IZZALASKA

IZZALASKA
56. Mereka pergi?



📞Ilham is calling....


Izza : Halo Ham? Kenapa?


Ilham : Inpo bos!


Izza : Info apaan?


Ilham : Gue sama abang dapet satu fakta wow!!


Izza : Tentang?


Ilham : Bloody Dragon.


Izza : Fakta apaan heh?


Ilham : Leadernya udah lengser Queen, katanya sih sakit keras gitu dan kehilangan salah satu tangan atau kakinya ya gue lupa.


Izza : Terus diambil alih siapa? Anaknya?


Ilham : Bukan, ponakannya.


Izza : Siapa ponakannya?


Ilham : Nah pertanyaan yang bagus!


Izza : Siapa buruan?!


Ilham : Gue ga tau.


Izza : Lah?


Ilham : Info leader barunya di blokir dari semua sisi, gue sama bang Genta masih kesulitan masuk. Tapi tenang aja! Kita cuma kesulitan, bukan kemustahilan. Pasti bakal kebongkar juga nanti.


Izza : Huh, oke. Lo pantau terus ya? Gue masih belum bisa turun tangan soalnya.


Ilham : Iya tenang aja, ga usah repot mikir BDG dulu. Kan udah ada gue sama abang! Lo fokus ke proses launching leader baru buat gangster kita aja.


Izza : Sa ae Mahli.


Ilham : Ga usah mancing lu!


Izza : Ahahaha.


Ilham : Ya udah ah dari pada gue makin emosi. Gue cuma mau ngasih tau info tadi doang!


Izza : Hm makasih Mahli ganteng!!


Ilham : Ijah b*ngke!


Izza : Ahahaha.


Tut tut...


Move to Refan.


📞Kepin is calling....


Kevin : Halo bos?


Refan : Oy kenapa?


Kevin : BD ganti leader!!


Refan : Oh.


Kevin : Sialan! Gitu doang respond lo pak?


'Tuhkan bener dugaan gue! Berarti yang gue tau tangannya ilang itu bukan mimpi. Hampir aja gue heran gegara BD masih berani gerak dengan kondisi ketuanya yang sekarat, eh ternyata beneran udah move leader.' batin Refan tak kaget sama sekali. Ia sudah menduga kemungkinan ini.


Kevin : Fan lo masih di situ?


Kevin : Bos!!


Kevin : REFAN WOEEEEEE.


Refan berjingkat kaget. Kevin sialan!


Refan : Berisik anj-


Kevin : Ya elu ngebug lama amat anj-


Refan : Gue udah curiga sama kemungkinan itu sejak awal. Udah kebal!


Kevin : Terus langkah selanjutnya gimana?


Refan : Lo udah tau siapa penerusnya?


Kevin : Belom sih.


Refan : Kok lo ga gercep si?


Kevin : Situsnya diblok semua gobl*k! Gue masih kesulitan masuk.


Refan : Oh.


Kevin : Untung aja kita lagi jauhan nih.


Refan : Kalo deket kenapa?


Kevin : Mau gue sambit pake panci!


Refan : Haha lucu.


Kevin : SABAR KEVIN SABAR!!!


Refan : Pokoknya gue serahin semuanya ke elo dulu, gue masih ga berani nentang batasan dari bokap nyokap!


Kevin : Iya gue tau.


Refan : Ya udah kalo gitu gue-


Kevin : Eits jangan matiin dulu bos! Gue keinget satu hal.


Refan : Apaan?


Kevin : Gue udah tau siapa dalang musang di Rz Corp. Yang udah berani nge-acc PSG Group sampek Bloody Dragon bisa tau soal kehamilan Izza.


Refan : Siapa Vin?


Kevin : Doddy Kusuma. Kepala HRD di perusahaan Izza.


Refan : Sial!


Kevin : Mau langsung ringkus aja ga?


Refan : Gue diskusiin dulu sama Izza, ntar gue kabarin.


