
"Kamu tadi nyusulin aku?" tanya Reza setelah Ajeng menidurkannya di ranjang berseprei putih. Ajeng menunduk menatap suaminya yang terkulai berantakan di sisi kiri tempat tidur.
"Kenapa emangnya?"
"Enghhh aku kan cuma mau tau kamu tau darimana aku di club sama Refi. Iya apa enggak?"
"Udah. Kamu tidur aja, kita bahas masalah ini besok pagi lagi." elak Ajeng enggan mengingat kejadian-kejadian menyakitkan itu.
Srek greb.
Reza menarik tangan Ajeng hingga tubuhnya ambruk di atasnya, Reza kemudian menurunkan Ajeng dengan membalikkan badannya ke samping dan mendekap wanita bertubuh dua itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat.
Ajeng tak berkutik, ia juga tak membalas dekapan sang suami. Posisinya saling berhadapan langsung dengan leher berjakun menggoda milik Reza karena memang segitulah tinggi badan Ajeng. Wanita itu memilih untuk diam saja, menunggu penjelasan singkat dari sang suami yang semoga saja bisa sedikit saja membuat hatinya tenang malam ini.
"Maaf udah bikin kamu nangis." cicit Reza sambil sesekali menciumi kening putih mulus di depannya. Matanya merem melek, lebih cenderung terpejam. Ajeng yakin sekali, sebelum bisa dibawa pulang oleh Izza tadi pasti Reza sudah minum banyak.
"Aku ga bermaksud nyakitin kamu, tapi tadi aku cuma butuh pelampiasan."
"Dan tuduhan kamu tadi ga bener! Aku ga pernah berani nempel-nempel ke cewek lain selain kamu sama Izza. Kebiasaan itu udah ada sejak kita publish hubungan dan sampai kapanpun!" sambung Reza lagi. Tangan kekarnya membelai lembut rambut wangi yang aromanya selalu menjadi hal terfavorit baginya.
Sudut bibir kaku membisu itu perlahan membentuk sebuah lengkungan senyum, sedikit banyak Ajeng mulai bisa luluh dan percaya kembali pada Reza.
"Maaf banget beb." ucap Reza lagi. Tanpa sadar, Ajeng mengangguk.
"Kesalahanku dimaafin?" tanya Reza menangkup dagu istrinya, matanya dipaksa untuk melek selebar mungkin meskipun rasa pusing dan mabuknya sudah menguasai dirinya.
Ajeng mengangguk dengan senyuman tipis, tangannya perlahan naik ke wajah sang suami. Mengelus rambut berantakan Reza yang sangat berantakan bercampur keringat.
"Iya, aku juga salah tadi. Maaf ya udah bikin kamu sejatuh ini, harusnya aku mau dengerin kamu dulu sebelum kamu marah dan pergi." cicit Ajeng meneteskan satu linangan air mata di pipi mulusnya. Kini ia sadar, betapa hancurnya suaminya hanya karena emosinya tadi yang tak mau mendengar sepatah katapun dari Reza.
"Sekarang baikan ya? Sumpah demi apapun, kamu tetep segalanya. Aku punya alasan kenapa aku nemuin Salsa. Aku-"
"Sssttt udah, kita bahas besok aja ya? Sekarang kamu istirahat. Aku udah percaya sama kamu!" potong Ajeng menggeleng. Reza manggut-manggut, mengeratkan pelukannya kemudian tertidur pulas di dalam dekapan sang istri.
Sebenarnya masalah ini tak akan sampai serumit ini kalau saja Ajeng mau mendengarkannya tadi. Reza sudah siap memberikan alasannya, tapi masalahnya adalah Reza tak diberikan kesempatan sedikitpun untuk menjelaskannya saat itu.
Sebenarnya memang itulah sifat asli Ajeng, cewek itu selalu lebih mempercayai apapun yang ia lihat pakai mata kepala sendiri dari pada percaya pada penjelasan si 'tersangka'. Biasanya Ajeng bisa bersikap tenang dan lebih sabar menghadapi Reza yang kliennya tidak semua adalah laki-laki, karena pondasi kepercayaan antara mereka sudah cukup kuat. Tapi kali ini berbeda! Ada pengecualian terhadap ujian hati mereka saat ini, bagi Ajeng tak ada toleransi untuk yang namanya mantan. Tak terkecuali Salsa, Ajeng tak suka Reza dekat-dekat dengan Salsa! Titik.
"Lain kali jangan mabuk lagi, beb." lirih Ajeng berbisik di telinga Reza. Reza mengangguk dalam tidurnya.
...****************...
