IZZALASKA

IZZALASKA
61. 24/7



"Ye masih ngeyel aja ni anak."


"Kan tadi baru dugaan, kita harus bisa nyari kepastian dong pin!"


"Serah lu serah!! Kalo Refan ngamok, jangan bawa-bawa nama gue." sahut Kevin malas. Ia berdiri dari kursinya lalu berpindah ke sofa, meluruskan kakinya yang terasa pegal.


Tut.


Sekali lagi, Leon tertolak.


"Wah parah ni si bos keknya lagi bikin adek buat si kembar deh." ucap Leon geleng-geleng kepala. Terdengar suara tawa dari sofa di dekat jendela.


"AHAHAHA lo masih waras? Mana bisa dia bikin anak, anaknya yang dua aja belum keluar ege!!" sahut Kevin dengan tawa renyah. Leon menggaruk belakang telinga, benar juga!


"Iya juga si ya. Tapi ah coba sekali lagi ahhhh."


📞Calling Refan.....


"Ayo bos angkat bos! Kalo lo ga mau angkat telepon gue, gue racunin nih sepupu lo." ancam Leon bermonolog.


Pletak.


"Udah dibilang jangan bawa-bawa gue jamal!!" sembur Kevin melayangkan sebuah bolpoin dan mengenai jidat Leon.


Leon meringis.


"Sssttt."


Refan : Halo.


Leon : Akhirnya-


Refan : Kenapa si lu ganggu gue mulu Yoniiiii!!


Leon : Whehehe kok ngamok.


Refan : Lo ga bisa milih waktu sih anj-


Leon : Oke oke to the point deh gue. Lo dimana bos?


Refan : Di atas.


Leon : Hah? Di atas apaan? Maksudnya, lo mati? Kok ga ngabarin gue sama Kevin dulu?


Refan : Mata lu sobek! Mati aja duluan lu. Bukan itu maksud-


Leon : Lah terus? Diatas apaan? Lagi diatasnya Queen kah? Ahaha.


"AHAHAHA ANJ*NG MULUT LO PARAH YON WAH PARAH AHAHAHA." ledakan tawa itu menyembur bebas begitu saja saat Kevin mendengar celetukan polos Leon yang kelewat batas.


Refan : Gue lagi naik pesawat. Itu tadi Kevin?


Leon : Hm gue sama Kepin.


Refan : Terus ngapa lo nelpon gue malem-malem gini hah?


Leon : NGAPA LO BILANG? Heh jamaludin! Gue sama Kepin udah jamuran nungguin lo dari tadi siang kagak balik-balik ke markas. Ini Dodot musti diapain woi kan kita masih nunggu perintah dari elu b*ngkeeeee!!


Refan : Oh itu, jadi lo berdua masih disana.


Leon : Ya iyalah, lo pamit nemenin yoga cuma bentar. Emang ada kelas yoga sampek malem gini hah?


Refan : Lupa. Kok jadi galakan elu dari gue heh?


Leon : Ya terus gimana nih? Tangan gue udah gatel mau ngeksekusi Dodot.


Refan : Jangan ngawur! Gue masih butuh Doddy, jangan grusa-grusu anj-


Leon : Ya makanya lo cepet kesini!!


Refan : Besok malam baru gue bisa.


Leon : Emang lo mau kemana si?


Refan : Korea.


Leon : Ahaha lucu! Makin jago lawak ya sekarang?


Refan : Siapa yang ngelawak?


Leon : Lo serius?


Refan : Hm.


Leon : Malem-malem gini? Ngapain?


Refan : Mau cari makan.


Leon : Cari makan doang sampe ke negaranya kembaran gue?


Refan : Hah? Sejak kapan lo ada kembaran? Siapa?


Leon : Itu si Lee Min Ho bos... Masa lo ga tau?


Refan : Ck ngayal!! Gue lagi pengen makan ramen, terus nyonya besar ngajak ke Seoul.


Leon : Gabut amat ya klen.


Refan : Dahlah gue mau tidur! Pokoknya jangan apa-apain dulu si Doddy.


Leon : Tapi boleh gue icip-


Tut tut tut.....


"Refan sialan!!" maki Leon manyun. Ia baru saja ingin bernego, tapi Refan sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Apa katanya?" sahut suara berat di ujung. Leon menoleh ke arah Kevin yang rebahan dengan mata terpejam.


"Suruh nunggu Refan kesini besok." jawab Leon lesu. Pupus sudah harapannya malam ini.


"Kenapa besok? Tumben dia nunda kerjaan." tanya Kevin heran hingga sebelah alisnya terangkat, matanya kini terbuka.


