
Hari hari berlalu tanpa bisa ditahan, seperti Izza yang tetap tak bisa menahan Refan untuk tidak pergi meski segala cara telah ia usahakan.
Hingga tibalah hari ini, hari dimana Izza benar-benar harus berpisah dengan Refan. Izza benar-benar akan pulang ke rumah lamanya sementara Refan pergi ke rumah papanya bersama Rafael dan yang lain.
"Sayang...."
"Nggak ngerayu-ngerayu lagi ay, kamu harus nurut!"
"Ck iya iya." decak Izza sebal. Mobil yang dikendarai oleh Refan sudah memasuki gerbang perumagan elit dimana kediaman keluarga besar Alexander berada. Beberapa anak buah lengkap dengan senjata yang berasal dari Black Diamond Girl tampak bersiap siaga memenuhi area rumah super megah itu.
Memasuki rumah penuh kenangan itu, tentu saja datangnya Izza dan Refan langsung disambut peluk hangat Ralita yang mengkhawatirkan keselamatan mereka.
"SAYANG?!!!" pekik Ralita memeluk Izza dengan erat, Izza tak terlalu menggubrisnya ia bahkan tak menarik senyum di wajahnya meski hanya sedikit. Tanpa minat dan tanpa raut.
"Jangan cemberut mulu kek." celetuk Reza yang muncul bersama papanya, yang lain sudah berada di lantai atas.
"Males." sahut Izza singkat, Refan mengacak lembut puncak rambut yang istri. Ia tau suasana hatinya tak akan membaik sebelum semua ini berakhir.
"Biar aku yang anter Izza ke kamarnya aja ya mam?" tawar Refan, Ralita mengangguk diikuti oleh Ricko dan Reza yang nurut-nurut aja. Lagipula Izza mode badmood sangat berbahaya!
"Ayo ay?" ajaknya, Izza menjawab dengan helaan nafas berat lalu dengan langkah berat mengikuti Refan naik ke lantai tiga lewat lift.
Sesampainya mereka di dalam kamar, Refan menuntun Izza untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Izza menggenggam erat tangan Refan saat tangan kekar itu menutupi sebagian tubuh bawah Izza dengan selimut.
"Ay...."
"Ada apa heum?"
"I have a bad feel for this." cicit Izza tercekat, suasana hati dan pikirannya benar-benar kacau saat ini. Logikanya ingin mengizinkan Refan pergi tapi hatinya melarang.
"Itu cuma perasaan kamu aja ay, aku kan udah janji bakal balik? Aku pasti balik."
"Tap-"
"Kamu minum vitamin ini ya, biar anak-anak kita makin sehat di dalem." potong Refan memberikan sebuah pil tablet berwarna biru muda kepada sang istri, Izza mengeryit.
"Biasanya warna kuning?"
"Yang biasanya habis ay, ini tadi pagi aku suruh Kevin yang beli ke apotek."
"Oke..." pasrah Izza menerima pil itu, Refan meraih gelas minum di atas meja nakas dan menyerahkan ke Izza yang langsung meminumnya bersama dengan pil tadi.
"Udah sekarang kamu tiduran aja ya, ga usah banyak gerak. Ga usah keluar dari kamar juga... Tunggu sampai besok pagi aku kesini nemuin kamu lagi, oke?" ucap Refan menidurkan Izza, mengelus wajah sang istri dengan penuh kasih lalu menyelimutinya dan pergi setelah merasa Izza sudah terlelap setelah meminum obat tadi.
"Tidur yang nyenyak ya sayang, besok kita ketemu lagi." ucap Refan sambil melirik jam dinding, sudah hampir pukul 9 malam.
Setelah Refan keluar dari kamar.
"Gimana Fan?" tanya Reza yang rupanya sejak tadi menunggu Refan di depan pintu kamar. Refan mengangguk santai.
"Aman, dia udah minum obat tidur yang gue kasih. Dia nggak akan bangun sampai besok pagi, obatnya baru hilang efek setelah 6 jam." jawab Refan, Reza manggut-manggut. Rupanya pil yang diminum Izza bukanlah vitamin untuk ibu hamil melainkan obat tidur untuk memastikan Izza tidak akan ikut campur dalam perang besar malam ini.
"Gue titip dia dulu ya, kalo ada apa-apa kabarin gue!" ucap Refan beranjak pergi, Reza mengangguk.
"Lo jaga diri baik-baik Fan, kabarin kalo ada apa-apa."
"Pasti."
...****************...
"Rafael sama Refan mana?" tanya Genta celingukan, ia baru saja keluar dari ruang ketua BDG dan langsung kelihatan linglung. Leon dan Ilham yang menunggunya di depan pintu pun cengoh dan saling tatap.
"Dih pikun lo saking khawatirnya bang?" tanya Ilham heran.
"Maksud lo?"