Kevin : Oke.


Tut tut.....


"Si Doddy belum tau siapa lawannya ternyata. Mau ngajak main petak umpet?" lirih Refan geram. Lihat saja nanti!


Back to Izza.


Drtt drtt


Handphone Izza kembali berdering saat ia baru saja duduk kembali di sebelah Alice. Refan masih berdiri dan berbicara dengan teleponnya di ujung ruangan.


"Bunyi lagi itu sayang, kamu lagi banyak kerjaan kah?" ucap Alice menunjuk iPhone Izza dengan anggukan dagu. Izza menggeleng.


"Enggak kok ma, bukan urusan kerjaan. Cuma ada urusan dikit sama Ilham hehe." jawab Izza sambil meraih iPhonenya di atas meja kaca.


"Oh ya sudah, bagus kalau begitu! Perut kamu kan udah makin gede, jadi mama ga mau kamu kecapekan kayak biasanya oke? Jaga stamina kamu baik-baik demi semuanya." tutur Alice mengelus puncak kepala Izza yang mengangguk dengan senyum tulus.


"Iya mama cantik!!"


📩Ilham


Queen gw lupa bilang.


Gw udh dapet info yg lo mau tadi siang.


Dugaan lo sama kak Andin bener!


Musang perusahaan lo beneran si Doddy.


Skrg lo mau gue ngapain itu tua bangka?


'Wah dodot minta jatah racun nih! Ga bisa didiemin yang kek begini. Biar ga terulang lagi di masa depan.' batin Izza geram.


📤Izzaalx


Ntar gw pikir dulu caranya.


Gw kasih kbr kalo udh ada jalannya.


📩Ilham


Oke deh.


📤Izzaalx


Ham lo jangan kasih tau Refan dulu ya?


Pokoknya jangan dulu!!


📩Ilham


Lah rmang knp? Kan dia laki lu.


📤Izzaalx


Itu suami gw kerjaannya udh banyak.


Gw ga tega liat mukanya kecapekan mulu.


📩Ilham


Yah telat lo ngasih tau gua!


Lagian jg capeknya cowok bakal hilang kalo dpt jatah. Wkwk ga tuh🤣


📤Izzaalx


Mahli b*ngke!


Jgn bilang lo udh ngomong ke Refan?


📩Ilham


Bukan ke Refan jg sih tapi.


📤Izzaalx


Terus?


📩Ilham


Gue ngasuh tau si Kevin tadi.


'Bisa mati berdiri gue punya bekap kek begini. Demen amat slonang-slonong sendirian astaga!!' keluh Izza menabahkan hati.


📤Izzaalx


Mahli kapan sih lu punter dikit hah?


📩Ilham


Kapan-kapan ya Queen.


Kalo udh ga kesiangan bangun lagi wkwk.


📤Izzaalx


Dahlah.


📩Ilham


Sabar! Hidup emg perlu banyak rasa.


Read.


"Bodoamatin aja lah daripada gue setress nanti."


...****************...


Dor dor


"Ref- Arghhhhh!!" cicit seorang wanita berjaket hitam yang tampak sedang berusaha menghalangi tubuh tegap seseorang di belakangnya.


Jeritan nyeri yang sontak menggema ngilu saat dua buah timah panas berhasil menembus masuk ke dalam tubuhnya, sialnya itu tepat di bagian perutnya. Mata birunya membulat sempurna saat melihat lelehan darah mulai membasahi pakaian yang ia kenakan.


Orang yang coba ia lindungi pun menoleh, Refan.


"IZZA!!!" pekik Refan sigap menangkap tubuh istrinya yang ambruk. Matanya melotot sempurna saat ini, bagaimana Izza bisa menyelinap datang diantara hujan peluru padahal ia sudah meminta Leon untuk menjaga istrinya tetap di rumah selama ia dan BDG bersatu untuk melawan Bloody Dragon malam ini.