"On the way ke Korea dia."


"Ngapain? Perjalanan bisnis? Kok gue ga tau." tanya Kevin lagi. Sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Refan, semua hal tentang bisnis dan juga gangster pasti dia tau.


Kevin kini terduduk di sofa, menunggu jawaban Leon.


"Enggak."


"Terus?"


"Ngidam makan ramen."


"What the f*ck?!!" pekik Kevin refleks mengumpat. Leon mendengus.


"Emang si Repan sama Queen sama aja, gabutnya suka ga ngotak Pin. Padahal di Jakarta juga ada bejibun resto ramen ye kan? Ini malah milih yang jauh." gerutu Leon. Kevin geleng-geleng kepala karena tingkah dua bos besar itu.


"Emang pasangan ajaib."


...****************...


"Kalian jadi pindahan besok lusa Rey?" tanya Ricko. Rayhan mengangguk sambil memakan apel. Mereka sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


"Jadi pah, Marsha udah beberes juga tinggal barangnya Shaka yang belum diberesin." jawab Rayhan. Hari ini memang hari terakhir Rayhan, Marsha dan Shaka berada di rumah ini. Mereka akan diboyong ke rumah keluarga Marsha karena ia adalah adalah anak tunggal sementara Keluarga Rayhan masih punya Reza dan Ajeng yang tinggal menemani Ricko dan Ralita.


Ricko manggut-manggut.


"Terus Marshanya mana sekarang?" tanya Ralita nimbrung. Ia baru kembali dari dapur dengan dua piring penuh berisi kentang goreng, si favorit kebanggaan keluarga Alexander sejak dulu sampai detik ini.


"Masih nidurin Shaka, bentar lagi juga bakal turun." jawab Rayhan membuang sisa apelnya dan langsung menyerang sepiring kentang goreng di depannya.


"Astaga Rayhan pelan-pelan!! Nanti tersedak, baru tau rasa kamu." omel Ralita geleng-geleng. Rayhan menggeleng santai. Mulutnya masih penuh oleh kentang.


"Mama santai aja ma, Rey kan anti tersed- UHUK UHUK!!" pekik Rayhan yang tiba-tiba tersedak. Ralita langsung buru-buru menyodorkan segelas air putih.


"Tuh kan keselek beneran!! Kamu sih ga hati-hati Rey." omel Ralita. Rayhan meneguk air yang diberikan oleh mamanya.


"Ya kan-"


"Ahahaha mamp*s aja lu bang!!" celetuk Reza yang muncul dari ujung tangga. Rayhan meliriknya sinis.


"Adek durjana, duluan aja lu!!" balas Rayhan ketus. Reza hanya menanggapinya dengan tawa seraya terus berjalan menuruni tangga.


"Loh kok sendirian aja sayang? Jejenya mana?" tanya Ralita mencari keberadaan menantunya.


"Jeje tadi nyamperin kak Mar-"


Ting.


"Yuhuuuuu Jeje di sini mah!!" potong Ajeng melambaikan tangan dengan cengiran tipis. Ia baru saja keluar dari lift bersama Marsha yang menggendong Shaka.


Ralita menoleh dengan anggukan dan senyum hangat. Dua putri menantunya itu mendekat.


"Ya udah ayo buruan sini sayang, kalian berdua baru aja mau mama panggil habis ini."


"Lah kok Shaka dibawa Sha?" tanya Rayhan masih dengan mulut penuh kentang. Marsha mengangguk tipis.


"Katanya tadi lagi tidur?" sahut Ricko.


"Iya Pa, Rey, tadi emang udah tidur. Tapi pas mau aku tinggal malah bangun lagi, ya udah aku bawa aja. Entar kalian kelamaan nunggu kalo aku harus nidurin dia lagi." jawab Marsha panjang lebar.


"Nggak usah ih, aku kan mamanya aku yang bisa."


"Dih papanya juga bisa kali Sha." protes Rayhan.


"Drama pasutri lagi nih." seru Reza antusias sambil memakan kentang goreng dihadapannya. Ajeng di sampingnya hanya geleng-geleng, Reza memang tidak bisa berubah dari dulu.


"Tapi mamanya lebih bisa Reyyy." elak Marsha lagi.


"Udah udah sini biar cucu mama, mama aja yang gendong. Mama kan yang paling pengalaman ngurus anak." lerai Ralita jengah.


"Eh eh ga usah Ma, biar Marsha aja."


"Tap-"


"Heh sssttt udah rebutannya lah... Papa laper ini." protes Ricko kelaparan. Ralita nyengir.


