IZZALASKA

IZZALASKA
79. Rencana



"Eh mba Berlian tau nggak?" tanya Izza setelah melahap beberapa sendok, perutnya sudah terasa sangat kenyang padahal sebelumnya ia sangat ingin menghabiskan piring penuh ayam itu. Bawaan bayi mungkin ya? Dari orog udah pinter ngejahilin emaknya ya:')


"Tau apa Za?" sahut Berlian.


"Mba beruntung banget loh dapetin kak Abi. Dia orangnya paket komplit, udah baik terus care pula meskipun mukanya judes sama ngeselin sih, haha." celetuk Izza melirik Abi dengan senyum remeh. Abi melotot garang.


"Heh! Jangan fitnah. Aku ramah gini dikatain judes." protes Abi. Izza tertawa.


"Tuh mba Berlian liat sendiri kan? Disindir gitu aja udah keluar culanya." ledek Izza menaik turunkan alis pada Berlian yang juga ikut menertawakan suaminya.


"Ahahha bisa aja kamu, emang anaknya agak nyebelin ya. Ahahahhaha." sahut Berlian yang sepertinya mulai nyaman dan akrab dengan Izza yang baru saja ditemuinya.


'Tapi nyatanya gue kurang beruntung karena ga bisa dapetin hati lo Za, tapi untungnya sekarang gue ngerasa cukup beruntung dengan kehadiran Berlian, istri gue. Ya setidaknya gue masih bisa berteman dan deket sama lo meskipun lo ga akan pernah bisa gue miliki.' batin Abi tulus.


...****************...


"Eh tapi cuma orang-orang penting doang yang punya nomor gue kan? Kalaupun nomor baru ini dapet dari orang, pasti dia punya tujuan juga kan? Gue angkat aja lah." pungkas Refan yang kebetulan baru memasuki ruang kerja pribadinya. Ia menarik tombol hijau setelah mengunci pintu ruangan dari dalam.


Refan : Halo? Siapa nih?


Dandy : Halo Fan! Ini gue Dandy.


Refan : Loh ada apa Dan? Tumben lo nelfon gue.


Dandy : Lo kenal Niko?


Refan : Hah? Apaan?


Dandy : Gue alihin vidcall aja deh. Biar lo bisa liat muka Niko.


Refan : Oke


Panggilan suara beralih ke video.


Refan : Loh? Niko!! Kok lo bisa sama Dandy? Kemana aja lo gue cari-cari sejak SMA ga ada.


Niko : Yoi Fan! Gue ngalamin banyak masalah waktu itu. Kapan-kapan kalo kita ketemu deh gue ceritain semuanya.


Refan : Oke, lo minta nomor gue di Dandy ya. Ntar kabar-kabaran!


Niko : Oke.


Dandy : Lo beneran kenal dia Fan?


Refan : Iya, dia temen gue. Anaknya pendiri gangster Diamond, mereka dulu sempet kerja sama dengan BW pas jaman pemerintahan bokap.


Dandy : Oke, thank!


Tut tut tut...


Dandy mematikan telepon itu sepihak. Alis Refan terangkat naik, penuh heran.


"Lah sialan ni anak satu!"


...****************...


"Gue pernah denger soal Diamond! Jadi lo anak dari mendiang leader legendaris itu Nik?" tanya Dandy antusias. Niko mengangguk.


Dandy memang sering mendengar soal Diamond gangster dan pemimpin legendarisnya tapi ia tak pernah tau siapa keturunannya karena sangat privat.


"Gimana? Udah percaya lo sekarang?" tanya Niko balik.


Niko memang adalah anak tunggal dari seorang leader gangster legendaris yang dulu pernah bersekutu dengan Blood Wolf saat masa kepemimpinan David. Refan berteman baik dengan Niko saat duduk di bangku SMP dan berpisah di kenaikan kelas sembilan karena kejadian kelam itu.


Jadi tujuan Niko adalah ingin balas dendam ke Bima karena orang tua dan paman Bima dulu pernah menjebak dan menjerumuskan ayahnya ke penjara hingga meninggal oleh racun. Bahkan mamanya terkena serangan jantung karena hal itu juga.


