
"Jadi ini enggak ada hubungannya sama Alfahreza Corp?" tanya Izza memastikan. Genta mengangguk.
"Iya, teror itu bukan dari Alfahreza Corp. Gue berani pastiin itu!"
"Kok gue ragu ya bang? Hati gue masih ngeganjel sama perusahaan satu itu tuh. Damage anehnya masih ketara banget!" ungkap Izza berdecak.
"Abang juga belum bisa ngungkap keganjalan itu sih, tapi untuk teror ini serius! Bukan dari Yonna itu, tapi dari PGS Group."
"Berarti Yonna itu fix bukan Geisha?" tanya Izza lagi. Kali ini Genta mengangguk samar, ia sendiri juga kurang yakin.
"Ga tau juga kan segala kemungkinan itu bisa terjadi. Tapi kan muka mereka aja udah beda." jawab Genta.
"Maybe, dia oplas buat ngelancarin balas dendamnya?" tebak Izza mempertimbangkan semua kemungkinan.
Yonna Alfahreza (Geisha pasca oplas)
"Ya bisa jadi juga sih, tapi gue baru aja dapat dua info baru Queen."
"Apaan tuh?"
"Satu tentang Yonna, satu lagi tentang PGS Group."
"Tell me!"
"Pertama dari Yonna dulu ya, perempuan yang kamu curigai itu udah punya keturunan loh. Usianya sekitar dua bulanan, di info yang abang dapet itu menjelaskan kalau ayah dari anak itu tewas dalam kecelakaan. Apa masih mungkin dia benar Geisha dan yang seperti kamu bilang, Noval keturunan terakhir Black Snake adalah ayahnya?" jelas Genta panjang lebar.
"Kan kamu tau sendiri Queen, aku sama Refan yang membunuh Noval waktu itu. Dia jelas mati karena perang, bukan karena kecelakaan!" sambung Genta lagi. Kepala Izza manggut-manggut tapi tidak dengan gerak hatinya. Masih tetap ada ganjalan kecil soal Geisha dan Yonna.
'Gue masih ga bisa ngeyakinin diri gue sih kalo Yonna itu bukan Geisha, tapi ya udahlah ada masalah yang lebih penting. Gue kesampingkan dulu aja urusan Geisha atau Yonna itu.'
"Oke, terus apa info keduanya?"
"PGS Group, di pimpin oleh CEO ganda. Anak kembar dari Hardiar Wijaya, orang yang pernah hampir gila gara-gara perusahaannya kalah saing sama Rz Corp tiga tahun yang lalu." terang Genta menjelaskan. Izza mengeryit heran.
"Bukannya dulu namanya itu Wijaya Group ya bang?" tanya Izza. Genta mengangguk.
"Dulunya emang iya. Tapi setelah nemuin masa kehancurannya, Wijaya Group runtuh lalu didirikan kembali oleh keturunannya dengan nama baru. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, tentang Hardiar. Kamu udah denger kabar terbarunya apa belum?" jelas Genta panjang lebar dengan diakhiri pertanyaannya. Izza menggeleng polos.
"Belum. Emang apaan?"
"Hardiar sekarang udah ga ada. Dia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sendiri, dugaan polisi karena frustasi berat gegara mengalami kebangkrutan besar atas kekalahannya dengan perusahaan kamu waktu itu." jawab Genta membuat Izza ber-oh ria.
"Jadi maksudnya PSG Group itu didirikan dengan salah satu tujuannya adalah untuk balas dendam ke gue?" tebak Izza. Genta mengangguk.
"Iya."
"Terus yang soal dunia bawah? PSG Group ngebentuk gangster baru juga apa gimana?" tanya Izza yang mencari jawaban atas semua pertanyaan yang terlintas di benaknya.
"Nah itu dia! Gue sama Ilham udah nyelidikin itu. Lo inget ga waktu itu gue pernah bilang kalo ada yang ngusik gangster kita? Itu ternyata dalangnya adalah PSG Group."
"Lah?"
"Tapi mereka enggak mendirikan gangster baru. Gangster yang nyari masalah sama BDG itu bukan milik CEO PSG." jawab Genta.
"Ya terus kenapa di surat itu dia bilang tentang dunia bawah?"
"Ya itu karena mereka berlindung dibawah salah satu gangster musuh kita. Mereka tau kalau gangster itu ada kisruh sama kita dari dulu, makanya mereka juga mau ikut andil sekalian untuk membalaskan dendam atas kematian ayah mereka."
