
"Pokoknya ga ada protes ga ada ngeles ga ada penolakan lagi buat kamu ay! Ini adalah hari terakhir kamu ke kantor, dan kemanapun kamu pergi sekarang harus ada aku. Oke?" pungkas Refan menetapkan keputusan dan peraturan barunya. Aturan yang mau tak mau harus dilakukan oleh keduanya karena surat itu.
Sebenarnya Refan bisa langsung membabat habis Bloody Dragon saat ini juga, tapi karena faktor kehamilan Izza inilah yang membuat Refan mengurungkan niatnya dulu. Keluarga Refan dan Izza masih termasuk orang-orang yang percaya dengan pamali dan larangan-larangan yang tak boleh dilakukan oleh seorang suami yang memiliki istri hamil.
Aliran serta kepercayaan itulah yang juga membuat Izza maupun Refan setuju untuk mencegah daripada melawan. Bukannya untuk memberi kesempatan kepada musuh, tapi lebih karena mereka berdua sama-sama ingin mengurangi tingkat resiko.
Bukan untuk mereka, tapi untuk anak-anak mereka. Baby twins adalah prioritas utama yang harus dipastikan keamanannya.
"Tapi-"
"Kamu mau baik-baik aja sama anak-anak kita kan?" tanya Refan memotong cepat. Izza tentu saja mengangguk-angguk.
"Ya mau lah!"
"Ya udah turuti mauku tadi!" timpal Refan menegaskan. Dengan berat hati yang harus dilapangkan, Izza mengangguk.
"Hufftt oke iya." jawab Izza menghela nafas panjang.
"Iya apa?" tanya Refan memastikan.
"Iya aku berhenti kerja. Aku kerjain semuanya dari rumah dan kalau aku mau keluar dari rumah, harus ngajak kamu!" jelas Izza panjang lebar. Refan tersenyum lega.
"Nah istri baik dan pintar utututuuttuu." puji Refan menguyel-uyel kedua pipi chuby istrinya.
"Lagipula juga Darrel kan udah siap pulang-pergi, ngalor-ngidul buat antar jemput berkas yang butuh tanda tangan kamu. Jadi tenang aja oke? Kamu ga bakal bosen di rumah." ucap Refan lagi.
"Ya tetep bosen lah! Gimana ga bosen coba? Orang kamu nya di kantor, aku di rumah segede itu cuma sendirian. Yakali aku ngomong sama Ujang?" gerutu Izza sebal. Refan tertawa.
"Ya udah aku juga ikut kerja dari rumah aja gimana? Buat nemenin kamu sekalian." tawar Refan. Izza menggeleng.
"Ya jangan juga! Kamu kan ngehandle dua perusahaan sekaligus. Mana bisa dijadiin satu di laptop! Yang ada kamu nanti stress kebanyakan tekanan kerja, belum lagi nanti dimarahin sama papa David." tolak Izza menggeleng.
"Bukan apa-apa ya ay, tapi aku ga mau lah punya suami setress muda. Mana anaknya belum launching lagi nih! Kan ga lucu ahahhaa." sambung Izza tertawa meledek. Refan menyentilkan jarinya ke jidat Izza dengan gemas.
"Makin jago ngeledek ya kamu!!" cibir Refan. Izza nyengir polos.
Refan tersenyum tipis, inilah letak keistimewaan hati dari seorang Izza yang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Hatinya yang keras di luar, tapi lembut dan penuh pengertian di bagian dalam. Sekalipun ia sedang marah atau ngambek, ia selalu lebih mengutamakan kepentingan pribadi Refan.
Gimana ga makin cinta coba?
'Emang ga salah gue ngebucinin orang selama ini! Ga pernah ngelirik cewek, sekalinya dapet udah full set no minus. Lengkap pake hati dan logika pula! Ah tuhan emang maha baik meskipun gue banyak dosa haha.' batin Refan yang selalu memuji penuh syukur kepada tuhan karena telah memasukan sosok Izza ke dalam skenario hidupnya.
"Ya udah ayo mandi! Ntar keburu malam, takut masuk angin." pungkas Refan menyudahi lamunananya. Izza langsung menepis tangan kekar Refan yang telah melingkar manis di pinggangnya. Ia bergidik ngeri dan menggeleng.
"Ayo? Maksudnya ayo itu apaan heh?" tanya Izza panik. Refan mengangguk-angguk santai.
"Ya ayo mandi! Kek biasanya ayangggg."
"Nggak ada hari ini! Aku mau mandi duluan, BYE!!" tolak Izza mentah-mentah yang langsung ngibrit sendirian ke dalam kamar mandi.
Refan hanya tertawa sambil geleng-geleng. Sangat lucu rasanya melihat Izza berlari ngbirit seperti dikejar maling.
