
"Ini foto apaan?" tanya Yonna menunjukkan roomchat bersama Ardha, kepada Ardha sendiri. Ardha memutar bola matanya malas.
"Makanya di download dulu, kalo masih ga tau baru nanya!" suruh Ardha jengah. Mereka berdua sedang duduk santai di ruang tamu rumah, sedangkan
"Emang ini apaan si." gerutu Yonna menekan tombol download. Setelah melihat foto itu, matanya melotot.
Sebuah foto yang menunjukan gambar seorang laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan di sebuah cafe. Jangan lupakan juga dengan tumpukan berkas yang dibawa oleh si perempuan.
"Ini Refan? Atau Rafael?"
"Emang menurut lo itu siapa? Buat apa juga gue ngurusin kembarannya Refan." tanya Ardha balik. Yonna masih geleng-geleng tak percaya.
"Jadi ini Refan?" tanya Yonna memastikan. Ardha mengangguk dan Yonna makin melongo karenanya.
"Kok bisa jalan sama cewek lain? Setau gue, dia cowok yang super setia. Anti belok!" pekik Yonna tak percaya. Ardha mengendikkan bahunya acuh.
"Ya mana gue tau! Tapi keknya itu cuma anak buahnya. Gue liat mereka kayak habis meeting sama kliennya." jawab Ardha apa adanya.
Yonna manggut-manggut.
"Oh cuma sebstas kerja. Terus buat apa lo kasih tau gue?" tanya Yonna heran. Otak liciknya sepertinya sedang low connection hingga apa yang difikirkan oleh Ardha sama sekali tak terfikirkan olehnya.
"Cuma gitu doang respond lo?" tanya Ardha menaikkan sebelah alis. Yonna mengangguk ragu dengan satu alis yang juga terangkat.
"Emangnya gue harus apaan? Ga ada urusannya sama gue. Gue udah ga tertarik lagi buat ngerebut Refan! Gue udah punya Nathan." jawab Yonna santai. Ardha berdecak.
"Ck. Bukan itu maksudnya!"
"Ya terus?"
"Lo ga mau manfaatin tuh cewek? Gue rasa, dia suka sama Refan. Lo bisa ngehasut dia, buat dia ngelakuin sesuatu yang bisa ngerusak hubungan mereka tanpa kita turun tangan!" ucap Ardha menjelaskan. Yonna diam sejenak, kemudian bersimrik.
Ia mengerti!
"Oke, sekarang lo cari tau siapa cewek ini! Gue bakal atur siasatnya." pungkas Yonna langsung setuju dengan akal Ardha tadi.
"Udah gue dapetin. Namanya Rosa, dia sekertaris pribadi Refan. Tinggal di perumahan kenanga blok 7B. Punya anak satu, tapi dia janda. Dan dengan starusnya itu gue jadi makin yakin kalau Rosa ini naksir sama Refan diam-diam." jelas Ardha panjang lebar. Yonna manggut-manggut dengan senyuman liciknya. Rencananya sudah mulai menemui jalan terang.
"Hm good, gue udah punya rencana yang bagus! Tinggal kita eksekusi besok." ucap Yonna misterius. Ardha mengangguk saja meskipun ia belum tau apa rencananya. Toh ia sudah terikat dengan janji bahwa ia akan selalu mendukung Yonna dan berada di belakang Yonna dalam keadaan apapun.
Itulah janji yang ia ucapkan pada mendiang Noval, ayahnya Nathan.
...****************...
"Ay?"
"Hm." sahut Refan yang masih belum mengalihkan pandangannya dari laptop. Di malam sunyi yang sepi ini, mereka berdua sudah selesai bersih-bersih badan dan sudah siap untuk tidur.
Tetapi karena ada email mendadak tentang Blood Wolf dari Kevin, Refan yang awalnya hanya ingin bermanja-manja dengan istrinya pum terpaksa mempelajari berkas ini terlebih dahulu karena besok ia harus pergi ke markas. Ada satu pekerjaan besar dari seorang klien besar, klien itu besok akan datang menemui Refan secara langsung untuk menyewa beberapa anak buahnya untuk empat hari ke depan selama ia ke luar negeri.
Maklum lah, persaingan bisnis memang kadang sekejam itu. Dibutuhkan pengawal yang benar-benar terlatih untuk menjamin keselamatan para pebisnis hebat apalagi untuk yang sekelas Refan dan Izza. Yang kalian sudah tau sendiri musuhnya sebanyak apa!
"Udah ketemu?" tanya Izza lagi. Refan manggut-manggut.