"Musuh BDG?" tanya Izza memastikan. Genta mengangguk.
"Tapi yang mana satu?" tanya Izza lagi. Mengingat BDG sangat kuat dan disegani banyak orang gangster lain, tentu saja juga tak sedikit orang-orang yang tak suka dengan BDG dan ingin menghancurkannya. Aneh emang penyakit hati! Padahal BDG tak pernah memulai konflik, Izza dan Genta hanya menggerakkan gangster itu disaat ketenangan mereka terusik saja. Ibarat singa yang tertidur, tak akan meraung bangun tanpa sebab!
"Bloody Dragon." jawab Genta membuat sebelah alis Izza terangkat.
"Yang pernah kalah lawan kita? Yang ketuanya sempat jadi kelinci percobaan racun racikan Ilham apa bukan si?" tanya Izza mencoba mengingat-ingat.
"Iya. Dua wakil dan panglima tempurnya juga mati karena racun jahanam buatan Ilham. Tapi kita ga bisa ngambil alih Bloody Dragon waktu itu, karena mereka punya ahli waris." jelas Genta menganggukkan kepala.
Izza terkekeh remeh.
"Dan mereka udah berani ngibarin bendera perang sama BDG lagi?" tanya Izza berdecih.
Genta kembali mengangguk.
"Tapi tenang aja, gue udah ngirim dandy sama beberapa anak buah kita buat menyusup ke dalam lingkup musuh buat ngawasin pergerakan mereka dari dalam." ucap Genta membuat Izza menghela nafas lega.
"Bagus deh kalo gitu."
"Dan lo tau? Dandy udah berhasil ngantongin satu info besar buat pihak kita." ucap Genta lagi. Satu alis Izza kembali terangkat.
"Apaan tuh?"
"Bloody Dragon enggak sendirian." tutur Genta. Anehnya, Izza malah tertawa receh.
"Ahhahaha abang lawak!!"
"Kok ketawa sih? Siapa yang lawak heh?!" tanya Genta hera .
"Bang Genta yang lawak!! Ya bener dong mereka enggak sendirian, kan berame-rame sama semua sisa anggotanyaaaaaa!!" jawab Izza polos. Kenapa otaknya harus ngebug di saat seperti ini sih?
Plak
Genta menepuk jidatnya.
Leader gangster kebanggaanya ini ternyata masih punya sisa jiwa-jiwa polos yang sangat absurd di umurnya yang sudah menginjak angka dua puluh. Awalnya ia fikir kalau Izza sudah sepenuhnya jadi orang dewasa yang bebas dari kata absurd setelah menikah, tapi ternyata tidak. Izza masih tetap Izza! Absurd ya tetap absurd!
"Maksudnya enggak gitu Queen!!" decak Genta memutar bola matanya malas.
"Ya terus? Sama emak bapaknya? Atau sama geng naruto? Ah apa jangan-jangan mereka manggil ultramen ya?" cerocos Izza makin ngawur. Genta mengetokkan jarinya di meja kayu di depan mereka.
Tok tok tok.
"Makin lama makin ga waras aja nih anak!" gerutu Genta geram sendiri. Izza nyengir.
"Ya terus gimana konsepnya? Kalo ngomong sama gue jangan setengah-setengah dong!!" omel Izza tak mengerti.
"Bloody Dragon gabung sama sisa puing gangster lama." jawab Genta.
"Hah? Musuh kita juga?"
"Iya. Gue udah denger kabar sih tapi masih simpang siur gitu, Noval punya temen seanggota Black Snake yang masih sisa disini. Enggak banyak, cuma hitungan tangan tapi posisinya di Black Snake cukup berdamage. Semacam orang kepercayaan ketua mereka." jelas Genta. Izza geleng-geleng kepala karena tak mengerti.
"Bukannya waktu itu udah habis ya?"
"Kan gue udah bilang tadi, sisa. Sisa puing!"
"Oh." respond Izza yang hanya ber-oh ria.
"Oh doang?"
"Ya terus gimana lagi?" tanya Izza heran.
"Ya kita harus ambil langkah gimana kek, kamu mau abang sama Ilham ngambil tindakan atau apa gitu?"
"Oh itu, emmm itu deh dari pada kita nanti salah langkah ya.... Abang bilang kan kabar tentang bergabungnya BS sama BD itu kan masih simpang siur kan?"
Genta mengangguk.