"Iya iya bapak." pungkas Ralita mengambil piring Ricko dan mengambilkan makanan untuknya. Tak jauh berbeda, Marsha dan Ajeng juga melakukan hal yang sama pada suami masing-masing.


"UHUYYYYY ADA DAGING WAHYUUUU!!" pekik Reza heboh secara tiba-tiba. Semua orang yang duduk melingkari meja makan itu menoleh bersamaan, heran dan bingung.


"Ck. Itu wagyu g*blok bukan wahyu!!" maki Rayhan yang pertama kali connect. Ia tau arah mata Reza mengarah pada piring berisi daging panggang di dekat Ralita.


"Ahahahaaha." tawa renyah sontak menjadi warna baru diantara mereka setelah sama-sama faham maksud Reza dan Rayhan.


"Halah sama aja, sama-sama daging." bela Reza pada dirinya sendiri.


"Kok bisa ya gue punya sodara serandom ini hah? Capek gue jadi abang lo Re!" keluh Rayhan mendramatisir.


"Gak usah lebay deh bang! Gue lebih capek jadi adik lo tau ga?" sangga Reza lebih mendramatisir.


"Heh udah-udah! Kalian semua diem. Mama lebih capek punya anak kek kalian berdua tau!! Cuma Rendy sama adik kalian doang yang bener." sela Ralita mematahkan perdebatan 2R.


"Ahaha savage!!" sahut Ajeng tertawa. Marsha dan Ricko hanya jadi tim nyimak, Ricko yang asyik menyantap makan malamnya karena ia yang merasa paling lapar sejak tadi dan Marsha yang sibuk makan bersama Shaka di pangkuannya.


"Ih mama jahat!!" cicit Rayhan.


"Mama salah deh. Izza sama aja kali ma, ga ada bedanya!" bantah Reza tak terima.


"Paling enggak kan ga separah kamu Re." jawab Ralita enteng. Kali ini Rayhan tertawa puas.


"Udah parah, ga terimaan pula." cibir Rayhan menye. Reza menatapnya malas sambil memasukan potongan daging ke dalam mulutnya dengan ekspresi datar.


"Eh btw kemana tuh anak kemana Re? Tumben udah lama ga nongolin hidung ke sini?" tanya Rayhan lagi. Reza menatapnya datar, sepertinya ngambek.


"Anak siapa yang lo maksud? Anak lo? Tuh Shaka lagi digendong sama kak Marsha, mata lo buta?" tanya Reza kesal.


"Ck. Izza lah bege!! Kalo Shaka mah tiap hari juga gue liat."


"Oh."


"Dih cuma gitu doang?"


Reza mengendikkan bahunya acuh.


"Ya terus gue harus gimana? Jawab sambil kayang? Atau salto hah?" sungut Reza. Perdebatan yang tak akan ada habisnya.


"Puas-puasin aja terus debatnya. Besok kalian pisah, baru tau rasa!" lirih Ricko geleng-geleng.


"Jawab serius. Dimana dia?" tanya Rayhan sekali lagi. Ekspresinya kali ini sangat serius. Reza memasang tampang yang sama saat ini.


"Tempat Yoga." jawabnya santai. Rayhan melotot.


"Hah? Dia selingkuh sama Yoga? Terus Refannya gimana?" pekik Rayhan panik. Reza menepuk jidatnya sendiri.


Plak


Jawaban sekaligus pertanyaan dari Rayhan itu membuat semua orang terkejut, apa maksudnya?


"Aduh! Susah amat ngomong sama kadal arab. Maksud gue, Izza tadi siang ke tempat yoga aerobic sprot itu loh!!!" seru Reza frustasi.


"Sport kali Re bukan sprot." koreksi Ajeng. Reza nyengir.


"Oh ngomong yang jelas makanya!!" balas Rayhan nyengir kuda. Yang lain geleng-geleng.


"Eh tapi kan gue nanyanya sekarang woi bukan tadi!!!" sembur Rayhan lagi. Reza memutar bola matanya malas.


"Ya gue ga tau kalo sekarang, gue kan bukan suaminya! Tanya Refan sono."


"Oh iya tadi Izza sama Jeje kan?" celetuk Ralita menghentikan Reza dan Rayhan. Ajeng mengangguk.


"Iya Ma, enak tadi seru juga. Ya meskipun ada perdebatan dikit si." jawab Ajeng.


"Kok bisa?" sahut Ricko dan Ralita hampir bersamaan.


"Kalian berantem Dek?" tanya Marsha ikut buka suara.


