
"Wow so sexy man!" puji Refan pada dirinya sendiri. Lelaki itu sedang asyik melihat pantulan dirinya di cermin kaca. Ia mengekspos tubuh bagian atas yang tak berpenghalang kain apapun. Ia juga terus saja berbolak-balik sejak tadi, memperhatikan dada bidangnya lalu kembali ke punggung lebarnya.
Pantes aja Izza kepelet sampek ga bisa nengok kanan kiri ye kan?
Drtt drtt
"Sayang..... Apelobang kamu bunyi!!!" teriak Refan nyaring mendengar deringan kencang dari benda pipih di atas ranjang. Kedua matanya menelusuri isi koper, hanya mulutnya saja yang berpaling memanggil istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi.
Drtt drtt
"AYANGGGGG!!!" teriak Refan lagi. Nihil! Masih tak ada sahutan, hanya terdengar suara gemericik air saja.
"Pasti masih asyik konser dadakan." lirih Refan geleng-geleng. Samar-samar terdengar suara nyanyian random dari dalam bathroomnya.
Drtt drtt
Dan ini adalah kali ketiga iPhone itu berdering ribut. Refan yang sudah selesai mengenakan kaos hitam polos andalannya pun beringsut mengambil benda pipih itu.
📞Andin is calling.....
"Oh si bucinnya Genta. Pantesan aja nelponnya ngeyel banget dari tadi." lirih Refan kemudian menarik tombol berwarna hijau ke atas.
Andin : Lex lama banget sih! Sampek temor gue nunggu.
Refan : Assalamaualaikum dulu bu!
Andin : Heh kok? Refan nih?
Refan : Iya. Kenapa lu baru nelpon udah marah-marah ae!
Andin : Ya habis lama banget, gue bawa info penting buat Lexa eh Izza deh. Mana orangnya?
Refan : Masih mandi. Mau nunggu dia selesai dulu atau tiitp pesennya ke gue aja?
Andin : Titip pesan aja kalo gitu.
Refan : Yodah apaan?
Andin : Ntar kalo Izza udah kelar mandi, suruh nelpon gue! Oke? Makasih ya bos muda bucinnya bos gue!! Bye!
Refan : Ndin-
Tut tut....
"Sialan si Andin. Bilangnya sih mau titip pesen, tapi bukan isinya yang dikatain. Sabar banget gue!!" gerutu Refan kesal sendiri.
"Kenapa ay?" celetuk Izza dari arah belakang. Refan menoleh sambil mengangkat benda yang masih ia pegang di tangan.
"Ada telepon dari Andin."
"Ada apa katanya?" tanya Izza menerima uluran iPhone dari Refan.
"Ga tau, dia cuma nitip nyuruh kamu nelpon dia lagi nanti." jawab Refan menggeleng. Ia membanting tubuhnya ke atas ranjang kemudian menepuk-nepuk sisi sebelah kanannya yang kosong.
"Sini ay!" panggil Refan menaik turunkan alis. Izza menggeleng.
"Baru aja selesai mandi, rambut aja masih basah kek gini."
"Ya ga papa aku peluk biar ilang dinginnya."
"Nggak mau!"
"Ay mah gitu... Sini bentar aja please!!" cicit Refan ngeyel. Izza juga tak kalah ngeyel.
"Enggak berarti enggak sayaaaaaaangg."
"Ah tau ah!"
Refan ngambek. Izza hanya meliriknya sekilas, ia memilih untuk mendekat ke arah cermin saja. Mengeringkan rambutnya dan memakai jaket bahan tipis yang ia bawa di dalam koper.
Isi dalam koper yang Izza bawa di 'ngidam tour' kali ini tidak banyak. Hanya butuh satu koper saja untuk pakaiannya dan Refan karena besok pagi mereka sudah harus kembali ke Jakarta.
...****************...
Tok tok
"Siapa?" teriak suara berat dari dalam ruangan yang pintunya terketuk dari luar.
"Gue Reza!!" jawab lawan bicaranya.
"Ya udah masuk aja!!"
Kriet
"Fan lo tau ga? Tadi gue ngeliat eh-" cicit Reza terkejut. Yang ia panggil 'Fan' tadi rupanya bukan Refan. Bahkan yang berdiri di depan meja kebesaran CEO RnAs bersama laptop dan tumpukan map itu juga bukan Refan.
Kevin.
"Lah? Kepin? Anak kambing kemana nyet?" tanya Reza berjalan mendekat. Kevin hanya sempat melirik sebentar ke arah Reza karena mata dan otaknya sedang sibuk.
