
"Ehhh.... Itu tadi mobil siapa?" tanya Izza bermonolog.
Izza baru saja keluar balkon kamar saat sebuah mobil hitam bergegas pergi dari samping pagar rumahnya. Agak aneh karena mobil itu pergi begitu saja sesaat setelah Izza muncul.
"Orang nyasar kali ya?" lirihnya tak mau ambil pusing.
Drtt drtt
Hanphone di saku piyamanya berdering.
📞Reza is calling....
"Ngapain ni anak? Tumben banget."
Izza : Paan nyet?!
Reza : Buset! Hamil tua mana boleh galak gobl*k.
Izza : Boleh.
Reza : Aishh.... Lo dimana?
Izza : Rumah pak RT.
Reza : Ngapain? Nyolong rambutan lagi?
Izza : Asal jeplak aja punya mulut!
Reza : HEH NGACA BRADERRR!!
Izza : Gue cewek anjir....
Reza : Oiya lupa gue, tenaga lu lakik soalnya.
Izza : Sialan.
Reza : Gua tadi nelfon lo kenapa ya?
Izza : Lah aman gua tau.
Reza : Mana woi mana! Bukan aman.
Izza : Nah tuh udah ngerti.
Reza : Ahha gua inget!
Izza : Paan?
Reza : Nongki yuk!
Izza : Lo sadar apa ngigo?
Reza : Ngapa emang?
Izza : Gua minggu depan udah mau lahiran, elu ngajakin nongki. Kalaupun gue mau, Refan kagak bakal ngebolehin bulol!! Keluar rumah aja gua ga dibolehin, apalagi nongki.
Reza : Huh.
Izza : Ngape lu hah huh hah huh.
Reza : Gua kangen lu nyet.
Izza : Ya udah sih tinggal kesini apa susahnya?
Reza : Lah iya juga.
Izza : Dasar otak mampet!
Reza : Yodah ntar sore pulang kerja gue mampir kesana.
Izza : Iye.
Tut tut tut....
"Aya-aya wae kembaran gue." lirih Izza geleng-geleng kepala.
...****************...
"Semalam gue udah atur posisi sama Ilham Fan, tinggal nunggu persetujuan lo dan siap!" ucap Genta to the point setelah mereka semua berkumpul mengelilingi meja bundar di sebuah ruangan Blood Wolf.
"Explain." suruh Refan fokus. Tak ada ketengilan, tak ada juga jiwa humor, hanya aura dingin penuh keseriusan yang dipancarkan oleh wajah tegas Refan.
Mengerti situasi dan kondisi sang kapten yang memang tidak baik seperti sebelumnya, Kevin, Genta, Leon dan Ilham ikut melarutkan diri dalam keseriusan. Apalagi untuk duo rusuh Leon dan Ilham, mereka berusaha mati-matian untuk tidak cengengesan dalam rapat hari ini.
Genta mengangguk, membuka kertas hvs berisi coretannya bersama Ilham dan bersiap menjelaskan hasilnya pada Refan. Benteng mereka atas serangan Bloody Dragon harus dibuat serapi mungkin karena mereka bisa menyerang kapan saja dalam waktu dekat.
"Kevin kita letakin di-"
"Hapus nama Kevin!" potong Refan merebut bolpoin di tangan Genta lalu mencoret nama Kevin di kertas tadi.
Genta dan yang lain menatapnya heran. Bahkan Genta belum menjelaskan tujuannya meletakan Kevin di depan markas tapi Refan sudah mencoret nama Kevin dengan sangat yakin.
"Kenapa? Dia kan emang biasa jadi garda terdepan kita." tanya Genta.
"Gua mau nugasin Kevin buat jaga Izza sama yang lain dirumah. Meskipun nanti disana ada papa, Reza sama ayah Ricko, tapi Kevin tetep dibutuhin buat jaga-jaga. Nyawa yang di rumah lebih penting kan dari pada kita?" jawab Refan membuat Genta langsung mengangguk.
"Oke kalo gitu posisi Kevin diganti sama Ilham aja."
"Terus gua?" tanya Leon cepat.
"Ya lo sendirian aja lah!"
"Yahhh kok gitu dah? Padahal gue sama Ilham kan mau collab. Kita udah ngerencanain gimana cara otak-atik otak manusia bos!!" protes Leon.
"Dih ngeri amat duo sikopat kalo dibarengin."
"Sekali-kali collab ya Ham ya."
"Yoi masbro!" jawab Ilham mengacungkan kedua jempolnya dengan semangat.
"Tapi ga ada collab-collab kali ini!! Leon di titik satu, Ilham di titik dua. Gua percaya lo sendiri masing-masing bisa megang satu pasukan." potong Genta penuh penekanan. Ilham si paling pasrah dengan kakaknya hanya mengangguk lesu.
"Huffttt oke."
"Gue juga oke kalo Ilham oke." sahut Leon.