Greb


Untuk pertama kalinya, Izza benar-benar roboh. Refan mendekapnya erat, ia bingung. Tak tau apa yang terjadi tadi dan apa yang akan ia lakukan.


"Ay?!!!" pekik Refan syok. Ia makin panik saat sepasang matanya melihat cairan merah kental mengucur deras dari perut istrinya.


Kini ia tau apa yang sedang terjadi, Refan memutar pandangannya ke depan. Menemukan sosok laki-laki yang sangat familiar tapi tak mampu mengingat siapa orang itu. Tak jauh berbeda dengan Refan, lelaki berjaket 'Leader Bloody Dragon' itu juga tampak syok melihat kondisi Izza. Bahkan tangannya yang masih memegang pistol itu sampai bergetar, bukan ini yang ia mau! Bukan Izza sasaran kematiannya, tapi Refan.


'Pasti Izza mau ngelindungin gue dari dia. Sial!' batin Refan.


Rahang Refan sudah mengeras, tak akan ia biarkan siapapun menyentuh istrinya. Sekali orang itu berani melanggar, maka orang itu juga harus berani mati.


Refan mengacungkan moncong pistol ke arah lelaki itu. Lelaki yang masih tak bergeming dari tempatnya karena melihat tubuh tak berdaya Izza.


Dor dor


Dua tembakan dilepaskan dengan tepat sasaran oleh Refan. Satu tepat di kepala, satu lagi ia jatuhkan ke bagian dada kiri. Orang itu ambruk secara perlahan!


"KEVIN GENTA!!!!" teriak Refan menggila. Yang dipanggil langsung mendekat.


"Queen!!"


"Izza!!"


Kedua tangan kanan itu tampak sama-sama syok melihat Izza yang membeku menahan sakit. Mereka pun membentuk formasi ganda untuk memberi tembakan perlindungan untuk dua leader mereka di tengah pertempuran sengit ini.


Deg.


Izza terpaku, ia tercekat dalam dekapan Refan. Kedua tangannya meremas perutnya yang seperti kehilangan sumber kehidupannya. Deru nafasnya menjadi tak karuan, ini pertama kalinya ia berhasil dirobohkan.


"Sayang? Kamu bisa liat aku kan?" tanya Refan menepuk-nepuk pelan pipi Izza. Izza masih tak bergeming, fikirannya kalang kabut karena perut tanpa detak itu.


"Hiks....."


Izza akhirnya menangis. Satu butir air mata tumpah membasahi pipi chubby nya.


Bukan! Bukan karena tubuhnya sakit terkoyak timah panas, tapi karena ia tak bisa merasakan detak dari janin di dalam perutnya. Kenapa tak ada pergerakan sama sekali?


Dua janin yang selama tujuh bulan ini memenuhi ruang rahimnya, yang menemani hari-harinya, yang selalu ia tunggu kelahirannya dan kehadirannya di dunia, kaki-kaki munggil itu tak lag menendang. Ia tak bisa merasakan apapun!


Lenyap. Tak ada apapun! Ia tak bisa menemukan semua detak, getar, dan gerak mungil yang biasa ia rasakan. Benar-benar seperti sudah kosong tanpa isi.


'Tuhan, dimana? Kemana perginya anakku? Apakah mereka sudah tak bisa lagi bertahan bersamaku di sini? Apa engkau hanya mengizinkanku bersamanya sampai di titik ini? Tak adakah waktu tersisa tuhan? Ku mohon.'


"Ta?"


Genta menoleh singkat sebagai jawaban sementara tangannya masih sibuk dengan senjatanya.


"Cariin jalan aman buat gue keluar, Izza harus gue bawa mundur!" ucap Refan mengintruksi. Genta mengangguk.


"Fan...."


"Ay? Are you okay? Tahan ya, aku bakal selamatin kamu. Kita mundur oke?"