"Aku tadinya mau pulang ke rumah aja nemenin mama, terus inget kalo mobil aku dibawa Darrel. Ya udah aku nginep aja disini, sekalian ngabarin mama kalo udah masuk kamar. Eh ternyata kamu sama papa pulang lebih awal." cerocos Izza setelah keluar lebih dulu dari kamar mandi. Selang sepersekian detik, Refan menyusulnya dari belakang.
"Emang gimana ceritanya Reza bisa belok lagi?" tanya Refan sambil mengacak-acak rambutnya yang mulai memanjang kembali menggunakan handuk putih basah. Sementara ia sendiri masih memakai lilitan handuk untuk sekedar menutupi area bawahnya, tentu saja Refan bertelanjang dada.
Jangan suudzon! Mereka tadi cuma mandi doang, karena ngerasa badannya sama-sama lengket karena keringat setelah kerja.
"Ga tau juga aku."
"Lah?"
"Aku belum sempet nanya banyak ay, besok lah aku introgasi dia sampek akar." jawab Izza lagi. Izza berjalan ke arah lemari utama yang berada di tepat di depan ranjang, bermaksud mengambil sepasang baju tidur untuk mengganti bathrobe putih yang ia pakai.
Secercah ide jahil muncul di benak Refan, ia menarik lengan belakang Izza. Izza menoleh, Refan kembali menarik Izza hingga menabrak dada bidangnya dan membawanya ikut jatuh ke atas ranjang bersamaan. Dengan posisi Izza di atas Refan di bawah sebagai alas.
"Heh!!" omel Izza karena terkejut dengan ketiba-tibaan ini. Refan malah tersenyum jahil dengan satu alis terangkat.
"Kangen tau!!" ucap Refan menggesekkan hidungnya dengan hidung Izza yang sangat menggemaskan.
Izza mengeryit.
"Baru juga LDR dua malam dih." cibir Izza remeh. Refan tak memperdulikan ledekan sang istri, ia memilih untuk menumpahkan seluruh genangan kerinduannya kedalam ceruk leher sang istri. Membenamkan wajahnya dengan senyaman mungkin.
"Dua malam, dua hari. Catet!" bisik Refan membuat Izza meremang geli karena merasakan hembusan nafas di area lehernya.
"Aaaa geli ay... Lepasin ah, aku mau ganti baju." cicit Izza menepuk-nepuk pundak Refan. Refan menggeleng rewel.
"Enggak mau! Maunya gini terus." rengek Refan manja. Izza berdecak capek, capek sama si bayi gede ini.
"Iya nanti di peluk lagi, tapi aku mau ganti baju dulu ih... Kamu juga masih pake handuk doang loh! Nanti kalo kita masuk angin barengan gimana? Siapa yang repot?" cerocos Izza panjang lebar. Refan masih menggeleng tak peduli.
"Enggak papa aku sakit juga, asal bisa terus sama kamu!" jawab Refan santai.
"Terus kalo aku sama dua anak kamu ini juga sakit, kek gimana coba jelasin konsepnya?" tanya Izza langsung membuat Refan berdiri dan membawa serta Izza bangkit dari ranjang.
"Ehhe iya, lupa aku ay. Mana boleh istri sama anak-anakku sakit!" ucap Refan terkekeh, ia kemudian mengelus perut buncit Izza dengan lembut dan menciumnya dua kali. Rutinitas biasa setiap malam sebelum mereka tidur, alasannya karena ada dua anak. Jadi harus dua kali cium. Kata Refan sih biar ga iri atau rebutan di dalam sana wkwk.
"Baru 23 udah pikun! Ya udah aku ganti baju dulu, kamu juga ganti sana. Baju kamu ada di lemari dalam tapi." ucap Izza mengintruksi. Refan menggeleng.
"Ga mau."
"Lah? Kamu masih ngeyel mau masuk angin karena tidur cuma pake handuk doang?" tanya Izza heran. Refan kembali menggeleng.
"Enggak mau kalo enggak bareng sama kamu!" ulang Refan memperjelas. Izza tertawa.
"Kenapa harus aku?"
"Ya karena aku punyamu lah! Udah ah ayok masuk, aku udah ngantuk!!" jawab Refan santai yang langsung menyeret Izza masuk kembali ke dalam ruang ganti.
Beberapa menit kemudian.
"Ay!" panggil Refan. Ia sudah duduk lebih dulu di tepian ranjang, sementara Izza masih sibuk berskincare ria di depan meja riasnya.
"Hm?" sahut Izza melirik bayangan Refan di cermin. Laki-laki itu lantas berdiri dan berjalan menghampiri istrinya. Mengalungkan kedua tangannya di leher putih Izza.