"Baby moon entah yang keberapa kali sama kembaran lo!" jawab Kevin.
'Gilak emang, baby moon mulu mereka. Ga ada capeknya kali ah.' batin Reza heran.
"Kemana lagi?"
"Madura."
"Ke Madura Jatim?" tanya Reza sekali lagi. Kevin berdecan malas, menatap lelaki di sampingnya dengan sebal.
"Iyalah Jatim, mana ada Madura di bekasi atau depok heh?" tanya Kevin balik. Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lah tapi tadi siang gue sama Jeje baru aja ketemu mereka di mall." jawab Reza.
"Ah lo kek ga tau aja kelakuan si duo CEO, pemegang kasta tertinggi di kerajaan jin tomang tuh. Kan wmang anaknya gampang pindah-pindah tempat! Pagi bisa di Jakarta, siang bisa lompat ke Singapore, malamnya udah nyampe LA, besok paginya lagi udah nangkring di Korea. Ajaibnya kelawatan!" cerocos Kevin panjang lebar.
"Terpaling paling emang." salut Reza geleng-geleng.
"Lo ada urusan apa? Mau titip salam buat gue sampein ga? Atau lo mau ngehubungin orangnya langsung?" tanya Kevin yang sudah kembali fokus ke laptop di meja Refan. Pelayanan kurang ramah, bintang satu.
Kevin masih bekerja dalam posisi berdiri karena Kevin tidak suka duduk di kursi Refan, katanya terlalu tinggi.
"ga udah deh, nanti gue sendiri aja." tolak Reza.
Apalagi Refan semalam memberinya tugas tambahan untuk mencari tau siapa Doddy yang bekerja sebagai HRD di kantor Izza. Rencananya mereka akan membuat perhitungan ringan tapi membekas untuk seluruh keluarga si Doddy. Bahkan harusnya mereka sudah beraksi malam ini, tapi ditunda sementara karena Refan masih sibuk ngurusin bumil kesayangan.
"Yeeee sok galak lu pin!" sembur Reza.
"Bener kata Rayhan." celetuk Kevin melirik Reza. Reza mengeryit.
"Katanya apaan?"
"Elu berisik kek jangkrik!"
"Sialan."
"Lagian lu kek ga ada hari besok aja. Ini udah lewat jam 5 woeeeee harusnya lo pulang sono!" hasut Reza kompor. Memang harusnya Kevin sudah pulang sejak tadi, tapi karena ia ingin segera menyelesaikan tugasnya jadi ia memilih untuk lembur sebentar.
"Kerjaan gue udah tanggung! Lo aja yang pergi sono." usir Kevin menghempaskan tangan. Reza memutar bola matanya malas.
"Pelayanan tidak ramah, bintang kecil. eh bintang satu." ketus Reza kesal.
'Ini kembarannya bu bos bener-bener nyamain jangkrik argh pengen gue tampol ginjelnya. Sabar Kevin sabar! Dia ipar lo juga sekarang.' batin Kevin mencari jiwa sabarnya.
"Pulang lu! Bini lo nyariin tuh." ketus Kevin mendorong-dorong kecil pundak Reza. Reza julid mode on.
"Terus lo kapan nyari bini?" sindir Reza.
Jleb.
Mental Kevin auto tertindas. Reza memang manusia paling sialan yang pernah ia temui.
"Dasar anj-"
"Ahahahaha."
...****************...
"Ay?" panggil Izza. Refan masih setia memejamkan matanya, posisinya rebahan telentang memenuhi ranjang dengan arah tak karuan.
"Ay!"
"Sayang yuhuuuuuu!!"
'Ini ketiduran atau pingsan si?' batin Izza kesal sendiri.
"REFAN ALASKAAAAAAAA!!!" teriak Izza sedikit melengking. Wanita itu sudah selesai bersiap-siap untuk melancarkan aksi 'ngidam tour' tapi si bapak dari pelaku penyebab ngidamnya malah ngorok!
"Ini bapak-bapak satu ya sumpah ngeselin!" gerutu Izza berkacak pinggang. Merasa tak ada pergerakan sama sekali, Izza kemudian beringsut duduk di sisi ranjang yang kosong. Menggoyang-goyangkan lengan dan pinggang suaminya agar tidurnya terusik dan bangun.
"Ayang bangun ih!!"
"Ay jangan bikin panik deh! Ga usah bikin orang overthingking please!" cicit Izza yang sudah mulai lelah dengan semua ini.
"Ay?"
"Ayang?!!"