"Gitu doang pake panik segala! Kek belum pernah aja."
...****************...
"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan?" tanya Roni kepada bos besarnya. Laki-laki yang duduk di kursi kebesaran gangsternya dengan kaki di atas meja itu menggeleng santai.
"Tidak ada."
"Loh?"
"Aku tak mau terburu-buru, sudah banyak korban karena kebengisan Blood Wolf dan Black Diamond Girl yang tak punya kata maaf dan memaafkan itu! Aku sudah banyak belajar dari banyaknya gangster besar yang habis diterkam oleh mereka. Bahkan gangster ini dulu sudah hampir diratakan oleh mereka bukan? Pamanku sampai harus merelakan salah satu tangannya untuk diamputasi karena ulah mereka." jawab wajah baru pemimpin Bloody Dragon itu.
Memang sudah sejak satu tahun terakhir ini, pemimpin Bloody Dragon telah bergulir turun ke generasi kedua. Dikarenakan pemimpin aslinya tak mempunyai keturunan, maka ia menempatkan keponakannya yang sudah menjadi yatim piatu itu untuk menggantikan kepempinannya di Bloody Dragon.
"Kita siapkan semuanya sebaik mungkin tanpa cacat sedikitpun, aku tidak mau kalah lagi dari Refan." sambungnya penuh tekad. Ia masih bisa mengingat dengan baik kejadian sekitar 5 tahun yang lalu saat ia kalah telak dari Refan karena memang pada saat itu dia belum menjadi apa-apa seperti sekarang ini.
"Lalu mengapa anda mengirim terror kalau anda masih ingin diam dan belum ingin menghancurkan mereka?" tanya ajudannya lagi.
"Haha aku cuma ingin mengusik ketenangan mereka saja. Biarlah hidup mereka jadi tak nyaman dan tenang selagi kita menyusun rencana ini baik-baik." jawabnya santai.
"Lagipula tujuanku hanya satu, ingin menyingkirkan ketua Blood Wolf saja. Kalau dulu di tangan paman, menghancurkan BDG serta pemimpinnya adalah tujuan dari gangster inu. Maka inilah yang akan menjadi pembedanya di masa kepemimpinanku di Bloody Dragon. Aku tidak akan membunuh Queen BDG atau bahkan menyentuhnya. Jadi kau dan yang lain juga tak boleh menyentuhnya meski hanya seujung jari!"
Ajudannya mengeryit tak mengerti.
"Kenapa begitu tuan?" tanyanya sopan. Bagaimanapun, pemimpin awal Bloody Dragon sudah secara resmi menyerahkan jabatan dan seluruhnya kepada lelaki yang sepuluh tahun lebih muda darinya ini. Jadi, apapun keputusan yang dibuat olehnya harus dilaksanakan tanpa dibantah.
"Karena aku menginginkannya." jawab laki-laki itu santai dengan tatapan mata kosong ke arah depan. Ajudannya tertegun mendengar alasan ini, bagaimana jalan fikir dari ketuanya itu? Bloody Dragon dan Black Diamond Girl sudah ditakdirkan untuk bermusuhan sejak dulu, lalu kenapa ketuanya ini justru menginginkan Queen itu? Argh sangat sulit di mengerti.
"Aku tau kau pasti bingung kan Ron?" tanyanya yang bisa mengerti arti tatapan mata linglung dari asistennya ini. Roni mengangguk ragu.
"I-iya tuan."
"Izza atau yang lebih tepatnya dipanggil Queen itu adalah gadis yang pernah aku sukai di SMA, dan aku masih menginginkannya hingga sekarang. Meskipun telah menikah dan akan mempunayi anak, aura kecantikannya yang unik dan mahal itu tak bisa hilang sampai sekarang. Wanita mahal itu harus bisa menjadi milikku!" ucap ketua itu dengan penuh keyakinan dan kemantapan. Ajudannya hanya bisa mengangguk setuju karena memang hanya itulah pilihan dalam hidupnya di Bloody Dragon.
"Baik bos!"
Kalian tau? Dia adalah Bima! Bima Yudhania Hasan, ketua osis SMA Garuda yang pernah naksir berat ke Izza tapi keburu disingkirkan dan dibuat hancur oleh pawangnya Izza, alias Refan. Bima adalah keponakan dari pendahulu Bloody Dragon sekaligus menjadi penerus dan pewaris tunggal karena Bima adalah satu-satunya keturunan dari keluarga Yudhania.
...****************...
"Lama juga dia mandi, padahal sendirian enggak sama gue." gumam Refan melirik pintu kamar mandi yang masih belum terbuka hingga sekarang.
Ia berbaring dengan bosan di atas ranjang. Sudah lebib dari 20 menit lamanya dan Izza belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari bathroom.
