
Kriet
"Ayaaaaaang!!!" panggil Refan setelah membuka pintu kamarnya.
Masih hening! Tak ada sahutan sama sekali. Entah kemana perginya Izza sepagi ini. Semalam wanita itu dibuat terkapar lelah oleh Refan, tapi ia sudah lebih dulu bangun dan entah pergi kemana sepagi ini.
"Kemana si tumben ga bangunin gue dulu sebelum pergi?" tanya Refan heran. Ia kemudian memutuskan untuk berjalan menuruni anak tangga saja, barangkali Izza ada di dapur atau kolam.
"Maaf bos, anda mencari nyonya Izza?" tanya salah seorang body guard yang tampak berlari menghampiri Refan. Refan mengangguk.
"Tau istri saya dimana Jang?" tanya Refan. Ujang, body guard kepercayaannya itu mengangguk.
"Tadi nyonya besar berada di dapur bersama ART lainnya bos." jawab Ujang sopan. Refan mengangguk kemudian melangkahkan kembali kakinya menapaki anak tangga.
"Makasih!"
...****************...
"Ay?" panggil Refan yang melihat punggung istrinya yang terbalut kaos hitam polos itu. Izza menoleh.
Tadinya Refan mencari Izza ke dapur, tapi kata salah satu ART bilang kalau Izza sudah keluar dari dapur menuju ruang tamu. Jadi Refan menyusulnya.
"Loh udah bangun?" tanya Izza mengeryit heran.
"Kamu ngapain pegang ginian?" tanya Refan menunjuk pel di tangan Izza. Izza ikut memperhatikan tangannya sendiri.
"Ya kalo pegang pel berarti buat ngepel dong." jawab Izza enteng. Jawaban yang agak menyebalkan tapi ada benarnya juga sih.
"Maksud aku, kamu ngapain pegang gituan? Emang ART kita kurang banyak? Aku ambil ART baru lagi ya?" tanya Refan menawarkan diri. Izza menggeleng.
"Udah banyak heh enggak usah! Ini tuh tadi bibi ada yang kepala pusing tiba-tiba, ya aku suruh istirahat ke kamarnya aja lah. Makanya aku gantiin nih." jawab Izza panjang lebar.
"Tapi kenapa harus kamu? Yang lain kan bisa ay." tanya Refan lagi. Izza berdecak. Refan terlalu memanjakannya! Sudah lama sekali ia tak bisa memegang pel sejak ia benar-benar menikahi Refan hari itu.
"Tanggung ay, ini juga tinggal dikit lagi udah kelar kok." sahut Izza menggeleng tanggung.
"Nggak boleh nggak! Kamu ga boleh pegang ginian, sini balikin pel nya biar aku kasih ke ART lain." ucap Refan merebut paksa pegangan pel di tangan Izza. Oh tidak semudah itu Refan! Izza menahan gagang pel itu.
"Ayang apaan si? Biar aku aja udah... Ga papa kok." elak Izza tak mau melepaskan tangannya. Refan juga tak mau kalah.
"Enggak boleh!"
"Boleh!"
"Enggak!!"
"IYA!!"
"Ay lepasin gak?" tanya Refan entah kesekian kali. Izza masih tetap berdiri kokoh menolak ini.
"Enggak! Kamu aja yang lepasin." balas Izza sengit. Refan menghela nafas.
'Kapan sih gue bisa menang lawan nih anak?' batin Refan frustasi karena selalu saja kalah dan dipaksa mengalah.
'Resiko sayang istri sih haha.' ledek Aska.
'Diem lu ka!' semprot Refan kesal.
"Ay?" ucap Refan melirik-lirik gagang pel agar Izza segera melepaskannya.
"Yang." sambung Izza melakukan hal yang sama.
"Oke, entah ini keberapa kalinya aku harus ngalah lagi." pungkas Refan yang akhirnya tetap mengalah. Izza nyengir kesenangan.
"Nah tuh nyengir mulu nyengir!!" cibir Refan. Izza kemudian memasukan kembali pel tadi ke dalam bak dan melepaskannya.