Karena khawatir, Izza mendekatkan dirinya untuk lebih dekat. Izza memajukan wajahnya mendekati dada bidang Refan, memastikan kalau jantngnya masih berdetak dan berfungsi dengan baik.
Tanpa disadari oleh Izza, Refan sedang merem melek sambil menahan gejolak tawanya karena berhasil berpura-pura diam dan membuat istrinya panik.
Deg deg deg.
"Masih aman kok, tapi kenapa ga bangun-bangun ya?" tanya Izza bermonolog. Izza menarik wajahnya dari tempatnya tadi dan berpindah ke wajah tampan Refan yang tampak damai dalam tidur, padahal beberapa detik yang lalu wajah itu tampak sangat tengil penuh tahan tawa.
"Ay?" panggil Izza pelan. Ia mengikis jarak antara wajahnya dan Refan, ingin memastikan kalau lelakinya ini baik-baik saja.
Cups
Refan tiba-tiba membuka kedua kelopak matanya dan langsung memberi satu kecupan singkat di bibir Izza. Izza melotot kaget. Bagaimana bisa?
"Heh kok-" pekik Izza yang hendak refleks menarik diri tapi di tahan oleh tangan kekar Refan dari belakang. Menahan tubuh istrinya agar tetap diam di tempat terdekat dengannya.
"Kenapa hm?"
"Kamu ga kenapa-kenapa?" tanya Izza. Refan mengangguk santai.
"Hm."
"Ishh nyebelin! Aku udah takut tau."
"Iya si ga kenapa-kenapa, cuma lagi agak ngambek aja." sindir Refan. Izza yang urat pekanya sedang error hanya mengendikkan bahunya acuh.
"Ah tau ah! Ayok nyari sate." ajak Izza yang dengan watadosnya malah memikirkan soal sate yang ia kejar sampai ke Madura.
'Sejak hamil ini bener-bener nguji iman gue sih. Ga ada akhlaknya, ga mau ngalah, ga peka, jarang perhatian juga. Anak-anak gue diperut bener-bener jahat banget sama papanya! Tega bener bikin bumil ini jadi super moodyan + ngeselin.' batin Refan menggerutu. Ia mulai terbayang-bayang sifat anak-anaknya di masa depan, bagaimana kalau mereka punya sifat 11-12 yang ngeselinnya sama kek mamanya?
Izza bilek : Refan banyak duit, tapi ga pernah beli kaca!
"Kamu ga mau nanya dulu gitu, aku ngambek kenapa?" pancing Refan. Izza menggeleng lalu menepis kedua tangan Refan dari pinggangnya. izza sudah berdiri dengan berkacak pinggang garang.
"Nggak! Sekarang ayo nyari sate. Kita jauh-jauh kesini kan buat makan sate, bukan buat tidur! Kalo cuma mau tidur, di rumah juga bisa." cerocos Izza panjang lebar. Refan menghela nafas jengah.
"Sabar Fan sabar! Masa labilnya cuma tinggal 2 bulan doang. Setelah itu, gantian lo yang bisa manja lagi ke istri." lirih Refan menyemangati dirinya sendiri. Izza yang tadinya berbalik, kembali menoleh. Jangan pernah kalian melupakan kuping avatar Izza!!
"Ngomong apa tadi?"
Refan auto kelabakan.
"Nggak ada, aku cuci muka dulu bentar. Habis itu kita langsung ke lokasi sate yang kamu mau!" jawab Refan mengelak. Izza memicingkan matanya curiga. Kuping avatarnya tadi menangkap kata yang sangat jauh berbeda.
Sebelum dijebak lagi oleh ucapan istrinya, Refan memilih untuk buru-buru berlari masuk ke dalam bathroom. Meninggalkan Izza dengan segudang tanya yang tersimpan di otak.
"Dia kira gue ga bisa denger kali ya? Ahahaha lucu juga sih bikin dia sebel kek gini. Anak-anak gue dan gue emang kolaborasi paling sempurna dalam hal moodyan dan nguji kesabaran orang." ucap Izza menertawakan sifat randomnya dengan kedua anaknya yang sudah terpantau kompak sejak sekarang.
Tinggal nunggu mereka sama-sama gede, punya kelakuan 11-12 sama mamanya. Dan mereka bertiga akan selalu melihat Refan 'si emosian yang selalu sabar karena kepepet' makin menderita dan ternistakan.
RIP wibawa seorang Refan.
"Ini baru pemanasan doang loh ay, masih ada banyak penistaan yang nungguin kamu setelah anak-anak kita gede nanti."
...Dicari keberadaan akhlaknya Izza....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