"Eh emang iya yang? Siapa yang berani ngajakin kamu sama Refi berantem hah?" tanya Reza auto memeriksa kondisi fisik istrinya. Ajeng berdecak, ia salah bicara hingga mereka semua salah faham.


"Eh enggak gitu maksudnya, bukan aku sama Izza. Tapi Refan!" ulang Ajeng mengoreksi kesalahan katanya tadi.


"Refan?" tanya Ricko ulang. Ajeng mengangguk.


"Itu anak cap kulkas bisa debat juga? Baru tau gue." sahut Rayhan geleng-geleng takjub. Ajeng mengangguk.


"Iya bang, tadi tuh ceritanya kan slot buat kelas yoganya penuh sedangkan Izza nya ngeyel tetep mau yoga di tempat itu dan hari ini juga. Jadi ribut neh tuh Refan sama resepsionis." jelas Ajeng.


"Terus akhirnya kalian dapet slot?" tanya Ralita kepo. Ajeng menggeleng.


"Lah?" respond Ralita, Ricko, Marsha dan Rayhan.


"Emang ga dapet slot sih, tapi bukan Refan namanya kalo ga ngawur." ucap Ajeng membuat mereka makin bingung.


"Maksudnya?"


"Saking keselnya, Refan akhirnya ngebeli itu tempat yoga sama senam aerobic Ma, Pa, Kak. Sekarang tempat itu udah atas nama Izza deh jadinya."


"SERIUS???!!!"


"Daebak."


"WHAT THE F*CK!! Refan garis keras!!!"


Prok prok prok


"Papa emang ga salah milih mantu, bisa ngehalalin segala cara loh dia demi princess." salut Ricko bertepuk tangan. Beda dengan kedua putranya yang syok. Ralita berdecih.


"Cih itu sih ga seberapa Pa! Papa belum tau aja, ada hal lebih gila lagi yang dilakuin sama Refan demi anak kita." sahut Ralita. Ricko menaikkan sebelah alis.


"Apa itu?" tanya Ricko. Tampak yang lain ikut antusias menyimak.


"Refan sekarang lagi ngajakin Izza ke Korea cuma buat makan RAMEN!!" jawab Ralita enteng. Ricko melotot.


"Sebucin itu woah!!" pekik Ajeng kaget. Ia baru tau kalau Izza dan Refan pergi ke Korea.


"Emang udah gila dia, udah putus satu saraf otaknya." sahut Reza lelah dengan kebucinan Refan yang tak berujung tanpa batas.


"Refan bucinnya ga berubah ya dari SMA dulu." sambung Marsha geleng-geleng.


"Repan si bucin 24/7 no minus fullset." pungkas Rayhan diakhiri tepuk tangan.


Prok prok


...****************...


Tak


"Aaaawwwww ssshhhh."


"Eh eh kenapa ay?" cicit Izza panik. Refan berteriak kesakitan tiba-tiba. Refan menutup mulut saat itu. Izza refleks menghentikan aktivitas melahap makanannya karena panik.


"Auuu sakit ay, kegigit." keluh Refan. Izza menghembuskan nafas panjang, percuma ia sempat panik tadi. Rupanya sepele.


"Ih aku kira kenapa!! Kegigit doang sampek kek gitu astaga."


"Ih sakit loh ay kegigit pas makan gini, beda lagi kalo kegigitnya pas sama kamu. Itu baru jatuhnya ke enak buangeeeeett nget nget nget!!" ucap Refan ngawur, biasalah.


"Ck. Udah deh ga usah mulai lagi ngelanturnya." gerutu Izza memutar bola matanya malas. Refan malah nyengir tanpa dosa.


"Tapi btw nih pasti ada yang lagi ngomongin aku nih." ucapnya lagi.


"Hah? Gimana-gimana?" tanya Izza tak faham.


"Ini loh ay, kan kata orang tua jaman dulu tuh kalo kita lagi makan terus tiba-tiba bibir atau lidah kita kegigit itu berarti ada yang lagi ngomongin nama kita!" jelas Refan. Izza menahan gelak tawa.


"Pffttt kamu masih percaya yang begituan?"


"Ya emang kamu udah ga percaya sama nenek monyong eh nenek moyang kita?" tanya Refan balik. Izza berfikir sejenak.


"Ya masih juga sih." jawabnya polos. Refan mendengus sebal.


"Ah tau ah, ngambek aja aku!!"


"Ah paling juga yang ngomongin kamu si mama atau enggak Leon sama Kepin doang. Santai aja si."


"Y."


"Dih?"


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA KAK🥰🥰