"Motif lo apaan jadi penyusup di sini?" tanya Dandy mulai rilex. Sudah tidak ada tegang ataupun waspada dalam dirinya, pistol pun sudah ia masukkan ke salam saku jaket kembali.


"Balas dendam atau kematian bokap nyokap gue. Ya meskipun alasan gue, lo sama Refan berbeda tapi kita semua punya tujuan yang sama kan? Gue rasa, kita bisa jadi tim yang bagus."


"Oke! Kita tikam dia dari kedua sisi. Haha gue suka yang kek begini Nik!"


"Btw lo udah masuk ke tim inti tapi lo belum tau rencana besarnya kan?" tanya Niko yang mendapat gelengan kepala dari Dandy.


"Belum. Emang apaan?"


"Target penyerangannya di rumah utama Dirgantara, bukan markas Blood Wolf." jawab Niko memberitahu. Dandy melotot kaget.


"APA?!!"


"Hm, kalo lo bingung kenapa 2 minggu ini Bloody Dragon ga ada gerakan. Itu karena Bima berbaik hati ke pujaan hatinya." sambung Niko. Satu alis Dandy terangkat sebagai tanda keheranannya.


"Pujaan hati? Bima? Siapa Bima?"


"Bima itu nama asli leader geng ini yang lo kenal sebagai YH! Lo pengen tau nama aslinya kan?"


Dandy mengangguk antusias.


"Nama terangnya Bima Yudhania Hasan, lo cari aja di internet info soal dia. Pasti ada!"


"Oke thank buat info itu. Terus yang lo maksud pujaan hatinya tadi siapa? Apa hubungannya sama berhentinya BD 2 minggu ini?" tanya Dandy ingin tau apa maksud dari Niko tadi.


"Queen lo! Bima suka sama dia sejak sekolah sih katanya... Dia sengaja ngulur waktu buat sejenak ngebiarin Queen itu ngelahirin anaknya. Dan setelah kabar kelahiran putra kembar Queen itu sampai di telinganya, Bima langsung ngatur siasat buat mulai pembalasan dendam ke Refan." jelas Niko panjang lebar.


'Jangan-jangan yang dimaksud ngelahirin anak kembar itu istrinya Rafael ya? Jelas-jelas Queen masih hamil dan belum lahiran kok. Genta sendiri yang bilang kemarin.' batin Dandy.


"Coba ulangi Nik!"


"Queen lo udah melahirkan anak kembar. Bima mau balas dendam sekarang karena itu!" jawab Niko yang benar-benar menguji ketahanan jantung Dandy.


Celaka! Bima telah salah faham soal kabar kelahiran anak kembar itu. Bukan Izza Queennya, tapi istri Rafael!


"Lo bilang lo kenal Refan tapi lo ga tau dia itu kembar bersaudara hah?!" pekik Dandy mengacak rambut frustasi.


"Maksud lo?"


"Kembar laki-laki yang lo maksud itu bukan anak Refan. Tapi Rafael, kembarannya!"


"Lah? Refan punya kembaran?" tanya Niko cengoh. Sejujurnya memang ia tak tau soal ini.


"Bahkan hal sepele kek gini aja lo ga tau Nik Nikooo...." cicit Dandy menghela nafas jengah.


"Refan ga pernah cerita sama gue, gue juga ga pernah liat orang lain di rumah Refan setiap kali gue ke rumahnya."


"Karena Rafael udah tinggal di Luar negeri sejak masuk SMP!"


"Oh....." sahut Niko manggut-manggut, pantas saja ia pernah melihat foto dua anak laki-laki dengan wajah sama di kamar Refan. Dulu ia mengira kalau Refan hanya iseng mengedit foto itu, dan sekarang ia tau kalau laki-laki di foto itu adalah saudara kembar Refan.


"Terus sekarang gimana? Gue ga mau tau ya Nik. Lo harus bujukin tuh bos lo buat nggagalin penyerangan ini! Mereka salah faham soal Queen gue." protes Dandy pusing lima keliling.


