsepnya!


Izza memutar pandangannya ke kaca mobil sebelah kiri saat mobil mereka mulai melewati polisi tidur. Refan benar-benar melaju dengan sangat-sangat pelan. Hampir tak terasa guncangan sedikitpun saat melewati polisi tidur bergaris-garis hitam kuning itu.


"Ya ampun sayang.... Ga gini juga konsepnya tai!! Aku ini cuma lagi hamil, bukannya cosplay jadi barang mudah pecah." ucap Izza geleng-geleng kepala.


"Ya ga papa, kan aku sayang kamu sama calon anak kita. Jadi harus ekstra di jaga, overprotektif itu juga perlu loh sayang. Lebih baik mencegah daripada mengobati, iya kan?" jawab Refan dengan santainya. Ya emang bener sih, tapi kan ah sudahlah.


"Hufftt yaudah!! Terserah sama tuan muda Alaska aja." ucap Izza menghembuskan nafasnya pasrah. Refan terkekeh.


"Sabar ya sayangku!! Bentar lagi nyampe ke kedai ice cream-nya nih." ucap Refan memberitahu. Awalnya Refan mau mengajak Izza ke mall saja, tapi Izza menolak. Wanita itu bilang ia lebih suka ice cream di kedai favoritnya. tentu saja sebagai suami dan calon bapak yang kelewat baik, Refan menurut saja.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰


📢 : Kalo di part USG dan cek kehamilan ada yang salah, mohon di maklumin aja ya guys. Author belum pernah hamil soalnya wkwk.