"An-anak kita." ucap Izza terbata. Mata berairnya berusaha tegar menatap manik mata hitam sang suami. Takut kalau lelakinya ini kecewa padanya karena tak bisa menjaga buah cinta mereka.


"Sssttt udah ya? Kamu dan anak kita pasti baik-baik aja oke. Aku janji!" sela Refan menepis pikiran buruknya. Sejujurnya ia sendiri mendadak jadi seorang yang pesimis karena melihat kondisi perut istrinya.


Hiks.


Izza menangis lagi. Ketakutannya makin besar, semakin lama semakin ia tak bisa merasakan kehadiran bayinya. Naluri yang kemarin terasa sangat dekat tanpa sekat, kini serasa menjauh dan menghilang begitu saja.


Niatnya untuk melindungi suaminya berhasil, tapi ternyata itu tidak gratis. Ia harus membayar mahal! Kehilangan dua detak kehidupan anaknya demi memperjuangkan nyawa sang suami yang hampir melayang. Apakah Izza terlalu egois? Apa ini hukuman baginya?


Hiks hiks.


"Heyy dont cry baby, you will be fine." tutur Refan menyeka ujung mata istrinya. Sebenarnya ia sangat payah dalam hal seperti ini, ia tak bisa melihat wanitanya menangis dan terluka. Ingin sekali rasanya ia menjerit kencang untuk melampiaskan semua kelemahannya ini, tapi Refan tak bisa. Ia harus tetap terlihat kuat dan baik-baik saja demi Izza.


"Fan ayo pergi!"


"Ayo Fan, Leon dan Ilham udah menuju ke sini buat bantu Kevin."


"Iya, kalian pergi sekarang! Biar gue Ilham sama Leon yang handle, lo sama Genta bawa Izza mundur!"


...****************...


Tit tit tit


"Nghhhh....."


Seorang wanita cantik yang terbaring lemas di bangkar ICU itu mengerjap-erjap. Menyesuaikan silau cahaya lampu yang masuk melalui kornea mata indahnya.


Izza. Setelah beberapa jam berlalu habis di ruang operasi, akhirnya wanita itu kembali menyapa dunia yang kejam dan tak adil ini.


"Sayang? Kamu udah bangun?!!" pekik Refan antusias. Ia sudah menunggu sangat lama untuk bebasnya sang istri dari pengaruh obat bius pasca operasi besar yang terjadi tadi.


Izza mengangguk kecil. Refan tersenyum, ia memencet tombol berwarna merah di tembok yang berada tepat di atas kepala bangkar Izza. Memanggil dokter agar datang dan memeriksa kondisi istrinya.


Cups.


"Syukurlah kamu udah sadar sayang, aku takut kamu kenapa-napa. Aku kira kamu juga bakal memilih untuk pergi ninggalin aku sendirian." ucap Refan lembut mengelus-elus puncak kepala istrinya dan menghujaninya dengan kecupan ringan berkali-kali.


Refan sangat bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan oleh tuhannya. Meskipun ia harus kehilangan salah satu yang paling berharga, setidaknya tuhan masih berbaik hati dengan memberinya izin untuk menjaga Izza.


Izza masih dalam mode linglung. Ia hanya bisa mengangguk kecil dengan senyum tipis, bahagia pula ia masih diberi kesempatan untuk bisa melihat sang suami. Tapi tunggu! Kebahagiaan yang ia sebut tadi sepertinya salah.


Apa ini? Kenapa perutnya menjadi rata? Kemana perginya dua malaikat kecil miliknya?


"Ref-Refan. Perutku? K-kenapa jadi seperti ini?" tanya Izza panik setelah tangannya tak menemukan hal yang ia cari. Perut besarnya hilang! Rata. Benar-benar tak bersisa.


Refan menutup matanya berat, inilah yang ia takutkan sejak tadi. Ia tak tau harus memulai jawabannya dari mana.


