IZZALASKA

IZZALASKA
64. Lawan atau kawan?



"Apa maksudmu?"


"Kalau kau tetap ingin keluar dari sini, aku memang bisa saja mengabulkannya tapi aku tidak bisa menjamin kalau kau tak akan diincar balik oleh Bloody Dragon. Aku pastikan kau tak akan bisa bertahan hidup lebih dari sehari di luar sana karena PSG dan Bloody Dragon pasti sudah tau kalau kau telah membocorkan rencana mereka padaku." jelas Refan.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Doddy. Tampak sekali wajah ketakutan yang tersirat.


"Lah yo ndak tau, tanya kok tanya saya." celeletuk si biang kerok, Leon.


"Bjir." cicit Kevin menahan tawa.


"Tetaplah disini dan menjadi sekutu kami, aku bisa melindungimu dan kau bisa berkerja untukku." jawab Refan santai.


'Ni anak tumben mau nawarin kerja sama ke mata-mata musuh?' batin Rafael berfikir ada maksud apa dibalik ajak Refan itu. Sementara Kevin dan Leon hanya saling pandang tak mengerti.


"Lalu kalau aku disini bagaimana dengan keluargaku? istriku dan anak-anakku? Mereka pasti juga dalam bahaya." tanya Doddy lagi. Leon berdecak. Doddy memang tua bangka yang banyak sekali bicara.


"Kalo udah tau resikonya, ngapain lu tetep ae ngikutin PSG tolol! Udah enak lu bisa kerja di tempat Izza, gaji juga gede, masih aja bisa berkhianat lu." maki Leon kesal.


"Tau tuh! Demen banget nyari mati." sahut Kevin. Refan mengisyaratkan pada dua tangan kanannya itu untuk diam dulu dan tidak mengganggu rencananya.


"Lalu kalau kau bersama mereka, apa kau cukup kuat untuk melawan mereka?" tanya Refan balik. Seketika Doddy terdiam.


'Benar juga! Kalau aku bersama mereka pun aku tak akan bisa melawan PSG Group sendirian.' batin Doddy.


"Aku juga berfikir seperti itu, kau memang tak akan bisa dan tak akan pernah bisa melawan mereka sendirian. Aku bisa membantumu kalau kau mau bekerja untukku!" celetuk Refan. Ia tau apa yang sedang ada di fikiran Doddy.


'Kok dia bisa tau?' batin Doddy melotot kaget. Refan tertawa sumbang.


"Ahahaha kau tenang saja pak tua! Istri dan kedua anakmu akan aman jika berada di bawah pengawasanku, tapi kau harus tetap berada disini sebagai timbal baliknya. Aku masih membutuhkanmu untuk beberapa hal, dan kau pasti membutuhkanku untuk mereka bukan? Ya itupun kalau kau setuju dan masih ingin melihat mereka tetap hidup." ucap Refan lagi.


"Pilihanmu hanya ada dua. Keluar dari sini dan mati ditangan mereka, atau tetap disini menjadi sekutu dan keluargamu akan dipastikan keselamatannya." tambah Rafael. Ia sudah mengerti apa rencana yang sudah disiapkan oleh refan.


"B-baik. Aku akan ikut denganmu tuan." pilih Doddy mantap. Refan dan Rafael tersenyum miring bersamaan, benar-benar tak ada perbedaan di kedua wajah bengis itu.


Kevin dan Leon masih geleng-geleng tak percaya kalau orang yang sejak kemarin ingin dibunuh oleh mereka, sekarang malah menjadi teman mereka.


"Pilihan yang tepat! Leon Kevin lu berdua urus dia lebih baik dari kemarin, dia sekutu kita sekarang. Jangan sampek dia mati, apalagi karena racun!" pesan Refan sambil melirik Leon. Leon mendengus malas.


"Lu udah gagal ngasih gue mainan ya bos, jadi ga usah nyindir gue juga lu!!" ketus Leon sebal. Refan tertawa tanpa dosa.


"Haha."


"Hihi hihi mulu! Nyengir lu sekarang udah bisa ngerusak mood gue." gerutu Leon. Ia tadinya sudah sangat senang karena akan mendapat alat percobaan untuk racun terbaru miliknya, dan sekarang gagal.


"Haha mampus!" ledek Kevin.


...****************...


Kriet


Pintu kamar mandi terbuka dan munculah Refan dengan boxer pendek dan kaos polos andalannya serta handuk yang dikalungkan di leher.


"Udah selesai ya?" tanya Izza lumayan kaget. Ia sebelumnya sedang merapikan isi lemari yang sedikit teracak, dan tiba-tiba Refan keluar dari kamar mandinya.


"Sssssss dingin ay!!" pekik Refan langsung ngibrit memeluk Izza yang hangat. Izza terkekeh sambil memeluk suaminya dengan erat.


"Ulululuuuu bayi gedenya sampek menggigil gini haha." ledek Izza.


"Tapi sekarang udah ga terlalu si ay, kamu ngangetin banget soalnya hehe." jawab Refan modus. Ia menyerukkan wajahnya di ceruk leher Izza, mengendus-ngendus jahil disana.


"Wangi kamu dari dulu emang mantep banget ay, my favourite." ucap Refan di sela aktivitasnya.


"Cih ga usah ngegombal! Aku tau kamu lagi modus ye kan? Ga ada! Ga usah ngarep kamu!" sahut Izza sigap menangkis godaan maut dari buaya jinak dihadapannya ini. Refan tertawa geli.