"Iya, besok aku ketemu pak Jimmy. Dia yang mau nyewa orang dari BW ay." jawab Refan salah arah dengan apa yang dimaksud oleh Izza.
Izza mencubit pinggang Refan dengan gemas.
"Bukan itu ayaaaangg!!"
"Ah ah auuu ay sakit!! Terus apa dong ashhh sakit banget sumpah." cicit Refan meringis kecil sambil mengelus-elus pinggangnya. Laptop hitamnya masih berada di atas pangkuan kakinya.
"Kamu nyebelin sih!! Kalo diajak ngomong tuh ngadep ke orangnya, jangan ke yang lain." omel Izza menggerutu sebal.
Oke, sekarang Refan tau kalau Izza sedang cemburu dengan laptop yang sejak tadi ia pangku dan ia merasa diabaikan.
Secepat kilatan foto, Refan menyambar laptopnya dan ia letakan ke atas meja di samping ranjang. Ia kemudian memposisikan duduknya jadi menghadap ke sang istri sepenuhnya.
"Iya deh maaf! Sorry udah nyuekin kamu dari tadi, sekarang ayo ulang pertanyaannya tadi yuk!" rayu Refan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Memasang komuk imutnya agar Izza luluh.
Dan berhasil!
"Udah ketemu apa belum?" tanya Izza menghela nafas panjang. Sabar! Ia harus sabar.
"Apanya? Siapa?" tanya Refan tak mengerti karena pertanyaan Izza ini bersifat random dan ambigu. Memiliki arti banyak.
"Itu yang tadi di cafe. Yang dipantau dari cctv sama Ilham." ulang Izza memperjelas pertanyaannya. Refan manggut-manggut.
"Oh itu, udah dong!" jawab Refan semangat.
"Siapa tuh jadinya?" tanya Izza antusias.
"Itu emang Ardha, asisten Yonna Alfahreza. Yang dulu pernah kamu ceritain ke aku ay!" jawab Refan apa adanya. Agar Izza tidak terus menerus bertanya-tanya soal siapa orang itu, maka Refan memutuskan untuk memberitahukan ini kepada Izza saja.
"Pasti karena kita couple terpopuler di kalangan pebisnis ay, makanya mereka iri sampek ngomongin kita di belakang!" jawab Refan yang malah memasang tampang bangganya. Anehnya, kebanggaan di wajah Refan ini justru malah terlihat sangat tengil di mata Izza.
What the hell!!
"Dih!" cicit Izza heran. Refan terkekeh.
"Emang kek gitu kenyataannya sayangkuuuuu!!!" pekik Refan memeluk pinggang sekaligus perut istrinya yang makin membesar ini.
Bermain-main di perut yang bisa bergerak-gerak itu. Dua anak kembarnya pasti sangat aktif di dalam sana. Ah sangat menggemaskan! Refan menciumi bagian itu berulang kali. Perut berlapis baju tidur biru tipis yang sangat menyenangkan bagi seorang Refan. Bagaimana tidak? Ada dua jagoan kecilnya dan Izza di dalam sana.
Tiga bulan yang sangat ditunggu oleh sepasang suami istri itu.
"Eh ay?"
"Apa? Mau bilang aku tambah gendut?" tanya Izza melotot garang. Refan auto bergidik ngeri. Belum juga ngomong, udah kesemprot duluan!
"Bukan gitu ay, ga ada lah aku mau bilang kamu gendut. Catat ya, kamu tuh gemoy, bukan gendut!" ucap Refan mendongak, menangkup kedua pipi chubby istrinya yang makin mengembang menggemaskan. Kalau itu bisa dimakan, pasti sudah dilahap habis oleh Refan.
"Lagian juga bukan itu yang mau aku bilang!" sambung Refan lagi.
"Terus apaan?"
"Btw perempuan yang sama Ardha itu bukan Yonna."
"Hah? Terus siapa?" tanya Izza tak mengerti. Refan mengendikkan bahunya acuh.
"I dont know ay. Aku ini ketua gangster, bukan ketua sensus penduduk!" jawab Refan ngasal. Izza yang kesal pun tanpa pikir panjang langsung mengetuk kepala suaminya itu.
Pletak
"Jangan bercanda mulu!"
"Auuh sakit ayang!!" omel Refan mengelus puncak kepalanya. Izza menirukannya dengan menye.
"Iiii sikit iying. Makan tuh sakit! Siapa suruh bercanda mulu!!" semprot Izza yang tak merasa bersalah sama sekali. Refan melongo tak percaya, ia fikir tadinya Izza akan bersimpati dan mencium puncak kepalanya sebagai permintaan maaf. Tapi ternyata ia salah!