"Ngikut ae lu Leoni!"
"Dih suka-suka gue Mahli!"
"Oke stop! Kita lanjut.... Gua dibagian dalam, nanti gua bakal dibantu sama Dandy setelah dia gabung ke kita. Jadi buat lo berdua!" tegas Genta menunjuk Ilham dan Leon di kalimat terakhirnya, keduanya pun menoleh.
"Apaan?"
"Lolosin Dandy, biarin dia masuk ke dalam." ucap Genta mengingatkan. Siapa tau tiba-tiba nanti mereka berdua lupa muka Dandy karena sudah lama tak berada di satu tempat.
"Nah bener tuh! Awas aja kalo lo berdua ngelibas Dandy di depan ya. Gua takutnya jiwa sikopet lu berdua ngebuat lu pada lupa sama Dandy yang aslinya ada di kubu kita! Sama Niko juga jangan lupa, dia temen gue dan dia satu tujuan sama kita." sahut Refan. Leon berdecak bersamaan dengan Ilham.
"Muka ni anak berdua emang mencurigakan sih." celetuk Rafael.
"Ck. Curiga mulu sama gue, heran!" gerutu Leon.
"Gua ga bakal lupa sama temen gua sendiri kali." cicit Ilham jengah.
"Halah! Nama sendiri aja sering lupa, apalagi temen yang udah sebulan ga seatap!" ledek Kevin menyindir.
"Sialan lo bongkar aib gue mulu!"
"Hahahahah."
"Dah dah woi fokus!!"
"Lanjot bang!"
"Dan yang paling jelas dan ga boleh ketuker, Rafael lo bantu Refan di pasukan inti yang udah kita siapin bakal berhadapan langsung sama Bima ya!"
"Mantep tuh, gua udah lama ga beraksi bareng mabro!" jawab Rafael senang, ia menaik turunkan alisnya menatap Refan yang masih setia memasang tatapan datar yang dingin. Sepertinya ada banyak sekali hal-hal yang berputar di otaknya. Tentang Izza, calon anak-anaknya dan jadwal perkiraan kelahiran mereka. Belum lagi keluarganya dan juga keluarga Doddy masih berada di bawah tanggung jawabnya.
"WOYYY!!" teriak Leon tiba-tiba. Semua yang ada disitu berjingkat kaget.
"Kenapa sih lu hah?!" sentak Kevin yang paling kagetan.
"Yon obat lu habis apa gimana dah?"
"Jebol telinga gua!!"
"Mau protes gua!" sengit Leon berdiri dengan berkacak pinggang.
"Protes apaan lagi? Tadi lu udah deal gua taro depan." tanya Genta menghela nafas panjang. Meskipun jarang bertemu, tapi menghadapi Leon memang selalu membuatnya frustasi karena kelakuannya 11-12 dengan adik kandungnya, Ilham.
"Gua juga pengen nyikat si Bima lah. Masa gua ga bisa masuk ke dalam?" cerocosnya.
"Ck. Gua kira apaan!"
"Lo sama Ilham main dokter-dokteran bedah aja di depan, nanti disaat tersedak biar gua sama Dandy yang masuk bantuin Refan Rafael."
"Tersedak?" ulang Leon.
"Lu mau tersedak apaan bang?" tanya Ilham aneh.
"Hah?" Genta cengoh. Refan memutar bola matanya jengah sementara Rafael dan Kevin menahan tawa karena sudah tau kalau Genta pasti typo dan ngebug sekarang.
"Lo bilang tersedak tadi bang."
"Oh sorry! Maksud gue ter-de-sak. Gitu doang ga paham lo!" ralat Genta menyentak tanpa merasa bersalah.
"Elu yang ngomong dibolak-balik mulu!" sungut Ilham balik. Tak lama setelahnya, pengaturan strategi merekapun menghasilkan satu kesepakatan mutlak.
"Oke deal! Gua udah setuju sama usul rencana dari lo bang, poin-poin tambahan sama yang dihapus tadi langsung ganti aja di kertas baru." pungkas Refan diangguki Genta dan juga yang lain.
"Perjelas tandanya, terus secepatnya kasih ke anggota yang lain biar mereka bisa mempelajari siasat kita secepatnya." tambah Rafael yang dibenarkan oleh Refan.
"Oke sip!"
"Ini udah kelar kan ya?" tanya Refan berderi terlebih dahulu.
"Udah."
"Kalo gitu gua cabut duluan! Besok siang jangan lupa, bang Genta sama Leon ikut gua buat transaksi senjata baru di pelabuhan." ucap Refan mengingatkan. Genta dan Leon mengangguk bersamaan.
"Oke."
"Hm."
"Tapi lo mau kemana dah? Tumben gugup pulang? Ini aja masih jam sembilan kurang." tanya Kevin heran.
"Gua ada kerjaan buat Izza."
"Mau lo apain lagi bumil tua?"
