
Beberapa minggu hingga bulan berlalu, tak ada hal aneh atau menganggu sedikitpun yang terjadi dalam kehidupan Izza maupun Refan. Jalan hidupnya berjalan dengan nyaman tanpa ada masalah sedikitpun. Bahkan Bloody Dragon menghilang secara misterius sejak kejadian hari itu. Mereka seolah tertelan waktu.
Terakhir kali, terbacanya pergerakan mereka hanyalah sebuah kegagalan dalam menculik keluarga Doddy. Refan bersama Rafael tak mau terlalu ambil pusing dengan gangster suruhan PSG Group itu, tapi mereka tetap waspada karena Doddy dan keluarganya juga masih berada bersama mereka.
Tok tok tok
"REFAN CEPETAN WOEEEE!!!" teriak Izza melengking di depan pintu kamar mandi. Sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu Refan yang tak kunjung keluar.
"REPAAAAAAAAN WUOOOOYYYY!!!"
Cklek
"Ish apaan si ay? Ribut banget pagi-pagi juga." gerutu Refan yang keluar dengan boxer hitam pendek dan rambut basah berhanduk. Izza berkacak pinggang.
"Kamu lama banget sih! Lupa sama janji kamu semalam hah?" sembur Izza galak.
"Aku ga lupa kok, aku inget mau ngajak kamu ke rumah papa hari ini." jawab Refan dengan watados andalannya. Izza memutar bola matanya malas.
"Kalo gitu kenapa ga cepetan siap-siap hah?!! Aku kan udah ga sabar mau buru-buru mandi, terus berangkat kesana buat ketemu sama duo M huh!!" semprot Izza lagi dan lagi. Setelah membuat Refan melongo bingung, Izza menggeser paksa tubuh suaminya dari ambang pintu lalu menutup kasar pintu kamar mandinya hingga Refan terlonjak kaget.
Brak
Emang dasar bumil sensian si.
"Busetttt makin gede perutnya makin galak aja dia." keluh Refan geleng-geleng sambil mengelus dada. Tak mau membuat Izza makin ngamuk karena ia tak kunjung siap, Refan langsung buru-buru menuju lemari pakaian.
Fyi, yang dimaksud duo M oleh Izza adalah anak kembar dari Rafael dan Stella. Yap! Stella terlah melahirkan kedua anak pertamanya dengan Rafael 2 minggu yang lalu, kemudian di susul oleh Ajeng yang melahirkan anak pertamanya bersama Reza 10 hari setelahnya alias baru 3 hari yang lalu. Tanggal lahiran Ajeng memang lebih cepat dari perkiraan, tapi banyinya berhasil lahir dengan sempurna dan tampan seperti Reza, Ayahnya.
"REFAAAAAAANN!!!" teriak Izza dari dalam kamar mandi. Kepala Refan menyembul dari balik pintu lemari.
"APA LAGI AY?!!"
"HABIS DARI DUO M, KITA SEKALIAN KE BABY GIO YA?!" seru Izza. Refan menghela nafas, sabar Fan!
"Hm."
"KOK GA JAWAB SI? KAMU GA DENGER HAH?!!!" teriak Izza entah untuk yang keberapa kalinya.
"IYA SAYANG!! AKU DENGER." pekik Refan frustasi. Makin kesini ia makin ngeri dengan kedua anak kembarnya yang masih berada di dalam perut itu. Rasanya seperti mereka akan lebih bar-bar dan berisik dari pada ibu mereka, Izza.
"Awas aja, ntar kalo udah lahiran. Aku lampiasin nih celengan emosi ini ay, aku hajar kamu sampe ga bisa jalan sehari semalem!!" gerutu Refan bersimrik ngeri.
...****************...
"Lo yakin istrinya Refan udah lahiran?" tanya seorang lelaki tampan berkemeja rapi lengkap dengan jas kantornya. Fani, sang asisten mengangguk.