Refan menaikkan sebelah alis heran. Refan sudah mengalah untuk melepaskan pel itu, dan Izza kini juga ikut melepaskan pel nya? Maunya apa coba?
Izza hendak berjalan maju mendekat ke arah suaminya, tapi takdir berkata lain! Izza terpeleset oleh air yang sedikit menggenang, hasil dari perebutan sengit pel yang sisa airnya jadi berserakan.
"Eh eh." pekik Refan menarik Izza ke pelukannya agar tidak terjatuh ke belakang. Untung saja Refan gercep!
"Hati-hati dong sayang!!" omel Refan. Izza terkekeh kecil.
"Ya mana aku tau kalo licin, niatnya kan aku mau meluk kamu." jawab Izza melepaskan dekapan tangan Refan dan mundur beberapa langkah. Refan menghembuskan nafas kasar. Rupanya makin hari, istrinya ini makin manja dan doyan di peluk.
"Ya udah sini aku peluk!" ucap Refan merentangkan tangan pada istrinya. Baru selangkah ia maju dan....
Slebew
Refan terpeleset di tempat yang sama dengan Izza tadi.
Satu kata, bodoh! Sangat bodoh. Udah tau tadi Izza hampir terpeleset di lantai itu, tapi Refan malah seenak jidat kembali menginjaknya.
"Eh eh." cicit Izza karena Refan menarik tubuhnya hingga terjatuh bersama di atas lantai putih kaca itu. Izza yang juga tak siap malah ikut tertarik jatuh.
"Auuuuh." pekik Refan dan Izza bersamaan. Refan yang paling apes! Tapi juga dapat bonus sih. Punggung Refan adalah yang langsung menghantam lantai, sedangkan Izza terjatuh di atas Refan.
'Duh punggung gue berasa nubruk apaan aja anjir keras banget!' gerutu Refan dalam hatinya.
'Bawah keras, tapi yang di atas empuk kan Fan?' celetuk Aska ambigu.
'Bener juga Ka, bini gue makin empuk sejak gue rawat tiap malem haha.' sahut Refan masih sempat mesum.
"Ay ga papa?" tanya Refan dengan salah satu tangan membelai wajah istrinya yang memagangi jidatnya karena terbentur dagu Refan.
"I'm okay, but my jidat is kejedot your dagu!" jawab Izza dengan bahasa campur aduk. Refan terkekeh.
"Sorry ay, kan aku juga ga sengaja." desis Refan membelai jidat Izza dengan lembut.
Kriet
"ASSALAMUALAIKUM BRADER SISTER!!! AA JAKI UDAH COMING NIH- ASTAGHFIRULLAH YA TUHANKU MATA GUE TERNODA!!!" pekik Zaki heboh dan refleks menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
"Wah wah parah lo fan!! Kalo mau bikin produk jangan disini juga dong." omel Rafi yang datang bersama dnegan Zaki.
"Tau tuh! Paling enggak nunggu kita ga ada kek." sahut Zaki masih dengan mata tertutup tangan. Izza dan Refan malah cengoh dan saling pandang.
Bukannya bangun, Refan dan Izza malah tampak bingung. Kenapa mereka bingung? Ga tau tuh, author juga bingung.
"GOOD MORNING EVERYONE!! MY NAME IS DIV- ASTAGAAAA IPIN SAMA SHIVA BUKAN ANAK KECIL JANGAN BERCOCOK TANAM DI DEPAN GUE WOY MATA GUE MASIH LUMAYAN SUCI TAU!!!" pekik Diva panik sendiri melihat keuwuan ini.
"Anjir mana gue sama Ilham nikah masih lama lagi ah." celetuk Salma melakukan hal yang sama dengan Zaki. Menutup matanya dengan tangan.
"Wah bakal jadi panutan gue nih bentar lagi. Fan join ilmu ya?" ucap Ilham yang punya respond paling berbeda dari yang lain. Berbeda itu indah kan?