"Perut kamu sekarang makin lucu nih. Cakep!" bisik Refan tepat di telinga Izza.
"Apa? Pasti sebenernya kamu mau ngeledek perutku yang buncit kan? Ck. Nyebelin emang!!" sembur Izza sensi mode on. Refan auto gelagapan.
"Wehhh enggak gitu ay sumpah!! Kan aku bilang tadi, perut kamu lucu. Bukannya aku ngatain buncit." elak Refan beralasan. Izza menoleh dan menatap suaminya dengan tajam.
"Nah itu apa tuh, baru aja kamu ngatain buncit. Lagian ya, yang dibahas perut yang digelendotin leher!!" omel Izza lagi.
'Waduh salah ngomong lagi gue.' batin Refan.
"Ini gara-gara kamu juga tau! Buang kecebong pada tempatnya, jadinya kan jadi nih." gerutu Izza lagi. Percayalah, wanita ini menggerutu kesal tapi wajahnya sangat imut.
"Jadi apaan nih btw?" goda Refan menaik turunkan alisnya.
"Mmm itu loh ay, aku sama kamu ehhem, nah sekarang jadilah ehhem." jawab Izza ambigu. Refan tertawa.
"Makin jago ngelantur ya sekarang?" goda Refan menoel hidung Izza. Izza nyengir.
"Diajarin Ilham."
"Btw mantan kamu jadi nikah minggu depan kah?" tanya Refan beralih topik.
"Nah selesai!" pungkas Izza setelah melakukan sentuhan terakhir di bibirnya, memakai lip mask tipis.
"Mantanku yang mana?" tanya Izza setelahnya. Refan menajamkan matanya.
"Emang mantan kamu ada berapa hah? Kok aku ga tau lainnya?" tanya Refan hampir ngamuk.
"Ya cuma satu sih, Darrel doang."
Refan berdecak. Emang dasar ya, punya istri satu. Hobinya bikin orang jantungan mulu!
"Ya terus kenapa pake nanya lagi?"
"Ya terserah aku lah!"
"Jadi apa nggak?"
"Apanya?"
"Nikahnya lah."
"Oh."
"Astaga sayaaaaaang!! Hobi banget deh nguji kesabaranku, jadi apa enggak? Kenapa cuma OH doang?" keluh Refan mengelus dadanya sendiri. Pelukannya pada leher Izza sudah terlepas sejak tadi. Izza berdiri menghadap sang suami.
"Jadiiii sayangkuuuuuu!!" jawab Izza menirukan ekspresi sebal Refan tadi. Kemudian ia tertawa.
"Unyunyunyuuuu sabar banget sih suami gue!!" ledek Izza mencubiti pipi Refan. Refan mendengus kesal.
"Iya aku sabar, kamu yang ngeselin!" gerutu Refan kesal. Izza tertawa kemudian memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat, menumpahkan rindu akan dekapan hangat yang selama dua hari ini tak ia dapatkan.
Greb.
"Sayang kamu banyak-banyak!!" ucap Izza di sela pelukannya. Refan mengelus puncak rambut Izza dengan banyak kecupan penuh kasih sayang.
"Ihhh kamu mah nyebelin!! Kan aku lagi blendung anak dua, kalo udah lahiran nanti ya jadi ramping lagi lah!!" sembur Izza menggerutu kesal. Ia bersidekap dada dengan tampang manyun, tanda kalau ia ngambek.
"Ulululuuuu bercanda sayang!! Sini peluk lagi, peluk berempat." ucap Refan menarik kembali Izza ke dalam pelukannya.
"Mau buncit atau mau ramping, aku tetep mau sama kamu!" ucap Refan berbisik. Izza nyengir dah tuh.
"Gini nih kalo buaya ketemu pawang haha."
"Dih siapa bilang aku buaya? Aku dari dulu cuma setia sama kamu." protes Refan mengelak. Izza nyinyir, melepaskan pelukan itu.
"Dih siipi biling iki biiyi. Tuh dari sebelum kita jadian sampek kita mau nikah, banyak banget yang ngantri mau ngambil kamu dari aku! Itu namanya apaan coba?"
"Heh itu namanya aku ganteng, aku laku keras! Bukannya buaya. Mereka yang ngejar aku ay, tapi kan aku tetep jalannya selalu sama kamu! Aku ga pernah peduli sama perempuan selain kamu sama mama." elak Refan membenarkan. Izza tersenyum simpul.