"Anak kita mana? Kenapa Fan hey!!!" pekik Izza menarik dan mencengkeram lengan Refan dengan sekuat sisa tenaga yang masih ia miliki.


"Ref-"


"Anak kita udah ga ada."


Deg.


Dunia seolah berhenti berputar. Waktu berhenti berjalan. Detaknya meredup.


Greb


Melihat tubuh istrinya mematung, Refan memeluknya. Berusaha mengalirkan kekuatan dan seluruh ketabahan yang ia punya.


"Dua tembakan itu mengoyak detak jantung malaikat kita sayang, mereka ga bisa diselamatkan karena luka fatal itu." ucap Refan lembut. Ia benar-benar berusaha memberi pengertian sehalus mungkin demi menguatkan hati istrinya.


"Aku yang salah kan Fan? Aku ceroboh ya? Aku egois kan? Aku istri dan mama yang buruk. Maaf-" cicit Izza mulai menitikkan air mata. Sesak yang tak bisa ia tahan, sangat sakit. Ia harus kehilangan dua permata hidupnya.


"Hey jangan ngomong kek gitu! Kamu baik, kamu paling baik diantara yang terbaik. Meskipun kita ngerasain sakit atas kehilangan ini, Setidaknya kesayangan kita di sana udah ga ngerasain sakit lagi, malaikat-malaikat kita akan selalu menjadi milik kita. Mereka udah tenang di atas sana, kamu harus bisa ikhlasin baby twins kita ya? Kita mengharapkan mereka ada. Kamu sayang mereka, aku juga begitu, tapi nyatanya rasa sayang tuhan lebih besar. Waktu kita memang harus habis di titik ini. Kamu yang kuat ya? Aku akan selalu ada di sini buat kamu!" potong Refan mengusap air mata istrinya. Hatinya benar-benar hancur melihat kerapuhan wanita tercintanya, ia tak pernah melihat Izza tanpa semangat hidup seperti ini.


Tanpa sadar, air matanya ikut menetes. Bukan hanya Izza yang kehilangan anaknya, tapi Refan juga bukan? Mereka berdua sudah mempersiapkan semua hal sampai detail terkecil untuk kehidupan anak-anaknya dimasa depan, tapi apalah daya? Tuhan punya rencana tersendiri. Semua rencana mereka dipaksa berhenti di titik ini.


Seperti kata pepatah, manusia hanya bisa merencakan. Terjadi atau tidaknya, itu urusan tuhan!


"Hiks, anak kita hiks-"


'Mengapa harus berakhir seperti ini tuhan? Mengapa takdirku menjadi sangat tidak adil? Kau bahkan tak mengizinkanku untuk mencurahkan seluruh kasih sayang yang ku punya kepada anak-anakku. Aku bahkan belum sempat menyentuhnya dan menggendongnya, arghhhh!!!' jerit Izza menggila dalam remukan hatinya.


Tidak. Tolong jangan salahkan aku! Menjadi wanita hebat dan kuat, memiliki banyak musuh dan hidup dalam kebahagiaan penuh resiko ini bukanlah pilihanku, aku tak pernah memilih untuk dilahirkan menjadi sosok seperti ini. Tidak tuhan! Aku hanya mengikuti alur takdir yang kau buat!


Dulu aku menyukai ini, tapi sekarang tidak lagi. Aku benar-benar membenci jalanku dan juga diriku sendiri.


"Fan..."


"Kamu yang sabar ya sayang, aku tau kamu wanita hebat. Kamu pasti kuat, kamu harus bisa!"


"Nggak. Ini pasti bohong kan? Bilang ke aku kalau anak-anak kita cuma lahir prematur, bukannya pergi. Mereka ga mungkin tega ninggalin mama nya kan?" tanya Izza menggoyang-goyangkan lengan suaminya. Refan memejamkan mata, tersenyum kecut, kenapa sangat sulit berada di titik ini? Jangankan menjawab tangisan Izza, melihat wajah pilunya saja Refan sudah tak sanggup.