"Iya tuan, kemarin sore saya melihatnya sendiri. Ketua Blood Wolf itu keluar berjalan kaki dari kediamannya bersama istri dan kedua anak kembarnya." jawab Fani yakin.
Sebenarnya, orang yang dilihat oleh Fani itu bukan Refan melainkan Rafael. Baik Fani maupun Bima, mereka tidak tau kalau Refan memiliki saudara kembar karena meskipun David Dirgantara tak pernah menutupi identitas kedua putranya, tapi ia juga tak selalu mengumbar identitas mereka di depan publik.
Bima manggut-manggut.
'Jadi kamu udah jadi seorang ibu ya sekarang? Udah cukup 6 minggu ini aku biarin Refan hidup tenang bersama kamu Za, sekarang giliran aku. Kamu udah bahagia kan dengan lahirnya dua anak kembar kamu? Kalau begitu sekarang udah saatnya aku kembali merjuangin kamu dan nyingkirin Refan, selamanya. Refan harus kehilangan kamu seperti aku dulu!!' batin Bima bersungguh-sungguh.
Ia sengaja menghilang selama ini untuk memberi Izza ruang yang nyaman, setidaknya sampai anaknya lahir. Dan sekarang, semua ketenangan itu harus sudah diakhiri.
Bima akan kembali!
"Lalu rencana mana yang akan bos mulai terlebih dahulu? Apa yang harus saya kerjakan lagi mulai sekarang?" tanya Fani membuyarkan imajinasi tak berujung Bima. Selama dua bulan ini juga Fani setia menanti tugas gangster yang tertunda karena Bima yang menginginkannya. Mereka lebih fokus ke perusahan milik Bima daripada Gangster karena pengunduran rencana itu.
"Sekarang lebih baik kita selesaikan semua perkerjaan di kantor ini, dan akan kita mulai plan A besok untuk Blood Wolf dan Doddy."
...****************...
Oek oek oek
"Duh anjrit si Mondy! Ini adeknya baru mau mingkem, dianya yang gantian ngegas!!" gerutu Rafael frustasi. Ia baru saja berhasil menidurkan Mondy, si kembar bontotnya di tempat tidur dan kini gantian kembar sulungnya yang menangis.
Oek oek oek
"Ck. Stella lama banget si mandinya." monolognya lagi. Stella sudah masuk kedalam kamar mandi sejak hampir setengah jam yang lalu, dan masih belum menunjukan batang hidungnya sampai sekarang.
Tak mau menunggu ibu dari anak-anaknya, Rafael langsung buru-buru menggendong anak pertamanya untuk menenangkannya, bahaya juga kalau ia terus menangis. Bisa-bisa Morgan kembali terbangun nanti.
"Sstt sstt sayang diem ya? Nanti adek kamu bangun lagi nih. Mama kamu masih bertapa di kamar mandi, papa bingung sendirian kek gini!!" ucap Rafael menepuk-nepuk bokong si kecil. Perlahan-lahan suara tangis nyaring dari Mondy mereda.
Kalau kalian mencari keberadaan Alice dan David, kenapa mereka tak membantu Rafael? Jawabannya adalah karena mereka berdua sedang tidak ada di rumah. David jelas sedang pergi ke kantor, sedangkan Alice tadi pamit untuk pergi sebentar ke supermarket bersama salah satu ART nya untuk berbelanja kebutuhan rumah dan dapur bersama.
Tok tok tok
"SAYANG KAMU MASIH LAMA YA?!!!!" teriak Rafael di depan pintu kamar mandi. Mondy masih berada di dalam gendongannya.
"Bentar, lagi make baju!!" jawab Stella. Rafael menghela nafas, akhirnya kesulitan hidupnya ini akan segera berakhir. Benar kata papanya dulu, sendirian mengurus perusahaan besar beserta cabang-cabangnya jauh lebih mudah daripada mengurus bayi sendirian.