"Mending kita cari tau kebenarannya dulu, pastiin sebelum kita nanti ambil tindakan! Gunain Dandy, suruh dia nyari tau latar belakang Bloody Dragon yang tiba-tiba berani maju lagi. Cari tau apa bener Black Snake gabung sama mereka atau enggak!!" tutur Izza memberikan arahan pada wakilnya ini. Genta mengangguk siap.
"Oke, gue bakal mulai pergerakan kita nanti malam."
...****************...
"Nah ini mobil Genta masih ada, berarti mereka masih di sini dong." ucap Refan saat tiba di parkiran cafe. Ia baru saja memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil hitam pajero bernomor plat 'G 1 ALVR'.
Refan yang sudah yakin kalau istrinya masih berada di cafe pun segera masuk. Meski tak diberitahu Izza, Refan sudah hafal betul tempat favorit Izza di cafe ini. Yaitu di roof top, cafe out door yang berhadapan langsung dengan bentangan alam yang sangat cantik.
...****************...
"Buset bang Genta lama amat di toilet? Bertapa atau nggosok batu akik ya?" gumam Izza bermonolog heran. Sudah lebih dari lima menit yang lalu Genta izin pamit ke toilet dan tak kunjung kembali hingga sekarang.
Izza, wanita cantik dengan setelan dress panjang dibalut jas kerja berwarna terang kalem itu tampak duduk sendiri menikmati hembusan angin sore di roof top cafe. Ramainya situasi di sekitarnya tak membuat keheningan tenangnya terusik.
Sampai hingga saat keheningannya terganggu oleh gelas kaca di mejanya yang tersenggol oleh seseorang hingga terjatuh dan pecah. Orang itu tampaknya sedang sibuk dengan teleponnya hingga tak fokus berjalan dan menyenggol sebuah gelas di samping jalan.
"Eh sorry sorry!!" pekik laki-laki berkemeja hitam yang sepertinya tak sengaja menjatuhkan gelas Izza. Izza beringsut menundukkan dirinya bersamaan dengan laki-laki yang juga ingin membereskan kekacauan yang diperbuat olehnya itu.
"Ga papa-"
Sret
"Assshh auuu." cicitnya karena tergores pecahan gelas yang berusaha ia bersihkan.
"Eh yah aduh kegores ya sini gue ban- eh loh?"
"Loh?"
"Kak Abi!!"
"Izza?!!"
Ternyata oh ternyata! Orang itu adalah Abimana. Salah satu jarinya tergores dan mengeluarkan darah segar. Izza panik seketika, bagaimanapun juga ini karena gelasnya bukan?
Abimana Sandoval
"Aduh kak sorry ya? Sini sini gue bantu!" cicit Izza menarik Abimana agar berdiri dan mendudukkan cowok itu di kursi yang tadi ia tempati. Untuk apa? Tentu saja untuk bertanggung jawab. Izza memang tipe orang yang cuek dan bodoamat, tapi dia bukan pengecut! Dia akan tetap peduli kepada orang lain ketika dia merasa dirinya salah, catat! Hanya saat dia merasa wkwk.
"Ga usah ga papa kok Za, ini cuma luka dikit doang." ucap Abi yang awalnya menolak. Izza menggeleng kekeuh lalu meraih tas dior biru di meja. Izza selalu membawa tisu, plester dan obat merah kemanapun ia pergi. Kalian tau sendiri lah, hidup Izza kan tidak pernah lepas dari kata ribut.
"Haiss ga papa kak, kan ini gegara gelas gue juga. Lo diem aja oke? Biar gue obatin nih, nanti kalo infeksi kan jadi repot!" tutur Izza meyakinkan Abi. Di luar kantor, gelagat keduanya memang berbeda. Tidak seformal saat mereka berada di lingkup kantor dan bisnis.
Abi pun mengangguk pasrah. Lelaki itu diam saja membiarkan Izza merawat luka gores di jemari tangannya. Wanita cantik itu tampak telaten dan penuh perhatian saat berhadapan dengan luka Abi. Abi tersenyum tipis.
'Arghh makin lama dia makin menguasai semuanya aja. Kenapa juga gue selalu ngerasa seperti jatuh cinta berkali-kali ke Izza? Wanita yang jelas-jelas udah bersuami. Dia sekarang ini bahkan udah mengandung anak pertamanya dari Refan.' batin Abi frustasi.