Hoho kami segenap warga setia Bad Twins dan Izzaalaska mengucapkan : Kasihan banget lu Fan! Wkwk.
Tak kehabisan akal, demi menarik perhatian sang istri dan untuk membuat istrinya merasa bersalah dan akhirnya pasti akan memanjakan dirinya, Refan beralih ke perut buncit Izza. Mengelus bagian itu, berbisik-bisik kecil seolah sedang mencoba berkomunikasi dengan anak-anaknya.
"Sayang, mama kalian nih jahat banget sama papa tau! Kasar banget, suka nabok sama nyubit. Kalian bantu papa buat bikin mama punya jiwa bersalah dong! Papa kalian teraniaya nih." bisik Refan menempelkan bagian kiri wajahnya ke perut Izza.
Oh ralat! Bukan sembarang komunikasi, tapi mencari bala bantuan. Refan bahkan menangkap beberapa gerakan di dalam sana, sepertinya mereka tau kalau ayahnya sedang mengajaknya berbicara. Mendapatkan respond seperti ini lalu membuat Refan mendongak lagi.
"Tuh ay! Baby boy-girl aja ngerti kondisi papanya yabg teraniaya, masa kamu enggak? Jangankan ngelus-ngelus kepala kek gini nih? Ngerasa bersalah aja kamu enggak ada deh kayaknya." rengek Refan rewel. Izza memeletkan lidahnya. Jiwa psikopat tanpa hatinya seolah muncul lagi malam ini, dan korbannya adalah suaminya sendiri.
"Bodoamat wleee!!" sahut Izza masih tetap berhati batu tanpa belas kasih. Ia malah menjauhkan tangan Refan dari perutnya, mendorong tubuh lelaki itu dan akhirnya memposisikan tubuhnya sendiri untuk tidur membelakangi Refan.
Refan melongo, merasa teraniaya, teraniaya, dan ternistakan malam ini. Apa salah dan dosaku sayang?
"Ay kok tidurnya gitu si?" rengek Refan menggoyang-goyangkan tubuh istrinya dari belakang. Izza tak menggubris keinginan sang suami, ia malah menarik selimutnya ke atas. Menutupi tubuhnya hingga sebatas dagu.
"Aku udah ngantuk! Males ngeladenin humor kamu, bye!" pungkas Izza dengan matanya yang enggan terbuka kembali, bahkan ia tak bergerak sama sekali.
"Ya seenggaknya kasih kiss night atau good night dulu kek!!" ucap Refan masih ngeyel menggoyang-goyangkan tubuh sang istri.
"Hm iya, good night too!!" jawab Izza mulai memelan, sepertinya wanita itu benar-benar mengantuk dan sudah berada di ambang dunia mimpinya. Refan berdecak sebal.
"Emang bener-bener hormon bumil ga ada lawannya, huh!" gerutu Refan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Tanpa ia ketahui, Izza tersenyum miring penuh kepuasan di dalam diam tidurnya.
Karena tak bisa menahan dirinya untuk tidak meledek suaminya, Izza pun membalikkan badannya. Menatap lurus ke arah Refan yang masih menggerutu sebal.
"Masih iget pasal yang kemarin aku kasih nggak?" tanya Izza menaik turunkan kedua alisnya. Refan mengangguk.
"Inget lah, aku belum pikun."
"Apa coba sebutin?" tanya Izza menantang. Sekali lagi, Refan menarik nafas panjang sebelum memulai sabdanya.
"Maha benar bumil dengan segala omelan dan keputusannya." ucap Refan tanpa latah sedikitpun. Lancar jaya abadi sentosa makmur jaya ga tuh!!
"Nah, You are smart husband!" sahut Izza memuji suaminya, memberinya senyuman sekilas kemudian kembali berbalik membelakangi sang suami.
"Buruan tidur! Besok ke markas pagi-pagi." ucap Izza terakhir kali sebelum suaranya lenyap ditelan mimpi.
"Hmm." dehem Refan sebal. Padahal udara malam ini lebih dingin dari biasanya, niat hati Refan pengen dipeluk biar jadi hangat eh ini malah dianggurin. Sia-sia sudah rengekannya sejak tadi!
Awas ya Izza cantik, Refan barang bagus loh. Banyak yang ngincer mau ngambil dari kamu! Wkwk.
Izza be like : Kau sentuh dia? Skuy baku hantam!!
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