Niko menaikkan sebelah alis.


"Lah kok?"


"Masalah ini harusnya cuma antara kita, Bima sama Refan, tapi empat nyawa lain harus jadi taruhan gitu? Stella sama anak-anaknya, belum lagi Queen gue belum lahiran. Kalo terjadi sesuatu, gue racunin lo!" ketus Dandy. Niko tak mau kalah, ia juga memasang tampang sengitnya yang menyebalkan.


"Lo ngancem gua? Lo mau gue cepuin?" ancam Niko balik dengan berkacak pinggang.


"Gue cepuin balik!" sahut Dandy ngeyel.


"Yaudah simple! Biar kita mati bareng-bareng aja disini." jawab Niko mode pasrah. Dandy berdecak.


"Ck."


"Udahlah kita lanjutin aja rencana ini Dan... Kita ikutin alur yang udah diatur sama Bima."


"Tapi resikonya terlalu tinggi Nikoo... Kita harus-"


"Harus nunggu istrinya Refan lahiran dulu? Terus lo mau ngebahayain keselamatan anak-anaknya juga gitu? Justru bagus kalau yang udah punya anak itu bukan leader BDG Dan!" jelas Niko mencoba untuk membuat Dandy mengerti.


"Istrinya Rafael itu bisa di amanin mulai dari sekarang, termasuk Queen lo juga! Kita cuma butuh komunikasi sama Refan dan kembarannya! Atur strategi dengan baik, lalu BOOM. We won!"


Dandy diam dan merenung, benar juga! Malah akan lebih bahaya untuk anak-anak Izza kalau mereka mencari cara untuk menunda penyerangan ini hingga Izza melahrikan. Kemungkinan terburuk justru bisa diminimalisir dengan hal ini.


"Gimana? Udah mikir lo?" tanya Niko menjentikkan jari di depan Dandy yang melamun.


"Oke. Sekarang gue kasih tau Genta sama Ilham. Biar mereka ngatur rencana sama Refan dan Rafael." jawab Dandy mengangguk setuju. Niko menyunggingkan senyum.


"Good!"


"Tapi soal cutter ini? Lo mau jebak gua apa gimana?" tanya Dandy kembali membuat Niko mendengus malas.


"Nething mulu lo sama gue! Udah dibilang kita di pihak yang sama juga."


"Ya ini buktinya? Karena fungsinya bukan main-main, pasti Bima tau soal ini kan? Lo mau ngejebak gue kan!" omel Dandy.


Niko berdecak kesal.


"Ck. Sini lo!" panggil Niko menarik kepala Dandy dengan kesal ke arah brangkas besi yang masih terbuka.


"Lo liat tuh!" suruhnya.


"Liat apaan?"


Niko pun menunjuk sebuah cutter di dalam brangkas. Cutter itu memiliki wujud fisik yang sama persis dengan yang di serahkan pada Dandy.


"Gue udah nuker cutter keramat itu sama cutter biasa. Kalo lo nanya kenapa gue ngasih ke elo ya biar aman! Cuma gue, Fani sama Bima yang punya kunci ruangan ini. Gue bisa lempar kesalahan ke Fani kalau Bima sadar cutternya hilang."


"Kan ada cctv bego!"


"Cctv di depan udah lama mati. Lagian juga gue tadi pagi bilang ke Bima kalo gue ga bisa ke markas, dan cuma Fani yang ada di markas ini. Kemungkinan besar Bima bakal nyalahin Fani kalau dia tau cutternya di curi."


"Ck. Jadi ini alasannya kenapa lo tadi lewat pintu belakang yang ga ada cctv nya itu?"


"Hm, udah ngerti juga lo. Sekarang gue harus pergi!"


"Mau kemana lo?" tanya Dandy dengan satu alis terangkat naik.


"Nyari senjata baru sama Bima. Gue kan orang kepercayaannya!" jawab Niko songong.


"Cih, penusuk dari belakang aja belagu lo!" cibir Dandy menahan tawa.


"Hahahha sialan lo Dan!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