Rasanya sangat sulit sekali melepaskan kata sempurna dari sosok Izza. Sudah empat bulan lamanya ia mencoba melupakan nama Izza, tepat setelah wanita itu resmi menjadi istri orang lain. Tapi takdir dan hatinya terus saja memainkan dirinya, makin berusaha makin sia-sia!
'Wanita berkelas yang baik, cantik dan cerdas! Bener-bener berjiwa pemimpin yang ga bisa diremehin. Beruntung banget Refan bisa dapetin Izza. Kenapa bukan gue aja ya? Ah harusnya dulu gue ga nolak usulan bunda buat sekolah di SMA Garuda, mungkin aja kan gue yang bisa lebih dulu mengenal Izza dan bisa jadiin dia milik gue? Arghhhh!!'
Sementara di sisi lain.
"Sial!" umpat Refan spontan saat melihat pemandangan panas yang langusung bisa membakar jiwanya.
"Mau ketemu Genta? Atau Abi? Huh!!"
Refan yg awalnya berniat menemui Izza pun langsung putar balik setelah melihat Abi bersama Izza. Kenapa? Tentu saja ia cemburu.
Refan memutuskan untuk kembali ke mobil saja daripada harus melihat ini. Ia akan menunggu Izza di mobil dan akan ngambek nanti! Pasti.
Kenapa refan masih mau menunggu Izza? Kenapa Refan tidak meninggalkannya saja padahal suasana hatinya sedang kurang baik? Itu karena refan hanya cemburu, bukannya kehilangan peduli dan tega. Oh tidak!! Refan tak punya rasa tega sedikitpun terhadap istri tercintanya itu.
Karena bagi seorang Refan, urusan perasaan dan emosi, bentuk perhatian cinta dan cemburu itu adalah dua hal berbeda yang tak boleh di sangkut pautkan. Catat!!
Back to Izza.
"Nah dah selesai!!" ucap Izza setelah merekatkan sisi terakhir plester di jemari Abi. Abi tersadar dari lamunan penuh harapan semunya itu.
"Thanks Za." ucap Abi setelahnya. Izza mengangguk.
"Sorry juga ya kak. Gegara gue tuh tadi jadi kegores." jawab Izza meminta maaf. Abi menggeleng dengan kekehan kecil.
"Its okay bukan salah lo kok, gue yang ga fokus aja tadi." elak Abi yang merasa ini salahnya. Izza mengangguk tipis.
'Gue sih basa-basi doang ya nganggep gue salah, aslinya sih gue tetep ngerasa bener lah! Ya kali cewek ngaku salah.' batin Izza bengek.
"Ada apaan nih?" celetuk Genta yang muncul dari belakang mereka. Izza dan Abi menoleh bersamaan.
"Itu tangan kenapa? Lo nggak punya niatan buat motong jarinya dia kan dek?" tanya Genta memastikan. Izza memutar bola matanya malas. Hello brader!!! Dia ini Izza, bukan Ilham. Yang psikopat itu Ilham, Izza cuma kejam doang tapi masih bisa ngotak. Hadeuh!!
"Ya enggak lah! Ini tadi kena pecahan kaca, terus gue obatin." elak Izza membela diri.
"Terus ini siapa?"
"Anda CEO Alvaro Group kan?" tebak Abi yang sepertinya teringat sesuatu. Genta mengangguk samar.
"Kok tau? Lo CEO juga ya?" tanya Genta polos. Satu-satunya nilai minus Genta di mata Izza adalah laki-laki itu tipe orang pelupa yang selalu kesulitan dalam mengingat wajah dan nama-nama orang baru di sekitarnya. Alias susah nginget orang! Kalau Genta tak bertemu dengan Izza selama sebulan saja, bisa-bisa lelaki itu lupa dengan wajah Izza. Aneh kan? Ya emang aneh!
"Ck. Abang ga usah mulai deh pikun bin bego-nya!! Dia kan Abimana abaaaaaangg. CEO ABM Group." sahut Izza mendengus sebal. Abi menganggukinya benar.
Genta manggut-manggut santai.
"Sorry bro! Sebagai klien, kita kan baru dua kali meeting langsung. Jadi gue lupa!" ucap Genta. Abi manggut-manggut saja.
"Yee kalo sama abang sih, mau ketemu udah dua puluh kalipun pasti tetep aja abang ga bakal hafal mukanya." cibir Izza meledek. Genta berdecak sebal melihat wanita ini membuka kedoknya di depan klien.