"Kamu keknya emang udah ga bisa positif thinking deh sama aku ay ahahhaha." setelahnya, Refan mengangkat wajahnya dan menoel hidung mancung Izza.


"Aku ga bakal macem-macem kali ah. Makanya aku pengennya si kembar buru-buru lahir aja sih, biar aku enak juga."


"Dih dih itu sih maunya kamu doang!! Lagian juga pas anak kita udah lahir kan kita malah makin repot jagain mereka ay." elak Izza. Refan memasang tampang sombongnya.


"Aku bisa beli orang buat jagain anak kita 24 jam kali!!"


"Btw kamu udah dapet apa yang kamu mau?" tanya Izza setelahnya. Refan mengangguk.


"Kecuali siapa leader Bloody Dragon, sisanya aku udah kantongin semua infonya." jawabnya santai. Izza manggut-manggut.


"Oh iya ay, Doddy sekarang jadi sekutu kita. Aku amanin keluarga dia dari musuh dan dia siap kerja buat aku kalau aku butuh dia." sambungnya lagi. Izza melotot kaget.


"Terus maksud kamu, dia di markas kamu gitu?" tanya Izza heran. Refan mengangguk.


"Iya."


"Terus keluarganya gimana? Mereka udah sama kamu? Udah di amanin?" tanya Izza lagi. Refan mengendikkan bahu santai.


"Ada Kepin sama Leon, besok pagi mereka gerak buat mindahin tempat tinggal keluarga Doddy ke tempat yang lebih mudah diawasin." jawab Refan. Izza manggut-manggut tapi ia masih kurang mengerti.


"Tapi kenapa kamu masih butuhin dia? Kan udah ada Fael juga." tanya Izza lagi. Refan mengangguk.


"Fael emang bisa ngeringanin masalah, tapi aku tetep butuh Doddy buat ngelancarin rencanaku."


"Rencana? Kan kamu bilang kalo belum tau siapa orang yang ada di balik Bloody Dragon?"


"Rencanaku itu buat ngerecokin sistem jaringannya PSG, nanti pasti mereka bakal minta bantuan BD kan? Nah pas itu aku pasti bakal tau siapa dalangnya." jawab Refan yang akhirnya membuat Izza mengangguk mengerti.


"Oke, apapun yang kamu siapin dan rencanain itu pasti jalan yang terbaik. I trust you!"


"Thank you sayang!!" balas Refan memeluk istrinya lagi.


...****************...


Brak


"Jadi Doddy benar-benar tertangkap?" tanya Bima menggebrak meja di depannya. Fani yang baru saja kembali dari misi menyusup ke markas lawan pun mengangguk. Memang butuh perjuangan yang lama untuk Fani agar bisa keluar dari sarang singa yang penuh penjagaan itu.


Meski ia hampir ketahuan, untunglah tuhan masih berbaik hati untuk memberinya kesempatan untuk selamat dan tetap hidup.


"Iya bos! Dan kabar terburuknya adalah...."


"Apa lagi?"


"Orang suruh PSG itu malah membocorkan semua informasi yang ia dapat dari PSG, untung saja dia tidak tau siapa bos. Sepertinya PSG tak memberitaukan kalau pemimpin gangster yang membantu mereka adalah bos Bima." jawab Fani takut.


Brak


"SIAL!!" maki Bima marah. Uratnya sampai bisa terlihat oleh mata setiap orang yang melihatnya.


"Lihat saja, Doddy sialan itu tidak akan selamat kali ini. Kalau Blood Wolf tak membunuhnya, maka aku sendiri yang akan menghabisi nyawa penghianat itu!" geram Bima mengepalkan tangan.


"L-lalu apa yang harus saya lakukan lagi bos? Bos berikan saya perintah selanjutnya dan saya akan segera melaksanakannya." tanya Fani. Bima menarik nafas dalam-dalam.


"Kita butuh beberapa informasi dari Yoga dan Arga untuk melumpuhkan musang penghianat itu." jawab Bima tegas. Fani mengangguk.


"Baik, jadi apa yang harus saya lakukan sekarang bos?"


Bima melirik jam di ujung ruangan, jarum pendeknya sudah bertenger di angka 1.


"Simpan saja dulu tenagamu! Kita lanjutkan rencana ini besok pagi saja, mereka juga pasti tak akan bisa dihubungi selarut ini. Sekarang kau bisa pergi dan beristirahat dulu." suruh Bima berdiri dari duduk. Sementara Fani mengangguk saja, toh ia memang lumayan lelah karena seharian ini terus bergerak menjalankan misi Bloody Dragon.


"Lalu bos mau keman-"


"Tentu saja aku harus pulang, aku sudah menyiapkan rencana bagus untukku agar bisa bertemu dengan Izza besok." potong Bima lalu berlalu begitu saja meninggalkan Fani.


Fani menghela nafas lega setelah bos nya pergi. Meskipun Bima terkesan kasar dan galak tapi sebenarnya ia baik pada Fani, bahkan Fani diberi kepercayaan menjadi tangan kanannya dan tak ragu memberikannya banyak fasilitas.


Fani merebahkan dirinya di sofa.


"Kalo dipikir-pikir aneh juga ya? Bos Bima musuh bebuyutan sama Refan sampek pengen nyingkirin dia, tapi di sisi lain si bos juga suka sama istrinya Refan. Hadeh pusing gue!" ucap Fani bermonolog pada langit-langit ruangan. Ia menghela nafas panjang.


"Gue dukung apapun keputusan dan kemauan lo bos, tapi gue harap cinta buta lo itu nggak akan jadi kelemahan buat lo nanti!"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