Btw, Diva tadi berangkat sendirian karena Tania tidak jadi ikut karena ada urusan keluarga mendadak. Diva bertemu dengan Ilham dan Salma di gerbang dan masuk bertiga.
"Kalian masih betah kek gitu? Ya udah nih gue sama anak-anak tunggu di luar deh." pungkas Rafi berkacak pinggang. Dan saat itulah Izza dan Refan tersadar dari kecengohan mereka dan buru-buru bangkit.
"Kamu ga papa kan ya?" tanya Refan sekali lagi. Izza mengangguk.
"Its okay." jawab Izza menepuk-nepuk celana pendeknya.
"Udah kelar? Yah padahal gue mau berguru." protes Ilham berdecak kesal. Salma menabok punggung lebar tunangannya ini.
Plak
"Heh jangan ngadi-ngadi ya? Kita nikah aja masih tahun depan!" omel Salma.
"Ya ga papa beb, kan aku ngumpulin materi dulu. Praktek sama kamunya nanti nyusul.
"Ya udah ay kamu masuk dulu sana, ganti apa kek yang ga pendek-pendek amat." suruh Refan menyuruh Izza masuk ke dalam.
"Lah biasanya juga kek gini kok? Apanya yang aneh?" tanya Izza heran. Ia menatap setiap inci pakaian di sekujur tubuhnya, tidak ada yang aneh. Kaos hitam polos dan pendek dipadukan dengan celana hot pants biru denim. Seperti biasa.
"Lah kita kena lagi Rap, Ham." celetuk Zaki mendengus malas.
"Its okay, mereka semua udah berpawang jadi AAAA DIPA ELU YANG PALING LAMA GA KETEMU SAMA GUE!!" pekik Izza malah menghambur ke pelukan Diva. Maklumlah sejak pernikahan Refan dan Izza, Diva kembali ke luar negeri dan baru kembali lagi saat ini. Kalau Salma, Izza sudah sering bertemu dengan cewek itu.
"Aaaaa Ipin. Gue kangen manggil lu pake nama Ipin aaaa." respond Diva memeluk erat sahabatnya ini.
"Gue ga di ajak?" tanya Salma. Izza dan Diva sama-sama merentangkan sebelah tangan mereka untuk Salma bisa masuk.
"Aaaa kangen bebeb Salma juga dong!!" pekik Diva. Mereka bertiga pun berpelukan melepas rindu, sama hal nya juga Ilham, Refan, Zaki dan Ilham yang saling peluk ala gentle man.
"Kalo gue sih ya jujur ga kangen sama lo Sal, bosen gue tiap minggu ketemu." celetuk Izza jujur tanpa filter. Salma malah tertawa.
"Emang lo temen gue yang paling sialan." ucap Salma.
"Eh eh eh ay apaan si?" cicit Izza berjingkat ke belakang karena Refan menarik kaosnya.
"Udah kan meluk Diva nya? Sekarang masuk kamar dulu, ganti baju." suruh Refan garang. Izza menghela nafas.
"Iya iya aku ganti! Ga usah sok galak huuu." ledek Izza langsung ngibrit masuk kamar.
...****************...
Satu persatu personil geng tak waras itu mulai berdatangan. Setelah kelima datang paling awal, Kennath, Reza, dan Ajeng akhirnya menyusul. Yang tidak bisa hadir di sini hanya Tania dan Leon yang masih berada di New York bersama Rafael.
Mereka berkumpul di ruang tengah lantai paling atas karena ruang keluarga di lantai tiga itu punya fasilitas paling lengkap. Ada tiga set PS, juga televisi layar lebar, radio multifungsi, dan lain-lain.
Sudah lebih dari dua jam mereka meledakkan suasana rumah megah yang biasanya sepi ini. Dua jam penuh canda tawa, saling curhat tentang kehidupan pasca lulus SMA, saling ejek juga saling melempar candaan jahat yang bisa memancing gelak tawa. Dua jam yang jadi pengobat rindu diantara mereka semua.