"Seberuntung ini ya aku dapetin kamu?" tanya Izza mengalungkan tangannya di leher Refan. Refan sedikit menunduk, mensejajarkan posisi matanya dengan mata Izza. Saling bertatap mesra!
"Aku sih yang lebih beruntung bisa ketemu kamu, dapetin kamu, dan memiliki kamu seutuhnya." koreksi Refan. Izza menggeleng.
"No no no! Aku tau yang lebih beruntung di sini. Cinta pertamaku mematahkan, dan kamu datang sebagai cinta terakhir yang menyembuhkan. Dan cuma kamu ay yang bisa bikin aku ngerasa sebahagia ini sebagai wanita yang merasa sangat dicintai." bantah Izza dengan segala keseriusannya. Refan tersenyum.
"Ya udah, kalo gitu kita berdua sama-sama beruntung bisa saling memiliki." pungkas Refan sambil mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Izza.
Izza tersenyum manis.
"Oke deal!"
"Love you." ucap Refan mengikis jarak antara keduanya. Kening mereka sudah saling menempel, dua hidung mancung itu bahkan sudah saling bergesek.
"Ngomong cinta mulu perasaan ah, sampek kapan? Aku udah tau kali tanpa perlu kamu ngucapin." sahut Izza terkekeh.
"Kataku itu akan selalu berlaku sampai aku mati nanti!" ucap Refan santai. Izza melotot tajam.
"Sssttt ngomong apaan si? Kamu ga akan mati selama aku juga ga mati, kita akan selalu hidup bersama-sama oke? Cuma maut yang bisa misahin kita." cerocos Izza membuat sudut Refan kembali tertarik.
"Janji ya selain maut, ga ada yang boleh misahin kita! Kamu ga boleh pergi." ucap Izza lagi. Refan mengangguk pasti.
Perlahan ia mencondongkan wajahnya ke samping, ingin menjangkau sesuatu.
Cups.
Refan memberi satu kecupan manis di bibir ranum Izza.
"Aku janji, kamu wanita pertama dan terakhirku!" ucap Refan mengelus pipi mulus Izza yang membulat gemas karena tersenyum lebar.
"Kamu emang bukan yang pertama, tapi kamu yang jadi terakhirku." balas Izza. Refan mengangguk dan kembali mengecup bibir kenyal di depannya, kemudian memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Memberikan semua kasih dan sayang yang ia punya untuk wanitanya ini.
'Bakal selalu aku jaga sampai tuhan memanggil kita untuk pulang. Aku pastiin, cinta kita bakalan abadi sampai mati. Sayang!' batin Refan makin mengeratkan pelukan mereka.
Kenapa Refan hanya mengecup bibir Izza? Tanpa pagutan dan nafsu sedikitpun? Jelas itu karena Refan sedang berusaha menekan gairahnya agar tak menyembur keluar. Ia tak mau memancing gairahnya sendiri. Refan tau, sekali saja dia memulai ciuman itu dengan nafsu, maka ia tak akan bisa berhenti sebelum ia berhasil mencapai puncaknya.
Refan sedang ingin mengontrol dirinya agar tak mengganggu anak-anaknya di dalam sana. Kalau nanti sudah lahir. baru sikat rata sampek pagi!
"Tumben ga agresif." ledek Izza mengalihkan diri dari topik penuh haru dari Refan tadi. Refan berdecak, melepaskan pelukannya.
"Udah deh ay ga usah mulai! Aku lagi vakum nih demi kenyamanan, ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman anak-anak kita di dalam sana! Dah lah yuk tidur." ajak Refan menarik lengan Istrinya menuju ranjang.
"Cihii sa ae si Alaska." ledek Izza masih gencar.
"Aku makan beneran nanti baru tau rasa ya!! Ngeledekin mulu dari tadi huh." gerutu Refan kesal.
"Aaawww takut!! Ahahaha."
'Untung aja gue sayang istri.'
...****************...
"Sekarang jelasin ke gue, apa yang bikin lo berantem sama Jeje sampek lo setress masuk club lagi hah?" tanya Izza ngegas pada Reza.
"Iye tuh, nyusahin istri gue aja lu masuk club segala! Belagu amat." semprot Refan ikutan. Tiga makhluk bar-bar kesayangan guru BK SMA Garuda pada masanya itu duduk melingkar di gazebo mini yang terletak di tepian kolam.
"Ck. Biar itu club dapet duit dari gue lah! Kan lumayan Ref, Fan, Harusnya lo seneng juga malah Ref, bukannya ngamuk kek gini. Ini lagi makhluk jahanam satu, sok suci lu!" gerutu Reza tanpa merasa bersalah.