"REFAN JAWAB!!!" teriak Izza mengerang frustasi.


"Aku enggak bohong sayang, anak kita bener-bener udah ga ada. Mereka masih di kamar mayat karena aku minta pihak rumah sakit untuk menunggu kamu bangun."


"Agar kamu bisa punya kesempatan melihat buah hati kita untuk yang terakhir kali."


"Enggak! Pembohong. Kamu bohong!!"


"Sekarang kita ke sana ya? Biar baby twins bisa segera dikebumikan dengan pantas. Kamu ikhlasin mereka biar mereka tenang melihat mama papanya dari atas sana. Oke?"


"Nggak mau. Nggak! Kamu bohong Fan!"


"Ayo ay-"


"ENGGAKKKKKKKK!!!" teriak Izza sekencang-kencangnya.


Hosh hosh


Nafasnya jadi naik turun tak karuan. Izza mengusap keningnya yang berkeringat banyak. Syukurlah ini cuma mimpi! Mimpi buruk yang terasa sangat nyata dan menyeramkan. Refan terlonjak kaget dari tidur tenangnya. Ia langsung refleks mendudukkan diri tepat di samping Izza yang juga terduduk syok.


Kalau saja dinding kamarnya tidak kedap suara, bisa dipastikan jeritan Izza tadi membangunkan seluruh penghuni rumah Dirgantara ini.


"Ay? Kamu kenapa?" tanya Refan panik. Ia menangkup kedua bahu Izza. Sementara kedua tangan Izza melingkari perutnya sendiri, memeriksa kalau yang tadi itu benar-benar hanya mimpi.


"Huffttt untung aja." cicit Izza menghembuskan nafas lega. Perutnya masih utuh lengkap bersama tendangan-tendangan kecil di dalamnya. Semuanya masih bisa ia rasakan dengan sangat nyata.


Persetan dengan mimpi tadi!


"Kamu kenapa sih hm?" tanya Refan tak mengerti. Izza tak menjawab, tapi memeluk tubuh Refan dengan sangat erat. Menenggelamkan muka bantalnya di dada bidang sang suami, tangannya melingkar erat, ini terasa sangat melegakan sekali.


"Nggak papa." jawab Izza menggeleng kecil. Refan mengelus-elus puncak kepala istrinya dengan linglung. Tidak seperti biasanya seperti ini, pasti ada sesuatu yang membuat Izza bangun dengen jeritan spektakuler seperti tadi.


"Kamu mau nyoba-nyoba bohongin aku hm?" tanya Refan melepaskan pelukan istrinya. Salah satu tangannya menyentuh dagu sang istri. Izza tentu saja menggeleng.


Siapa juga yang bohong? Izza kan cuma kurang jujur doang. Wkwk.


"Enggak tuh."


"Terus kenapa?"


"Kenapa apa si?" tanya Izza balik.


"Kenapa tiba-tiba kebangun pake jerit-jeritan kayak tadi. Kamu mimpi buruk?" tebak Refan. Izza mengabgguk samar.


"Ini mimpi buruk paling buruk dari yang terburuk."


Oke, Izza mulai mbuletisasi.


"Ya udah ceritain, siapa tau dengan gitu hati kamu jadi lebih tenang." suruh Refan daripada ia harus pusing mekikirkan ucapan istrinya barusan. Kapasitas otak Refan terbilang sangat minim di larut malam seperti ini.


"Oke, lets join my bad dream!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰


Siapa yang pas baca tadi udah panik? Atau malah sampek nangis? Hayoloh ngadu dikomen sono lu wkwk🤣🤣


...Izza bilek : Yahhaaaaa kena prank!!...



...Yak yang tadi kena prank, lambaikan tangan ke kamera yuk!!...



...Hehe peace bos!!...



...Maafin prank author episode ini ya guys!...


...Karena masih ada lebih banyak prank yang menanti kalian awokawok....