Setelah kehabisan topik untuk dibahas di dua kubu, kubu cowok dan kubu cewek. Mereka berpencar karena sudah kehabisan bahan ghibah penyatu dua kubu, geng cowok main PS sedangkan geng cewek lanjut Ghibah seputar dunia wanita. Reza lawan Rafi, Ilham lawan Kennath, dan Refan melawan Zaki. Meski tidak dalam satu misi perghibahan, kata ricuh dan ramai ini tetap tak bisa dipisahkan. Sellau tak pernah ada kata sepi atau garing saat mereka dipertemukan dalam satu tempat.
"Fan?" panggil Zaki dengan pandangan yang masih fokus tertuju pada game PS nya.
"Apaan?" sahut Refan tanpa menoleh.
"Tagihan listrik di rumah lo sebulan nya berapa?" tanya Zaki polos. Refan tertawa.
"Itu doang pertanyaan lo?"
"Iya nyet. Gue penasaran sih, 23 tahun gue hidup dan baru kali ini gue masuk rumah segede gini anjir.... Ini rumah lo di pake penampungan bencana banjir juga muat dah." cerocos Zaki tanpa henti.
"Lebay anj*ng." ketus Izza.
"Weh mbaknya ngetoxic mulu." cibir Zaki.
"Fan berapa woy gue nanya serius ini." tanya Zaki lagi.
"Sekitar 30an." jawab Refan tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun.
"Juta?" tanya Zaki memastikan.
"Ya iyalah juta, yakali 30 ribu." jawab Refan enteng. Kedua matanya masih fokus menatap PS. Bukan hanya Zaki yang tercengang mendengar nilai fantastis itu, tapi juga semua orang di tempat ini selain Izza, Reza, dan Refan sendiri.
"WHAT THE F*CK!! Banyak amat gilak." pekik Zaki refleks melempar stik PS nya.
"Selesaiin nih game lol, sembarangan lu main buang." semprot Refan mengomel. Zaki nyengir lalu memungut kembali stik PS nya.
"Buset 30 juta banyak bener anjir." cicit Salma geleng-geleng kepala.
"Itu gaji manager aja ga ada harga dirinya Fan dibanding tagihan listrik rumah lu." salut Diva geleng-geleng. Kenapa Diva bisa bilang seperti itu? Karena dia mendapat posisi Manager di perusahaan papa nya.
"Gue sih owh aja ya, kagetnya udah terwakili sama kalian soalnya." celetuk Rafi mengelus dada. Sementara Kennath dan Ilham masih menanjutkan permainan mereka yang sudah hampir selesai.
"Biasa aja." ucap Izza dan Refan bersamaan.
"Tapi ya emang kelewatan sih rumah lo Fan, papa aja tagihan listriknya cuma sekitar 20an juta doang." celetuk Reza setengah kaget tapi juga setengah biasa saja. Tentu saja sudah jadi rahasia publik kalau rumah semegah dan sebesar ini tentunya punya nilai pajak serta tagihan listrik yang fantastis. Belum lagi Reza sudah tau kalau seluruh ruangan di sudut rumah ini ber-AC, belum lagi hiasan-hiasan lampu di sekeliling kolam dan taman.
"Dulu pas gue masih di rumah papa juga sama, tagihan listrik perbulannya paling murah juga cuma 20 juta." jawab Refan santai.
"Paling murah lu bilang? 20 juta itu dapet motor satu." sungut Zaki gemas.
"Biasa aja lah Jak, gue telen lu lama-lama ah bawel!!" semprot Refan sebal. 20 juta sampai 30 juta emang kek ga ada harga dirinya di mata seorang Refan Alaska.
Kediaman Alexander, Kediaman Dirgantara dan Kediaman Alaska ini sebenarnya sama-sama terdiri dari tiga lantai, lalu apa yang menyebabkan selisih pembayaran listriknya lumayan besar? Itu karena luas rumah serta halaman keseluruhan yang dimiliki Refan dan Izza hampir 2 kali lipat lebih besar dari milik seorang Ricko Alexander maupun David Dirgantara.