Izza mendelik tajam, memang kembarannya ini tak bisa membedakan situasi. Mana serius mana bercanda.
"Gue serius Ejaaaa!!" sembur Izza kesal.
"Lah gue duarius tau!" balas Reza tak kalah kesal.
"Ya udah kalo gitu gue yang tigarius." pungkas Refan menengahi. Takut kalau akan terjadi baku hantam antara dua kembar ini. Karena kebetulan ada dua pisau buah di atas meja. Refan takut kalau duo Rafi Refi ini main bacok-bacokan nanti.
"Ah dahlah jangan temenan sama gue lagi lu! Males arghhh." sungut Izza kesal mendorong bahu Reza di sebelahnya.
"Dih emang kita temenan? Kita kan sodaraan." tanya Reza polos. Refan menahan tawa. Jangan sampai ia tertawa, atau istrinya akan ngambek nanti karena merasa ditertawakan.
"Buodo amhat!!!"
"Ahahaha iya iya, gue tuh kemarin nemuin Salsa. Makanya Jeje-"
"Hah?!!!" pekik Refan dan Izza memukul meja kayu itu bersamaan karena saking terkejut.
What the hell?
"Iya, gue nemuin Salsa di cafe deket butik mama. Kemarin siang pas jam makan siang, dia mau minta tolong." ucap Reza menghela nafas pasrah, berhadapan dengan dua manusia super yang minus kesabaran ini harus butuh banyak tenaga.
"What the ****?! Kalo tau gara-gara Salsa, ga bakal gue nolongin lo semalem. Biarin aja lu di gebukin sama bang Rayhan sampek lumpuh sekalian biar ga bisa nemuin Salsa lagi." omel Izza panjang lebar.
"Jangan gitu juga monyet!! Jahat amat lu sama kembaran sendiri" gerutu Reza kesal.
"Tapi yang lo lakuin ke Jeje lebih jahat sih Re." celetuk Refan manggut-manggut menyimpulkan.
"Nah bener tuh kata suami gue!"
"Dengerin penjelasan due dulu dong!! Elu pada lama-lama ga ada bedanya ya sama Jeje, langsung ngamuk. Bukannya nanya minta jelasin dulu."
"Ya udah cepet jelasin!"
"Dia sama suaminya tuh lagi ada masalah gitu Ref. Krisis ekonomi kan, nah terus-"
"Terus gue harus bilang wow gitu?" potong Izza dengan logat alaynya. Refan tertawa melihat tampang tengil sang istri.
"Ck. Dengerin dulu kampret!!"
"Haha iya iya lanjut!"
Blablabla...
"Terus lo mau bantu gitu?" tanya Izza menyimpulkan isi cerita Reza.
"Ya terus lo ga mau gitu gue bantuin dia?" tanya Reza balik.
"Ini dua kembar, ga ada yang bener dikit otaknya yak? Pusing gue nyimak dari tadi." keluh Refan geleng-geleng.
"Ya gue sih its okay, selama niat lo baik dan Salsa ga berulah dan bener-bener udah tobat. Ya bantu aja sana!" jawab Izza santai tapi ditangkap ngeri oleh Reza.
"Lo ngasih izin kok kayak ngajak war sih?" tanya Reza heran. Izza mengendikkan bahunya acuh. Ia tak mau berdebat panjang, ia hanya butuh sedikit penjelasan dan sudah ia dapatkan tadi.
"Kalo saran gue, kasih dia kerjaan sesuai keahliannya di butik mama aja. Biar diurus tuh sama mama sama Ajeng di sana, lebih baik kek gitu dari pada lo ngasih Salsa kerja di Alexander Group nanti malah jadi penyakit." ucap Izza menyarankan. Refan menjentikkan jari setuju, ternyata pemikiran mereka sama!
"Nah betul!!"
"Gue bukan negatif thingking ya, tapi buat jaga-jaga aja biar ga ada resiko." ucap Izza lagi. Reza manggut-manggut mempertimbangkan usulan kembarannya.
"Oke, gue setuju sama kalian."
"Dahlah yuk ay pulang!! Mama sama ayah Ricko juga kan ga ada di sini, mending pulang ke rumah kita aja yuk!" ajak Refan. Izza mengangguk.
"Gue pulang dulu sama Refan, jangan berulah lagi lu! Bye!!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰
Para readers kesayangan Bad Twins & IZZALASKA pada mau ngeramein akunnya apa enggak nih?
Kalo rame, aku post foto-foto mereka di akun itu + foto anak-anak mereka nanti ya! Mwahh love you all🥰
Happy reading and stay safe!✨