"Mereka kan udah stay di rumah Dirgantara bareng om David, Kevin sama anak buah yang lain bang." celetuk Leon memotong Ilham.
"Lo kebiasaan banget ngambil jatah bicara gue." gerutu Ilham sebal. Leon tertawa.
"Ngambekan lu kek cewek!"
"Ya udah kalo gitu tunggu apalagi? Ini udah hampir jam 9 malem, Dandy bilang mereka otw jam 9 kan?"
"Hm, kita kesana sekarang."
"Jangan!" larang Genta menentang Leon dan Ilham yang ingin pergi ke rumah Dirgantara.
"Kenapa bang?"
"Gue ga yakin BD bakal berjalan sesuai misi awal mereka, kita harus ke markas Blood Wolf sekarang!"
"Ngapain ege?! Orang semua anggota udah dipindahin ke rumah Dirgantara."
"Gue punya feeling buruk soal markas Refan."
"Bang lo ga usah ngadi-ngadi dah." ucap Ilham parnoan, Genta berdecak.
Drtt drtt. Handphone di dalam saku celana Leon berbunyi, "Refan nelfon gue." ucapnya, ia pun segera menarik keatas tombol hijau di layar.
Refan : Lo buruan nyusul ke Rafael duluan Yon!
Leon : Emang lo udah dimana?
Refan : Gue dari rumah ayah Ricko, ini mau otw ke markas.
Leon : Lah kok ke markas?! (pekikan Leon membuat Ilham dan Genta saling pandang, Genta berbisik "apa gue bilang?")
Refan : Cutter dari Dandy kemarin Yon.
Leon : Kenapa tu cutter?
Refan : Ketinggalan di meja, gue lupa bawa.
Leon : Ck.
Tut tut....
"Sial." maki Leon saat telepon diputus oleh Refan, Ilham mendekat.
"Kenapa dia?"
"Cutter yang dikasih Dandy ketinggalan di markas, dia mau ngambil kesana." jawab Leon. Genta beranjak cepat memungut dua pistol di atas meja dan memasukannya ke dalam saku jaket.
"Gue bilang juga apa! Kita susul Refan, pasti ada musuh yang lagi ngawasin dia sekarang." ucap Genta mulai melangkah pergi.
"Seriusan kita ga langsung ke tempat Rafael?"
"Ga usah banyak nanya! Kalo kalian berdua ga mau ya udah, gue yang janji ke Izza buat jagain Refan jadi biar gue aja yang kesana sendiri." sebal Genta malas dan langsung pergi, Ilham dan Leon pun saling pandang. Bingung harus mengikuti perintah Refan menuju rumah Dirgantara atau mengikuti feeling Genta.
"Gimana Ham?"
"Ikut abang gue aja deh, kalo ada apa-apa ke Refan bahaya juga buat semua orang. Lagian target Bima kan emang Refan?"
"Oke."
...****************...
"Kita ubah semua rencana Nik!" ucap Fani memberitahu Niko yang sedang asyik dengan senapan dan amunisinya. Niko mengeryit tak mengerti.
"Maksud lo kita nggak jadi nyerang hari ini?"
"Bukan, kita ke markas Blood Wolf."
"APA?!!"
"Ga usah heboh juga kali! Biasa aja." jengah Fani.
"T-tapi kenapa?"
"Ada mata-mata kita yang bilang kalo Refan sendirian naik mobil dan menuju ke markas BW, mungkin dia mau ngambil senjata atau apapun itu. Targetnya bos cuma Refan kan? Jadi kita pergi ke tempat dimana Refan berada.
"Lo gila? Itu laporannya tadi, bisa aja dia udah balik ke rumahnya sekarang
"Anak buah kita udah ada yang ngikutin dia dan bakal nyegah dia pergi sama kita sampe. Sekarang ayo berangkat!!"
Saat yang lain mulai berjalan keluar ruangan mengikuti buntut Fani dan Bima, Niko mendekati Dandy yang berdiri agak jauh dari pintu.
"Buruan kabarin Genta Dan! Kita ga punya banyak waktu. Refan pasti sendirian disana." bisik Niko, Dandy mengangguk lalu berdecak saat Genta dan Ilham tak bisa dihubungi sama sekali.
"Sial!"
"Kenapa?"
"Nggak ada yang aktif."
"Telfon yang lain Dan! Buruan."
"Gue ga punya nomernya Leon atau Kevin Nik.... Gue musti nelfon siapa selain Q-" panik Dandy yang kemudian teringat sesuatu.
"Selain siapa?"
"Queen gue."
"Istrinya Refan?" tanya Niko, Dandy mengangguk.
"Ga ada pilihan lain, lo kasih tau dia biar dia yang nelfon yang lain." suruh Niko panik.
"Tapi nant-"
"Lo mau Refan mati konyol hah?!"
"O-oke, gue telfon Queen sekarang."