Definisi keturunan berbobot yang berhasil menjadi sukses melebihi derajat orang tuanya. Semoga kita. Author dan all readers bisa menjadi salah satunya suatu hari nanti, Aamiin.
"Yak yak yak hiyaaaaakkk aku menang engkau kalah haha huhu hihi aku menang." pekik Ilham kegirangan. Ia berhasil menang dari Kennath. Semua pandangan kini menoleh fokus ke arah mereka.
"Beruntung doang lo Ham!" ketus Kennath. Ilham memeletkan lidah tak peduli.
"Huhu gue winner elu loser wleee." ucap Ilham lagi. Dan lihatlah, si psikopat kejam di Black Diamond Girl ini seperti sedang berkamuflase jadi bocil.
"Berisik banget bocil!" semprot Reza menonyor kedua kepala manusia itu secara bersamaan.
"Sal, kok lo bisa sih betah sama nih anak berdua?" celetuk Zaki heran.
"Sama Kennath dulu lama, sama Ilham juga mantan terus balikan sampek sekarang. Fix sih mental sama jiwanya Salma kuat banget haha." sahut Izza tertawa ngakak.
"Yee sialan Upin Ipin!!" ketus Salma kesal. Tiga manusia yang sempat terlibat kisah segitiga itu kini sudah bahagia dengan jalan pilihan takdir. Salma masih bersama Ilham sedangkan Kennath menemukan sendiri jodohnya berkat tuntunan takdir.
"Untung aja bos." ucap Ilham sabar.
"Untung aja gue baik hati." cicit Kennath juga. Tawa ramai penuh bahagia dan kenangan itu kembali berdengung keras di antero ruang keluarga ini.
"Btw Fan, Pin, gue ada satu pertanyaan lagi nih buat lo berdua." celetuk Diva kepo.
"Apaan tuh?"
"Pembokat sama Body guard sebanyak ini, kalian ngeluarin money berapa ratus jeti aja heh?" tanya Diva langsung merasa lega di sudut hatinya. Karena sedari tadi, beban pikiran yang mengganggunya ini bisa terkuak. Diva heran melihat banyak sekali ART yang seliweran mengantarkan minuman serta camilan untuk mereka. Banyak juga body guard yang dilihat oleh Diva sejak ia masuk ke gerbang tinggi rumah ini. Mereka semua berjaga dan menyebar di beberapa titik yang mungkin di anggap penting oleh Refan maupun Izza.
"Kepo!" jawab Izza dan Refan bersamaan.
"Ipin sama Shiva bukan anak kecil, songong lu ye sama gue." omel Diva menggerutu. Mereka semua tertawa ngakak.
"Shiva bukan anak kecil itu siapa Div?" tanya Salma yang sebenarnya sudah kepo sejak pertama masuk rumah karena Diva menyebut nama itu saat refleks kaget tadi.
"Iya, Shiva bukan anak kecil teh saha?" sahut Rafi juga.
"Itu woy tokoh kartun bocil di ANTV." jawab Diva apa adanya.
"Lah?"
"Shiva kan mirip Refan." jawab Diva polos lagi dan lagi. Mereka kembali tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahah Shiva dong haha."
"Sembarangan lu Div! Emang kaos gue selalu merah terus pake sepatu kuning hah?" semprot Refan galak.
"Lakik gue aja ga punya pak lado sigh haha." celetuk Izza entah memihak siapa.
"Eh sebenarnya ada sih lado sigh versi lokal, lah itu si Kevin." sahut Ilham ngakak. Tawa yang langsung menular ke yang lain. Refan memutar bola matanya malas.
"Diva emang sialan." maki Refan. Diva mengacungkan dua jari peace nya.
"Maksud gue tuh kalian sama gegara suka gelut, hobinya nonjok muka orang mulu."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Guys terbit cerita baru aku nih, judulnya GEAKSA. Bisa sekalian buat bahan nungguin yang lain update nih hehe.
Langsung cek profil aja yuk!! thank you✨🥰