"Nah udah mingkem nih si sulung, gue geletakin aja ke-"
Cklek
"Apanya yang digeletakin?" tanya Stella yang muncul di ambang pintu, Rafael yang baru saja akan melangkah pergi ke ranjang pun langsung menoleh.
"Nih mau nggeletakin Mondy di samping Morgan noh!" jawab Rafael sambil menunjuk Mondy di dalam gendongannya. Stella memutar bola matanya malas.
"Kamu kira anak kita apaan digeletakin sembarangan hah?"
"Ehehe ya kan bener sayang." jawab Rafael nyengir. Stella kemudian merebut anaknya dari sang ayah.
"Bapak-bapak ngawur! Mondy mending aku gendong aja deh, lebih aman. Bahaya kalo sampe kamu jatuhin nanti! Ngelahirinnya sakit, bikinnya juga susah." gerutu Stella sambil berlalu pergi. Rafael menggeleng dalam cengohnya.
"Enggak susah kok yang, enak banget malah. Kita aja malah ketagihan." celetuk Rafael polos. Stella auto melirik tajam dengan sekali tengok. Yang di tatap langsung kicep dengan dua jari peace.
"Mwehehe becanda sayang!!"
...Mondy Alendra Dirgantara (sulung)...
...Morgan Alandrew Dirgantara(bungsu)...
...
...
"Hm?"
"Jalan-jalan yuk!" ajak Rafael memasang wajah bosan, sudah terlalu lama ia berdiam diri di rumah bersama istri dan kedua putranya. Ia ingin keluar mencari udara segar, tapi ia juga tak bisa meninggalkan mereka di rumah sendiri.
Belum lagi masalahnya bersama Refan tentang YH dan Doddy masih belum menemui titik terang. Kesulitan mereka dalam mencari tau siapa YH makin sulit terselesaikan karena Bloody Dragon menghilang secara misterius selama lebih dari sebulan ini. Bahkan keluarga Doddy pun masih berada di rumahnya karena masalah itu.
"Mau ngajak kemana emang?" tanya Stella.
"Ya terserah yang, ke taman kek atau sekedar muter-muter pake mobil doang juga ga papa." jawab Rafael. Stella memgangguk lalu menggeleng.
"Ngapa ngangguk sama nggeleng yang? Mana yang bener?" tanya Rafael bingung.
"Aku mau sih tapi jangan hari ini sayang!!"
"Kenapa?"
"Kamu lupa? Refan sama Izza kan mau kesini siang ini. Jalan-jalannya nanti sore aja oke?"
"Oh iya, hampir aja lup-"
Tok tok tok
"Siapa?!!" teriak Rafael setengah sadar, sepertinya dia lupa kalau kedua anaknya baru saja tertidur.
"Heh! Jangan berisik Rafaaaaaaa, anak-anak baru aja merem nih." omel Stella melotot tajam. Rafael nyengir sambil menyatukan kedua telapak tangannya, lalu ia turun perlahan dari ranjang.
"Ehehe peace yang!!" ucap Rafael sebelum ia pergi menuju pintu.
Cklek
"Bu Anggi?" cicit Rafael setelah ia melihat sosok dibalik pintu kamarnya, Anggi adalah istri Doddy. Wanita paruh baya itu mengangguk.
"Tuan muda."
"Ada apa bu?"
"Itu tuan, ada tuan muda Refan bersama istrinya. Mereka menunggu tuan dan nyonya Stella di bawah." jawab bu Anggi sopan. Ia sudah mengerti dan faham tentang semuanya yang terjadi diantara mereka dan suaminya, diberi perlindungan dan tempat tinggal di rumah Dirgantara bersama anak-anaknya saja sudah membuatnya merasa sangat berterimakasih kepada keluarga ini.
"Oh, iya. Saya akan segera menemui mereka setelah ini, terimakasih! Ibu bisa kembali ke kamar." sahut Rafael mengangguk. Bu Anggi mengangguk sopan lalu berlalu pergi.
"Ada siapa?" bisik suara lembut yang mendengus halus di daun telinga Rafael.