"Wah emang ngadi-ngadi kelakuan lu Fan!"
"Lo pada yang ngadi-ngadi! Orang gua cuma mau ngasih sesuatu kok." sungut Refan menggerutu.
"Mencurigakan."
"Ck. Dahlah! Cabut dulu gua."
...****************...
"Padahal gue masih pengen main sama baby Giooooooo." cicit Izza masih sibuk mencubiti pipi gembul Gio yang sedang digendong Ajeng.
"Minggu depan kan lo bakal punya dua bocil sendiri Za."
"Tau tuh... Ini udah malem ege! Anak gue kesian ntar." sahut Reza yang sudah nangkring di dalam mobil. Ia mengintip Izza dan Ajeng lewat pintu mobil yang ia bukakan untuk Ajeng.
"Lagian lu bisa nginep! Lu bilang lu pengen ketemu Refan."
"Bisa besok. Gue lagi ga pengen nginep di rumah orang!"
"Karepmu Eja karepmu ae wes."
"Jejeeeeee....." rengek Izza memelas. Ajeng terkekeh.
"Astaga ni calon ibu satu emang bener-bener deh! Makin tua makin kiyowo haha."
"Ish gue serius Je ah!!"
"Besok-besok gue kesini lagi."
"Janji ya?"
"Iya."
Setelah drama tak ingin ditinggal pulang oleh Xagio, keponakannya. Izza akhirnya membiarkan mobil Reza membawa Ajeng dan Gio pulang sedangkan Izza sendiri kembali masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama setelah Izza duduk bersandar kepala ranjang, Ia mendengar pintu kamarnya diketuk dan dibuka perlahan. Tentu saja itu Refan!
"Tumben jam segini udah pulang?" tanya Izza tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone. Karena biasanya Refan selalu pulang di atas jam 12 tiap kembali dari markasnya, jadi menurutnya aneh kalau suaminya ini pulang jam sembilan seperti ini.
"Kamu sendiri ngapain tumben belum tidur hm?" tanya Refan yang kini sudah merebahkan dirinya di kasur, dengan paha kaki Izza sebagai bantal.
"Nonton live-nya ayang."
"Hah?"
"Chanyeol pulang wamil." jawab Izza masih fokus pada ponsel. Refan yang kebakaran janggut langsung merebut handphone Izza dan melihat siaran langsung dari instagram itu.
"Ck. Padahal gue lega banget pas dia berangkat wamil waktu itu." decak Refan mendengus.
"Apa kamu bilang?" omel Izza.
"Dia kapan wamil lagi ay? Asik banget tau." tanya Refan polos. Mata Izza makin membulat.
"Kamu mau aku apain hah?! Aku udah nunggu dua tahun ya buat ketemu dia lagi. Jangan ngadi-ngadi."
"Aelah...."
"Sana mandi dulu!" usir Izza mendorong kepala Refan hingga terjatuh dari pahanya. Refan mendengus.
"Siap nyai."
Setelah Refan beranjak dari ranjang, Izza kembali ke mode fangirl. Ia tersenyum-senyum tak jelas melihat idolanya itu.
"Eh ay!!" panggil Refan kembali muncul dibalik pintu kamar mandi.
"Apaan?"
"Aku ada hadiah buar kamu!"
"Siapa yang ulang tahun? Aku belum." tanya Izza melirik Refan dengan heran.
"Aku ga perlu ulangtahun kamu buat ngasih kado! Tuh di koper atas meja." teriak Refan sebelum ia kembali hilang dibalik pintu. Izza hanya manggut-manggut, ia akan mengambil hadiahnya nanti setelah Chanyeol selesai live instagram.
Tak berselang lama, live yang ia tonton sejak tadi pun berakhir.
"Koper apaan nih? Berat amat." monolog Izza sambil membolak-balikan koper hitam besar yang kini ada di tangannya. Izza meletakkannya di atas kasur, lalu duduk di sebelahnya dan kemudian membukanya.
"WHAT THE HELL?!!" pekik Izza melotot sempurna menatap hamparan uang bergambar dua proklamator memenuhi ruang koper.
"Buset! Uang cash sebanyak gini buat apaan dibawa pulang sama Refan?" tanya Izza syok. Izza benar-benar belum pernah melihat uang cash sebanyak ini di dalam hidupnya.
"Katanya kamu ga punya cash gegara aku selalu ngasih uangnya via transfer." celetuk Refan yang entah sejak kapan berdiri di depannya. Masih dengan handuk basah di atas kepala.
'Nyesel gue ngeroasting Refan kemarin. Sekarang jadi gue sendiri yang pusing njir.' batin Izza memaki.
"Ya tapi ga perlu sebanyak ini juga sayang!!! Buat apaan uang sebanyak ini? Gimana cara makenya?" tanya Izza bingung.
"Buat rebahan si Ralu." jawab Refan ngawur.
"Good idea!"
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK😻