Drtt drtt
📞Rafael is calling...
"Tumben inget adeknya." cibir Refan pada layar ponselnya sendiri. Rafael memang tak ada bedanya dengan Refan, sama-sama sibuk, cuek, bodoamat, dan malas berkomunikasi meskipun sebenarnya mereka sama-sama ingin tau.
Intinya mereka sama-sama gengsi! Meski kesal karena kakak kembarnya hampir tak pernah meneleponnya, Refan tetap mengangkatnya.
Rafael : Buset pedes amat!
Refan : Gue kira lo amnesia haha.
Rafael : Bukan gitu! Indo - New York tuh jauh, pulsa mahal.
What the hell? Seorang Rafael Dirgantara bisa ngeluh perkara pulsa mahal? Wah daebak!
Refan : Oh jadi lo nelpon gue karena lo mau bilang, lo lagi bangkrut gitu? Iya? Mmm jadi itu alasannya lo ga pernah nelpon gue. Kenapa ga bilang? Kan bisa gue transferin langsung.
Rafael : Lo nyindir apa ngeledek hah? Liar banget congornya!!
Refan : Dua-duanya sih.
Rafael : Emang b*ngke lo!
Refan : Kalo gitu lo juga b*ngke! Kita kan kembar.
Rafael : Iya iya serah apa kata lo dah. Gue mau ngabarin nih.
Refan : Kabarin apaan?
Rafael : Gue mau ke jakarta.
Refan sontak melotot mendengar ucapan dari seberang telepon itu. Situasinya sedang kurang bagus, karena wajah mereka sama maka sudah bisa dipastikan Bloody Dragon juga bisa saja mengusik Rafael karena mengira mereka adalah satu orang yang sama.
Refan : Seriusan?
Rafael : Ngapain juga gue bercanda. Stella minta lahiran di jakarta, ya gue turutin lah! Ini kan udah hampir masuk bulan kesembilan, bentar lagi gue jadi bapak.
Refan : Jangan ngadi-ngadi lu!
Rafael : Lah emangnya kenapa? Mama papa juga pasti oke-oke aja.
Refan : Nggak gitu maksud gue.
Rafael : Ya terus?
Refan : Jangan ke sini dulu! Gangster gue sama Izza lagi panas di sini, ntar aja deh gue kabarin kalo situasi udah adem lo baru boleh ke sini. Bahaya tau!
Rafael : Lebay! Stella aman sama pawangnya ini nih. Lagian juga gue bisa bantuin lo nantinya!
Refan : Ga usah songong lu tong! Inget pamali yang dibilang terus sama mama. Gue aja nih ya kalo bisa, gue pengen ngirim Izza jauh-jauh dulu dari sini lah elu malah ngadi-ngadi mau masuk kandang macan! Pokoknya lo jangan terbang ke sini sebelum gue konfirmasi, oke?
Rafael : Gue bukan bocil! Gue bisa ngelawan bege, kan kita sama aja bisa ngurus gituan, jadi gue pasti baik-baik aja lah.
Refan : Dih? Ga usah GR! Siapa juga yang peduliin nasib lo? Gue cuma khawatir aja sama kakak ipar dan calon ponakan gue. Kalo masalah elu sih, elu mau ditimpuk atau digeprek juga buodoamat!!
Rafael : Ye songong! Awas aja lu.
Refan : Pokoknya undur jadwal dulu oke? bye!
Rafael : Eh gue belum kelar ngomong anj-
Tut tut...
"Emang suka ngawur ni anak!" gerutu Refan geleng-geleng. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka.
Kriet
"Siapa ay?" tanya Izza sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk. Refan bangkit dari rebahan santuynya.
"Rafael."
Drtt drtt
📩Rafael
Gw tadi cuma bilang.
Bukannya minta izin.
Gw bakal ttp ke Jkt karena Stella yg minta!
Jd lo siapin aja apa yg harus gue kerjain di markas.
Sekian terima gaji!
Hati-hati Rafael, see u sayang!!🥰
Aaaa makasih Refan mwah.😘
Dih najong!
Geli sendiri anj.
Read.
"Dih? Sakit keras ni anak." ucap Refan bergidik ngeri. Ya sudahlah kalau Rafael mau datang, toh kakaknya itu bukan anak kecil yang bisa dikekang dan diatur. Yang penting sistem keamanan di keluarganya makin diperketat saja, dan selesai!
"Emang kenapa si Fael hm?" tanya Izza heran. Refan menghembuskan nafas panjang.
"Dia mau datang."
"Pulang ke Jakarta?" tanya Izza lagi. Refan mengangguk.
"Iya, kak Stella minta lahiran di sini."
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