"Eh lo ga nemuin Refan?" tanya Genta mengalihkan. Abi langsung membuang muka, mengalihkan perhatiannya agar tak terasa perih dan sesak di hati.
"Hah? Emang dia udah sampe?" tanya Izza kaget. Genta mengangguk.
"Tadi pas jalan balik dari toilet, gue ngeliat mobilnya dia parkir di sebelah mobil gue tuh." jawab Genta santai.
"Lah tadi dia bilang mau nyamperin tuh?"
"Ya ga tau!"
Izza langsung buru-buru menyambar tasnya dan pamit pergi.
"Ya udah gue duluan balik deh bang, urusan kita kan udah selesai juga." pamit Izza pada Genta. Genta mengangguk.
"Hati-hati lo!"
Izza mengangguk.
"Kak Abi, gue duluan ya. Suami udah jemput hihi." pamit Izza pada partner kerja sekaligus katingnya ini.
"Iya Za, take care ya!"
...****************...
Refan duduk diam membisu di dalam mobil lambo putihnya. Wajahnya tampak tenang tapi kepalanya dipenuhi banyak beban pikiran yang membuatnya ingin segera meledak saat ini juga. Kejadiaan tadi saat Izza tampak sangat perhatian hingga memegangi jemari tangan Abimana itu seperti kaset rusak yang terus saja berputar tanpa ujung di memori Refan.
"Awas aja ya ay, nanti kamu harus dapat hukuman!"
Sorot mata Refan kian menajam bulat saat sosok tinggi ramping nan cantik yang sangat ia hafal bentuk lekuk tubuhnya itu berjalan mendekat ke arah mobilnya. Kemudian di susul oleh tubuh tinggi tegap Genta di belakangnya.
"Bini gue cantik gitu, mana rela gue ngeliat dia dideketin cowok lain? Gue ga bodoh kali ah!" desis Refan geram sendiri.
Tok tok.
Izza mengetok kaca mobil. Refan kemudian membukakan pintu mobilnya dari dalam. Cukup aneh bagi Izza karena biasanya Refan pasti selalu turun dan berjalan memutari mobil hanya demi membukakan pintu untuk Izza-nya.
"Assalamualaikum sayang!!" sapa Izza saat pertama kali masuk mobil. Sebagai ritual manis langganan keduanya, Izza mencium punggung tangan suaminya dengan sangat romantis. Persis seperti istri kepada suami selayaknya. Ya emang selayaknya! Kan udah kawin.
Satu keanehan yang ditangkap oleh Izza adalah karena Refan tak bersikap manis dan hangat sepeti biasanya. Seolah ada dinding es beku yang menghalangi sikap manis dari lelaki berkemeja putih polos itu.
"Kenapa kamu?" tanya Izza to the point. Izza ini sangat peka dan bukan tipe perempuan yang suka menye-menye dan banyak bicara.
"Ga papa." jawab Refan malas.
"Kenapa tadi ga nunggu di dalam aja? Kan bisa join."
"Males." jawab Refan masih di mode singkat, padat dan bangsat. Ehhe canda Refan:'v
"Kamu kenapa si? Aneh banget? Bad mood? Butuh vodka apa enggak?" tanya Izza menggoda Refan. Ia menebak kalau suaminya ini sedang bad mood, meski ia sendiri tak tau apa penyebab pastinya.
"Mau ke Club aja dulu sebelum pulang? Mabok bareng hm?" tanya Izza lagi.
"Terserah!"
'Lah ini bocah kenapa dah? Ga papa sama Terserah itu kan hak paten gue! Kenapa pakmil-nya yang moodyan? Heran!!' cicit Izza heran. Refan kemudian bersiap melajukan mobil, tapi dihalangi oleh tangan Izza.
"Pulang!!" ucap Refan hemat dan tak jelas. Tapi sayangnya Izza sedang malas berdebat tidak jelas.
"Ay?" panggil Izza. Refan tak menoleh sedetikpun.
"Hm."
"Btw ini malam jumat loh?" ucap Izza memasang wajah senyum penuh arti dengan kedua alis naik turun dengan genit. Refan sontak refleks langsung menoleh siap siaga karena Izza membawa kata sensitif penuh kenikmatan itu.
'Malam jumat? Ah kenapa pas ada bahan ngambek kek gini, malah jatuhnya di hari kamis malam jumat sih? Kan jadi gue sendiri yang repot anj*ng!!' maki Refan sebal.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