"Astaghfirullah set-!!" pekik Rafael terkejut karena sepasang tangan dingin tiba-tiba melingkari pingangnya. Ternyata Stella, untung saja Rafael belum selesai mengumpat.
"Astaga sayang... ngagetin tau!!"
"Dih? Enggak kok, orang aku biasa aja." sahut Stella tak merasa bersalah. Ia masih celingukan menatap Bu Anggi yang kini mulai menuruni tangga.
"Bu anggi ngasih tau apaan? Siapa yang datang?" tanya Stella kepo.
"Ijah sama Alaska."
"Oh ya? Ya udah kalo gitu ayo turun!!" seru Stella bersemangat menarik lengan suaminya untuk menemui saudara iparnya itu.
"Eh eh iya sih iya sayang, tapi hati-hati ga usah kek gitu!" omel Rafael. Stella nyengir. Si kembar sudah tertidur, makanya Stella buru-buru mengajak suaminya turun sebelum mereka bangun.
Skip tangga.
"Emak bapak baru songong amat ye! Ngedekem mulu di kamar." sindir Izza melirik Rafael yang menuruni tangga bersama Stella yang bergelayut mesra di tangannya.
"Nyinyir mulu ni anak!" sembur Rafael garang, Refan hanya bertugas sebagai penonton yang sibuk memakan snack yang disediakan oleh ART tadi.
"Biarin aja yang, maklum lah dia kan admin lambe turah." sahut Stella mencibir. Izza mendengus sebal.
"Sialan, malah gue yang kena roasting." gerutu Izza, Refan mengacak-acak gemas rambut istrinya yang sebal karena Rafael dan Stella itu. Sementara si biang keladi, tertawa sambil menuruni tangga.
"MM mana? Mana anak lu berdua?" tanya Izza kepo, kekesalannya mendadak hilang setelah ia mengingat tujuannya datang kemari.
"Lo nyolot amat Ijah!! Lu kesini mau nyari gue atau 2 M?" tanya Stella.
"Ya jelas duo M lah Stell, ngapain juga gue nyariin elu? Najis banget ih." jawab Izza bergidik ngeri. Stella geleng-geleng kepala sambil duduk di samping Izza, Rafael? Tentu saja duduk di dekat Adik kembarnya.
"Sabar banget gue punya ipar kek gini." keluh Stella.
"Buruan jawab ih!! MorMon mana? Gue kangen banget sama bocil berdua tuh." cecar Izza tak sabaran.
"Di kamar Izzaaaaaaaa, baru aja tidur."
"Oh oke, kalo gitu bentar lagi mereka berdua bakal bangun! Ga ada yang boleh merem saat gue dateng ke rumah ini, termasuk Mondy sama Morgan. Oke deal?" cerocos Izza seenak jidat. Stella mendelik.
"No! Im not d-"
"Deal!! Oke tetep deal gimanapun alasannya Stell." ketus Izza tak mau dibantah. Stella melongo pasrah, kekuasaan Izza sebagai kasta tertinggi di keluarga ini memang benar adanya. Tak ada yang sanggup membantah keputusannya, meskipun kadang ngawur.
"Ay!" panggil Izza kepada si ayang, Refan yang tadinya sibuk membicarakan sesuatu dengan Rafael pun menoleh.
"Iya ay?"
"Aku mau nyamperin baby M dulu, kamu disini aja sama Fael ya?"
Refan mengangguk. Toh tanpa disuruh Izza sekalipun, ia akan tetap berada disini untuk membicarakan tentang perkembangan kasus doddy, PSG Group dan Bloody Dragon.
"Iya sayang... Hati-hati tuh naik tangganya." pesan Refan. Izza mengangguk lalu pergi, tak lupa ia melambaikan tangan pada Stella dengan watados andalannya.
"Gue cabut dulu ya emak anget!!" ledek Izza terkikik. Stella menghela nafas panjang.
"Emang ga ada dosa banget ni anak."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